"Jadi lo yang sengaja kunciin A──" pekik Sasha tertahan karena mulutnya dibekap oleh Nita.
"Sst, jangan keras-keras ngomongnya!" peringat Nita melepaskan tangannya dari mulut Sasha. Mata Nita memindai sekitar, kenapa Sasha ini tidak berfikir dahulu sebelum berbicara, mengingat keduanya kini tengah berada di kantin. Beruntung, kantin dipenuhi dengan suara riuh-riuh sehingga percakapannya tidak akan terdengar oleh orang lain.
"Kenapa gak bilang ke gue dulu sih Nit! Asal lo tau, reputasi gue bisa hancur karena lo!" kesal Sasha suaranya terdengar seperti berbisik.
"Gue itu cuma spontan aja, Sa, lagian gak ada yang tau kan?" jelas Nita menenangkan seraya mengaduk es tehnya dengan sedotan plastik warna biru.
"Iya, emang gak ada yang tau, tapi Devan nuduh gue! Coba deh lo di posisi gue, gak