NINA BOBO
(Sekelumit kisah Ayu di masa kecil)
"Nina bobo, oooh Nina bobo..."
"Aku benci lagu itu. Aku benci syairnya. Aku benci alunan musiknya. Aku benci sesosok makhluk mengerikan yang selalu saja muncul bersamaan dengan alunan lagu penghantar tidur itu."
***
Satu masa di pertengahan musim penghujan, Oktober 1995.
Ketika itu, usiaku baru menginjak delapan tahun. Aku tinggal bersama kedua orang tua dan tiga orang saudara laki-lakiku di sebuah rumah tua peninggalan Belanda.
Sebuah rumah besar yang memiliki empat pilar di bagian muka. Dua pilar menghadap barat, sementara masing-masing pilar lainnya menghadap selatan dan utara. Di halaman depan terbentang cukup luas halaman hijau, lengkap dengan ayunan pohon dan beberapa kursi malas.
Tampak luar, rumah itu sudah cukup menyeramkan karena dindingnya yang berlumut, kusam, ditambah lagi pepohonan besar yang cukup rindang. Papa menyewa rumah itu sementara, sambil menunggu rumah kami yang sedang diperbaiki, tak jauh dari sana.
Ibu dan Papa adalah seorang pedagang. Sejak pagi sampai petang mereka nyaris tak pernah ada di rumah. Rumah bagi mereka hanyalah tempat singgah sejenak untuk beristirahat ketika hari beranjak petang. Sehari-harinya, praktis hanya aku dan ketiga saudaraku yang menempati rumah itu. Oya, juga ada Ibu Yati dan Ibu Sum juga yang senantiasa setia menemani kami sepanjang hari.
"Mbak Ayu, jendelanya, Bu Sum tutup ya. Dingin,” sapa perempuan bertubuh gempal yang kupanggil dengan sebutan Bu Sum.
Sore itu aku memutuskan untuk berbaring sendirian di kamar.
“Iya, Bu Sum,” jawabku singkat.
Bu Sum kemudian segera ke luar kamar dan melanjutkan aktifitaanya kembali di dapur.
Hujan turun begitu derasnya. Dahan-dahan pohon tertiup angin lalu saling beradu menimbulkan suara yang cukup gaduh. Sesekali ku lirikkan mataku ke arah jendela. Entahlah, perasaan tidak nyaman tiba-tiba menyeruak di dalam d**a.
Tak bergeming. Aku kembali melanjutkan kegiatanku. Lembar demi lembar komik serial Detektif Conan terlalu seru untuk kulewatkan.
Tak berapa lama, sayup-sayup terdengar suara ketukan dari luar. Seketika itu juga ekor mataku beralih ke arah jendela. Angin yang cukup kencang rupanya mematahkan ranting-ranting kayu yang sudah kering. Serpihan-serpihan kayu itu lantas berjatuhan dan menabrak kaca jendela kamarku hingga menimbulkan suara ketukan tadi.
Kuputuskan untuk melanjutkan aktifitasku kembali. baru saja hendak memalingkan wajah dari sana, namun tiba-tiba saja mataku secara tak sengaja menangkap sebuah bayangan asing berwarna hitam. Bayangan ituberdiri tak jauh dari ayunan pohon yang ada di halaman.
Jantungku berdegup kencang. Bulu kudukku seketika meremang. Angin yang berembus sore itu tiba-tiba terasa dingin sekali. Rasa dinginnya bahkan menusuk-nusuk sampai ke tulang. Suasana nyaman seketika berubah seram dan mencekam.
Kuhampiri jendela kamarku perlahan hingga jemariku bersentuhan dengan jendela kamar. Kaca jendela kamarku yang lembab dan sedikit basah karena embun. Kusapu jendela kaca itu dengan jariku yang gemetaran.
Tidak, mataku tidak salah melihat. Di sana memang ada sesosok manusia yang sedang menatapku. Sosok itu, tingginya mungkin tak beda jauh denganku, rambutnya yang panjang basah terurai menutupi sebelah wajahnya.
"Sedang apa dia di sana hujan-hujan begini?" Pertanyaan itu sontak muncul di kepala
"Mbak Ayu," suara Ibu Sum mengejutkanku. Anganku soal anak kecil di sana seketika sirna.
"Mbak Ayu baik-baik aja kan?"
"Hmm, Bu, Sum. Siapa anak itu?"
Belum lagi dijawab, aku sudah melontarkan pertanyaan lainnya pada Bu Sum, pengasuh kesayanganku.
"Bu, di luar hujan deras. Tiupan angin kencang sekali dan banyak petir. Lalu mengapa anak itu berdiri di sana?"
Bu Sum lantas melongokkan kepalanya jendela. Bola mata wanita paruh baya itu sibuk berputar-putar dan memperhatikan ke segala arah dengan saksama.
