Lisa dan Romi yang sedang bersembunyi di dalam saluran ventilasi udara, tak sengaja berhasil menemukan keberadaan kamar pribadi milik Adnan. Kemudian mereka berdua berusaha untuk mengintip dan menguping pembicaraan yang sedang dilakukan oleh Adnan, dengan seorang pria misterius lewat sambungan telepon. Lalu alangkah terkejutnya Lisa dan Romi ketika mereka mengetahui rencana Adnan yang sebenarnya. Adnan rupanya memiliki kesepakatan dengan sang Komisaris Polisi di jakarta, yang akan membersihkan namanya sekaligus membantunya untuk menjadi walikota, lalu menjadi Presiden. Sehingga nantinya mereka berdua bisa menguasai Negeri ini.
Hal yang harus dilakukan oleh Adnan saat ini adalah, setelah memastikan bahwa Kriss dan kawan-kawannya sudah berhasil dihabisi oleh para anak buah Jiro, maka selanjutnya dia akan menyingkirkan Jiro dengan tangannya sendiri, lalu membawa kabur seluruh berkas penting, tumpukan uang yang tersimpan di dalam ruangan lemari besi, dan tentu saja aplikasi God Apps. Setelah itu, dia akan kembali ke Jakarta sambil membawa sebuah cerita palsu, yakni bahwa dirinya selama ini menyamar untuk menyusup ke dalam kelompok Jiro, dan berhasil menumpas sarang penjahat itu seorang diri, sedangkan Kriss beserta kawan-kawannya gugur karena bertindak di luar prosedur.
“Tenang saja, Pak Komisaris... Semuanya sudah saya perhitungkan. Berkas-berkas itu akan saya bakar sendiri di depan Bapak, sehingga nama Bapak dan nama rekan-rekan yang lain akan benar-benar bersih. Dan setelah itu, saya harap Bapak juga tidak lupa dengan janji Bapak kepada saya.” Ucap Adnan, sambil berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya.
Kemudian terdengarlah suara dari seberang telepon, yang keluar cukup keras dari alat telepon itu, sehingga Lisa dan Romi yang sedang berada di dalam saluran ventilasi udara juga bisa mendengarnya dengan cukup jelas. “Aku tidak pernah lupa dengan janjiku, Adnan. Setelah semua ini beres, laporan tentang keterlibatanmu akan hilang, lalu kau akan kembali sebagai pahlawan. Setahun kemudian kau maju sebagai walikota, dengan wajah seorang polisi yang membongkar jaringan kejahatan terbesar di negeri ini. Rakyat menyukai cerita seperti itu. Setelah itu, jalanmu menuju kursi Presiden akan sangat mudah. Dan kalau kau sudah duduk disana, maka tidak akan ada lagi orang yang berani mengusik kita berdua.”
“Baik Pak, saya mengerti.” Jawab Adnan.
“Satu hal lagi... Jangan tinggalkan saksi. Satupun.” Ucap sang Komisaris, lalu sambungan telepon itu terputus.
Sesaat setelah percakapan itu berakhir, keadaan di dalam saluran ventilasi udara menjadi sangat sunyi. Lisa dan Romi hanya bisa terdiam sambil saling bertatapan, wajah mereka berdua sama-sama pucat, dan tangan mereka terasa dingin. Bukan karena mereka takut kepada Adnan, melainkan karena mereka baru saja mendengar sesuatu yang jauh lebih besar dan jauh lebih berbahaya daripada apa yang selama ini mereka bayangkan.
Selama ini, mereka semua mengira bahwa musuh terbesar mereka adalah Leonard, lalu berganti menjadi Jiro dan Adnan. Namun ternyata, di belakang semua orang itu masih ada satu orang lagi yang tidak pernah mereka curigai sama sekali, yakni orang yang selama ini memberikan tugas-tugas menumpuk kepada Kriss, orang yang mengambil alih proses interogasi terhadap Leonard, orang yang menolak untuk merekrut Kriss ke dalam pasukan khusus, dan orang yang membentuk pasukan khusus yang tidak pernah menghasilkan apapun selama dua bulan. Semua kejanggalan yang selama ini membuat Kriss frustasi, ternyata memiliki satu jawaban yang sangat sederhana.
