Malam minggu itu hari ini. Ini adalah pagi hari Sabtu dan Venya masih tertidur di dalam selimutnya. Cuacanya sangat dingin hari itu karena hujan di dini hari. Venya lebih menikmati dirinya di dalam selimut dan juga lebih memilih untuk tidak menanggalkan selimutnya. Selanjutnya yang dilakukan Venya adalah menenggelamkan kepalanya di dalam selimut dengan sedalam - dalamnya.
Dini hari tadi, dia bergerak ke dalam selimut sekitar pukul tiga dini hari. Dan sekarang baru menunjukkan pukul setengah tujuh pagi hari. Tentu saja rasanya malas untuk berangkat dari ranjang empuknya dan selimut tebalnya. Venya juga merasa akan tertidur lagi jika tidak ada alarm di ponselnya yang membangunkan dia dengan cara yang sangat ekstrim.
"Siapa yang masangin nada alarm dengan lagu FIRE- nya BTS?" Tanyanya dengan lenguhan kecil di mulutnya.
Kemudian matanya yang tadinya hanya terbuka setengahnya kini terbuka lebar, "ya gue lah yang masang. Beggo." Hardiknya pada diri sendiri. Setidaknya Venya sadar bahwa dia yang memasang nada alarm itu.
Dia kemudian bangkit dari posisi tidurnya dan menggeleng pelan karena dia sedikit pusing. Dia bahkan hanya tidur kurang lebih tiga jam dan setidaknya Venya bisa merasakan pusing untuk yang seperti ini. Jika tidak pusing justru dia akan merasa bahwa dia sangat aneh. Setidaknya Venya masih punya rasa pusing. Itu lebih dari cukup.
"Ada jadwal apa gue hari ini?" Kata Venya untuk dirinya sendiri.
Matanya melotot seketika, "lupa gue. Hari ini kudunya gue ngasih tau Gemma buat berangkat sama Ari, n*jir." Kata Venya mengumpat sendiri.
Venya kemudian beranjak dari ranjangnya dan turun menuju ke kamar mandi dan besrsiap menemui Gemma di kamarnya. Dia bahkan lupa menggosok giginya. Dia hanya mencuci muka dan mengelapnya dengan handuk kemudian keluar dari kamarnya dan mengetuk kamar sebelahnya. Lebih tepatnya kamar Gemma yang memang sengaja bersebelahan dengan kamar Venya.
Ketukan pintu yang Venya lakukan seperti ketukan pintu kepada kamar yang kosong. Tidak ada sautan dari dalam atau sekedar membuka pintu. Padahal, semalam Venya masih berpapasan dengan Gemma yang akan menyimpan makanan untuknya. Setelah itu, Gemma pamit untuk tidur. Dia bahkan berjanji akan menyimpan makanan untuk sarapan tadi. Tapi pada kenyataannya tidak ada sarapan untuk Venya di pintu kamarnya yang sekarang sudah di pasang paku yang khusus untuk menggantungkan makanan dari Gemma untuk Venya.
"Kemana tu orang?" Tanya Venya sendiri.
Dia meraih ponsel di sakunya kemudian mencoba menghubungi Gemma dengan aplikasi chat w******p. Namun yang di tatapnya hanya pesan dengan ceklis satu pada layarnya. KEmudian Venya melihat kapan terakhir dia online ternyata malam hari sekitasr pukul satu dini hari.
"KEnapa gue ga chat dia aja tadi pagi. Kelupaa sih gue," umpatnya untuk dirinya sendiri.
Venya akan melanjutkan pencarian Gemma nanti. Setelah dia mandi. Setelah dia juga melihat ceklis dua setidaknya di aplikasi chatting tersebut. Venya butuh mandi dan sikat gigi. Dia juga perlu mempersiapkan hal apa saja yang akan ia bawa ke temlat yang akan di tunjukkan oleh Ari. Jika nanti tengah hari Gemma tidak ad akabar, mungkin vmVenya akan mengabari Gemma dia pergi kemana dan berapa hari ia akan di sana. Tidak akan lama mungkin.
Venya berencana hari minggu pulang. Dia juga perlu memastikan jika dia tidak menganggu kegiatan Ari. Maka dari itu, hari senin adalah hari kerja dan hari sekolah, Venya mungkin harus memastikan bahwa Ari tidak terganggu untuk sekolahnya.
