Perempuan dengan rambut sepinggang yang sengaja di gerai serta jaket jeans yang menutupi kaos putih yang dikenakannya terlihat menghentikan langkah di depan jalan setapak. Sebelum melewati jalan yang kira- kira bisa dilewati oleh 2 orang itu, ia menatap gedung yang terlihat jelas dari tempatnya berdiri.
“Hai gedung, akhirnya kita ketemu. Jangan bosen- bosen ya, kita bakalan ketemu setidaknya 3 setengah tahun, kalau gue bisa nyelesain kuliah lebih cepat”
Monolognya pada gedung besar yang ditatapnya dengan mata berbinar. Untuk bisa memasuki gedung tersebut, perempuan itu harus melewati banyak tes, dan bisa melihat gedung itu di hadapannya membuatnya tersadar, bahwa ia sudah berhasil melewati semua tes tersebut. Dengan rasa bahagia dan senyuman lebar, ia sekali lagi menatap gedung itu.
Sudah puas dengan drama di pagi hari yang menurutnya keren, perempuan itu kemudian bersiap untuk melangkahkan kakinya. Dengan menguatkan genggaman pada kedua tali tas yang ada di pundaknya, ia dengan mantap bersiap melangkah. Sayangnya, keinginannya untuk melangkah dengan keren, apalagi sebelumnya sudah dibuka dengan cukup keren -sekali lagi, menurutnya sendiri- ia harus kehilangan keseimbangan karena ada yang menyenggol tubuhnya.
Rambut yang tadi sudah terurai dengan rapi kini berkumpul di depan wajah perempuan itu sehingga menutupi sebagian pandangannya. Hembusan nafas membuat rambut- rambut yang menghalangi pandangannya sedikit bergerak sebelum akhirnya semua rambut itu disibakan agar sang pemilik bisa melihat siapa yang sudah menyenggolnya.
Begitu menatap ke samping, perempuan itu terdiam. Ia terkejut dengan seseorang yang kini juga menatapnya. Laki- laki yang jauh lebih tinggi darinya itu tengah menatapnya dengan kedua telinga yang disumbat dengan headset. Terlihat rambut berwarna hitam yang di tata rapi itu tertiup angin bersamaan dengan kabel headset yang menggantung di kupingnya sampai ke saku celana laki- laki tersebut. Semakin diperhatikan, laki- laki itu terlihat tampan.
“Minggir, ngalangin jalan aja”
Mata yang tadi menatap dengan penuh kekaguman kini terlihat melebar kebingungan. Otak perempuan itu kini bekerja dengan keras untuk memastikan apakah yang didengarnya tadi tidak salah.
Belum mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang ada di kepalanya, ia kembali mendengar kata- kata “indah” yang diucapkan oleh laki- laki itu, “minggir, nggak bisa dengar ya lu”
Seperti sihir, kedua kaki perempuan itu seketika bergerak dan bergeser ke samping, memberikan jalan untuk laki- laki itu agar bisa lewat. Tidak mengatakan apapun namun malah memberikan tatapan meremehkan, laki- laki itu jalan begitu saja. Selang beberapa detik, seperti baru terlepas dari sihir, perempuan itu tersadar dan ingin mengeluarkan kata- kata “indah” juga, sayangnya sosok laki- laki itu sudah berada cukup jauh darinya. Telunjuknya terus menunjuk laki- laki itu dan pundak miliknya bergantian, juga mulutnya yang sudah ingin mengeluarkan semua kata- kata pembelaan. Pada akhirnya ia hanya bisa mengepalkan tangan untuk melampiaskan rasa kesalnya. Mau bicara atau marah pun, percuma jika tidak ada orangnya.
“sabar, nggak boleh marah. Tarik nafas dulu”
Dengan mencoba menginstruksi diri sendiri, ia berharap kemarahannya bisa menghilang. Matanya juga ditutup berharap bisa meredakan kemarahannya. Setelah menarik nafas dan membuangnya beberapa kali, matanya kembali dibuka. Pandangannya menatap pintu dimana laki- laki tadi masuk melewatinya.
