Operasi Andin berjalan dengan baik. Bayi perempuan lahir prematur ringan, tetapi dapat bernapas tanpa bantuan besar.
Mark menangis lebih keras daripada bayinya. Ia menamai putri mereka Mara setelah berdiskusi dengan Andin.
Alyn mendampingi kakaknya melewati hari-hari pertama menyusui dan kurang tidur. Ia tidak menganggap pengalamannya dengan Theo sebagai satu-satunya cara benar.
"Setiap bayi berbeda," katanya ketika Andin kesulitan.
Theo bertemu sepupunya dan terlihat lebih tertarik pada selimut daripada bayi.
Ayah memeluk kedua cucunya dan meminta maaf lagi kepada putri-putrinya. Andin mengaku dirinya dahulu juga merasa harus memenuhi gambaran cinta sempurna.
"Sekarang aku tahu pernikahan bukan bukti akhir. Setelah menikah, kita tetap harus memilih cara mencintai setiap hari."
Mark menyetujui. Ia dan Andin menunda pesta besar serta fokus pada pemulihan.
Persiapan pernikahan Alyn kembali berjalan. Gedung lama sudah diambil pasangan lain, sehingga mereka memilih taman rumah ayah.
Alyn menyukai keputusan itu karena tempat yang dahulu menjadi lokasi kemarahan kini dapat menyimpan kenangan baru.
Tristan mengundang Clara hanya melalui pemberitahuan pengacara? Tidak. Ia menyadari tidak ada alasan menjadikan pernikahan sebagai panggung pengampunan. Clara tetap menjalani hidupnya sendiri dengan batas hukum yang berlaku.
Beberapa minggu sebelum acara, Alyn mengalami serangan panik ketika mencoba gaun. Ingatan tentang pertunangan lama yang batal kembali muncul.
Tristan tidak mengatakan, "Kali ini pasti berbeda." Ia duduk bersamanya dan berkata, "Kalau kau berubah pikiran, kita berhenti. Aku ingin pernikahan yang kau pilih, bukan yang kau tahan."
Alyn menenangkan diri dan memutuskan tetap melanjutkan.
Hari pernikahan datang dengan hujan ringan. Tenda dipasang di taman dan para tamu duduk dekat keluarga.
Alyn berjalan bersama ayahnya setelah menegaskan dirinya tidak sedang diserahkan. Ayah hanya menemani sampai tempat Alyn memilih berdiri.
Theo dibawa Aldo dan memakai jas kecil yang langsung terkena makanan.
Tristan menunggu dengan mata basah. Saat Alyn tiba, ia berbisik, "You are beautiful."
"Jangan menangis dulu. Riasanku mahal."
Janji mereka tidak menyebut selamanya tanpa syarat. Alyn berjanji bicara sebelum pergi dan menjaga dirinya tetap utuh. Tristan berjanji tidak menyembunyikan ketakutan atau membuat keputusan atas nama perlindungan.
Mereka menikah di hadapan keluarga yang pernah menyaksikan hubungan itu runtuh.
Ayah meminta maaf secara terbuka karena pernah mencoba menikahkan Alyn demi nama baik. Revan hadir bersama tunangannya dan mengucapkan selamat tanpa kecanggungan.
Pada resepsi, Andin serta Mark berdansa singkat sebelum kembali kepada Mara. Aldo mengambil terlalu banyak makanan dan mengingatkan semua orang pada dirinya sendiri.
Malamnya Alyn dan Tristan pulang bersama Theo. Tidak ada bulan madu panjang karena mereka tidak ingin meninggalkan anak terlalu lama.
Saat rumah sunyi, Tristan bertanya apakah Alyn bahagia.
"Hari ini, iya. Besok kalau kau menaruh kaus kaki sembarangan mungkin tidak."
"Very romantic."
Mereka tertawa dan berciuman.
Pernikahan tidak menghapus luka masa lalu, tetapi memberi mereka ruang baru untuk membangun kehidupan.
Keesokan pagi Tristan menerima surat dari rumah sakit. Seorang keluarga pasien menuntutnya atas dugaan kesalahan bedah dalam operasi yang dilakukan sebelum fellowship.
Karier yang baru stabil kembali terancam, dan kali ini Alyn harus memisahkan dukungan sebagai istri dari kebutuhan mencari kebenaran secara objektif.
