Acara pernikahan berakhir sore tadi, sekarang baik Luna maupun Bian keduanya sedang menarik koper mereka untuk di bawa masuk ke dalam kamar. Bian dengan langkah kakinya yang cepat meninggalkan Lunara di belakang seorang diri, "Mas, tunggu!" panggilnya.
Tidak menoleh seolah tidak mendengarnya, Bian terus melangkah dan berhenti saat tiba di depan kamar hotel bernomor 320. Pria itu lebih dulu masuk ke dalam tanpa menunggu Lunara yang memanggilnya.
Saat sudah sampai di dalam kamar, Luna meletakkan kopernya di pojok ruangan dan melihat Bian yang tengah tertidur dengan posisi telungkup masih mengenakan sepatu.
"Apa gak sebaiknya mas Bian lepas sepatu dulu?"
Dengan sabar dan perlahan Luna meraih kaki suaminya dan melepas ikatan tali sepatu Bian lalu meletakkannya di tepi agar tidak mengganggu jalan. "Seperti ini kan lebih baik."
Entah tidak mendengar atau terlalu lelah Bian sama sekali tidak menyahuti apapun yang Luna ucapkan.
Tiba-tiba, "lain kali tidak perlu melakukannya. Aku bisa melepas sepatuku sendiri." Pria itu akhirnya mengeluarkan suaranya meski terdengar datar.
Luna sedikit terkejut namun ia sama sekali tidak marah, "b-baiklah." Sahutnya dilanjutkan dengan membersihkan diri di dalam kamar mandi karena lelah seharian berdiri untuk menyalami para tamu dan mengucapkan terima kasih karena telah datang.
Saat sudah selesai mandi dan berganti pakaian, Luna membangunkan Bian yang tengah tertidur pulas karena sebentar lagi masuk waktu maghrib. "Mas, bangun.. sudah mau maghrib."
"Dulu kamu bilang akan selalu jadi imam sholatku, ayo bangun.." Ucap Luna mengingat-ingat apa yang sempat Bian ucapkan beberapa bulan sebelum pernikahannya.
Bian menggerakkan tubuhnya, matanya terlihat memerah karena baru saja bangun. "Luna, aku lelah dan mengantuk. Sebentar lagi, ya?"
"Tapi maghrib sebentar lagi dan tidak bisa di tunda. Ayo bangun, mandi dan ambil air wudhu."
Kalimat terakhir Luna berhasil membangunkan Bian dari tidurnya. Ia bangkit dari ranjang dan berjalan ke arah kamar mandi. Saat belum masuk ke dalam dan masih berdiri di ambang pintu, Bian melepas kaos hijau army yang sempat ia kenakan dan membiarkan otot-otot tubuhnya terekspos begitu saja di depan mata Luna.
Luna yang belum terbiasa dengan pemandangan ini buru-buru mengalihkan pandangannya dengan posisi duduk membelakangi Bian sambil menutup mata. "Kenapa tidak melepasnya di dalam?"
"M-maaf. Aku sudah terbiasa seperti ini." Sahut Bian lalu masuk ke dalam kamar mandi dan mulai terdengar air yang berasal dari pancuran shower.
Sebelum Bian selesai membersihkan dirinya, Luna sudah lebih dulu menyiapkan dua buah sajadah dan memakai mukena berwarna pink muda yang dijadikan hadiah dari Bian untuknya.
Usai membersihkan diri dan berwudhu, Bian memakai sarung serta peci dan berdiri di depan untuk menjadi imam dalam sholat pertamanya bersama sang istri. Luna sebagai seorang istri yang merasa sangat bahagia memakai mukena dari Bian pada sholat pertama mereka berharap mendapat pujian namun tidak sama sekali karena sang suami sudah mengucapkan takbir.
Allaahu Akbar.
Luna menghembuskan nafasnya sambil tersenyum. Tidak apa-apa. Mungkin bukan kali ini, tapi pasti mas Bian akan memujiku lain waktu.
Ia mengukuti gerakan Bian untuk melakukan takbiratul ihram pada sholat pertama mereka. Allaahu Akbar.
Lantunan ayat demi ayat Al-Qur'an terdengar sangat indah keluar dari mulut Bian. Dari yang Luna tahu, Bian pernah memenangkan lomba membaca ayat suci A-Qur'an di sekolahnya, tidak aneh jika selama sholat Bian terdengar sudah hafal dan fasih dalam melafalkannya.
