Pria itu telah menggendong Allana. Dia membawa Allana berjalan masuk ke rumah sepi yang akan dijadikan tempatnya beraksi kemudian membaringkan tubuh Allana dalam posisi terlentang di lantai beralaskan karpet. Pria itu membuka satu per satu kancing bajunya dengan rasa menggebu.
"Sebentar lagi, saya akan bermain-main dengan kamu," ucap Pria itu mengulum senyum penuh arti.
Sesekali dia melirik ke area tubuh Allana dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dia mendekatkan tubuhnya pada Allana hendak mencium bibir ranum itu, namun niatnya terhenti sebab mendengar
suara tendangan pintu yang menggema keras memenuhi seluruh penjuru ruangan. Menampilkan Seorang laki-laki yang berdiri gagah dengan rona wajah serius menyiratkan sebuah amarah yang membara.
"Siapa kamu? Beraninya menganggu saya!" gertak Pria itu, menjauhkan tubuhnya dari Allana dalam keadaan separuh kancingnya terbuka. Dia tampak kesal, lalu berdiri menatap lelaki yang telah menggagalkan rencananya.
"DASAR OTAK KOTOR!" gertak lelaki itu, yang tak lain adalah Elenio. Dia meludah ke samping.
Elenio berlari dari ujung pintu, sejurus kemudian Elenio menendang bagian perut Pria itu.
Pria itu terbatuk seraya meringis kesakitan, dia menunduk memegangi area perutnya. Sudut matanya melirik ke arah kursi lalu melemparkan kursi itu pada Elenio.
Dengan sigap Elenio menghindar. Dia kembali melayangkan pukulannya. Tubuh Pria itu ambruk terkena pukulan yang mendarat tepat di hidungnya beserta darah segar yang langsung mengucur deras. Tidak berhenti disitu, Elenio langsung membanting tubuh Pria itu ke lantai cukup kuat.
Dikuasai oleh emosi membuat Elenio nyaris kehilangan kontrol diri. "Mati lo sekarang, b*****t!" maki Elenio. Pukulan demi pukulan mendarat di wajah Pria itu.
"A-ampun," lirih Pria itu memohon, dia tidak bisa berkutik.
Pria itu merasakan seluruh bagian tubuhnya remuk redam, rasa sakit yang menjalar sampai ketulang-tulangnya. Pelipis mata dan hidungnya mengeluarkan darah yang deras juga wajahnya keungu-unguan karena lebam. Pria itu merasakan seluruh lukanya berdenyut, dia tak sanggup berdiri bahkan untuk mengangkat wajahnya saja Pria itu tampak kesulitan.
Meski tubuh Pria itu jauh lebih besar, tapi nyatanya tenaga Elenio mampu melumpuhkannya.
"Berani sentuh dia, hidup lo berakhir, detik ini juga!" kecam Elenio penuh penekanan mencengkram kuat kerah Pria itu yang tergeletak di lantai. Wajah Pria itu habis babak belur sementara Elenio tidak tersentuh barang sedikit pun.
Elenio bangkit, tajamnya sorot mata Elenio mampu menguliti keberanian Pria itu. Dia hanya menunduk, tidak berani melakukan kontak mata dengan Elenio.
"PERGI DARI SINI!" usir Elenio suaranya bergaung keras membuat Pria itu merinding ketakutan mendengarnya. Tanpa berkata-kata Pria itu berjalan lunglai keluar.
Elenio berjalan mendekati Allana, dilihatnya ada darah yang mengalir dari pelipis gadis itu.
Elenio termenung, jika bukan Devinka yang memaksa Elenio untuk mencari keberadaan Allana. Mungkin nasib buruk akan menimpa Allana.
"El buruan kamu susul Allana," pinta Devinka memegang lengan Elenio.
"Udah biarin aja, Ma," balas Elenio cuek.
"El, kalau dia kenapa-napa gimana? Dia perempuan El dan malam hari itu terlalu bahaya, kalau Allana jalan sendiri," peringat Devinka dibalut cemas.
"Itu bukan urusan El, Ma," jawab Elenio acuh.
"Tolong El, sekali ini aja. Pastiin Allana pulang ke rumah dengan selamat," pinta Devinka lirih.
"Hmm. Tapi cuma sekali ini aja," kata Elenio akhirnya menuruti permintaan Devinka karena tidak tahan mendengar Devinka terus merengek untuk memastikan keadaan Allana.