“sialan itu cowok”
Pada akhirnya meditasi singkat itu gagal.
—
Sudah memastikan dimana kelasnya berada, dengan langkah pasti ia memasuki sebuah ruangan. Begitu masuk, ia bisa melihat beberapa orang yang wajahnya sudah tidak terlalu asing untuknya, ada pula yang masih belum dikenal. Dengan langkah senang, ia mulai mencari bangku disertai sapaan dari teman- temannya itu.
“Yoceline”
Mendengar namanya dipanggil, perempuan itu kemudian melihat ke arah suara itu terdengar. Di bangku dekat jendela barisan ketiga, ia melihat seorang perempuan yang tengah melambaikan tangan ke arahnya. Dengan senyuman melebar, ia mulai menghampiri perempuan tersebut.
“Kanzia, astaga. Kangen gue sama lo”
Kedua tangan Yoceline di rentangkan, siap memeluk namun segera ditepis oleh perempuan bernama Kanzia tersebut.
“nggak usah lebay deh lo. Baru dua hari lalu juga ketemu”
Ucapan itu hanya ditanggapi kekehan dari Yoceline. Meski begitu, ia tetap mencoba untuk memeluk Kanzia, namun segera ditepis kembali. Tidak ada ketiga kali, Yoceline akhirnya tidak menggoda temannya itu lagi dan segera duduk di bangku kosong yang tepat ada di samping Kanzia.
Baru beberapa detik ia duduk dan membuka obrolan dengan Kanzia, beberapa teman yang duduk didekat mereka ikut nimbrung dan berakhir dengan berbincang bersama. Berbagai hal jadi topik pembicaraan, namun yang paling membuat mereka bersemangat adalah title baru mereka sebagai mahasiswa.
“gue sampai beli baju baru sih ini, tas juga”
Dengan senyuman menyebalkan Yoceline mengangkat sedikit tas yang ada di atas meja berniat memamerkan barang miliknya. Sadar bahwa Yoceline tengah pamer, teman- temannya dengan kompak meledek perempuan itu.
“niat banget sih lu.”
“nggak boleh sombong lin, jadi mahasiswa baru harus rendah hati.”
“nanti barang baru lu malah ilang loh kalau di sombongin.”
Beberapa orang mulai bersahutan untuk meledek omongan Yoceline sebelumnya. Sementara yang diledek hanya tersenyum dan terus memamerkan tas dan jaket barunya. Meski Yoceline melakukan itu, tetapi ia tidak bermaksud untuk menyombongkan diri, dan ia yakin, teman- temannya itu bisa melihat jelas maksudnya dari caranya berbicara.
“lagian ini bukan sombong ya, tapi lebih ke effort dan penghargaan ke diri sendiri. Kalau bahasa sekarang tuh, self reward.”
“bisa aja bela dirinya ini bocah”
“terserah lu aja deh lin”
Dengan tanggapan teman- temannya itu, mereka akhirnya tertawa bersama. Ketika melihat teman- temannya yang tengah mengobrol dengannya, Yoceline tersadar akan sesuatu.
“Si Margaret belum datang ya?”
Kanzia dan beberapa temannya kemudian melihat sekitar untuk memastikan apakah perempuan bernama Margaret itu sudah berada di kelas.
“belum kayaknya”
“masih di jalan kali”
Yoceline yang juga tidak melihat keberadaan Margaret di sekitar kelas menyetujui ucapan dari seorang perempuan dengan penampilan yang terlihat feminim dan full make up bernama Raisa itu. Beralih dari pembahasan Margaret, mereka melanjutkan obrolan kembali. Cukup lama mereka mengobrol sampai ada seorang mahasiswa yang sepertinya baru datang dan langsung berteriak kalau seorang dosen berjalan menuju ke kelas mereka. Dengan sigap, semuanya segera duduk di tempat masing- masing dan duduk dengan rapi.
Benar saja, seorang wanita yang sepertinya sudah berumur diatas 40 an itu masuk dengan senyuman yang mekar di wajahnya. Ketika dosen itu masuk, Yoceline dan Kanzia melihat seorang perempuan yang juga baru masuk. Menyadari bahwa itu adalah Margaret, Yoceline menyenggol Kanzia.
