Embun belum kering di pucuk padi ketika Pak Sahid melihat kertas itu menempel di daun pintu balai warga. Pagi di Cikamuning biasanya milik suara cangkul yang membentur tanah berlumpur, milik perempuan yang menjereng kelambu menampi gabah, milik anak-anak yang berlari menyusuri pematang menuju jalan aspal di ujung kampung. Tapi pagi ini, langkah Pak Sahid berhenti di tiga meter dari pintu.
Kertasnya putih, terlalu putih untuk kampung yang segala-galanya berwarna tanah. Di pojok atas ada lambang yang ia tak kenal, lalu deretan huruf tebal yang membuat dadanya berdenyut sebelum ia sempat membacanya. Tangannya yang kapalan menyentuh sudut kertas, lalu menariknya pelan seakan takut kertas itu menggigit.
SURAT PERINGATAN. PENGOSONGAN LAHAN. Di bawahnya, dalam huruf yang lebih kecil, nama sebuah perusahaan: PT Graha Megah Lestari. Lalu kalimat yang ia baca tiga kali karena ejaannya tak mau masuk ke kepalanya pada bacaan pertama. Tanah yang ditempati warga, katanya, telah menjadi bagian dari kawasan industri terpadu. Warga diberi waktu tiga puluh hari untuk menyelesaikan urusan administrasi dan meninggalkan lokasi.
Pak Sahid sudah enam puluh sembilan tahun. Ia lahir di rumah yang masih ia tempati sekarang, di petak tanah yang dulu dibuka kakeknya dengan parang dan punggung yang melengkung. Ia tahu setiap sudut sawah ini seperti ia tahu garis-garis di telapak tangannya sendiri. Tapi ia tidak tahu apa itu kawasan industri terpadu, dan ia tidak tahu siapa yang memberi orang luar hak untuk menyuruhnya pergi.
Ia melipat kertas itu pelan, lalu membukanya lagi, seakan dengan melipat ia bisa membuatnya berubah isi. Dari arah surau, terdengar langkah. Yati, anak Bu Inah, datang membawa rantang untuk balai. Gadis itu berhenti melihat wajah Pak Sahid.
"Ada apa, Mbah?"
Pak Sahid tidak menjawab. Ia hanya mengangkat kertas itu, dan Yati mendekat, membaca dengan dahi berkerut, dan ketika ia sampai pada kata pengosongan, wajahnya pucat. "Ini... ini soal apa, Mbah? Soal sawah?"
"Panggil yang lain," kata Pak Sahid akhirnya, suaranya serak. "Panggil Kang Dirja, Bu Inah, Pak Ratib. Semuanya. Suruh kumpul di balai sebelum matahari tinggi."
Kabar di kampung berjalan lebih cepat daripada angin yang menggoyang padi. Sebelum tengah hari, balai yang biasanya kosong sudah penuh. Orang-orang berdiri berdesakan, sebagian masih membawa cangkul, sebagian masih bercelana basah karena baru turun dari sawah. Kertas itu beredar dari tangan ke tangan. Ada yang membacanya dengan menggerakkan bibir, ada yang menyerahkannya cepat-cepat pada tetangga karena tak bisa membaca tulisan resmi, ada yang hanya menatap lambang di pojok atas dengan tatapan curiga.
"Tanah ini tanah kita," kata Kang Dirja, lelaki bertubuh tegap yang sawahnya paling luas. "Sejak kakek-nenek kita. Mana bisa ada perusahaan tiba-tiba ngaku punya."
"Kita punya apa?" tanya Pak Ratib pelan, dan pertanyaan itu membuat balai tiba-tiba sunyi. "Maksudku, surat. Kita punya surat apa?"
Pak Sahid menelan ludah. Ia tahu jawabannya, dan jawaban itu membuatnya gelisah sejak ia pertama membaca kertas itu. "Girik," katanya. "Kita punya girik. Letter C di kelurahan. Pajak kita bayar tiap tahun. Itu bukti kita garap tanah ini turun-temurun."
