“ Kakek tidak mau tahu, kamu harus menikah dan memberikan penerus untuk keluarga kita, Alan!” seorang pria tua dengan wajah geram setelah meluapkan amarahnya.
Sang cucu sudah berusia lebih dari 30 tahun dan kondisi kesehatan pria itu juga semakin menurun. Dirinya takut kematian akan datang lebih dulu dulu sebelum sempat melihat kelahiran cicitnya.
“Itu terlalu sulit, Kek. Aku tidak mau menikah.”
Alan Devara sudah sering kali mendengar perintah kakeknya untuk menikah. Akan tetapi, pernikahan bagi seorang Alan hanya membuang buang waktu.
Dia tidak mau terikat dengan seorang wanita menggunakan perasaan. Perceraian orang tua kandungnya menjadi alasan terkuat pria itu enggan untuk membina rumah tangga dan lebih suka bekerja.
“Terserah kamu, Alan. Kalau kamu memang tidak mau memberi kakek cucu, kakek akan mengangkat Daniel Devara sebagai CEO perusahaan ini dan menyingkirkan kamu!” Ancam sang kakek yang kemudian meninggalkan Alan sendirian di ruangannya.
Mendengar nama Daniel, wajah Alan seketika menjadi merah dan telinganya terasa panas. Tangan pria itu secara refleks terkepal kuat dan sambil mendengus kesal Alan pun menggebrak meja kerjanya.
“Aku tidak akan dikalahkan Daniel! Aku akan memberikan bayi itu untuk mendapatkan hakku!” Rahang Alan mengeras hingga urat lehernya terlihat dengan jelas.
Pria itu tiba-tiba memikirkan cara aneh agar bisa mendapatkan anak tanpa harus menikah. Alan pikir, kenapa tidak membayar orang untuk hamil anaknya?
***
***
Rencana gila Alan benar-benar diwujudkan. Dalam waktu kurang dari seminggu, dia sudah berhasil menarik seorang wanita cantik ke tempat tidurnya. Hal tergila yang pernah Alan lakukan selama hidup, demi memberikan keturunan untuk keluarga Devara.
“Ingat, Kayla. Kamu harus segera hamil dalam waktu enam bulan!” Kata Alan setelah melepaskan benihnya di rahim Kayla dan mengganjal pinggul wanita itu dengan bantal.
Pandangan mata Alan tertuju pada lengan Kayla yang tampak seperti bekas luka. Beberapa mulai pudar, tetapi ada juga memar baru yang sebenarnya cukup mengganggu pikiran Alan. Namun, karena sudah diselimuti kenikmatan dunia, sedari tadi ia mengabaikan luka itu.
‘Walaupun dia benar masih suci, tapi kenapa ada banyak bekas luka di tubuhnya? Sebenarnya apa yang terjadi dengan Kayla?’
Alan menyingkirkan rambut Kayla yang menutupi wajah cantik wanita yang dinikahinya diam-diam itu. Dalam hati pria itu sangat mengakui kalau Kayla memiliki kecantikan alami meski tanpa make up, meski tetap saja bekas luka itu mengurangi keindahannya.
Setelah melakukan hal manis itu, Alan berjalan ke kamar mandi dengan hanya memakai celana pendek sehingga dadanya terekspos. Tubuhnya yang mempesona dengan otot perut yang sempurna membuat Kayla hampir gila memandanginya.
‘Tiga miliar untukmu dan lahirkan anakku! Kamu bisa melunasi hutang kamu dengan uang itu’ kata-kata Alan beberapa waktu lalu kembali terngiang di kepala Kayla sampai punggung pria itu menghilang di balik pintu kamar mandi.
“Alan begitu tampan, tapi aku harus sadar diri, bahwa dia membayarku hanya demi keturunan,” gumam Kayla sebelum akhirnya menghembuskan napas kasar dan memejamkan mata.
Cukup lama Kayla tertidur, sampai-sampai sinar matahari yang hangat menembus kaca dan menyilaukan mata indah yang masih terpejam itu. Kayla terpaksa membuka mata dan menyadari bahwa semalam dia ketiduran sampai tak sempat mandi.
Benar, semalam dia terlalu lelah melayani Alan, suaminya. Lalu, di mana pria itu sekarang? Kenapa tidak ada dikamar ini?
Kayla turun dari ranjang dan merasakan bagian bawah miliknya terasa sangat nyeri. Mungkin karena dia baru saja kehilangan mahkotanya semalam dan efeknya terasa sampai pagi.
Begitu kaki Kayla menyentuh lantai, dia langsung mencari jepit rambut miliknya yang ternyata ada di atas nakas. Namun, selembar kertas di bawah jepit rambutnya mengganggu pikiran wanita itu.
Tangan Kayla buru-buru meraih kertas itu dan membaca tulisannya. Sejumlah angka yang terbilang fantastis tertera jelas disana.
“I-ini, ini kan cek. Apa ini bayaran yang dijanjikan akan?” Gumam Kayla sembari menatap lembaran kertas bernilai lima ratus juta itu.