Kemudian, dengan suara yang sangat pelan, hampir menyerupai hembusan nafas, Romi mulai berbisik kepada Lisa. “Ka- kak... Jadi selama ini, orang yang menghalangi kak Kriss itu adalah atasannya sendiri.” Bisik Romi.
“Iya... Dan sekarang aku mengerti kenapa pasukan khusus itu tidak pernah menemukan apapun. Karena mereka memang tidak pernah disuruh untuk menemukan apapun.” Jawab Lisa, sambil mengepalkan tangannya.
“Kalau kita hanya menangkap Jiro dan Adnan, lalu membawa mereka pulang ke Jakarta, maka mereka berdua akan diserahkan kepada Komisaris itu juga, dan semuanya akan hilang begitu saja... Kita akan kalah, kak.” Ucap Romi.
Perkataan Romi tersebut membuat Lisa terdiam cukup lama, sebab dia tahu bahwa apa yang dikatakan oleh Romi itu memang benar adanya. Menangkap penjahat memang mudah, tetapi menyerahkan penjahat itu kepada orang yang justru melindunginya, sama saja dengan melepaskannya kembali ke jalanan.
“Berarti kita butuh bukti. Bukti yang tidak bisa dibakar, tidak bisa dihilangkan, dan tidak bisa ditutup-tutupi oleh siapapun.” Ucap Lisa.
“Ya... Dan bukti itu ada dua. Yang pertama adalah berkas milik Leonard yang dicuri oleh Adnan, dan yang kedua adalah rekaman percakapan barusan. Keduanya pasti tersimpan di dalam server milik Jiro, karena Jiro merekam dan menyimpan segala sesuatu yang terjadi di dalam kastilnya, termasuk sambungan telepon yang barusan dipakai oleh Adnan.” Jelas Romi, dengan suara yang masih berbisik.
“Kau yakin?” Tanya Lisa.
“Sangat yakin. Aku mengenal cara berpikir Jiro, kak. Dia itu tipe orang yang tidak akan pernah membiarkan satupun data lewat begitu saja di dalam rumahnya sendiri. Dia pasti menyimpan semuanya, bukan untuk melindungi Adnan, tapi untuk mengendalikan Adnan.” Jawab Romi.
Setelah mendengar penjelasan itu, akhirnya Lisa dan Romi segera menyusun rencana secara singkat di dalam saluran ventilasi yang sempit dan berdebu tersebut. Mereka berdua sepakat untuk berpencar, karena tidak ada lagi waktu yang tersisa untuk mereka pakai secara bersama-sama.
“Aku akan turun di lorong sayap timur, lalu mencari Kriss dan Beni. Mereka berdua harus tahu tentang Komisaris itu secepat mungkin, sebab kalau nanti Kriss bertemu dengan Adnan lebih dulu, Kriss pasti akan menangkapnya secara baik-baik sesuai prosedur, dan itu justru akan menjadi bencana bagi kita semua.” Ucap Lisa.
“Baik kak. Sedangkan aku akan terus merangkak mengikuti saluran ini sampai ke ruang komputer.” Jawab Romi.
“Romi, dengarkan aku baik-baik... Kau ini bukan petarung. Kalau kau bertemu siapapun disana, jangan melawan, langsung lari. Mengerti?” Ucap Lisa dengan tegas.
“Me- mengerti, kak.”
Kemudian, sebelum mereka berdua berpisah, Lisa sempat menepuk pundak Romi sekali, lalu berkata dengan suara yang sedikit lebih lembut daripada biasanya. “Jangan mati. Kalau kau mati, siapa yang akan memperbaiki kekacauan yang kau buat sendiri ini?” Ucap Lisa sambil tersenyum kecil.
Romi hanya bisa mengangguk sambil menundukan kepalanya, sebab dia tidak sanggup menjawab apa-apa. Lalu setelah itu, Lisa segera merangkak ke arah timur, sedangkan Romi merangkak ke arah yang berlawanan, yakni mengikuti hawa dingin yang berhembus dari arah menara utama.
