Allana berdiri di depan pintu ruangan yang di tempati oleh Devinka. Allana melihat kondisi Devinka dari kaca jendela kecil di pintu itu. Di dala. sana suara tangisan terdengar begitu memilukan. Walaupun Allana sempat dilarang Elenio untuk tidak bertemu lagi dengan Devinka namun itu sama sekali tak melunturkan tekad Allana untuk melihat langsung kondisi Devinka meski sekedar dari luar.
"Maafin Allana Tante," lirih Allana, hanya seuntai kalimat ini yang mampu dia katakan kedua matanya masih mengamati gestur Devinka yang kini menangis sesegukan dalam pelukan Bagas yang berusaha menenangkan.
Binar penyesalan di kedua netra Allana terpampang nyata. Tak bisa dipungkiri Devinka pasti sangat terpukul. Rona bahagia yang baru bersemi kini telah layu mati.
Pandangan Allana beralih pada Elenio yan