“itu Margaret udah dateng”
“iya tahu. Fokus kedepan woy”
Teguran dari Kanzia membuat Yoceline hanya mengangguk saja dan kemudian kembali fokus pada dosen yang sudah berdiri di depan. Kelas diawali dengan perkenalan dari dosen yang diketahui bernama Nanda dan merupakan dosen akademik untuk angkatan Yoceline, kemudian dilanjut dengan perkenalan dari para mahasiswa. Perkenalan mahasiswa dimulai dari barisan paling depan, dan satu persatu dipersilahkan untuk maju kedepan.
Dengan heboh, Yoceline terus menanggapi perkenalan yang dilakukan oleh teman- teman seangkatannya itu. Sesekali Yoceline juga menyapa dengan memanggil nama dari setiap mahasiswa yang melakukan perkenalan, hingga akhirnya diikuti oleh beberapa teman di dalam kelasnya.
Saat Margaret maju kedepan, Yoceline kembali menyenggol Kanzia.
“Margaret pakai baju bebas gini cantiknya nambah ya?”
Dengan anggukkan setuju, Kanzia menanggapi.
“Waktu pakai baju putih hitam udah kayak anak magang aja udah cantik, ini lagi pakai baju bebas. Modis banget ini orang.”
Kali ini Yoceline yang menyetujui ucapan dari Kanzia. Keduanya jadi terpana melihat teman seangkatan yang baru dikenal ketika masa orientasi itu. Bukan hanya dengan Margaret, Yoceline dan Kanzia juga baru mengenal ketika masa orientasi yang baru selesai di laksanakan dua hari lalu.
Satu persatumahasiswa sudah maju. Tibalah giliran Yoceline yang memperkenalkan diri. Dengan langkah penuh percaya diri, Yoceline maju dan berdiri di hadapan teman- teman barunya itu. Dari tempatnya berdiri, ia semakin menyadari bahwa kelasnya di d******i oleh perempuan. Hanya ada 4 orang laki- laki di kelasnya. Jumlah yang cukup wajar untuk jurusan tata busana. Bukannya tidak boleh, tapi di kampusnya, tata busana menjadi salah satu jurusan dimana tidak terlalu diminati oleh calon mahasiswa laki- laki. Sama seperti jurusan Mesin yang memiliki sedikit peminat dari calon mahasiswa perempuan.
Lambaian tangan mengawali perkenalan Yoceline, “Halo semuanya, nama saya Yo, Celine Aneska”
Kata ‘Yo’ dan Celine sengaja dipisah, seakan Yoceline tengah melakukan rap dengan diawali dua huruf namanya itu. Tidak hanya dari nada bicaranya, tapi gerakkan tangan juga menambah kesan bahwa Yoceline tengah melakukan rap daripada perkenalan nama.
Caranya perkenalan berhasil membuat seisi kelas tertawa, tidak terkecuali dosen yang menggeleng melihat kelakuan mahasiswa barunya itu. Senang bahwa candaannya ditanggapi positif oleh yang lain, Yoceline kemudian kembali memperkenalkan diri dengan benar.
“bercanda ya. Nama saya Yoceline, tapi jangan dipisah ya Yo nya” Tetap saja, ia menyelipkan candaan.
Dengan begitu, seisi kelas kembali tertawa. Sesudah itu, Yoceline meneruskan perkenalannya dan diselesaikan dengan hormat ala kerajaan. Sampai perempuan itu duduk, seisi kelas menertawainya dengan tingkah aneh yang dilakukan Yoceline saat perkenalan. Yoceline sendiri malah jadi senang karena teman- teman sekelasnya menanggapi candaannya. Bahkan saat sudah duduk, Kanzia yang mendapatkan giliran untuk perkenalan diri menyempatkan diri memukul Yoceline sebelum melangkahkan kakinya ke depan kelas.
