"SASHA KAMU SENGAJA?!" tuduh Tania mendorong bahu Sasha hingga tubuh Sasha mundur beberapa langkah
"Apa'an sih, Ta! Gue gak sengaja," balas Sasha marah.
"Kenapa sih, kamu jahat banget sama Allana!" seru Tania. Sebagai teman, tentu Tania tidak tinggal diam. Allana yang tersakiti namun justru Tania yang sakit hati.
Allana tidak menghiraukan perdebatan mereka. Dia lantas berlari menahan perih dan panas di area kulitnya, kuah panas itu mengenai pergelangan tangan kirinya.
Tania bergeming mengakhirinya dengan tatapan penuh intimidasi.
"Allana," panggil Tania segera mengejar Allana.
Begitu Allana sampai di toilet, dia lantas menaruh tangannya di bawah kran air wastafel yang mengalir. Wajahnya meringis kala merasakan panas yang tak kunjung berkurang. Allana terus memandang ruam kemerahan yang tercetak jelas.
"Untung cuma kena sedikit, kalau kena semuanya mungkin tangan aku bakal melepuh," gumam Allana.
"Allana, aku bawain obat buat tangan kamu, aku olesin, ya," tawar Tania.
Allana mengangguk, dia mengarahkan tangannya ke depan Tania. "Tahan, ya, Al," kata Tania mengoleskan obat itu di atas luka Allana.
"Aw," rintih Allana sedikit memejamkan mata.
"Pasti panas banget! Awas aja, aku bakal buat perhitungan sama Sasha," celoteh Tania fokus mengobati luka Allana.
Allana menatap Tania yang diselimuti gejolak amarah.
"Jangan Ta, Sasha bilang dia gak sengaja dia juga udah minta maaf. Dia kelihatannya juga nyesel kok," kata Allana pelan.
Tania mendelik, bisa-bisanya Allana percaya dengan tampang yang ditampilkan Sasha tadi.
"Allana, dia itu cuma pura-pura, dia itu emang sengaja!" tekan Tania.
Allana bergeming meresapi kata-kata Tania.
"Perlu aku perban atau enggak?" tanya Tania.
"Gak, Ta, udah mendingan," jawab Allana.
"Syukur kalau gitu," ujar Tania. "Al," panggil Tania menatap risau pada Allana.
"Iya?" sahut Allana.
"Sikap kamu yang kelewat baik ini malah akan buat kamu sering tersakiti Al, kamu harus tegas sama Sasha biar dia gak se'enaknya sendiri. Sasha itu cuma pintar akting, seolah-olah dia gak sengaja, padahal niat hatinya dia emang sengaja nyakitin kamu Al," jelas Tania.
Apa yang dikatakan Tania ada benarnya terkadang manusia punya banyak topeng ekspresi untuk menutupi watak asli. Terlahir dengan hati yang sensitif membuat Allana memiliki kecenderungan untuk selalu menjaga perasaan orang lain, jika tidak, Allana akan merasa bersalah kalau ucapan atau perbuatannya menyinggung hati orang lain. Gadis itu akan selalu terbayang kesalahannya dan terus menerus menyalahkan dirinya sendiri.
Tingginya tingkat empati yang dimiliki Allana membuatnya tidak tega jika harus membentak atau memarahi seseorang, walaupun orang itu telah melukainya. Seolah kalimat dari Tania menyadarkan Allana sudah saatnya, Allana mulai menyelaraskan antara hati dan pikiran, antara rasa dan logika. Allana terlalu banyak berkutat pada rasa dan Allana ingin mengubah sedikit caranya menyikapi perihal perilaku tidak baik yang menimpanya.
***
Jam pulang sekolah telah berbunyi, sontak para Siswa dan Siswi segera membereskan barang-barang yang masih tergeletak di meja lantas berhamburan keluar kelas.
"Biar aku yang masukin ke tas kamu ya Al," ujar Tania tersenyum memasukan buku-buku Allana ke dalam ransel.
"Makasih, Ta, aku jadi gak enak ngrepotin kamu terus," kata Allana.
"Santai aja, Al," balas Tania dengan senang hati bisa membantu Allana.
"Gimana? Devan bisa kamu hubungin?" tanya Allana, pasalnya hari ini Devan tidak masuk tanpa keterangan yang berujung diabsen alfa oleh Guru-Guru. Tania menghidupkan ponselnya dia lalu menggeleng.
"Di telfon gak aktif terus Al, aku juga udah spam chat, cuma belum ada balasan. Tau ah, dasar Devan!" kata Tania terlanjur kesal tak mendapat respon dan jawaban dari Devan.
'Kira-kira Devan kemana? Gak biasanya dia ngilang gitu aja,' batin Allana
"Udahlah. Ayo, kita keluar, Al," ajak Tania menggandeng tangan kanan Allana.
