"Iya lagi." Kata Ari, "yang harus nanya begituan kan lo ya ke gue." Kata Ari lagi.
Venya terkekeh, "lo kayaknya kedinginan deh, Ri. Masuk sana, bentar lagi gue masuk juga." Ucap Venya kemudian dia mengetikkan beberapa kata lagi di lapropnya, "kalo gue sih cuman bawa baju buat dua hari." Kata Venya lagi. "Cuman terserah lo. Gue mah orangnya nyantai. Ga ada kerjaan. Kalo lo kan sekolah." Ujar Venya kemudian masih mengetikkan beberapa kalimat tanpa terganggu dengan obrolan dengan Ari yang sekarang sedang memperrimbangkan berapa harinia akan menginao di sini.
Ari diam menatao Venya yang masih fokus dengan latopnya. Venya juga sebeneranya tidak merasa terganggu sepertinya. Menurut tatapan dan pandangan Ari, Venya lebih bisa fokus lagi jika sendiri. Namun, tidak mungkin Ari meninggalkan Venya di sini begitu saja. Apalagi, malam ini malam minggu. Yang kemungkinan banyak kendaraan yang lewat di belakang Vila miliknom dan tante Ari.
Jika ada kendaraan berhenti dan melihat Venya sendirian di sini apalagi sudah larut malam, mungkin ada dua oandangan nereka di jalan sana. Ada yang memandang Venya sebagai manusia dan berkesempatan untum menculik Venya dan ada mata yang melihat Venya seperti hantu. Apalagi sekarang Venya tengah menggunakan hoodie miliknya yang berwarna putih. Kemungkinan orang jelas melihat hantu ditambah lagi dengan penampilan Venya memakai kupluk di kepalanya.
"Gue bisa ijin sampe seminggu kalo lo mau di sini selama itu." Kata Ari lagi.
Venya menghentikan ketikan dinkeyboard laptopnya kemudian melihat Ari dengan pelan. "Gue sih ga papa. Cuman gue malu - lah numpang di sini sama om dan tante lo." Kata Venya lagi, "lagian, kalo seminggu gue musti balik buat bawa baju. Ga mungkin gue pake baju itu terus. Sama tambahan lagi, baju dalem gue. Kan ga mungkin gue pake terus - terusan." Kata Venya.
Walaupun bisa di akui jika Venya jorok dalam urusan kerapihan. Namun, dalam berpakaian Venya cukup telaten. Dimana dia tidak menggunakan dua kali celana dalaam miliknya dan tidak menggunakannya dengan jangka waktu yang lama. Sehari minimal dis mengganti celana dalaamnya sekali. Dia tidak sejorok itu dengan tubuhnya sendiri. Baginya, tubuh ini adalah aset yang berharga.
"Beli aja. Di bawah ada supeemarket. Ada toko bajunya juga kalo ga salah." Kata Ari, "urusan baju luar, gue bisa pinjemin ke tanten Fany. Kalo lo mau." Saran Ari algi dengan gampangnya.
Venya mensrik nafasnya, "lo mau gue tinggal di sini selama seminggu. Lo mau gue numoang makan selama seminggu dengan sehari 3 kali makan dan lo juga mau gue minjem baju tante lo?" Tanya Venya kepada Arinyang mengangguk dengan ragu, "ya kali, Ri. Gue emang miskin tapi, ga segitunya gue ngerepotin orang." Kata Venya lagi.
Ari diam, "gue emang mau nemenin lo di sini selama seminggu, itu pun kalo lo mau." Kata Ari, "kalo lo keberatan, lo bisa minta gue buat anterin lo pulang." Ucap Ari lagi dengan santainya.
Venya menggeleng, "gue ga keberatan dengan tawaran lo. Jika memungkinkan, gue pengen tinggal di sini sampai gue kelarin kerjaan gue. Tapi gue ga mau numpang gitu aja, Ri." Kata Venya dengan nada melembut, "gue bahkan butuh makan dsn minum. Dan gue malu kalau kudu numpang tanpa ngasih apapun ke om sama tante lo." Kata Venya lagi berusaha menejlaskan keadaan yang ada di benak Venya.