"Tapi mereka bilang punya sertifikat," Bu Inah menimpali, suaranya bergetar. "Sertifikat itu kan lebih kuat dari girik, ya? Anak saya pernah bilang begitu. Kalau orang kota mau jual-beli tanah, yang dipakai sertifikat, bukan girik."
Kalimat itu jatuh ke tengah ruangan seperti batu ke kolam. Tak seorang pun langsung membantah, karena tak seorang pun benar-benar tahu. Mereka petani. Mereka tahu kapan menanam, kapan menyemai, kapan air harus dibendung dan kapan dilepas. Tapi soal alas hak, soal sertifikat, soal kantor pertanahan—itu dunia lain, dunia berkertas dan bercap, dunia yang selalu membuat mereka merasa kecil dan salah meski mereka tidak melakukan apa-apa.
"Kita ke pengacara," kata Kang Dirja akhirnya.
Seseorang tertawa pahit. "Pakai apa bayarnya? Gabah?"
Diam lagi. Pak Sahid memejamkan mata. Ia ingat seorang kerabat jauh yang dulu pernah berperkara soal warisan, habis sawah sepetak hanya untuk membayar jasa orang yang katanya membela tapi malah membuatnya makin miskin. Mereka tak punya uang untuk perang semacam ini. Tapi mereka juga tak bisa diam menunggu tiga puluh hari habis dan buldoser datang.
"Saya pernah dengar," suara itu datang dari belakang, dari Yati yang sejak tadi diam. Semua menoleh. Gadis itu menunduk, agak malu karena tiba-tiba jadi pusat perhatian. "Di kota, ada lembaga yang... bantu orang yang nggak mampu bayar pengacara. Gratis, katanya. Lembaga bantuan hukum. Saya pernah baca di koran soal kasus orang yang menang lawan pabrik."
"Gratis?" Pak Ratib mengulang dengan nada tak percaya. Di kampung ini, kata gratis selalu dicurigai. Yang gratis biasanya menipu, atau setidaknya tidak bersungguh-sungguh.
"Saya nggak tahu lembaganya masih ada atau nggak," Yati buru-buru menambahkan. "Tapi mungkin... mungkin bisa dicoba."
Pak Sahid menatap gadis itu lama. Lalu ia memandang berkeliling, ke wajah-wajah yang ia kenal seumur hidupnya. Wajah-wajah yang sudah dilumuri kekhawatiran, yang dalam beberapa jam saja kehilangan ketenangan pagi mereka. Delapan puluh empat keluarga. Beberapa ratus jiwa. Anak-anak yang lahir di sini, orang tua yang ingin dikubur di sini, di sebelah kuburan leluhur yang sudah lebih dulu tidur di pinggir sawah.
"Besok," kata Pak Sahid, dan suaranya kini lebih mantap. "Besok saya dan beberapa orang berangkat ke kota. Kita cari lembaga itu. Kita bawa semua girik yang ada, surat pajak, apa pun. Kita ketuk pintunya. Kalau ditolak, kita ketuk pintu yang lain." Ia melipat kertas peringatan itu dan memasukkannya ke saku bajunya, di dekat dada. "Tanah ini bukan cuma tanah. Ini nyawa kita. Dan nyawa tidak diberikan begitu saja kepada orang yang menyodorkan kertas."
Malam itu, di Cikamuning, lampu-lampu rumah menyala lebih lama dari biasanya. Di balik dinding-dinding bambu dan tembok yang belum diplester, orang-orang membongkar lemari, membuka peti kayu, mencari lembar-lembar tua yang sudah menguning, mencium baunya yang seperti debu dan masa lalu. Girik. Surat-surat yang selama ini hanya disimpan dan dilupakan, kini tiba-tiba menjadi satu-satunya pegangan terhadap masa depan yang mulai terasa rapuh seperti kertas itu sendiri.