Keduanya tiba di parkiran yang terletak di bagian depan. Saat itu juga pandangan Allana menangkap ada Elenio dan Sasha yang berdiri berdua di sebelah mobil warna merah milik Sasha.
"Masuk Al," titah Tania yang sudah duduk di bangku kemudi mobilnya.
Allana sedikit membungkukkan tubuhnya untuk berbicara pada Tania.
"Kamu tunggu aku diluar gerbang ya, Ta, soalnya aku mau ambil buku aku yang ketinggalan di loker," alibi Allana.
"Oke, Al," kata Tania melajukan mobilnya keluar dari area sekolah.
"Maaf karena aku bohongin kamu Ta, ada yang mau aku pastiin," gumam Allana berdiri tidak jauh dari keberadaan Sasha dan Elenio.
"Tumben, kamu chat aku, ngomong-ngomong ada apa, ya?" tanya Sasha sangat senang melihat Elenio menghubungi dirinya. Gadis itu telah lama menaruh hati pada Elenio laki-laki berjuta pesona yang penuh karisma.
Elenio menatap kedua manik mata Sasha dalam. Hal itu membuat jantung Sasha berdebar-debar. Di mata Elenio hanya ada wajahnya seorang di sana.
"Sa, kamu pernah bilang kamu dulu suka sama aku kan?" tanya Elenio.
Sasha mengangguk antusias.
"Iya, sampai sekarang, aku masih suka sama kamu," ucap Sasha mantap tidak ada keraguan dalam setiap kata yang terucap dari bibirnya.
"Apa kamu mau jadi pacar aku? tanya Elenio membuat Sasha membelalakan matanya lebar. Sungguh dia tidak menyangka Elenio mengucapkan kalimat itu padanya.
"Mau, mau banget," kata Sasha meraih kedua telapak tangan Elenio.
"El, kamu serius jadi pacar aku?" tanya Sasha memastikan.
"Iya, Sa," jawab Elenio bersuara berat terdengar bergaung di telinga Sasha. Hampir saja, Sasha ingin berteriak saat mendengar itu saking gembirannya.
"El, ini aku gak mimpi kan? Ini beneran kan?" tanya Sasha menangkup pipi Elenio.
"Enggak, Sa," jawab Elenio memegang tangan Sasha mengurai sentuhan itu.
"Akhirnya, kamu mau juga, jadi pacar aku," kata Sasha berbunga-bunga. Gadis itu memeluk sebelah lengan Elenio lalu menyederkan kepalanya di sana.
"Kalian pacaran?" tanya Allana menunjukan diri. Allana masih tidak percaya dengan kalimat yang terlontar dari Elenio.
Sasha mendelik sinis pada Allana. "Iya, kenapa? Lo gak terima?" tanya Sasha judes mengeratkan pegangannya pada lengan Elenio.
Allana memandang Elenio. Pasti ada yang Elenio rencanakan.
"El, aku tau, di hati kamu cuma ada Razella. Aku mohon, jangan jadiin Sasha pelampiasan kamu," pesan Allana.
"Lo apa-apaan sih Allana! Lo gak berhak melarang El!" seru Sasha tidak suka.
"Lo iri kan sama gue?! Karena cinta gue bisa terbalas sedangkan lo enggak," balas Sasha membuat Allana terdiam sebentar.
"Bukan gitu. Tapi aku tau, El, pasti punya alasan kenapa pacaran sama kamu. Dia punya maksud lain Sa, dia gak punya rasa sama kamu," jelas Allana.
"Kamu ngomong apa Al? Aku punya rasa sama dia," sanggah Elenio namun raut wajahnya tergambar datar.
"Kamu gak tulus pacaran sama Sasha," tuding Allana yang kenal watak Elenio, laki-laki itu tidak mudah membuka hati terlebih soal asmara. Tapi penuturan dari Elenio itu mengejutkan Allana.
"Cukup Allana! Gue lebih percaya sama El daripada lo! Ingat ya Allana jangan berani lo ganggu, El, lagi karena dia sekarang pacar gue dan kalau sampai lo tetap gangguin dia. Lo berurusan sama gue!" ancam Sasha berjalan mendekati Allana lantas berbisik di sebelah Allana.
"Gue bisa lakuin lebih dari itu," ucap Sasha menatap ruam merah di kulit Allana.
Benar kata Tania apa yang diucapkan Sasha hanyalah pencitraan di balik kata maaf. Gadis itu belagak licik dengan memanipulasi Allana menggunakan perkataannya.
"Ayo, El," ajak Sasha menggandeng tangan Elenio.
Allana menatap nanar keduanya, Sasha memilih menaiki motor Elenio.
