"wah gue ga tau kalo Villa lo ada kolam renangnya." Kata Venya pelan sambil berjalan ke pinggir kolam renang siang itu.
Venya memang tidak bertanya ini dan itu sesuai dengan karakternya. Bahkan Venya juga tidak menuntut Ari untuk menunjukkan seisi vila milik om dan tantenya kepada Venya. Dia hanya menunggu sampai Ari mengajak atau menjelaskan apa yang ada di vila ini. Entah itu karakter atau bahkan memang seperti itu Venya ingin terlihat oleh Ari. Setidaknya, Venya ingin dikenal sebagai orang yang tidak 'kepo' dalam urusan seperti ini. Bahkan Venya memutuskan untuk sangat sopan ketika bertemu orang baru. Termasuk Ari, tante Fany dan juga om Guntur.
"Lo ga tanya." Kata Ari kemudian menarik Venya untuk duduk di bangku yang ada di pinggir kolam, "di sini, mungkin inspirasi lo bisa selancar dan sebening air kolam." Kata Ari lagi.
Venya terkekeh, "buat apa gue tanya?" Tanya Venya. Dia kemudian membuka laptopnya, "kalo di jakarta, nulis di pinggir kolam gini sama aja ngejemur diri sendiri buat jadiin kulit warna eksotiis." Kata venya lagi.
Ari menatap Venya, "lo emang ga kepo sama keadaan Vila gue?" Tanya balik Ari untuk Venya. "Gue di rumah jakarta ga punya kolam renang seluas ini. Tanah mahal chuyy." Kata Ari lagi.
"Engga kepo tuh." Ucap Vwnya membalas pertanyaan dari Ari, "setidaknya, lo di rumah lo ada kolamnya." Sahut Venya lagi dengan laptop yang sudah ada di pahanya sekarang, "gue juga ada sih di kosan." Ucapnya lagi.
"Seriusan?" Tanya Ari percaya saja apa yang dikatakan Venya.
Venya lantas mengangguk, "iya. Kolam renang ember." Sahutnya lagi.
"Siallan gue kena tipu lagi." Ucap Ari.
Di antara Venya dan Ari memang tidak ada hubungan apa - apa. Atau bahkan belum? Venya tidak berharap banyak. Dia masih saja memikirkan Gemma untuk hari ini. Namun, di antara Venya dan Ari bahkan sudah ada ikatan yang tidak terlihat. Sambungan antara obrolan satu ke lainnya adalah hal yang sulit di lakukan oleh orang yang baru mengenal satu smaa lain. Bahkan Venya dan Ari seperti sudah memiliki kemistri dimana mereka berdua bisa saja bermain film dan mereka sudah mendapatkan ikatan yang seperti itu.
Venya dan Ari jelas sekali tidak menunjukkan salah satunya perhatian yang berlebihan kepada satu smaa lain. Mereka anteng dan mereka hanya memperhatikan hal besar yang terlihat. Belum atau bahkan tidak sampai ke detail kecil yang memang diperhatikan untuk ukuran pasangan. Mereka hanya memperhatikan detail besarnya saja. Oleh karena itu, di antara mereka tidak menyadari jika ada rasa 'suka' satu sama lain.
Beda tentu saja. Di antara Ari dan Venya yang terlihat lebih menonjol adalah Ari. Dimana Ari bersikap sangat terbuka dan jujur mengungkapkan apa yang ia rasakan. Dimana Venya tidak bisa menunjukkan itu. Hal itu sangat sulit ditonjolkan dan di tunjukkan oleh Venya. Berhubungan dengan sikap Venya yang tidak ingin tau privasi orang lain, dia juga tidak ingin privasinya terlihat atau bahkan tidak ingin privasinya diketahui oleh banyak orang.
Termasuk, keberadaan Flora dikehidupannya.
