"Rici, aku jatuh cinta sama kamu, kamu cinta juga nggak sama aku?" tanya seekor makhluk dengan polosnya.
"Paan sih lo, gaje." Cowok yang baru bangun tidur itu langsung mendorong kasar wajah gadis di hadapannya, bermaksud menyingkirkannya. Sedangkan gadis yang coba di enyahkannya itu hanya berkedip pelan dengan wajah lugunya.
Ketika Rici sedang menggosok gigi dengan nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul, tiba-tiba gadis yang sungguh tak tahu malu itu muncul seketika dari dalam cermin yang sontak mengejutkan cowok yang berdiri di depannya.
"Udah cinta sama aku belum?" tanyanya masih dengan tampang polos.
"Anjir, ngagetin lo!" bentaknya lantam. Ia langsung berkumur secepatnya. Namun, ketika hendak keluar dari kamar mandi, gadis misterius yang sedari tadi mengikutinya tiba-tiba sudah mencegatnya tepat di depan pintu.
"Kamu cinta juga nggak sama aku?"
"Astaga!" kaget Rici. Meskipun terkejut, dia hanya melengos tak peduli dan melangkah begitu saja menuju sofa ruang tengah.
"Rici," panggil gadis itu manja
"Paan sih lo? Ganggu aje lo, pergi lo!" usirnya garang. Namun, tampaknya gadis yang terus mengekorinya itu tak terpengaruh sama sekali.
"Kamu cinta juga kan sama aku? Iya, kan? Kan, kan?"
"Diem lo, berisik!"
Gadis itu memiringkan wajah dengan bibir cemberut.
"Rici, masa kamu nggak tergoda sih sama aku?"
"Anjrit!" gumam Rici seraya menggampar keras jidatnya sendiri saking kesalnya, ia pun lalu duduk di sofa depan televisi diikuti cewek yang sedari tadi berjalan di belakangnya. Cewek itu sengaja duduk sedemikian dekatnya dengan cowok itu untuk menarik perhatiannya.
"Rici, tergoda dong!" paksa gadis itu tak menyerah.
"Woy!" sentak Rici beringas. "Mau lo apa sih?"
Cowok itu melotot tajam ke arah wanita misterius yang duduk manis di sampingnya.
Makhluk itu sebenarnya berwujud cantik. Secara alami, hidungnya mancung, alisnya tebal, bibirnya sedikit berisi, membuatnya terlihat sangat cantik.
Ia memiliki kulit seperti porselen dan sutra yang berwarna seputih s**u dan rambut sehitam gagak.
Bentukannya tidak ada seram-seramnya sama sekali.
Ia justru tampak menawan dengan dress putih yang memamerkan bahu seksinya. Sangat stylish untuk ukuran seekor hantu.
"Aku mau kamu cinta sama aku..." sekali lagi si cewek tampak tak terpengaruh dengan bentakan keras cowok yang selama ini diikutinya.
"Woy! Lo tuh nyadar gak sih sebenernya?" bentaknya murka. "Lo tuh setan! Nyadar diri dong!"
"Issh, kamu kok jahat banget sih ngomongnya," protes gadis itu dengan nada suara manja yang memang sudah bawaan sejak lahir dan bukannya dibuat-buat. "Aku tuh hantu tau. Bukan setan."
"Ya sama aja, lo tuh makhluk gaib, b**o!"
"Ya jelas beda dong. Jin, setan, sama hantu itu beda tau..." bela gadis itu tak mau kalah.
"Serah lo deh, pergi lo jauh-jauh!" Rici menggeser badan, memberi jarak dari cewek itu.
"Huh!" Gadis itu melipat kedua tangannya di d**a dengan bibir yang ia majukan seperti bebek. "Kenapa aku harus pergi, sih?"
"Karena kehadiran lo disini tuh ngeganggu, paham gak lo?!"
"Tapi aku gak mau..."
"Ya udah kalo gitu biar gue yang pergi!"
"Hah? Apa?" kaget gadis itu.
Secepat kilat, cowok yang sudah kelewat dongkol itu segera menyiapkan kepindahannya dari rumah kontrakan tersebut. Ia memasukkan beberapa pakaian dengan tergesa ke dalam koper untuk kemudian membawanya pergi.
Sesampainya diluar, cowok itu menghentikan langkahnya seketika dengan wajah bodoh. Kalau dipikir-pikir, mau pergi kemana dia?
Kontrakan ini saja harus ia dapatkan dengan susah payah. Sangat sulit mencari atau menemukan kontrakan yang bagus dengan harga yang terjangkau pula di kota sebesar ini. Hanya inilah kontrakan satu-satunya yang paling oke, terlebih letaknya yang strategis--dekat dengan sekolahnya membuatnya tak perlu repot-repot mengeluarkan banyak ongkos. Ia hanya harus melangkahkan kakinya sekitar 1km untuk bisa sampai di sekolah. Coba bayangkan, apakah ada kontrakan yang lebih oke dari ini?
Dengan segala pertimbangan itu, Rici kembali masuk ke rumah dengan langkah gontai dan tatapan mata malasnya yang terlihat seperti manusia yang tidak tidur selama sebulan.
"s**l!" gumamnya dongkol.
***
Siswa-siswi kelas XII TKJ 1 mau tak mau harus menerima nasib karena pagi itu mereka diberi sarapan ulangan Matematika oleh seorang guru wanita bernama Nopnop yang terkenal sebagai evil killer.
Beberapa murid di kelas itu terlihat dongkol betul karena bagi mereka 'matematika' merupakan musuh terbesar selama bersekolah--bahkan mungkin sejak SD. Pelajaran itu sungguh sulit dipecahkan. Namun, bagi orang-orang yang memang 'menyukai' pelajaran tersebut tidaklah masalah jika harus ulangan mendadak seperti ini.
