Tak berniat mengejar Hoseok, Tae Hyung pada akhirnya memasuki bangunan sekolah sendirian. Park Jimin belum mengetahui jika hari itu Tae Hyung kembali ke sekolah. Jika seandainya pemuda itu tahu, dia sudah berada di gerbang sekolah sejak pagi. Pandangan yang sempat mengarah ke bawah itu membuat Tae Hyung tak menyadari keberadaan seseorang yang tengah menunggunya hingga seseorang itu menahan salah satu lengannya.
Tae Hyung yang sedikit kaget segera mengangkat wajahnya dan terlihat bingung melihat keberadaan Young Jae di sana. "H-Hyeong," tegur Tae Hyung, terlihat begitu ragu untuk memanggil Young Jae dengan sebutan akrab itu.
"Kau kehilangan sesuatu?" tegur Young Jae, terdengar cukup ramah. Dia kemudian menurunkan tangannya.
"Ya?" Garis wajah Tae Hyung jelas menunjukkan perasaan tak nyaman, mengingat bagaimana sikap Young Jae sebelumnya.
"Aku memperhatikanmu dari ujung sana. Kau berjalan dengan kepala tertunduk, aku pikir kau kehilangan sesuatu."
Tae Hyung segera menggeleng. "Tidak, aku tidak kehilangan apapun. Hoseok baru saja masuk."
"Aku juga melihatnya."
Tae Hyung terlihat bingung untuk merespon sikap santai Young Jae. Dia sekilas menggaruk kepalanya. Namun, begitu ia menarik tangannya, beberapa helai rambut miliknya tersangkut di jemarinya. Menyadari hal itu, Tae Hyung segera menyembunyikan tangannya. Tapi usaha pemuda itu sia-sia karena Young Jae melihatnya.
"Tunjukkan tanganmu."
Dengan ragu Tae Hyung mengangkat tangan lain yang tidak ia gunakan untuk menggaruk kepala sebelumnya.
"Bukan yang itu, tunjukkan yang satunya."
Tae Hyung terdiam. Diam-diam dia menjatuhkan beberapa helai rambut yang tersangkut di jemarinya, dia kemudian menunjukkan telapak tangannya yang kosong pada Young Jae.
Young Jae sempat terdiam dan Tae Hyung berpikir bahwa Young Jae akan kembali bersikap agresif. Young Jae kemudian berkata, "sekarang ... kau berbagi rahasia denganku, Kim Tae Hyung."
Tae Hyung menatap penuh tanya. "Apa yang—"
"Kau hanya boleh mengatakan hal itu pada Dokter Yoo Kihyun," celetuk Young Jae yang membuat Tae Hyung tertegun. "Siapapun mereka, jangan biarkan mereka mengetahui tentang hal ini."
"Kenapa? Apakah aku akan mati?"
Young Jae tersenyum tipis. "Semua orang pasti akan mati. Kau tidak pernah melihatnya di internet? Rambutmu rontok bukan karena kau akan mati, itu hanya imbas dari pengobatan yang kau jalani."
"Jung Ssaem pernah mengatakan bahwa itu tidak akan terjadi padaku."
"Maka dari itu kau harus tetap mempercayai ucapannya. Percayalah pada doktermu, dia tidak akan melakukan tindakan ceroboh yang dapat membahayakan pasiennya."
Tae Hyung memalingkan wajahnya, tampak seperti tengah memperhatikan sesuatu sebelum menyambung pembicaraan canggung itu. "Tapi kenapa Hyeong ada di sini?"
"Ikutlah denganku."
Young Jae berjalan melewati Tae Hyung dan pemuda itu lantas mengikutinya. Menjauhi keramaian, keduanya menyusuri anak tangga menuju atap, membuat tanda tanya terlihat di garis wajah Tae Hyung. Kenapa Young Jae ingin membawanya ke atap.
Langkah Young Jae terhenti di depan pintu. Pria itu memperhatikan Tae Hyung yang tengah dalam perjalanan menuju ke tempatnya. Dan hanya menunggu beberapa detik hingga keduanya saling berhadapan.
Tae Hyung bertanya masih dengan sikap yang canggung. "Kenapa Hyeong membawaku kemari?"
Young Jae membuka pintu atap dan berbicara, "keluarlah."
Young Jae sempat memandang pintu yang sedikit terbuka dan kembali pada Young Jae. "Kenapa?"
"Aku tidak begitu menyukai bocah yang rewel, keluarlah."
Dengan ragu Tae Hyung membuka pintu atap lebih lebar dan keluar. Young Jae kemudian menutup pintu itu kembali. Young Jae kemudian kembali turun. Meninggalkan Tae Hyung di atap, Young Jae menuju kelas Tae Hyung untuk menemui Hoseok karena keduanya belum sempat bertemu meski Young jae melihat kedatangan Hoseok.
Mencari-cari sosok Hoseok melalui kaca jendela di depan kelas, Young Jae menghentikan langkahnya ketika menemukan Hoseok yang baru saja keluar dari kelas. Begitupun dengan Hoseok yang langsung berhenti. Sebelumnya Hoseok berniat mencari Tae Hyung yang tak kunjung masuk ke kelas. Namun, setelah melihat keberadaan Young Jae di sana, Hoseok tahu dengan siapa Tae Hyung pergi saat ini.
Hoseok menghampiri Young Jae yang sebelumnya menunggu di taman setelah pertemuan mereka. Hoseok kembali dengan dua bungkus eskrim karena sebelumnya Young Jae meminta pemuda itu untuk membelikannya menggunakan uang pemuda itu sendiri.