Pasien bernama Bagas mengalami kerusakan saraf setelah operasi yang dipimpin Tristan. Keluarganya menuduh Tristan mengabaikan hasil pemeriksaan sebelum tindakan.
Rumah sakit menonaktifkan Tristan sementara selama penyelidikan. Ia merasa seluruh identitasnya sebagai dokter runtuh.
"Aku mengingat operasi itu," katanya kepada Alyn. "Tidak ada tanda yang menunjukkan komplikasi tersebut."
"Kau yakin atau kau takut mengingat kemungkinan salah?"
Pertanyaan Alyn menyakitkan, tetapi Tristan mengakui catatan harus diperiksa.
Ia menyerahkan seluruh berkas tanpa menghapus percakapan atau meminta kolega membelanya. Alyn tidak membuat pernyataan publik meski media mengejar.
Tim independen menemukan hasil pemindaian tambahan pernah masuk sebelum operasi, tetapi tidak muncul di sistem utama. Seorang residen melihatnya dan mengirim pesan kepada Tristan, namun pesan tersebut tidak terbaca karena Tristan sedang di ruang steril.
Pertanyaannya menjadi apakah operasi seharusnya ditunda sampai seluruh hasil diperiksa.
Tristan mengakui protokol tim kurang kuat. Meskipun ia tidak sengaja mengabaikan data, tanggung jawab akhir berada pada dokter pemimpin.
Ia menemui keluarga Bagas dalam mediasi. "Saya tidak akan menjanjikan pemulihan penuh. Saya hanya dapat mengakui bahwa sistem kami gagal memastikan informasi sampai kepada tim."
Keluarga masih marah, tetapi menghargai pengakuan.
Alyn mendukung proses kompensasi dan rehabilitasi tanpa mengatakan Tristan sama sekali tidak bersalah.
Malamnya Tristan bertanya apakah Alyn kecewa.
"Aku kecewa sistemnya gagal dan kau tidak melihat datanya. Tapi aku melihatmu bertanggung jawab sekarang."
Penyelidikan belum selesai. Lisensi Tristan dapat dibatasi jika kelalaian dianggap berat.
Audit digital menemukan hasil pemindaian Bagas salah dimasukkan ke profil pasien lain karena kesalahan nomor identitas. Residen mengirim tangkapan layar, tetapi tidak menggunakan jalur peringatan darurat sesuai protokol.
Komite menyimpulkan kesalahan terjadi di beberapa tingkat. Tristan tidak melakukan malapraktik sengaja, tetapi mendapat teguran karena tidak memastikan pemeriksaan final sebelum operasi.
Lisensinya tetap berlaku dengan syarat mengikuti pelatihan keselamatan dan bekerja di bawah evaluasi selama enam bulan.
Rumah sakit memberikan kompensasi kepada Bagas serta membiayai rehabilitasi. Tristan menyumbang waktu dalam program pemulihan, tetapi tidak menjadikan bantuan sebagai syarat keluarga mencabut tuntutan.
Bagas akhirnya mampu berjalan dengan alat bantu. Ia belum memaafkan Tristan sepenuhnya.
"Saya tidak membutuhkan pengampunan agar bertanggung jawab," kata Tristan.
Kasus tersebut mengubah cara kerjanya. Ia membentuk daftar pemeriksaan yang wajib dikonfirmasi dua orang dan memberi residen hak menghentikan prosedur jika ada data belum lengkap.
Alyn kembali melihat pola yang sama dalam kehidupan mereka: kekuasaan menjadi lebih aman ketika orang lain boleh berkata tidak.
Setelah masa evaluasi, Tristan kembali memimpin operasi. Tangannya sempat gemetar sebelum tindakan pertama.
"Takut membuatku lebih berhati-hati," katanya.
Kariernya pulih perlahan, tetapi reputasinya tidak sepenuhnya kembali. Sebagian pasien memilih dokter lain.
Alyn mengingatkan bahwa kepercayaan publik memang membutuhkan waktu.
Di rumah, Theo mulai sering sakit ringan setelah masuk tempat penitipan. Tristan panik setiap kali demam, sedangkan Alyn lebih tenang.
Suatu malam demam Theo sangat tinggi dan kejang. Mereka segera membawanya ke rumah sakit.