Satu hari yang melelahkan bagi Allana. Meski hanya duduk di kelas tidak kemana-mana. Allana merasa tekanan yang dia rasa tak kunjung berkurang. Perasaan cemas tidak bisa Allana singkirkan begitu saja kendati Tania terus menemaninya. Tetap saja, Allana merasa tidak aman.
Dengan perasaan letih yang hinggap dalam diri. Allana menjatuhkan tubuhnya di kasur kamar. Niat baik yang telah dia lakukan malah berakhir dengan sikap Elenio yang semakin berbeda.
"Keadaannya jadi tambah rumit," ucap Allana terdengar lesu. Wajahnya merengut layu.
"Aku harus cari petunjuk dari mana?" tanya Allana frustasi.
Allana lantas mulai menggali sepotong memori yang sempat dia curigai. Berharap ada satu petunjuk yang mengantarkannya pada petunjuk-petunjuk lainnya.
Terlintas satu momen yang terjadi sekitar dua hari sebelum Razella meninggal. Razella datang menemui Allana dengan wajah ketakutan.
"Ra kamu kenapa?" tanya Allana yang sedari tadi duduk di bangku taman depan rumahnya sambil membaca buku.
Razella menoleh ke samping kanan dan kiri. "A-aku...." Tingkah Razella seolah-olah mengamati keberadaannya aman atau tidak dari kejaran musuh. Kening Allana mengerut dalam.
Sebenarnya apa yang terjadi pada Razella.
Allana lantas berdiri memegang kedua bahu Razella untuk menenangkannya. "Tarik napas, buang perlahan." Allana memberi instruksi pada Razella yang kemudian diikuti oleh Razella.
"Duduk dulu Ra," perintah Allana melihat Razella sudah mulai tenang.
"Kenapa kamu lari-lari?" tanya Allana sementara Razella tampak gelagapan.
"Tadi aku dikejar sama Preman," jawab Razella menetralkan ucapannya
"Preman?" tanya Allana memanjangkan intonasinya.
Allana menatap intens ke arah Razella. Allana bukan orang yang mudah dibohongi. Di komplek perumahan ini penjagaan keamanan sangat baik, mustahil jika ada orang jahat yang bisa menyelinap masuk ke area ini.
Allana ingin menanyakan lebih lanjut. Tapi terpaksa Allana urungkan. Dilihat dari gestur Razella yang meremas jari-jemarinya sendiri Allana bisa menyimpulkan kalau Razella masih dibawah tekanan. Jika Allana memaksakan diri untuk bertanya apa yang sebenarnya terjadi, mungkin Razella malah akan menutupinya. Allana memilih menunggu Razella sendiri yang akan mengutarakan padanya.
"Kamu gak diapa-apain kan Ra?" pertanyaan itu terlontar dari Allana yang mengikuti alur pembicaraan Razella yang tidak jujur.
"Nggak Al, aku berhasil lari," kata Razella.
Dari cara bicara dan ekspresi Razella, Allana tahu ada yang disembunyikan Razella.
"Setelah itu apa yang dilakuin sama Razella?" Allana memejamkan mata.
Kedua kelopak matanya terbuka lebar. "Buku itu," kata Allana tersadar.
Allana segera mengecek buku yang waktu itu dipinjam Razella. Allana mencari buku itu didalam tumpukan buku pelajaran yang yang tersusun rapi di meja belajar.
Sungguh, Allana tidak sabar menemukannya. Tangannya lantas dengan cepat mengalihkan tumpukan buku itu. Belum ada hasil, Allana kembali mencari buku itu di laci. Nihil buku itu tidak ada. Allana mulai frustasi. Dimana dia meletakkannya?
"Kenapa kamu pelupa banget sih Allana!" Allana merutuk dirinya sendiri.
"Mungkin di tas," Allana menggeledah tas ransel warna putihnya.
"Ini dia," Allana menghela napasnya lega. Jemarinya membolak balikkan buku catatan bersampul coklat itu. Allana berharap ada petunjuk yang terselip di sana.
Seketika degup jantung Allana berdebar-debar. Tepat di halaman tengah ada dua kalimat yang tertera.
'Satu diantara tiga yang pergi, bukan karena bunuh diri tapi karena dihabisi,' tubuh Allana melemas merosot ke lantai. Tangannya gemetaran tidak karuan.
Ya, firasat Allana tidak salah. Satu petunjuk berhasil dia dapat.
Tugas Allana adalah mengisi satu per satu kotak jawaban dari teka-teki yang harus dia cari. Allana mencoba memahami. Siapa tiga orang yang dimaksud Razella?
"Aku, Razella dan Elenio juga bertiga," papar Allana.
"Apa mungkin Razella tau dia akan dibunuh? Tapi kenapa Razella gak menghindar atau pergi?" tanya Allana berdialog sendiri. Berpikir tentang kemungkinan-kemungkinan lain yang berkaitan dengan penyebab kematian Razella.