"Anak yang mana, Mbak? Ibu Sum gak lihat apa-apa."
Aku menempelkan wajahku kembali ke kaca jendela. "Yang itu, Bu. Yang berdiri di dekat ayunan pohon sana."
Bu Sum tidak menjawab sepatah kata pun.
"Mbak Ayu kita main di ruang makan saja, yuk," ajaknya sambil menarik lenganku untuk menjauh dari jendela.
Jari-jari Bu Sum dingin seperti es ketika ia menggenggam tanganku. Anehnya, saat itu aku benar-benar tak ingin beranjak dari sana. Sejuta rasa penasaran hinggap di kepala, menunggu jawaban.
"Ayo, Mbak Ayu," ajaknya lagi. Kali ini tubuh Bu Sum gemetar.
"Nggak, Bu. Ayu mau main di kamar saja."
Lalu Bu Sum berlalu secepat kilat. Aku pun kembali berebah di atas ranjang besi dan melanjutkan kembali komik yang belum tamat k****a.
Tiba-tiba...
"Nina bobo, oooh Nina bobo.. na na na na na na."
Senandung kidung penghantar tidur itu mengalun lirih di telinga.
Aku terkejut setengah mati. Spontan kuputar kepalaku ke segala arah. Mataku awas memperhatikan tiap sudut ruangan, memastikan bahwa tidak ada sesiapa pun di sana.
Hingga...
Dua pasang mata membelalak tepat di depanku. Segaris wajah abu-abu tanpa mulut, berdiri nyaris tak berjarak.
"Aaaaaaakkkkkk......!!!"
Teriakanku memekik. Sebuah teriakan tanpa suara, lebih tepatnya. Sekuat tenaga aku berusaha teriak memanggil-manggil Bu Sum. Namun usahaku sia-sia sepertinya. Jangankan mengeluarkan suara, mulutku saja sama sekali tak bisa terbuka.
Anak perempuan itu membungkamku, melumpuhkan otot-otot mulut juga kaki dan tanganku. Aku tak bisa beranjak dari sana. Sementara itu, dia terus mendekatkan wajahnya. Mendekat sampai kulitnya yang beku melekat dengan pipiku. Aku bisa merasakan aroma tubuhnya yang berbau anyir.
“Nina bobo… na na na na na..”
Di tengah-tengah ketakutanku, ia terus menyanyikan Nina Bobo. Kidung penghantar tidur itu kian lama semakin terdengar pilu dan menyayat hati. Jiwaku melayang menjauh dari tubuh. Aku tiba-tiba hadir di dimensi yang lain, rumahku di masa lampau.
***
1870
Rumah besar berpilar empat tampak meriah. Seorang bayi perempuan mungil akan segera menjadi penghuni baru di rumah itu.
Namanya Nina, bayi perempuan dari seorang pedagang asal Belanda dan mojang desa. Nyaris delapan tahun mereka mendambakan kehadiran seorang bayi namun tak kunjung didapatkan hingga terlahir Nina.
Kulit putih merona, rambut kuning keemasan, lesung pipi yang menghiasi ketika ia tersenyum, ah.. manis sekali. Tak butuh waktu lama, Nina segera merampok hati tiap mata yang menatapnya.
Nina tumbuh menjadi putri kecil yang cantik nan menggemaskan. Sebagai putri seorang saudagar kaya, ia sama sekali tidak sombong. Nina yang lincah dan ceria mengisi hari-harinya dengan bermain di sekitaran pabrik atau ladang cengkeh milik ayahnya. Gadis kecil itu mau bermain dengan siapa saja, dari mulai pelayannya, para pekerja pabrik, hingga warga sekitar tempat tinggal mereka. Hal itulah yang membuat semua orang menyukai Nina, kecuali Asih.
Sejak Nina terlahir ke dunia, ia tak pernah merasakan kasih sayang ibunda tercinta. Ibu Nina, Asih lebih senang menyendiri di kamarnya yang gelap dan lembab. Kata orang Asih gila, namun dokter bilang ia mengidap postpartum syndrome yang tak berkesudahan.
Satu malam Nina asyik bermain di kamarnya sendirian. Malam itu hujan turun begitu deras. Angin berembus kencang menjatuhkan beberapa ranting-ranting kayu yang kering ke arah jendela.
Kala itu Nina hanya ditemani seorang pengasuh. Ayah Nina pergi ke pusat kota beberapa hari untuk mengantar rempah-rempah. Malam semakin larut, waktunya Nina untuk tidur. Pengasuhnya segera membimbing Nina ke ranjangnya. Namun aneh, malam itu Nina bersikap tak seperti biasanya. Ia terus menangis, meracau memanggil-manggil nama ayahnya.