Siswa-siswi yang dianugerahi kecerdasan luar biasa menganggap ini adalah hal sepele yang tidak perlu ditakuti dan dianggap mengerikan. Karena ini 'hanya' pelajaran menghitung biasa.
Rici dengan amat sangat malas, terpaksa menyobek lembaran kertas di tengah-tengah bukunya kemudian menyimpan tasnya di dekat meja guru karena memang seperti biasa, jika ulangan, Bu Nopnop selalu memberi syarat atau lebih tepatnya perintah agar semua murid menyimpan tasnya disana agar menghindari contek-menyontek. Namun, yang namanya anak sekolah, menyontek merupakan ritual wajib bagi beberapa siswa nakal yang tidak berminat mentaati aturan sekolah. Cowok ataupun cewek saling berbagi contekan rumus atau bahkan contekan jawaban disaat guru mereka ada urusan yang mengharuskannya keluar sebentar dari kelas.
Melihat suasana kelas yang ricuh, sungguh malang bagi seorang Rici Gustian, ia tidak bisa ikut mencontek karena memang ia tidak punya satupun teman.
Se-asyik apapun mereka, segokil apapun mereka... mereka bukanlah temannya.
Lebih tepatnya, mereka tidak mau dan tidak sudi berteman dengan cowok berpredikat 'aneh' di sekolah mereka tersebut.
Alhasil ia tak bisa mencontek pada siapapun karena akan terlihat aneh baginya kalau ketahuan mencontek pada orang yang 'tidak' menganggapnya teman.
Kericuhan kelas itu terhenti seketika saat Bu Nopnop si guru killer itu kembali ke dalam kelas dan duduk di kursinya. Kedua netranya menyorot liar para murid di kelasnya. Mengawasi dengan sangat cermat dan tak memalingkan pandangan sedetikpun dari murid-murid yang beberapa tampak berkeringat dingin.
Pusing serta cemas dengan keadaan yang sungguh membuat suasana mencekam karena banyaknya soal yang tidak ia mengerti, tiba-tiba gadis misterius kemarin kini sudah berdiri di belakang sambil memperhatikan soal-soal di papan tulis dan beberapa jawaban 'ngaco' di kertas milik Rici.
"Woah... kamu lagi ulangan ya?"
Seakan tersedak makanan, Rici terkejut bukan main saat hantu bawel yang kemarin menyatakan cinta padanya tiba-tiba kini sudah berdiri tepat di sampingnya.
"Hei, aku cukup ahli lho dalam pelajaran ini, mau aku bantu?" tawar gadis itu, memiringkan kepala berharap di notice cowok yang sedang pusing plus kaget itu.
"Rici, Rici, Rici... aku bisa, lho. Aku bantuin ya..." gadis itu berbisik pelan padahal tak ada satupun yang bisa mendengar ataupun melihat wujudnya.
Karena merasa terganggu serta geram luar biasa, Rici pun refleks membentaknya sekeras-kerasnya.
"PERGI LO SETAN!!!"
Seketika seluruh pasang mata menoleh kompak ke arah bangku kelas paling ujung disisi kiri dekat jendela. Mereka menatap Rici dengan tatapan aneh dan mulai berpikir yang tidak-tidak. Sebagian dari mereka bahkan menganggap kalau cowok itu sudah tidak waras. Ada yang tidak beres dengan otaknya.
"Hei, Rici!" panggil Bu Nopnop ngegas. "Kamu mau saya pergi, hah?"
"Eh, eh, nggak Bu, maaf, bu-bukan Ibu yang harus pergi, tapi..." Rici tergugup, ia hanya menggaruk belakang kepalanya dengan tampang bodoh sekaligus dongkol.
"Kamu mau saya hukum?!" bentak guru muda tersebut.
"A-ampun, maaf Bu, jangan hukum saya, Bu." Rici meringis cemas, takut kalau-kalau ia dihukum membersihkan toilet atau bahkan lebih parah dari itu.
"Ya sudah, karena sekarang lagi ulangan, saya ampuni kamu, tapi awas ya kalau kamu ngulangin lagi. Sudah sana kerjakan lagi soalnya!"
"Baik, Bu."
Hari itu, hantu cerewet itu sukses membuatnya semakin di cap sebagai murid paling aneh di kelas XII TKJ 1.
Bukan hanya di kelas saja, bahkan mungkin seluruh siswa-siswi di SMK tersebut menganggapnya demikian.
***
Tak ada kursi kosong yang bisa Rici temui di kantin sekolah ketika ia baru saja memesan makan siangnya.
Ah, ada satu!
Masih ada satu kursi yang kosong.
"Minggir lo!!!"
"I-i-iya..." ujar seorang cowok berkaca mata tebal dengan gaya rambut batok kelapa. Karena ketakutan, cowok itu mengambil kembali makanan serta minumannya yang belum sempat ia jamah di atas meja.
Dengan cuek, Rici langsung duduk di kursi tersebut sembari menyimpan makanannya di atas meja. Wajahnya benar-benar terlihat kesal dan hatinya dipenuhi amarah yang berusaha ia tahan.
"Rici, kok kamu galak banget sih?"
"DIEM LO!" bentaknya yang langsung mengagetkan seisi kantin. Membuat mereka saling berbisik satu sama lain membicarakan keanehannya. Karena jelas, tak ada satu pun siswa yang bisa melihat makhluk tak kasat mata yang saat itu duduk tepat disebelah Rici.
Sebenarnya, bukan cowok cupu tadi yang Rici usir dan bentak seperti itu, melainkan hantu bawel yang kerap mengikutinya kemanapun ia pergi. Tetapi, yang dilihat orang lain adalah Rici mengusir cowok cupu berkacamata tadi.