Berbicara tentang Flora, dia masih aktif menjawab pertanyaan dan komentar di ceeita - cerita yang di pasang di platform menulis berbayar. Kadang ada sajanyang membuat Venya tertawa perihal koin yang dibayarkan terlalu mahal. Padahal, Venya sebagai Flora sudah memberitahukan bahwa koin yang di hasilkan untuk penulis tidak smeuanya masuk ke kantong penulis. Melainkan ada beberapa potongan yang masuk ke perusahaan. Jadi, jika ada yang berkomentar tentang koin yang mahal, Flora biasnaya langsung menjawab 'tolong beritahu perusahaan menulis untuknoerihal koin. Karena koin yang saya hasilkan tidak sama besar dengan koin yang sudah anda bayarkan' katanya.
Pernah sekali Venya sebagai Flora berkomentar, 'untuk maslaahbkoin, mungkin platform menulis juga emmerlukan koin itu untuk jakur pronosi dan membayar gaji para pekerja di kantor pusat. Maka dari itu harga koin kadang selangit.' ya walaupun tidak sampai selangit juga. Venya sebagai Flora hanya memberikan kesan hiperbola untuk kalimatbkomentar hiperbola lainnya. Dsn Venyabjugabtidak tahubhitungan koin seperti apa. Yang jelas, Venya tidak menerima semuanya.
Kebijakan tiap platform berbeda - beda. Jadi, Venya tidak bisa menjelaskan detailnya. Bisa disebut juga itu sebagai 'rahasia perusahaan'.
"By the way, lo nulis dimana sih?" Tanya Ari.
Orang ini sekarang sudah mulai kepo dengan urusan Venya. Bahkan Venya sendiri bingung harus menjawab apa. Dia bahkan bingung juga harus mendapatkan darimana inspirasi untuk menjawab pertanyaan terlarang itu.
"Kenapa emangnya?" Tanya Venya lagi. Dia akan berusaha sebaik mungkinnuntuk menghindari pertanyaannyang menjurus ke arah Flora. Bahkan jawabannya juga tidak bisa di temukan.
"Ya penasaran aja. Lo bisa samper berjam - jam gitu nulis,, cari inspirasi bahkan di sini aja lo ga menikmati hari ini." Kata Ari, "loe fokus ke nulis dan itu buat gue penasaran. Apakah lo emang nulis di ebook atau bahkan bisa saja buku lo di terbitkan misalnya." Kata Ari lagi.
Venya malah makin bingung harus menjawab apa. Dia bahkan tidak bisa menemukan jawaban yang pas. Dia takut jika Flora - nya terbongkar. Bukan karena malu. Hanya saja, Venya belum siap untuk menerima pujian atau bahkan lebih buruknya kritikan yang membuat dia malas untuk menulis.
Tapi, jika di pikrikan lebih lanjut. Seorang Ari tidak mungkin mengungkapkan atau bahkan mengkritik secara pedas tentang Venya yang dikenal sbeagai Flora di dalam dunia kepenulisan. Bahkan Venya saja yang berpikiran berlebihan. Tapi, tetap saja, Venya tidak ingin memberitahu dulu Ari tentang dirinya. Jadi, Venya akan membuat alasan yang cukup masuk akal.
"Jadi, gue ngirim contoh naskah gue beserta sinopsis dan outline untuk cerita gue ke penerbit yaaa, lumayan gede lahnya, gue belum mau nyebutin penerbitnya." Kata Venya, Ari mengangguk mendengarkan, "nah, cerita gue dari sekian banyak yang gue kirim, ada salah satu yang keterima dan katanya mau di terbitkan. Jadi, gue kejar deathline buat masa penerbitan itu." Kata Venya.
Bukankah itu terdengar masuk akal?
"Jadi mau langsung terbit cetak aja ya?" Tanya Ari yang langsung diangguki oleh Venya dengan cepat. "Lo ga mau coba platform menulis berbayar, Ven?" Tanya Ari lagi.
Baiklah. Dia bahkan terkenal lewat sana dan sekarang dia harus berpura - pura tidak tahu. Dia akan pura - pura boodoh.
"Gimana - gimana?" Tanyanya pura - pura kepo
"Jadi, ada satu aplikasi yang bisa bayar lo. Katanya sih kalo terkenal dan cerita lo bagus bisa naik terbit cetak juga. Nah, tapi di aplikasi itu bisa lo sisihkan uangnya buat tambahan." Kata Ari, "lo mau coba join ga?"