Perjalanan Romi di dalam saluran ventilasi udara itu sama sekali tidak mudah. Saluran tersebut hanya cukup untuk dilewati oleh satu orang dengan cara merangkak, dan pelat logam yang dia pijak akan mengeluarkan bunyi berdenting setiap kali lututnya menekan terlalu keras, sehingga Romi harus memindahkan berat tubuhnya secara perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, persis seperti orang yang sedang berjalan di atas kaca tipis.
Beberapa kali Romi melewati jeruji ventilasi yang menampilkan pemandangan ruangan di bawahnya, dan di salah satu jeruji itu, dia melihat sekitar delapan orang anak buah Damian yang sedang berkumpul di sebuah ruang billiard sambil memeriksa senjata mereka masing-masing. Melihat hal itu, Romi langsung menahan nafasnya dan berhenti bergerak sama sekali, sampai akhirnya orang-orang itu keluar dari ruangan tersebut.
Namun ketika Romi mulai merangkak lagi, tiba-tiba saja sambungan pelat di bawah perutnya mengeluarkan bunyi berderit yang cukup keras, sehingga salah satu gangster yang masih tertinggal di ruangan itu langsung mendongak ke arah langit-langit sambil mengernyitkan dahinya. Romi yang sadar akan hal itu, seketika langsung membeku di tempatnya, seluruh tubuhnya berkeringat dingin, dan jantungnya berdetak sangat kencang sampai-sampai dia khawatir bahwa suara detak jantungnya sendiri akan terdengar sampai ke bawah.
Untungnya, beberapa detik kemudian orang itu hanya mengangkat bahunya, lalu bergumam. “Ah, tikus lagi.” Gumam orang tersebut, kemudian dia segera keluar menyusul teman-temannya. Sehingga Romi bisa kembali menghembuskan nafasnya secara perlahan, lalu melanjutkan perjalanannya sambil bergumam pelan di dalam hati, bahwa dia tidak akan pernah lagi meremehkan pekerjaan seorang tukang servis pendingin ruangan.
Sementara itu, di dalam kamarnya, Adnan segera memasukan alat teleponnya ke dalam saku, lalu dia mengambil sebuah pistol beserta sebuah kartu akses berwarna hitam yang selama ini dia simpan di dalam laci meja riasnya. Kartu akses itu adalah kartu yang sudah lama dia salin secara diam-diam dari kartu milik Jiro, tanpa sepengetahuan siapapun.
Dengan langkah yang mantap, Adnan segera keluar dari kamarnya lalu berjalan menuju ke sayap utara kastil, tepatnya ke sebuah ruangan yang letaknya berada di bawah menara utama, yakni ruangan lemari besi. Ruangan itu adalah ruangan yang paling dijaga di seluruh kastil, dengan pintu baja setebal 40 sentimeter, dan dinding beton yang dilapisi oleh pelat logam, sehingga tidak akan ada satupun sinyal yang bisa menembus keluar dari ruangan tersebut.
Sesampainya disana, Adnan segera menempelkan kartu akses hitam itu ke sebuah alat pemindai yang menempel di dinding, kemudian terdengarlah suara mesin yang berputar, lalu pintu baja yang sangat berat itu mulai terbuka secara perlahan sambil mengeluarkan suara berdecit.
Ketika pintu itu sudah terbuka seluruhnya, Adnan segera melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut sambil tersenyum lebar, sebab di dalam kepalanya saat ini sudah terbayang tumpukan uang yang menggunung, yang selama ini selalu dia lihat setiap kali Jiro membuka ruangan itu. Uang itulah yang akan menjadi modal bagi seluruh rencana besarnya, mulai dari kampanye, membeli suara, sampai membeli mulut orang-orang yang tahu terlalu banyak.
Namun, senyuman di wajah Adnan itu hanya bertahan selama beberapa detik saja. Sebab ketika lampu di dalam ruangan lemari besi itu menyala secara otomatis, yang dia lihat di hadapannya bukanlah tumpukan uang, melainkan rak-rak besi yang kosong melompong, tanpa selembarpun uang di atasnya. Yang tersisa di ruangan itu hanyalah sebuah meja kecil di tengah ruangan, dengan setumpuk kertas yang tertata rapi di atasnya.