Ari mengangguk sekarang, "bwsok kita obrolin sama om dan tante gue. Menurut gue, mereka bakal seneng dapet kabar kalo lo mau tinggal di sini sementara waktu." Kata Ari, "mungkin lo bakal di anggao adeknya tante gue kayak dia ke gue." Ucaonya lagin kemudian beranjak dari tempat duduknya, "buruan selesain, gue masuk duluan. Jangan lama - lama, gue tunggu di ruang tv." Ucap Ari sambil berjalan ke belakang Venya.
Sebelum melewati Venya dengan sempurna, tangan Ari mendarat di topi kupluk milik Venya dan menggosokkan tangannya sebentar di sana membuat Venya berdesis kesal, "rambut gue berantakan, Ari." Kata Venya.
*** *** ***
"Venya cuman ga mau ngerepotin om Guntur sama tante Fany aja kok." Kata Venya setelah mereka semua berkumpul di meja makan pagi itu.
Benar. Pagi itu.
Dimana Ari yang membangunkan Venya dengan brutal mengetuknpintu kamar tamu di vila om Guntur dan tante Fany itu padahal Venya baru tidur sekitar pukul satu dini hari. Semalam, setelah Ari meninggalkan Venya sendirian di luar, cuaca dan udara tidak mendukung Venya seutuhnya. Dimana hujan gerimis mulai turun setelah setengah jam Venya ditinggalkan oleh Ari ke dalam Vila.
Kemudian setelah selesai mengobrol dengan Ari sebentar di ruang TV, Venya ijin untuk melanjutkan nulisnya di kamar. Dimana dia ingin sendiri dan mendengar suara hujan di jendela kamarnya. Siang tadi, Venya dipeelihatkan ruangan kamar khusus tamu dengan nuansa yang sangat baik. Dimana Venya bisa meniikmati taman di depan rumah tadi dan suasana malam yang kini sudah dipandangi eh Venya. Dia terduduk di atas kasur dan menyesuaikan ketinggian laptopnya dengan bantal yang ada. Venya lupa membawa meja laptopnya. Sehingga ia menjadikan benda yang ada saja. Akrena di sini tidak disediakan meja untuk kerja.
Dengan ditemani hujan gerimis di puncak, Venya menajdi banyak ide. Di otaknya sudah sangat penuh ide. Venya bahkan menuliskan beberapa idenya di buku yang kosong. Menuliskan banyak ide cerita di sana dan entah untuk cerita yang mana, Venya belum tahu. Yang penting ide itu ditulis dulu. Takut - takut Venya lupa. Dia bahkan mencatat detail ide yang muncul.
Setelah menulis ide cerita dan menulis banyak bab di platform menulis berbayar itu, Venya memutuskan untuk tidur. Sebelum tidur, Venya mengecheck ponselnya. Tidaka da jawaban dari Gemma untuknya. Bahkan status chatnya saja amsih ceklis satu. Belum berubah menjadi ceklis dua apalagi ceklis dua biru. Venya sendiri sudah mengirim lokasi. Jadi, jangan salahkan Venya jika dia akan menginap di sini tanompa bilang dulu kepada Gemma.
Lagi - lagi Venya menepuk jidatnya mengingat bahwa tidak ada apa - apa di antara keduanya. Mereka sudah menjalani hiudp masing - masing. Venya masih saja terbawa suasana. Dimana Venya yang masih ingin terus mengabari Gemma dan Gemma yang menghilang seperti biasa. Dan Venya sudah belajar dari oengalaman sebelum - sebelumnya.
Jika Gemma menghilang seperri ini, mungkin dia sedang bersama selingkuhannya, menikmati amsa - masa yang bahkan tidak diberikan oleh Venya kepada Gemma. Atau bahkan Gemma sedang menikmaati tuubuh dari Sely.