Hingga sholat maghrib berjamaah mereka pun berakhir. Assalamualaikum warahmatullah.. Assalamualaikum warahmatullah.. Ucap Bian diakhiri dengan usapan pada wajahnya.
Merasa jika mereka sudah resmi menjadi suami istri dan sebagaimana istri harus hormat dan taat pada suami, Luna langsung mengulurkan tangannya untuk meraih tangan Bian. Namun lagi-lagi pikiran buruk kembali menghampirinya saat tatapan Bian justru datar dan biasa saja akan sikap ketaatannya ini. Meski begitu, Bian tetap mengulurkan tangannya untuk bisa lunara cium.
20.00 WIB
Dua jam berlalu begitu cepat, namun Bian tetap tidak banyak mengeluarkan suara jika tidak ada obrolan lebih dulu dari Luna. Seperti halnya saat ini, "ah ya, saat mas Bian berganti pakaian tadi siang, Jaka datang dan menitipkan salam untuk mas."
Bian menoleh sambil mengunyah cookies di mulutnya, "Jaka??"
"Ya, Jaka. Mas masih ingat, 'kan?"
Bian terlihat melongo sambil mengingat-ingat sebelum menganggukkan kepala. "Uhm, ya. Aku ingat." Bian menutup toples berisi cookies kesukaannya yang sengaja Nindy bawakan di dalam koper. Ia bangkit dari sofa yang berada di ruang TV lalu berkata, "aku tidur duluan, ya?"
Mengerti jika Bian lelah dan tidak ingin menghalang-halangi waktu istirahatnya untuk sekadar berbagi cerita tentang hari ini, Luna langsung mengangguk tanpa berpikir jauh. Selain menjadi seorang teman bagi mas Bian semasa kuliah, sekarang aku sudah resmi menjadi istrinya. Aku tidak harus selalu memaksanya untuk melakukan apa yang aku inginkan, begitupun sebaliknya. Masalah perbedaan sikap Mas Bian hari ini dan yang dulu aku kenal, pasti akan segera berlalu.
Bersabarlah, Lunara.
***
3 hari berlalu
Cuti pernikahan sudah berakhir, baik Luna maupun Bian keduanya sudah kembali pada kesibukan masing-masing yakni bekerja. Sebelum berangkat, Luna menyempatkan diri untuk sarapan. Lain hal dengan suaminya, saat baru keluar kamar dan menuruni anak tangga Bian langsung pamit pada Luna untuk berangkat tanpa sarapan.
"Sarapan dulu, Mas.."
"Aku janji datang pagi hari ini, jadi gak bisa sarapan di rumah."
"Uhm, yasudah aku bawakan nasi goreng ini untuk bekal kamu, ya?"
Bian tidak menyahut, usai memakai kaos kaki dan sepatu ia langsung berjalan ke arah mobil. Namun istri sigapnya Lunara yang berhati selembut sutra ini berlari sambil membawakan satu kotak bekal berwarna transparan yang berisikan nasi goreng lengkap dengan ayam, tomat dan juga timun. "Ini.. Jangan lupa di makan ya, Mas." Ucapnya sambil menyerahkan bekal itu pada sang suami melalui jendela mobil.
Lunara merasa sangat bahagia saat Bian menerima bekal yang ia berikan meski pria itu sama sekali tidak menampilkan senyum. "Hati-hati di jalan."
Sambil menganggukkan kepala Bian mengucapkan salam pada Luna. "Assalamu'alaikum.."
"Wa'alaikumussalam, Mas."
Mobil hitam bernomor polisi B 14 N itupun berlalu dari parkiran rumah dengan nuansa putih yang terdapat pohon kamboja jepang di halamannya. Mata Luna tidak berhenti menatap kepergian Bian hingga mobil itu berbelok dan tidak terlihat lagi.
"Ini sudah jam 7, aku juga harus berangkat sekarang."
Setelah merapikan piring yang sempat ia gunakan untuk sarapan, Luna mengunci pintu rumah dan berjalan ke arah mobil putihnya yang hanya cukup di tumpangi 4-5 orang. "Bismillahirrahmanirrahim.."
Matahari pagi menemani kepergian Luna di hari pertamanya bekerja dengan status baru. Ia berharap, pernikahannya dengan Bian ini bisa membawa perubahan yang lebih baik untuk dirinya, Bian, keluarga dan juga karir mereka.