“A- apa ini?? Mana uangnya?!” Ucap Adnan, sambil berjalan cepat menuju meja tersebut.
Lalu Adnan segera mengambil tumpukan kertas itu dan membacanya satu persatu dengan tangan yang mulai bergetar. Ternyata, kertas-kertas itu adalah bukti pengiriman dana, ratusan lembar banyaknya, dengan nama-nama lembaga yang tertulis di setiap lembarnya. Ada nama rumah sakit anak di wilayah yang sedang dilanda perang, ada nama dapur umum di kamp pengungsian, ada nama sekolah-sekolah kecil di berbagai pelosok, dan ada juga daftar panjang berisikan nama anak-anak beserta jumlah biaya pendidikan yang sudah dilunasi untuk mereka.
Seluruh uang yang ada di dalam ruangan itu, tanpa tersisa sepeserpun, sudah disumbangkan.
“Tidak... Tidak mungkin... TIDAAAK!!” Teriak Adnan, sambil melemparkan tumpukan kertas itu ke lantai.
Kemudian, tepat pada saat itu juga, terdengarlah suara tepuk tangan yang pelan namun terdengar sangat jelas, berasal dari arah pintu ruangan lemari besi tersebut. Maka Adnan segera membalikan badannya, dan disana sudah berdiri Jiro sambil bersandar di kusen pintu, dengan wajah yang sangat santai seperti biasanya.
“Selamat malam, Adnan. Kau datang lebih cepat dari perkiraanku, aku kira kau baru akan kesini besok pagi.” Ucap Jiro.
“Kau... Kemana semua uangnya?!” Bentak Adnan.
“Sudah kau baca sendiri kan? Semuanya sudah kukirimkan. Sebagian ke rumah sakit anak, sebagian ke kamp pengungsian, sebagian lagi untuk biaya sekolah anak-anak di seluruh dunia yang tidak punya biaya. Prosesnya kulakukan sedikit demi sedikit selama dua bulan terakhir, supaya tidak ada yang curiga, dan tentu saja dengan bantuan God Apps, sebab aplikasi itu selalu tahu dimana tempat yang paling membutuhkan.” Jelas Jiro dengan tenang.
“KENAPA?! Kenapa kau melakukan itu?! Uang itu adalah milik kita! Itu adalah hasil kerja keras kita selama ini!” Teriak Adnan.
Kemudian Jiro melangkah masuk ke dalam ruangan itu secara perlahan, lalu dia mulai berbicara dengan nada suara yang sedikit berbeda, terdengar lebih dingin daripada biasanya. “Kerja keras? Kita hanya mengetik beberapa baris perintah, lalu uang itu datang sendiri. Itu bukan kerja keras, itu namanya curang... Aku ini seorang pemain, Adnan. Dan seorang pemain akan berhenti bermain ketika permainannya sudah tidak ada tantangannya lagi. Dengan God Apps, aku bisa mendapatkan apapun tanpa usaha sedikitpun. Uang sebanyak apapun sudah tidak ada artinya bagiku, karena aku bisa mendapatkannya lagi kapanpun aku mau. Jadi daripada uang itu hanya menumpuk dan berdebu di ruangan ini, bukankah lebih menarik kalau aku memakainya untuk sesuatu yang bahkan tidak bisa dibeli oleh God Apps?” Ucap Jiro.
“Kau sudah gila...” Ucap Adnan sambil menggelengkan kepalanya.
“Semua orang yang pernah memegang aplikasi itu selalu berkata begitu kepadaku. Leonard bilang aku gila ketika aku mengkhianatinya, dan sekarang kau bilang aku gila ketika aku membuang uang yang bahkan bukan hasil keringat kita... Coba pikirkan baik-baik, Adnan. Apa yang sebenarnya kau kejar selama ini? Kau ingin menjadi walikota, lalu menjadi Presiden, supaya apa? Supaya kau bisa meminta lebih banyak lagi kepada sebuah aplikasi yang bahkan tidak kau mengerti cara kerjanya?” Ucap Jiro.