Dia segera bangkit dan menahan rasa sakit akibat keagresifan suaminya semalam. Dengan uang yang di genggamnya saat ini, Kayla bisa membayar biaya rumah sakit ibunya dan beberapa urusan yang lain.
***
***
“Nyonya, saya datang membawakan uang yang Nyonya minta. Saya bisa membuktikan kalau saya tidak pernah lari dari tanggung jawab,” kata Kayla sambil mengeluarkan amplop berisi uang tunai yang dia dapat setelah mencairkan cek dari Alan.
Wanita yang di panggil nyonya itu lalu meraih amplop dari Kayla dan membukanya. Jemari lentiknya dengan cepat menghitung uang dari amplop itu dan memastikan jumlahnya sesuai dengan yang ia minta.
“Baguslah jumlahnya pas! Lain kali hati-hati kalau bawa motor. Saya masih berbaik hati karena hanya minta dua puluh juta, itu hanya uang perbaikan mobil, tidak termasuk biaya saya ke dokter gara-gara syok, dan juga tidak termasuk kerugian waktu saya yang sangat berharga,” balas wanita itu dengan menyombongkan diri.
Kayla sudah muak berurusan dengan wanita yang di tabraknya itu. Dia masih harus pulang ke rumah untuk membereskan masalah yang lain.
“Jadi Nyonya masih mau minta uang lagi ke saya? Dua puluh juga itu tidak cukup?” Tanya Kayla.
“Oh, tidak. Saya bukan orang miskin. Saya bisa bayar sendiri. Uang dua puluh juta ini juga tidak ada artinya untuk saya, tapi semua ini tentang tanggung jawab,” jawab wanita itu.
“Baiklah, Nyonya. Saya sudah penuhi tanggung jawab saya. Kalau begitu, saya permisi,” pamit Kayla yang kemudian berdiri dan menundukkan kepala.
“Semoga kita tidak bertemu lagi,” balas Nyonya itu.
Bukan hanya Kayla yang tidak mengharapkan pertemuan ketiga mereka, tetapi wanita kaya itu juga. Bagi seorang kalangan atas seperti dirinya, bertemu dengan Kayla yang merupakan gadis miskin hanya akan membuat reputasinya menurun, dan tentu sang nyonya kaya tidak mau hal itu terjadi.
“Saya juga berharap demikian. Permisi, Nyonya!”
Kayla meninggalkan restoran itu dengan senyum yang mengembang sempurna. Dia merasa puas karena bisa membayar ganti rugi pada nyonya sombong yang ditemuinya. Ya, setidaknya dia tidak terlalu di rendahkan karena miskin.
Seusai dari restoran, Kayla menuju rumah orang tuanya. Lebih tepatnya, dia harus pulang untuk menemui ayahnya yang katanya sakit.
Berkali-kali wanita itu menghembuskan napas beras sebelum akhirnya memantapkan diri untuk memasuki rumah tempatnya dibesarkan. Dia mendorong pintu dengan kuat dan begitu pintu terbuka, Kayla melihat ayahnya baik-baik saja.
“Ayah. Della bilang ayah sakit,” kata Kayla yang sebenarnya sudah enggan datang ke rumah itu karena sang Ibu berada di rumah sakit.
“Ayah yang menyuruhnya bilang seperti itu. Kenapa memangnya? Kalau ayah sehat kamu tidak mau pulang kesini?” Tanya pria tua itu yang kemudian bangun dari kursinya.
Jantung Kayla rasanya mau meledak melihat pria kekar dengan tampang menyeramkan itu menatapnya dengan garang.
“Bu-bukan. Bukan begitu, ayah. Aku hanya..”
“Hanya apa? Hanya peduli dengan ibumu dan melupakan ayah yang sudah membesarkan kamu, Kayla?” Sentak pria itu.
Suara sang ayah yang menggelegar membuat Kayla memejamkan mata secara refleks. Sejak kecil dia selalu merasa ketakutan setiap kali bertatapan mata dengan pria itu.
Susah payah Kayla mengatur pernapasan dan sesekali menelan ludah dengan kasar. Sampai akhirnya, kaki jenjang pria itu berhenti tepat di hadapannya.
“Kamu harus berbakti sama orang tua, Kayla. Kamu tahu biaya rumah sakit itu sangat mahal dan perusahaan ayah sedang kolaps. Satu-satunya solusi dari semua masalah ini adalah mencari orang yang mau membantu kita, dan orang itu adalah Thomas Winata. Dia seorang duda kaya raya yang mungkin sebentar lagi akan mati,” kata ayah Kayla dengan nada bicara yang mulai terdengar halus.
Kayla mengangkat kepala dan menatap pria itu dengan bingung. “A-apa maksud ayah? Aku tidak mengerti.”
