“Nayla! Apa ini?!” Suara menggelegar dari Hakim mengguncang seluruh sudut rumah, membuat atmosfer menegangkan.
Nayla bergegas mendekati Hakim yang menatapnya dengan pandangan tajam seolah ingin membunuhnya. Di tangan Hakim, sebuah alat tes kehamilan menjadi benda yang memicu kemarahan.
“Ini punya siapa?!” Tanya Hakim dengan suara parau, wajahnya merah penuh emosi.
Mata Nayla membulat, tak percaya apa yang baru saja terjadi. “Kenapa bisa ada di tangan Papa?” Gumamnya dengan panik.
“JAWAB!” Teriakan itu terdengar lantang bersamaan dengan tamparan keras yang mendarat di pipinya.
Getaran yang tercipta dari tamparan tersebut membuat Nayla merasakan dengungan di telinganya dan kepalanya serasa ingin pecah. Nayla hampir saja terjatuh, namun dia berhasil menahan tubuhnya agar tetap berdiri tegak menghadapi kemarahan Papanya.
“Papa, Nay..”
Ucapan Nayla menggantung di udara karena ia menerima tamparan kedua. Membuat lidahnya kelu untuk bicara. Tanpa sadar dia mengusap bekas tamparan yang terasa sangat perih.
“Papa cukup! Papa jangan main kasar sama Nayla. Kita bisa bicarakan baik-baik,” tegur Hanum pelan seraya menahan tangan suaminya agar tidak menampar kembali sang putri.
Nayla lekas mendekat dan menubruk sang mama. Memeluk wanita yang sudah melahirkannya itu sambil menangis. “Mama.. tolong Nayla, Ma,” isaknya dengan pelukan yang erat.
“Pa, kita bicarakan baik-baik sama Nayla,” ucap Hanum sambil memohon kepada Hakim.
“Anak ini sudah mempermalukan kita Ma! Dia hamil di luar pernikahan! Mau di taruh mana muka kita? Papa malu! Mulai sekarang, silahkan kamu keluar dari rumah ini. Kamu sudah bukan anak Papa lagi!” Teriak Hakim tanpa perasaan.
“Semester berikutnya, kamu bayar sendiri biaya kuliah kamu,” ancamnya lagi.
“Pa.. Nayla kan belum bekerja. Bagaimana bisa? Uang dari mana, apa?” Isaknya lirih.
“Mana Papa tahu! Bukan urusan Papa. Papa tidak perduli,” gertak Hakim.
“Pa, tolong Pa. Kasih Nayla kesempatan menjelaskan apa yang terjadi. Apapun hal buruk yang sudah ia perbuat, itu adalah buah dari didikan kita juga,” pinta Hanum tanpa lelah memohon kebaikan dari suaminya.
Hakim akhirnya menuruti perkataan Hanum. Meskipun napasnya masih memburu, namun emosinya sudah tidak seperti tadi.
Hanum menggiring putrinya yang saat ini penampilannya kacau untuk duduk di sofa.
“Papa, sini duduk,” titah Hanum kepada Hakim yang masih memilih berdiri.
Sementara Nayla terus menunduk. Dia tidak berani mengangkat wajahnya untuk sekedar melihat wajah kedua orang tuanya.
“Siapa ayah anak itu?” Tanya Hakim bertepatan dengan dia menghempaskan tubuhnya ke atas sofa.
“Nayla ne-belum tahu pasti identitasnya apa,” jawabnya terbata-bata.
Sontak jawaban itu membuat Hakim kembali marah. Hakim menggebrak meja di depannya.
“Apa?! Berapa banyak pria yang tidur sama kamu sampai kamu bingung, hah?!” Bentaknya keras.
Nayla tersentak akibat bentakan itu. Dia semakin takut menghadapi Papanya. “Cuma satu Pa. Please Pa, percaya sama Nayla,” mohonnya sambil terisak.
“Bagaimana papa mau percaya sama kamu. Kelakuan kamu seperti ini. Mencoreng nama baik keluarga. Sejak dulu kamu cuma bisa bikin Papa malu!”