Adnan sama sekali tidak menjawab pertanyaan itu, dia hanya berdiri diam sambil mengatupkan rahangnya, karena sebenarnya dia sendiri juga tidak pernah benar-benar memikirkan jawabannya. Sejak dulu, yang ada di dalam kepalanya hanyalah keinginan untuk terus naik dan terus aman, tanpa pernah bertanya kepada dirinya sendiri, untuk apa semua itu dia kumpulkan.
“Mungkin. Tapi setidaknya aku tidak berpura-pura menjadi orang baik seperti dirimu.” Jawab Jiro.
Perkataan itu langsung membuat Adnan tersentak, sebab dia jadi curiga bahwa Jiro sudah mengetahui rencananya. Maka tanpa pikir panjang lagi, Adnan segera mencabut pistol dari balik pinggangnya, lalu membidikan senjata itu tepat ke arah kepala Jiro.
“Sambungan teleponmu barusan sangat menarik, terutama bagian tentang kursi Presiden itu. Sayang sekali, seluruh sambungan telepon di dalam kastil ini melewati serverku, jadi aku sudah mendengarkan seluruh isinya bahkan sebelum kau menutup teleponmu.” Ucap Jiro, sambil tetap tersenyum.
“Kalau begitu kau memang harus mati malam ini.” Ucap Adnan, lalu dia segera menarik pelatuk pistolnya.
Namun, tidak ada satupun peluru yang keluar dari pistol tersebut, yang terdengar hanyalah bunyi klik yang kosong. Adnan segera memeriksa pistolnya, dan alangkah terkejutnya dia ketika dia menyadari bahwa kotak pelurunya sudah kosong sama sekali.
“Aku sudah mengosongkannya kemarin sore, ketika kau sedang tidur siang.” Ucap Jiro.
Kemudian, sebelum Adnan sempat berbuat apa-apa lagi, Jiro langsung saja mengeluarkan sebuah stunt gun dari balik jasnya, lalu dia menembakannya ke arah Adnan. Maka seketika itu juga, dua buah kabel dengan ujung berkait langsung menancap di perut Adnan, dan aliran listrik bertegangan tinggi segera menjalar ke seluruh tubuhnya, sehingga tubuh Adnan langsung mengejang, lalu jatuh terkapar ke lantai sambil bergetar hebat.
“Aaaakkhhh!!”
Setelah memastikan bahwa Adnan sudah benar-benar lumpuh dan tidak bisa bergerak sama sekali, Jiro segera berjalan mundur keluar dari ruangan lemari besi tersebut, lalu dia menekan sebuah tombol di dinding, sehingga pintu baja setebal 40 sentimeter itu mulai menutup secara perlahan.
“Ji- Jiro! Jangan!! Buka pintunya!!” Teriak Adnan, sambil berusaha merangkak ke arah pintu.
“Tenang saja, ruangan ini punya lubang udara, jadi kau tidak akan mati kehabisan nafas. Anggap saja ini adalah hukuman karena kau sudah bermain curang di dalam permainanku sendiri. Selamat malam, calon Presiden.” Ucap Jiro, lalu pintu baja itu tertutup rapat, dan teriakan Adnan pun langsung lenyap ditelan oleh dinding beton yang sangat tebal.
Sementara itu, di waktu yang hampir bersamaan, Romi akhirnya berhasil sampai di ujung saluran ventilasi udara, tepatnya di atas sebuah ruangan yang hawanya jauh lebih dingin daripada seluruh ruangan lain yang sudah dia lewati. Melalui jeruji ventilasi, Romi bisa melihat puluhan lemari server yang berjajar rapi dengan lampu-lampu kecil yang berkedip, juga sebuah meja panjang dengan belasan layar komputer di atasnya, dan yang paling penting adalah, ruangan itu sedang kosong tanpa penghuni.
Maka tanpa membuang waktu lagi, Romi segera membuka jeruji ventilasi tersebut, lalu dia menjatuhkan dirinya ke lantai ruangan itu. Kemudian dia segera berlari ke arah meja komputer, lalu duduk di kursi besar milik Jiro, dan mulai menggerakan jari-jarinya di atas papan ketik dengan sangat cepat.