"Tapi kenapa? Razella yang dibunuh? Apa yang kamu sembunyiin Ra?" ujar Allana jadi bingung sendiri. Kapasitas otaknya masih belum mampu menganalisa.
"Aku harus tunjukin ini ke El, siapa tahu, dia mau bantu," pungkas Allana memeluk buku itu.
Allana segera pergi keluar kamar. Namun Allana berhenti setelah mendengar bunyi kran air yang menyala. Bunyi itu berasal dari kamar mandi sebelah kamarnya.
"Bi?" Allana mengetuk pintu kamar mandi. Dia menduga ada Bi Ratih di dalam sana.
Allana membuka knop pintu. Dia Lantas mengerutkan keningnya.
"Gak ada orang," kata Allana mematikan kran air. Saat berbalik, tubuhnya tercengang. Pupil matanya membesar karena terkejut serta bulu kuduknya berdiri. Merinding.
'Simpan untuk diri sendiri Allana!'
Kalimat itu ditulis besar di cermin, dengan tinta warna merah. Jantung Allana berpacu kencang. Ulah siapa ini? Pikir Allana.
"Ra-razella kan su-sudah meninggal," ujar Allana mundur selangkah seraya menutup mulutnya yang menganga.
Sebuah tanda tanya besar berada di dalam kepala Allana. Semua kejadian ini sulit untuk diterima oleh akal sehatnya.
***
Elenio turun dari motornya. Lelaki itu melangkahkan kaki masuk ke dalam gedung. Pandangan Elenio mendeteksi keberadaan Devan ke segala penjuru.
Elenio melihat bagian langit-langit gedung ini penuh dengan jaring laba-laba yang menggantung. Pencahayaannya juga minim, hanya ada satu bohlam lampu berwarna oranye. Ditambah tempat ini begitu usang dan terbengkalai, untuk apa juga Devan menyuruhnya kesini.
"DIMANA LO VAN?!" kelakar Elenio suara beratnya bergaung.
Elenio jatuh ke depan akibat punggungnya ditendang Devan dari belakang.
"DASAR PENGECUT!" seru Elenio bangkit. Satu bogem mentah berhasil menghantam rahang sebelah kiri wajah Devan.
"Lemah!" ejek Devan menyeringai.
Elenio mencengkeram kerah baju Devan penuh emosi. Erat sangat erat. "MAU LO APA?!" tanya Elenio tegas terbawa amarah.
"Jadi cowok yang gentleman! Dasar cupu!" geram Devan tak kalah kesal.
Tak butuh waktu lama, Elenio langsung paham arah pembicaraan Devan.
"Jadi karena cewek sialan itu?!" kata Elenio merendahkan, membuat gemuruh amarah dalam diri Devan membuncah.
"TUTUP MULUT KAMU EL!" maki Devan melayangkan pukulannya pada sisi muka Elenio hingga membuat sudut bibir Elenio sedikit sobek dan mengeluarkan darah.
"JAGA BICARA LO!" kelakar Devan sangat marah. Napas Devan kian memburu. Bagaimanapun juga Allana tidak pantas mendapat perkataan seperti itu.
"BUAT GUE, DIA GAK LEBIH DARI SEORANG PEMBUNUH!" balas Elenio tak kalah emosi.
"Dia gak salah!" bantah Devan kembali menyerang Elenio.
Devan hendak memukul rahang Elenio namun dengan sigap Elenio menangkis satu per satu serangan dari Devan. Begitu seterusnya hingga tenaga keduanya tak mampu lagi untuk membalas satu sama lain. Karena kewalahan, Elenio dan Devan menjatuhkan diri di lantai dengan tubuh terlentang, dalam keadaan napas terengah.
"Lo berubah Van!"
"Lo juga!
"Ini semua karena Allana?!" geram Elenio.
Devan merubah posisinya menjadi duduk. Benar-benar tidak paham dengan pola pikir Elenio. Laki-laki ini tiada habisnya menyalahkan Allana.
"Jangan sakitin dia lagi!" perintah Devan tegas.
"Kalau itu mau lo, mulai detik ini kita bukan sahabat!" pungkas Elenio menajamkan tatapannya. Keseriusan itu tercetak nyata dari ekspresinya.
"Oke," jawab Devan enteng.
"Jadi lo lebih milih Allana? Sahabat macam apa lo Van?!" gertak Elenio.
"Lo sendiri, sahabat macam apa El?" tanya Devan seraya mengangkat dagu.
Elenio tergelak mendengar jawaban Devan. Kalimat yang dia tujukan pada Devan justru berbalik menyerang dirinya. Elenio menelan ludahnya kasar.
"Ternyata, omongan lo di danau itu cuma omong kosong!" balas Elenio tersenyum kecut.