Sebuah usapan pelan mendarat pada lengan Hakim, “Sssttt.. Pa, sudah. Kita dengarkan dulu penjelasan Nayla seperti apa. Nanti baru kita cari solusinya bersama. Ya, Pa?” Bujuk Hanum dengan lembut.
“Nayla akan jujur kepada Papa dan Mama. Sekitar satu bulan yang lalu, Nayla bertemu dengan pria ini di konser Shawn Mendes,” ucapnya mulai menjelaskan.
“Apa hubungannya konser sama kehamilan kamu?”
“Saat itu kami berdua datang sendirian untuk menonton konser. Nayla nggak sengaja menabrak Mas Arsen sewaktu akan masuk ke venue. Akhirnya kami berkenalan selanjutnya menyaksikan konser bersama,”
Nayla menarik napasnya dulu sebelum melanjutkan kembali ceritanya.
“Karena konser berlangsung sampai tengah malam dan terlalu lelah, akhirnya kami memutuskan menginap di hotel. Lalu kami—“
“Bodoh kamu!” Potong Hakim.
“Kamu itu mahasiswi, masa nggak paham arahnya kemana kalau di ajak menginap di hotel oleh laki-laki,”
“Pa, Nayla belum selesai menjelaskan. Papa sabar. Jangan kebawa emosi dulu,” sahut Hanum yang mulai kesal dengan sikap suaminya.
“Lanjutkan ceritanya, Sayang,” ucap Hanum pelan.
Nayla mengangguk cepat. “Ya, seperti yang kalian duga. Setelah itu kami berbuat hal yang di larang oleh agama,” lanjutnya dengan menunduk dalam.
“Terus kamu nggak tahu dia siapa?” Tanya Hanum penasaran dengan sosok lelaki yang membuat putrinya ternoda.
Nayla menggeleng pelan sambil memegang perutnya yang masih rata. “Nayla nggak tahu, Ma. Nayla cuma tahu namanya Arsen. Mas Arsen ketika itu sengaja meninggalkan kartu nama. Tapi kartu nama itu Nayla buang. Karena Nayla anggap itu nggak penting,”
“Tuh kan! Apa Papa bilang. Kamu itu bodoh!” Sambar Hakim sambil menunjuk ke arah anaknya.
“Papa sudah cukup mendengar penjelasan kamu. Kamu sendiri yang harus bertanggung jawab terhadap perbuatan kamu. Sekarang kamu kemas pakaian kamu, terus pergi dari sini,” putusnya tegas.
Netra Nayla membola. Dia langsung bersimpuh di kaki Hakim sambil menangis sejadi-jadinya.
“Pa, tolong jangan usir Nayla. Nayla nggak mau tinggal di jalanan,”
Hakim menggeleng. “Keputusan Papa sudah bulat. Kamu cuma boleh bawa pakaian. Mobil, kartu ATM tidak boleh kamu bawa!”
Nayla semakin menangis histeris. “Tapi, Pa. Bagaimana Nayla bisa hidup kalau ATM Nayla, Papa ambil juga,” ucapnya sambil menggeleng kuat. Memohon agar Papanya membatalkan keputusannya.
“Pa.. Tolong Pa. Kasihani Nayla,” mohon Nayla dengan berderai air mata.
Hakim diam saja mendengar remehkan putrinya. Air mata yang mengalir deras dari kedua mata putrinya tidak bisa membuat hati Hakim sedikit saja melunak.
Hakim berusaha menyingkirkan tangan Nayla dari kakinya dengan cara menghentakkan kakinya beberapa kali ke udara. Akibatnya pelukan Nayla terlepas. “Cepat kamu bereskan barang-barang kamu, sekarang!”
Nayla tidak bisa berbuat apapun, dia pasrah. Akhirnya dia beranjak ke kamar untuk mengemas pakaiannya.