Pria bernama Dimas Antony itu meraih dagu Kayla dan mencengkeramnya dengan kuat. Tatapannya pada sang putri begitu menusuk sampai-sampai Kayla merasa dikuliti hanya dengan tatapan mata saja.
“Menikahlah dengan pria itu, Kayla. Dia akan segera mati, dan dapatkan warisannya. Kamu tidak perlu bekerja di berbagai tempat yang hanya menghasilkan recehan. Kamu hanya perlu menjadi Nyonya Winata dan dapatkan uangnya. Dengan begitu semua hutang keluarga kita akan lunas dan ibumu bisa mendapatkan perawatan yang layak,” kata ayah Kayla dengan sangat serius.
Kayla sangat syok mendengar ide konyol yang dilontarkan oleh ayahnya. Mana mungkin dia bisa menikah dengan pria lain, sementara tadi malam dia sudah menandatangani kontrak pernikahan dengan pria yang kini menjadi suaminya, Alan.
“Aku tidak bisa, ayah,” tolak Kayla dengan tegas.
Pria itu melepaskan cengkeramannya dan melemparkan tubuh Kayla ke sofa hingga kepalanya membentur tembok di belakang. “Lancang sekali kamu menolak. Kamu pikir kamu siapa?” Sentak pria tua itu mulai meradang.
Kayla berusaha bangkit dari sofa dan memegangi pipinya yang memar dan terasa perih. Kepala gadis itu juga terasa nyeri tetapi dia berusaha tetap berdiri. Lalu, setetes air mata dengan lancang memaksa keluar dan membuat pipi Kayla basah.
“Jangan egois, Kayla! Ibumu sedang sekarat di rumah sakit dan butuh banyak biaya. Kamu mau ibumu mati?” Teriak ayah Kayla dengan kesal.
Kayla hendak menjawab kalau biaya rumah sakit sudah di bayarkan, tetapi tiba-tiba kakaknya Della datang.
“A-ayah. Kita dapat surat lagi, apa nanti rumah kita akan disita bank?” Tanya Della sambil memberikan surat yang baru diterimanya.
Sang ayah membaca surat peringatan dari bank. Ini sudah kedua kalinya pria itu mendapat surat peringatan. Sekali lagi dia mengabaikan surat itu, pihak bank pasti akan mengusir mereka dari rumah.
“Lihat, Kayla! Kamu nggak kasihan sama keluarga ini? Sudah saatnya kamu membalas budi, menikah lah dengan Thomas Winata dan lunasi hutang kita. Kehidupanmu juga akan terjamin setelah menikah,” seru pria itu dengan mata melotot dan rahang yang semakin mengeras.
Kayla menggeleng dengan kuat. Dia tidak bisa menikah dengan pria lain, dan dia juga tidak bisa memberitahu pada sang ayah mengenai alasannya.
Dalam kontrak perjanjian yang dia tandatangani bersama Alan semalam, jelas tertulis bahwa tidak boleh membocorkan mengenai hubungan dan pernikahan mereka ke publik. Kalau tidak, dia akan di tuntut denda yang jumlahnya tidak main-main.
“Aku tidak bisa, Ayah. Aku janji akan melunasi hutang-hutang kita, tapi aku tidak bisa menikah dengan tua Bangka itu.”
Penolakan Kayla membuat Della menatap wanita itu dengan penasaran. Dia memperhatikan penampilan Kayla yang sama sekali tidak elegan.
“Mau melunasi dengan apa? Kamu mau menjual diri? Mau jadi p*****r? Mana ada yang mau membelimu, Kayla. Lebih baik kamu menikah dengan Thomas Winata seperti yang Ayah bilang.”
Tatapan Della padanya membuat Kayla benar-benar muak. “Kenapa tidak kamu saja yang menikah dengannya, kamu kan lebih tua? Kenapa harus aku?”
Pertanyaan Kayla membuat Della tersinggung. Gadis itu tiba-tiba menampar Kayla dengan sangat keras hingga Kayla jatuh tersungkur ke lantai.
Tidak cukup sampai di situ, Della menginjak tangan Kayla sebelum di hentikan oleh ayahnya.
“Della hentikan! Jangan sakiti dia karena Tbkmas Winata akan menolaknya kalau dia cacat!” Kata sang ayah memperingatkan.
Della menghembuskan napas dengan berat. “Maaf ayah, aku terbawa emosi.”
Dia lalu mendekatkan wajahnya pada Kayla dan mencengkeram dagu wanita itu dengan kuat. “Kamu hanya anak haram yang ditutupi aibnya oleh ayahku. Jadi, turuti saja perintah ayah dengan patuh. Dan, asal kamu tahu, aku harus menikah dengan pria muda yang kaya raya dari keluarga Devara. Namanya Alan, Alan Devara. Jadi, menikahi Thomas Winata adalah bagianmu.”
Kayla hampir tidak memercayai indra pendengarannya saat ini. Benarkah Della mengincar Alan Devara? Bukankah nama itu yang tertera dalam surat perjanjian tadi malam? Apakah Della mengincar suaminya?
***