Awalnya Romi sempat kesulitan, sebab Jiro sudah memasang berlapis-lapis pengaman pada sistemnya. Namun, ada satu hal yang tidak diketahui oleh Jiro, yakni bahwa Romi adalah orang yang menulis baris perintah pertama dari aplikasi itu, sehingga sedalam apapun Jiro mengubur aplikasi tersebut, Romi tetap mengenali bentuk asli buatannya sendiri, seperti seorang ayah yang tetap bisa mengenali anaknya walaupun sudah dipakaikan topeng.
Setelah sekitar dua puluh menit bekerja tanpa henti, akhirnya Romi berhasil menembus lapisan terakhir, dan seluruh isi server milik Jiro kini sudah terbuka di hadapannya. Hal pertama yang dia lakukan adalah menyalin seluruh berkas milik Leonard, beserta rekaman percakapan telepon Adnan dengan sang Komisaris, lalu mengirimkan salinannya ke beberapa tempat penyimpanan miliknya yang tersebar di internet, sehingga bukti-bukti itu tidak akan bisa dihilangkan lagi oleh siapapun, bahkan seandainya kastil ini hancur berkeping-keping sekalipun.
Kemudian, Romi mulai mengerjakan hal yang paling penting, yakni God Apps itu sendiri. Sambil menatap layar dengan mata yang berkaca-kaca, Romi bergumam pelan kepada dirinya sendiri. “Maafkan aku... Aku membuatmu untuk membantu orang, tapi malah membuat banyak orang celaka.” Gumam Romi.
Lalu, satu persatu Romi mulai mencabut bagian-bagian yang dulu dipasang oleh Jiro, yakni bagian yang membuat aplikasi itu bisa dimiliki, dikendalikan, dan diperintah oleh satu orang saja. Setelah itu, Romi menulis ulang aturan dasar dari aplikasi tersebut, sehingga kini aplikasi itu tidak lagi bisa menuruti keinginan siapapun yang memilikinya, melainkan hanya akan menanggapi permintaan dari orang-orang yang benar-benar sedang membutuhkan pertolongan.
Dan yang terakhir, Romi mengganti nama aplikasi itu, dari God Apps menjadi ‘Finding’.
“Nama God itu terlalu besar untuk sebuah aplikasi buatan manusia... Mulai sekarang, kau hanya akan menjadi pencari, bukan pemberi.” Ucap Romi, lalu dia menekan tombol terakhir.
Seketika itu juga, seluruh layar yang ada di ruangan itu berkedip secara bersamaan, kemudian aplikasi tersebut lepas dari server milik Jiro, lalu menyebar dan berkeliaran secara bebas di dalam jaringan internet di seluruh dunia, tanpa pemilik, tanpa tuan, dan tanpa alamat yang bisa dilacak oleh siapapun.
Romi segera bersandar di kursi sambil menghembuskan nafas panjang, seluruh tubuhnya terasa lemas, namun untuk pertama kalinya sejak berbulan-bulan yang lalu, dia bisa tersenyum dengan lega. Namun sayangnya, kelegaan itu hanya bertahan sangat sebentar, sebab tiba-tiba saja terdengarlah suara pintu ruangan yang terbuka dari arah belakangnya.
Maka Romi segera memutar kursinya, dan disana, tepat di ambang pintu ruang komputer, sudah berdiri seorang pria dengan senyuman lebar di wajahnya, sambil bertepuk tangan secara perlahan. Dialah Jiro.
Adnan sudah dikurung di dalam ruangan lemari besi, seluruh uang haram itu sudah berpindah kepada anak-anak yang membutuhkannya, dan God Apps sudah berubah menjadi ‘Finding’ yang kini berkeliaran bebas di dunia internet. Namun permainan di dalam kastil ini rupanya masih belum selesai, sebab kini Romi harus berhadapan langsung dengan orang yang selama ini dia cari, seorang diri, tanpa senjata, dan tanpa teman-teman di sisinya. Lalu bagaimanakah nasib Kriss, Beni, dan Lisa yang masih harus menghadapi puluhan anak buah Damian di lantai bawah? Terus ikuti kelanjutan kisahnya hanya di God Apps (Castle of Doom).
Berlanjut ke Part 10