Selesai dengan sesi perkenalan, bu Nanda kemudian menjelaskan beberapa peraturan yang berlaku selama di kelasnya, juga berbaik hati memperkenalkan prodi dan fakultas dimana jurusan tata busana berada.
Kelas pertama akhirnya selesai dengan perkenalan dan pemilihan beberapa penanggung jawab setiap mata kuliah dan ketua kelas. Yoceline mengira hanya disekolah saja berlaku ketua kelas dan pengurusnya, ternyata sebagai mahasiswa pun, hal seperti itu masih berlaku.
Hari ini Yoceline harus menghadiri dua kelas. Sama seperti kelas sebelumnya, tidak banyak yang dilakukan di pertemuan kelas kedua. Meski ada beberapa pembahasan buku dan materi yang akan dilakukan, namun belum seintens seharusnya.
Yoceline berjalan bersama dengan Kanzia, karena keduanya sama- sama mengendarai motor. Obrolan terus terjadi sepanjang jalan, tidak jarang keduanya jadi tertawa. Langkah Yoceline dan Kanzia harus berhenti ketika gang kecil yang menjadi jalan terdekat untuk menuju parkiran motor kampus dipenuhi oleh beberapa orang. Awalnya, Yoceline kira hanya sekumpulan mahasiswa yang nongkrong aja, karena itu ia mau bilang permisi aja agar bisa lewat, nggak tahu nya, Yoceline melihat seorang perempuan yang berhadapan dengan seorang laki- laki. Dengan keadaan dan cara pandang, Yoceline tahu kalau ada sesuatu terjadi, membuatnya mengurungkan niat untuk lewat.
“kak, aku suka sama kakak. Aku udah suka sama kakak semenjak lihat kakak pertama kali ketika ngasih kata sambutan di orientasi kemarin. Tolong terima kak”
Perempuan tersebut menyodorkan sebuah paper bag yang Yoceline tahu sebagai salah satu merk ternama dan dikenal sangat mahal.
Banyak hal yang sudah Yoceline bayangkan untuk hari pertamanya menjadi mahasiswa. Dari sekian banyak bayangan yang sudah ia pikirkan, tidak ada bayangan bahwa dirinya akan melihat pernyataan cinta secara langsung, seperti saat ini.
Beberapa orang yang berdiri di sana meneriakan kata “terima” pada laki- laki yang berdiri di hadapan perempuan itu. Yoceline menatap laki- laki yang membelakanginya itu dengan saksama. Sepertinya ia tidak asing dengan laki- laki itu.
“kamu mahasiswa baru?”
Dari nada- nada bicara, Yoceline semakin tidak asing dengan orang tersebut. Sepertinya ia benar- benar pernah melihatnya.
“iya kak”
“ohh, pantes”
Nada meremehkan dari laki- laki itu membuat sang perempuan menatap kebingungan.
“maksud kakak apa ya?”
Dari ekspresi perempuan itu, ia seperti ingin memastikan maksud dari ucapan laki- laki di hadapannya.
“kebiasaan mahasiswa baru, ngelakuin hal nggak guna”
Perkataan yang keluar dari mulut laki- laki itu berhasil membungkam mulut beberapa mahasiswa yang tadi masih bersorak mendukung keduanya. Mereka semakin dikejutkan dengan kepergian laki- laki itu setelah berbicara cukup kasar. Dari sana, mereka tahu bahwa pernyataan cinta itu gagal. Satu demi satu mahasiswa yang tadi berkumpul segera meninggalkan tempat itu, sambil menatap perempuan yang baru saja ditolak dengan tatapan kasihan.
Sementara perempuan yang tadi nyatain perasaannya segera menutup muka dengan kedua tangannya. Ada beberapa perempuan juga yang menghampiri perempuan itu dan mencoba menenangkannya..
“Mulutnya itu cowok emang nggak bisa dijaga ya.”
Penuh dengan emosi, Yoceline memaki laki- laki yang sudah pergi menjauh itu, laki- laki yang sama yang sudah menyenggolnya tadi pagi dan pergi begitu saja tanpa kata maaf. Laki- laki paling tidak sopan yang pernah Yoceline lihat.