Pengasuh Nina berusaha membujuk agar Nina segera tidur. Berbagai upaya dilakukan Si Pengasuh termasuk membacakan dongeng dan menyanyikan lagu-lagu penghantar tidur. Bukannya tidur, tangisan Nina justru semakin kuat.
Tiba-tiba pintu kamar Nina terbuka. Bayangan perempuan dewasa berdiri di ambang pintu.
Asih..
Dia segera memberi isyarat pada Si Pengasuh agar beranjak dari kamar Nina, lalu tingggallah Nina dan ibunya di kamar itu.
Asih perlahan mendekat ke arah Nina. Ia tersenyum menatap wajah Nina yang manis.
"Anakku. Bayiku yang cantik sudah besar."
Nina tiba-tiba berhenti menangis tatkala Asih mendaratkan tangannya di kepala Nina. Jemarinya yang lentik membelai rambut Nina, lembut.
"Nina bobo.. oh Nina bobo.. kalau tidak bobo digigit nyamuk."
Asih terus melantunkan lagu itu sayup-sayup di telinga Nina hingga gadis kecil itu tidur terlelap.
Setelah Nina jatuh dalam buaian, Asih pun segera beranjak untuk meninggalkan kamar putri tunggalnya. Baru beberapa langkah, tiba-tiba penyakit Asih kambuh. Ia menangis meraung-raung sambil merobek pakaiannya.
"Aku tidak mau melahirkan dia. Anak iblis! Dia adalah anak iblis!"
Asih kemudian membalikkan badannya. Ia menatap gadis mungil yang sedang tertidur pulas di atas ranjang kayu berukir.
Asih melangkahkan kakinya kembali mendekati Nina. Ditatapnya gadis cantik itu lekat-lekat. Tangan yang tadi membelai Nina penuh cinta kini ia pakai untuk membekap mulut dan hidungnya sambil meracau, "Kau bukan anakku. Kau adalah anak iblis!"
Bekapan tangan Asih semakin lama semakin kuat. Bulir-bulir air mata mengalir dari sudut mata Nina. Tubuh mungil Nina mengejang dan meronta-ronta.
"Nina bobo.. oh Nina bobo.. na na na na na..."
Tubuhnya sekali lagi mengejang, lalu terkulai lemas dengan mata membelalak. Malam itu, nyawa Nina tak terselamatkan.
Wanita muda itu terus tertawa puas. Namun sesaat setelah sadar bahwa putri tercintanya sudah tak bernyawa, ia lantas menangis meraung-raung. Asih menangisi kepergian gadis kecilnya.
“Sayang, makan dulu. Kamu bisa sakit kalau terus begini,” rayu Bima setiap hari. Beberapa hari terakhir istrinya itu bahkan berhenti makan. Tak ada sesuap nasi pun yang masuk ke mulutnya hingga tubuhnya semakin kurus.
Sejak kepergian Nina, kondisi Asih semakin memburuk. Ia sudah tidak pernah lagi mengamuk, namun tangisannya yang pilu terdengar hampir setiap waktu.
“Saya sarankan Ibu Asih untuk dirawat di rumah sakit, Pak,” ujar seorang dokter yang telah lama menangani Asih.
Bima menatap sedih ke arah wanita yang sangat ia cintai. “Kalau dibawa ke rumah sakit, istri saya bisa kembali seperti semula, Dok?”
Dokter tak lagi menjawab pertanyaan Bima. Tarikan nafasnya panjang, lalu diiringi tundukan kepala dengan mata terpejam.
Bima sadar kemungkinan Asih untuk sembuh sangat kecil. Tapi ia juga tak sanggup jika harus menyaksikan wanita yang ia cintai itu membunuh dirinya pelan-pelan.
Hari itu juga Asih dibawa ke rumah sakit. Tiga minggu berselang namun tak ada perkembangan berarti di diri Asih. Sebaliknya, kondisi ibu beranak satu itu justru semakin memprihatinkan.
“Asih.. tolong sembuhlah! Tolong!” Mohon Bima sambil terisak. Asih hanya mematunh, duduk di tepi ranjang besi rumah sakit. Pria itu menangis, bersimpuh di kaki istrinya.
“Sayang, aku tak peduli berapa pun anak yang hilang. Aku hanya butuh kamu.”
Asih terus meratapi kepergian Nina yang ia renggut paksa nyawanya. Asih tak pernah berhenti menangis hingga matanya tak lagi mengeluarkan air mata, melainkan darah. Tepat di hari ke 40 Nina wafat, Asih pun ikut menyusul putri tunggalnya ke alam baka.
Sejak saat itu arwah Nina terus menghantui siapa saja yang menyanyikan kidung lagu penghantar kematiannya.