Venya kembali ke dalam kamarnya dan mandi. Setelah dia mandi, dia mwbawa dan mengelyarkan tas agak besar dan memasukkan beberapa pakaian. Menyiapkan alat mandi dan alat makan sendiri kemudian menggendongnya. Tidak banyak yang ia bawa. Hanya ebberapa bagian dan memang sesuai rencana, Venya tidak akan lama di sana. Kalaupun lama, Venya akan meminta Ari untuk mengantarnya pulang dulu untuk membawa pakaian ganti danpakaian tambahan. Setidaknya sesuai dengan kesepakatan mereka berdua.
Lalu, Venya melihat jam di dinding di atas meja kerjanya, Venya melihat pukul setengah dua belas dan itu adalah tengah hari di hari sabtu. Venya berjanji pada dirinya sendiri untu nelihat chattingannya dengan Gemma. Namun, belum berbubah. Masih ceklis satu dan Venya sudah menghembuskan nafasnya lelah.
"Ga bakalan ikut kayaknya." Kata Venyauntuk dirinya sebdiri.
Gemma bahkan tidak mengatifkan aplikasi chattingnya. Jika dia mebelepon dia ke no biasa, Venya mungkin akan mendapat jawaban dar operator jika nomor itu tidak aktif. Lalu, Venya mengetikkan beberapa kalimat agar Gemma membacanya dan mengetahui dimana Venya berada.
"Gue pergi dulu, Gem. Diajakin temen gue. Nanti gue kabarin dan share location. Kalo lo mau nyusul boleh. Gue udah bilang kalo ada temenn gue yang mau ikut." Kata Venya membaca pesan yang akan ia kirim ke Gemma.
Sebenarnya, ga pake pesan begini juga ga papa. Tidak ada apa - apa lagi diantara mereka. Jadi, Venya dan Gwmma bebas melakukan apa yang mereka inginkan tanpa mengabari satu sama lain. Venya juga seharusnya tidak begini. Namun, dia setidaknya mengabari Gemma sebagai manager. Tidak ada yang lain selain itu.
"Nyus aja ke sana kalo lo baca chat ini. Kalo lo mau juga." Kata Venya membaca terusan pesannya, "kalo lo ga mau ga papa. Gue ppulang besok. Siang atau sore. Liat nanti." Lanjut Venya.
Kemudian Venya menutup ponselnya. Dia sudah mengabari Gemma. Sekarang, dia harus mengabari Ari jika dia tidak akan mengajak gemannya.
"Ri, gue ga jadi bawa temen. Ilang temen gue. Tapi dia udah gue kirimin oesen. Kalo dia mau dia bisa nyusul. Nanti gue share location, boleh kan?" Tanya Venya kepada Ari yang ada di kontak pesannya
Selanjutnya, Venya meneruskan packing laptopnya. Dia memasukkan laptop dan juga charger dan terminal listrik. Stopan lisrok itubia baw akarena takut colokan dari sana ke laptopnya nanti akan jauh. Jadi dia membawa roll - an listrik begitu. Venya juga membawa mousenya dan juga outline yang sedang ia kerjakan.
Venya membawa beberapa karena dia berencana menulsi banyak nanti di sana.
"Gue sampe lupa ngabari Gemma mau mgapain di temlat Ari." Katanya menepuk jidatnya sendiri.
Dia membuka lagi ponselnya. Belum sempat lagi dia membuka kolom chatting antara dirinya dan Gemma, Ari membalas pseannya tadi.
"Gapapa, temen gue juga barusan ngabari mau nyusul nanti malam. Dia ada acara dulu sore. Katanya nyusul nanti malam kalo sempet." Balasan dari Ari.
Venya meras atidak enak. Rasanya mungkin akan canggung ketika Venya harus bersuaan saja dnegan Ari. Tapi jika diingat lagi, Venya tidak canggung ketika mengobrol dengan Ari sewaktu itu. Venya juga ngobrol santai dengan Ari. Bahkan Ari sangat santai dengannya. Terbuka dan tentu saja membuat Venya nyaman. Setidaknya, mungkin annti juga akan seperti itu.