Elenio mengendarai mobilnya pelann, menyusuri jalan mencari dimana Allana berada.
"Apa mungkin Allana udah ada di rumah?" duga Elenio memutuskan menghentikan mobilnya.
Dia mengambil ponselnya lalu menngirim pesan pada seseorang.
[Bi Allana udah sampai rumah?]
[Belum, Non Allana belum pulang.]
[Yaudah kalau gitu makasih, Bi.]
"Kamu kemana sih, Al! Bisanya cuma bikin susah orang lain!" geram Elenio memukul stir mobilnya. Dia tidak habis fikir Allana selalu merepotkan dirinya.
"Dasar biang masalah!" rutuk Elenio segera melacak ponsel Allana.
Tak butuh waktu lama, akhirnya Elenio bisa menemukan lokasi Allana. Saat Elenio sampai dimana sinyal itu berada. Dia terkejut setelah menatap ke sekeliling area ini. Ada yang tidak beres, Elenio curiga.
"Ngapain Allana di rumah ini?" tanya Elenio. Dia mengintip lewat jendela, melihat Allana terbaring lemas di lantai serta ada seorang Pria di sana. Mata Elenio berkilat marah, giginya saling bergemelutuk. Dia lantas menendang pintu rumah itu.
***
Elenio menghembuskan napasnya berat. Jika tadi dia lebih mengedepankan egonya. Mungkin nasib buruk akan menimpa Allana. Elenio tidak mau hal itu terjadi pada Allana kendati dirinya masih diliputi rasa benci terhadap Allana.
Elenio melepas jas yang dia kenakan. Dia menaruh jas itu di atas tubuh Allana untuk menutupi bahu gadis itu yang terbuka. Meski Allana dalam kondisi pingsan namun Elenio tahu, Allana kedinginan ditambah udara dingin di malam hari yang kurang baik untuk kesehatan.
Tangan kekar Elenio lantas menggendong tubuh Allana yang masih tak sadarkan diri. Elenio merasa, berat badan Allana sedikit kurus dibanding biasanya.
Dari dekat, Elenio dapat melihat jelas, jejak air mata di paras Allana. Tidak bisa dipungkiri jauh di relung hatinya yang paling dalam Elenio merasa iba. Gadis cantik ini terlalu banyak mengeluarkan air mata. Memandang wajah Allana lama membuat Elenio mengakui jika Allana memang menawan. Allana bahkan berkali-kali lipat lebih cantik saat tersenyum.
Tunggu, apa yang Elenio rasakan? Ini tidak boleh! Dia tidak boleh terjebak dalam melodrama yang dimainkan Allana. Dia yakin, selama ini Allana hanya berpura-pura lemah di depannya. Gadis ini hanya suka mencari simpati.
Tidak terasa, Elenio yang sibuk berperang dengan hati dan pikirannya kini sudah sampai di tempat mobilnya berada. Elenio membungkukan punggungnya, dia akan memasukkan Allana ke dalam mobil.
"Allana kenapa El?" tanya Devan khawatir. Dia tidak sengaja lewat di sana begitu Devan melihat mobil Elenio terparkir di jalan, Devan langsung berhenti dengan niat ingin memastikan.
Elenio melirik ke arah Devan lalu kembali ke Allana.
"Dia hampir celaka," jawab Elenio memasukkan Allana di mobil.
"Terus kondisi dia gimana?" tanya Devan seketika raut wajahnya tampak panik.
"Lo lihat sendiri," sahut Elenio dengan tampang datarnya.
"Lo yang nganterin Allana, gue pulang pakai motor lo," kata Elenio melempar kunci mobilnya pada Devan.
Devan menangkapnya, dia terlihat bingung. "Kenapa gue?!" protes Devan.
"Lo bisa nyetir kan?" tanya Elenio mengambil paksa kunci motor Devan.
"Bisa," jawab Devan pasti.
"Ya udah anterin sana!" seru Elenio berjalan ke arah motor Devan.
Elenio berbalik badan. "Satu lagi ... jangan bilang kalau gue yang udah nolong dia," pesan Elenio.
"Terus gue harus bilang apa nanti?" ujar Devan meragu.
"Bilang aja, lo yang nolong!" seru Elenio dingin dan ketus.