"Lo terlalu egois! Allana juga merasa kehilangan bukan cuma lo doang! Kenapa lo gak bisa ngertiin dia sedikit aja?" tanya Devan gregetan.
"Apa yang lo omongin ini gak penting! Lo udah buang-buang waktu gue, Van!" balas Elenio acuh.
"Turunin ego lo, El, jangan keras kepala! Jangan sampai lo menyesal nanti," peringat Devan berteriak.
***
Allana duduk di sofa, dia masih shock berkepanjangan. Allana bergeming dia mengenggam buku itu kuat.
"Ini artinya aku harus pecahkan kasus ini sendiri," gumam Allana.
Allana mendengar pintunya diketuk cukup keras dia lantas meletakkan buku itu di meja dan segera berjalan menuju pintu.
"Iya, sebentar," sahut Allana membuka pintu.
Allana terkejut melihat Elenio yang datang dengan luka lebam di pipi juga darah di sudut bibirnya.
"Wajah kamu kenapa El?" tanya
Allana reflek akan menyentuh luka itu namun Elenio dengan cepat menepis tangan Allana kasar.
"Apa peduli kamu?!" tanya Elenio bengis.
"Kita sahabat," jawab Allana bernada rendah meremas jari-jarinya.
Setelah perlakuan kasar yang telah Elenio lakukan. Allana
masih menganggapnya sebagai sahabat?
"Masuk dulu ya El, biar aku obatin lukanya," tawae Allana meski Allana tidak yakin jika Elenio bersedia.
Bahkan gadis ini berniat mengobati lukanya.
"GAK PERLU!" seru Elenio di depan wajah Allana. Lelaki itu menarik paksa lengan Allana lalu membenturkan punggung Allana ke dinding. Kedua tangan Elenio berada di sisi wajah Allana tepatnya Elenio telah mengunci pergerakan Allana.
Tatapan tajam bercampur dengan kebencian itu mengarah pada Allana.
"Kamu ma-mau apa El?" tanya Allana gugup.
Elenio semakin mendekatkan wajahnya. Deru napas beraroma mint itu berembus hangat mengenai permukaan kulit wajah Allana. Sebelah tangan Elenio terangkat menyelipkan beberapa helai rambut Allana ke belakang telinga, jemarinya lantas bergerak menelusuri pipi Allana membuat tubuh Allana meremang dibuatnya.
"Ternyata kamu cantik juga Al," ujar Elenio sedikit memiringkan kepala. Dia tersenyum namun senyum itu tampak mengerikan di mata Allana. Seperti ada maksud tersirat di sana.
Pandangan Elenio turun pada bibir merah muda milik Allana yang menggoda. Alarm di kepala Allana seolah berbunyi menandakan bahaya. Elenio semakin mengikis jarak, sedikit saja Elenio maju maka bibir mereka akan bertemu. Allana dengan cepat mendorong Elenio ke depan.
"SADAR EL!" bentak Allana tidak menyangka Elenio berusaha melakukan hak tidak pantas terhadapnya.
Elenio menyeringai. "Kamu dibayar berapa sama Devan?!" tuduh Elenio, suara berat laki-laki itu bergaung.
Allana menampar wajah Elenio. Memangnya Elenio pikir dia wanita macam apa?
Elenio mencengkram kuat tangan Allana. "Jauhin tangan kotor ini dari wajah aku!"
"AKU GAK PERNAH BERBUAT SEPERTI ITU!" seru Allana menatap kedua manik mata Elenio dalam.
"Buktinya dia rela lakuin apa aja demi kamu Allana? Kamu pasti main 'kan sama dia?!'' cecar Elenio.
"Enggak El. Aku sama Devan gak ada apa-apa kita cuma teman," jelas Allana. Lagi-lagi kata yang terucap dari bibir Elenio mencabik-cabik hatinya.
"Bohong!" seru Elenio.
Allana menggelengkan kepala. "Buat apa aku bohong?" papar Allana mati-matian menahan sesak di dadanya.
Elenio menunjuk Allana. "Asal kamu tau, karena kamu, hubungan persahabatan aku sama Devan renggang! SEMUANYA GARA-GARA KAMU ALLANA!" geram Elenio berada di puncak emosi.
"Kenapa, El? Kenapa aku yang kamu salahin?" tanya Allana penuh kekecewaan.
"Karena kamu biang masalah Allana!" bentak Elenio lantas berlalu pergi meninggalkan Allana yang berdiri kaku. Air matanya turun deras.
Allana tidak mampu berkata-kata lagi karena apa yang dikatakan Elenio memang benar. Orang tuanya juga mengatakan itu padanya. Allana tidak lebih dari seseorang yang dianggap sebagai penghancur kebahagiaan orang-orang di sekitarnya.
"Semua jadi kacau karena aku, harusnya aku gak pernah dilahirkan kalau semuanya akan seperti ini," sesal Allana kembali menyalahkan dirinya sendiri. Hatinya hancur berkeping-keping.