"Aku akan tunggu, sampai kamu lelah sama drama yang kamu buat sendiri, El, sesuatu yang gak berasal dari hati itu justru akan menyiksa diri kamu sendiri," kata Allana.
"Aku tau, kamu sengaja dekati Sasha supaya aku menjauh dari kamu," lirih Allana.
***
"Tania, berhenti," perintah Allana membuat Tania menginjak pedal rem-nya mendadak.
"Kenapa, Al?"
"Liat deh." Jari Allana menunjuk keluar jendela mobil. "Itu Devan, Ta!" seru Allana histeris melihat Devan pasrah dipukul oleh dua orang lelaki berbadan besar.
Keduanya lantas membuka sabuk pengaman dan keluar dari mobil.
"DEVAN!" teriak Allana dan Tania bersamaan. Devan menoleh lemas pada keduanya.
"Apa yang terjadi Van?" tanya Allana cepat.
"Dia ini udah tiga bulan gak bayar hutang!" jawab Pria bertato dengan wajah sangarnya.
"Hutang?" tanya Tania terkejut.
"Memangnya berapa hutang teman saya?" tanya Tania menatap kedua Pria itu.
"Dua puluh juta," jawab Pria itu.
"Baik, saya akan lunasin semuanya tapi, jangan pernah ganggu teman saya lagi," ujar Tania penuh perhitungan.
"Jangan, Ta," cegah Devan suaranya melirih.
"Gak papa," balas Tania lembut.
"Berapa nomor rekeningnya?" pinta Tania lantas dijawab oleh Pria itu. Selang beberapa menit Tania menunjukan bukti transfer pada Pria itu melalui ponselnya.
"Benar kan? Hutang dia udah lunas!" ujar Tania.
"Nah, gitu dong, kalau gini kan enak gak perlu pakai kekerasan," ucap Pria itu berlalu pergi.
Allana dan Tania membopong tubuh Devan untuk berdiri lalu duduk di kursi kayu yang ada di sana.
Tania memandang miris wajah Devan yang dipenuhi luka lebam.
"Jadi, karena ini kamu gak masuk Sekolah?" tanya Allana lembut sementara Devan sedikit mengusap pipinya yang berdenyut.
"Iya," jawab Devan.
"Aku sama Allana itu khawatir sama keadaan kamu Van!"
"Maaf udah bikin kalian khawatir," kata Devan menyesal.
"Boleh aku tanya?" ujar Allana ragu-ragu.
"Boleh Al, pasti kamu mau nanya soal hutang itu kan?" tebak Devan.
Allana mengangguk. Devan meghela napas panjang.
"Sebenarnya hutang itu, hutang ayah aku. Tapi karena dia meninggal setahun yang lalu aku yang harus lunasin itu," jelas Devan. Tiba-tiba suasana menjadi pilu dan hening.
"Kamu bisa minta tolong aku atau Allana, Van. Kita teman kan?" tanya Tania.
"Iya, Van. Kita pasti akan bantu kamu," timpal Allana.
"Aku malu kalau harus pinjam uang sama kalian, aku ini laki-laki, aku harus bisa menyelesaikan masalah aku sendiri," ungkap Devan menundukan kepalan.
Allana memegang bahu Devan.
"Aku tau, apa yang kamu rasain. Tapi Van, dengan kamu meminta bantuan, itu gak akan buat kamu kelihatan lemah. Itu juga gak akan menurunkan harga diri kamu," kata Allana berbagi sudut pandang dalam berfikir.
"Lagian, kita juga udah kenal lama, Van. Kamu gak usah sungkan," imbuh Tania.
"Justru kalau kamu mengalami kesulitan sendiri seperti ini. Aku sama Tania jadi merasa bersalah, karena gak tau menahu apa yang kamu alami," jelas Allana berkata dengan pelan dan lembut.
"Iya, betul yang dibilang Allana," kata Tania.
"Makasih buat kalian berdua, karena mau berteman sama aku. Makasih, Ta kamu udah bantu lunasin hutang aku. Aku janji aku bakal ganti uang kamu," ujar Devan.
"Kamu gak perlu pikirin itu, aku ikhlas bantu kamu," papar Tania.
"Tapi Ta, nanti kamu dimarahin sama orang tua kamu," ujar Devan.
"Kamu tenang aja, itu, uang tabungan aku sendiri kok," jelas Tania.
"Makasih juga buat kamu Al, kamu udah ingetin aku lewat ucapan kamu," kata Devan menatap penuh pada Allana.
"Iya, Van," balas Allana tersenyum. Sudah sewajarnya, sebagai manusia Allana harus saling menolong, saling mengingatkan antar sesama dan saling mendukung pada hal yang menjurus tentang kebaikan.