"Ternyata lo masih peduli juga sama Allana," sindir Devan pada Elenio yang mengenakan helm hitam fullface miliknya.
"Cuma kasihan!" sahut Elenio melaju pergi.
Devan lantas masuk ke dalam mobil. Devan menatap prihatin pada Allana, jas punya Elenio masih melekat di tubuh Allana. Diam-diam lelaki itu juga peka.
Devan segera menghidupkan mesin mobil gegas mengantar Allana pulang.
***
Ratih yang sengaja duduk di teras menunggu kepulangan Allana terperanjat dari kursi saat melihat Devan menggendong Allana dalam kondisi pingsan.
"Astaga, Non Allana kenapa?" tanya Ratih panik.
Devan berlalu masuk diikuti Ratih. Kemudian Devan membaringkan Allana di sofa panjang area ruang tamu.
"Bi, tolong ambilin kain sama air, terus kotak P3K, ya, Bi," perintah Devan.
"Baik." Ratih berlari tergopoh ke dapur lalu tak lama kembali dengan barang yang diminta Devan.
Devan menyingkap rambut Allana melihat ada darah di pelipis gadis itu yang mengering.
Mulut Ratih menganga melihatnya. "Sebenarnya apa yang terjadi sama Non Allana kenapa sampai berdarah begini?"
"Tunggu Allana sadar aja ya, Bi," kata Devan karena sejujurnya dia tidak tahu kenapa Allana begini.
Devan dengan hati-hati dan teliti membersihkan noda merah di pelipis Allana lalu mengoleskan obat merah, selanjutnya menempelkan plester pada luka itu. Allana belum juga bangun, Devan mengambil minyak kayu putih menuangkan sedikit di jarinya lalu mendekatkannya di bawah hidung Allana.
Mata Allana terbuka perlahan, dia tiba-tiba menangis. Allana menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Tenang Allana, ada aku di sini," ucap Devan mengelus puncak kepala Allana. Lembut dan sayang.
Allana menatap Devan, dia reflek merengkuh tubuh Devan dalam pelukan. Meski sedikit terkejut tapi Devan membalas pelukan Allana.
"Aku takut Van," lirih Allana membenamkan wajahnya di d**a bidang Devan.
"Kamu aman, Al, ada aku," kata Devan tenang sembari menepuk punggung Allana. Sebisa mungkin Devan ingin Allana merasa aman dan nyaman dalam dekapannya.
Devan merasa aneh, ada sesuatu di dalam tubuhnya yang berdesir cepat. Jantungnya berdegup tak karuan juga aliran darahnya memanas.
'Kenapa aku jadi deg-deg'an? Tenang Devan tenang! Jangan sampai Allana dengar detak jantung ini,' batin Devan sedikit memejamkan mata.
Allana mengurai pelukannya. "Devan, kamu yang nolong aku?" tanya Allana suaranya serak. Tubuhnya masih lemas.
Devan gugup, bola matanya bergerak gelisah kesana kemari menghindari kontak mata dengan Allana. "I-iya Al," jawab Devan tersenyum canggung. Sebenarnya Devan ingin jujur namun mulutnya berkata lain.
Allana menatap sendu ke arah Devan. "Untung kamu datang tepat waktu," ucap Allana mengamati dress yang membalut tubuhnya. Allana bersyukur tidak terjadi apa-apa padanya.
"Makasih, Van kalau gak ada kamu. Aku gak tau apa yang akan terjadi sama aku," ujar Allana meremas jemarinya. Bayangan akan perlakuan Pria b***t itu melintas di ruang ingatan kepala Allana.
"Iya, Al, sama-sama," balas Devan dengan nada suara biasa agar Allana tidak menaruh curiga.
"Sebenarnya Non Allana kenapa?" tanya Bi Ratih penasaran dia duduk di samping Allana. Bi Ratih mengamati ada noda di dress yang Allana pakai yang dia tebak adalah tumpahan dari minuman.
Cairan bening di mata Allana luruh. Dia tak sanggup menceritakannya ulang. Kejadian itu teramat menakutkan bagi Allana. Dia tidak mau mengingatnya lagi.
"Allana hampir."
Ratih yang paham akan maksud ucapan Allana lantas memeluk Allana erat. "Non Allana gak usah jelasin lagi Bibi paham. Malam-malam seperti ini memang rawan kejahatan. Sekarang Non gak perlu khawatir semua baik-baik saja," papar Ratih.