"Hyeong," tegur Hoseok seraya memberikan satu bungkus eskrim kepada Young Jae.
Young Jae menerimanya dan Hoseok pun duduk di sampingnya. Pria itu kemudian mengeluh, "eih ... kau membelikan aku eskrim murahann? Apakah uang saku yang diberikan oleh pria Kim itu hanya cukup untuk membeli ini?"
Hoseok tersenyum dan menyahuti, "Hyeong tidak menyebutkan harga saat meminta aku membelikannya."
Young Jae menatap sinis dan mencibir, "kau menjadi semakin pelit sekarang."
Keduanya kemudian berbincang santai sembari memakan eskrim di tangan masing-masing. Dan pembicaraan itu dimulai oleh Hoseok.
"Apakah orang itu juga datang?"
"Siapa yang sedang kau bicarakan?"
"Pria Jung." Hoseok langsung tersenyum setelah mengatakan hal itu. Tampaknya dia tengah membalas Young Jae yang sebelumnya menyebut Seok Jin sebagai 'pria Kim'.
Young Jae menendang singkat kaki Hoseok yang bersebelahan dengannya. "Bicaramu tidak sopan kepada orang yang sudah merawatmu sejak bayi."
Dengan seulas senyum lebar Hoseok sekilas memandang dan menyahut, "aku hanya bercanda."
Young Jae menyandarkan punggungnya. "Di mana kau membeli eskrim ini?"
"Di kantin sekolah."
"Lumayan. Kau sudah makan?"
"Tidak ada yang berbeda, mereka juga sarapan bersama setiap pagi. Bagaimana kabar ibu Hyeong?"
Young Jae tertegun, kerutan seketika terlihat di dahi pria itu. Dia menatap tak terima dan menegur dengan ketus. "Ya! Dengan sebutan apa kau memanggil Jiyoung-ku?"
Tak lagi tersenyum, kali ini Hoseok menatap canggung. "Aku merasa bingung harus memanggil kalian bagaimana."
"Kalau begitu panggil saja aku Sajang-nim, Nyonya Baek dan Dokter Jung. Kau ingin memanggil kami seperti itu? Benar-benar tidak tahu balas budi. Kau tahu berapa banyak keringat dan air mata yang kami keluarkan untuk membesarkanmu?"
"Hyeong tidak ikut merawatku saat bayi," gumam Hoseok.
"Apa?" Suara Young Jae meninggi, dia langsung menegakkan punggungnya. "Ya! Kau baru saja mengatakan padaku bahwa pengorbananku merawatmu selama bukanlah apa-apa dibandingkan dengan pria Jung itu?"
Hoseok memandang Young Jae dan tersenyum lebar. Tak ingin menyahuti tuntutan Young Jae, dia justru mengatakan hal lain. "Di mana mereka sekarang?"
Young Jae tertegun dan ia berbicara dengan suara yang normal setelahnya. "Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku datang bersama pria Jung itu."
"Hyeong juga tidak akan datang sendirian."
Young Jae sempat terdiam tanpa memutus kontak mata keduanya. Dia kemudian berbicara, "kenapa? Kau merasa iri dengan anak itu?"
Hoseok menjatuhkan pandangannya dan bergumam, "untuk beberapa keadaan, ya."
"Akan lebih baik jika aku yang berada dalam posisinya, seperti itu?"
Hoseok mengangguk.
"Kakakmu, Jung Dae Hyun. Dia sudah pernah hancur dua kali, jangan biarkan dia mengulanginya untuk yang ketiga kali dengan melukai dirimu sendiri."
Hoseok mengangkat wajahnya, memandang Young Jae. "Dua kali? Apakah itu?"
"Pertama, saat ibunya meninggal. Dan kedua ... ketika dia kehilangan kalian berdua."
"Hyeong?"
"Dengarkan ini baik-baik, Jung Hoseok. Meski saat ini dia terlihat mengabaikanmu, dia tidak benar-benar melakukannya. Si bodoh itu, dia tidak bisa memikirkan dua orang sekaligus dalam waktu yang lama. Perlahan ... jika dia bisa berpikir dengan tenang, dia akan kembali menjadi kakak yang kau kenal selama ini. Aku mengatakan ini untuk kebaikan kalian semua. Dan juga, aku memiliki satu permintaan padamu.
"Apakah itu?"
"Perlakukanlah Kim Tae Hyung dengan baik." Young Jae memberikan seulas senyum tipis di akhir ucapannya dan justru membuat Hoseok tertegun.
"Hyeong?"
"Sudah waktunya kau kembali ke kelas, pergilah."
Hoseok masih ingin berbicara. Namun, bel sekolah yang berbunyi memaksa dirinya untuk mengakhiri pembicaraan. Hoseok kemudian pergi dan pandangan Young Jae terjatuh pada tangannya yang memegang eskrim. Guratan itu kembali terlihat di wajah Young Jae ketika mendapati bahwa eskrim di tangannya telah mencair selagi ia bicara dengan Hoseok.
Young Jae langsung berdiri begitu menyadari bahwa sepatu mahalnya terkena lelehan eskrim. "Eih ... sepatu mahalku—"
Young Jae memandang Hoseok yang telah jauh dan berteriak, "Ya! Gara-gara berbicara denganmu—" Young Jae langsung bungkam ketika ia menyadari tempat di mana ia berada saat ini.
"Eih ... harusnya aku tidak berbicara terlalu banyak padanya. Di mana mobilku tadi? Eih ... benar-benar ..."
.............
NOTE : Chapter lanjutan akan di-up setelah chapter ini mendapatkan 10 komentar.
See Ya ...