“Pa, kamu kejam sekali jadi orang tua! Gimana kalau dia jadi gembel di jalanan?” Teriak Hanum kesal.
“Papa memang dari dulu nggak pernah sayang sama Nayla!” Kata Hanum sebelum pergi ke kamar dan membanting pintunya.
Hakim menendang kursi di depannya sebagai pelampiasan rasa amarahnya. Dia tidak tega mengusir Nayla tapi dia merasa sesekali harus memberikan pelajaran pada putrinya. Selama ini Nayla terlalu dimanja olehnya.
***
Nayla meletakkan kunci mobil di atas meja nakas di kamarnya. Mobil Honda Civic Turbo kesayangannya dengan terpaksa ia tinggalkan.
Kartu ATM yang berisi uang dengan nominal fantastis harus ia relakan juga malam ini.
Untungnya, dia masih punya tabungan di beberapa rekening yang sengaja ia buat tanpa sepengetahuan orang tuanya.
Dengan langkah berat dia terpaksa pergi dari rumah mewah itu. Papanya tidak mengijinkan Nayla untuk tinggal bersamanya lagi.
Di atas motor Honda Beat hitam yang ia pinjam sementara dari Pak Darma, tukang kebun di rumahnya. Nayla menyusuri jalanan yang cukup padat. Tujuan utamanya adalah apartemen Laras, sahabatnya sejak SMA.
Satu jam kemudian dia telah berdiri di hadapan unit milik Laras.
Bel di pijat, tak lama pintu terbuka lebar dan menampakkan sosok gadis tinggi bermata bulat. Alis rapihnya menekuk dalam sebab heran melihat keberadaan Nayla di tempatnya selarut ini dengan keadaan yang bisa dibilang tidak baik-baik saja.
“Lu kenapa, Nay?” Tanyanya langsung.
Nayla menahan tangis, matanya bengkak. “Gue boleh masuk dulu nggak Ras?” Pada akhirnya Laras menggeser tubuhnya ke samping agar sahabatnya itu bisa masuk, lalu ia mengekorinya setelah menutup pintu kembali.
“Mau gue bikinin kopi?” Tawar Laras, ia tahu kesukaan Nayla. Yang di tanya mengangguk, mendaratkan bokongnya di atas sofa empuk sambil bergerak melepas tas kecilnya dan menyimpannya di bawah karpet beludru.
Dia menyandarkan punggungnya pada sofa, sedangkan tangannya terangkat memijat pelipis.
Tak lama berselang, Laras telah kembali dengan membawa segelas kopi. Disimpannya gelas itu di atas meja yang ada di hadapan mereka, lalu ia duduk di samping sahabatnya sambil memiringkan badan ke arah Nayla. “Kenapa lu? Kacau banget itu muka?”
Mata Nayla yang semula terpejam langsung terbuka setelah mendengar suara Laras, “Gue hamil,”
Laras terperanjat lalu sedikit berteriak. “Hah? Bercanda kan lu!”
Nayla menggeleng pelan. “Kali ini gue serius,” sahut Nayla pelan.
“Papa sampai ngusir gue dari rumah,”
“Bohong lu!”
“Lu nggak lihat koper gue?” Sambung Nayla lagi dengan menunjuk ke arah koper hitam besarnya di sudut ruangan.
“Gimana ceritanya? Lu hamil anak siapa? Jangan bilang ini anak lu sama Dafa,” cecar Laras.
Nayla menghela napas dalam. “Bukan Dafa. Gue nggak tahu ini bapaknya siapa,”
“Eh gila lu! Lu main sama siapa aja sampai bingung bapaknya siapa!”
Nayla mendengkus, “Nggak gitu ceritanya Laras! Lu sama aja kaya Papa. Langsung menyimpulkan satu arah. Maksud gue, gue nggak tahu identitas cowok yang sudah tidur sama gue,”
“Lah. Terus, gimana ceritanya?”
“Gue terjebak cinta satu malam sama partner konser gue!” Teriak Nayla histeris sambil menangis memeluk Laras.
*****