Pagi itu, Venya dibangunkan oleh gedoran dari luar kamarnya. Biasanya sih, Venya sekitar jam tujuh pagi masih tidur dengan nyenyak jika bisa. Dia bahkan sering sekali melewatkan makan pagi atau sarapan. Venya kadang - kadang terbangun pagin jika dia ingin ke toilet atau masih ada pekerjaan yang harus dikerjakan.
Kalau di sini, mungkin Venya akan bangun pagi terus menerus. Malu. Ada om Guntur dan tante Fany yang sudah siap di meja makan. Apalagi jika Venya yang lama untuk mandi. Venya tidak ingin membuat om dan tante Ari itu menunggu terlalu lama. Maka dari itu, Venya hanya menggosok gigi dan mencuci muka saja. Setelah sarapan ini, Venya akan mandi dan meneruskan pekerjaannya.
Venya mengingat tujuannya ke sini bukan hanya untuk liburan dan mencari inspirasi. Tapi, dia juga bekerja di sini. Maka dari itu, Venya ingin sekali menyelesaikan sarapannya. Namun, gagal. Venya malah semakin lama di meja makan karena kalimat Ari yang mengatakan bahwa Venya ingin mencoba menginap selama seminggu di puncak bogor.
Setelah mengatakan itu, Ari juga menyebutkan jika Venyabadalah seorang penulis. Dia bahkan menyebutkan jika Venya akan menjadi terkenal nantinya. Maka dari itu om dan tante Ari itu terkekeh.
"Jadi, kamu ke sini ceritanya cari inspirasi, Ven?" Tanya tante Fany kepadanya.
Venya mengangguk canggung, "hehehe," tawanya, "iya tante. Baru belajar sih. Tapi di kosan sumpek. Kebetulan Ari mgajakin ke sini." Kata Venya lagi.
Om guntur terkekeh, "kamu boleh tinggal selama yang kamu mau. Sampai tulisan punyamu terbit juga boleh." Katanya, "di sini sepi. Kalo kita kedatengan tamu malah seneng. Apalagi nginep lama. Seakan punya keluarga baru." Lanjut om guntur krlada Venya.
Lagi - lagi Venya terkekeh kecil sambil mengangguk, "iya om. Aku pikir, seminggu juga cukup kerjaanku udah beres." Kata Venya, "aku ga mau ganggu tante sama om." Kata Venya lagi merendahkan dirinya.
"Ga ganggu kok." Kata tante Fany, "justru kami seneng ada kamu. Makan bareng sama nercansa bareng. Makin rame aja meja makan." Kata tante Fany, "nginep di sini yang lama ya? Please?" Ucap tante Fany memohon kepadanya.
Venya tersenyum kikuk, "aku ga bawa baju tante." Kata Venya lagi pelan.
"Siang ini ke mall, tante beliin kamu baju baru deh. Tinggal lamaan dikit di sini ya? Biar tante ada temennya." Kata tante Fany lagi.
"Ijin sama orang tua dulu, Ven." Kata om Guntur.
Deg.
Rasanya jantungnya berhenti sedetik kemudian berjalan lagi mengtarkan sinyak sakit hati ke otaknya. Bahkan Venya tidaj lunya orang tua. Selain bunda kori gengu saja.
Venya mengangguk, "siang ini aku telepom bunda. Mudah - mudahan di ijinkan." Kata Venya.
"Kalo ga di ijinin, biar tante aja yang ngomong smaa bundamu." Kata Tante Fany lagi.
Venya teekekeh, "iya tante. Bundaku baik kok." Kata Venya pelan
Bagaimana juga dia akan menjalaskan kepasa bunda jika ad alaki - laki yang membawanya ke luncak bogor. Tinggal di vila mewah milik tante dan omnya. Ujung - ujungnya nanti, bunda Kori selalu kepo dan selalu menayakan ini dan itu. Padahal Ari belum resmi jadi pacarnya.
Eh.
Apa katanya?
Belom resmi?
."memangnya bakal jadj smaa dia?" Tanya Venya beemonolg.
"Iya tantw percata, kamunya aja baik, bunda kamu juga pasti sama."