Meskipun dunia telah hancur jauh sebelum Zed lahir, hari ini tetap menjadi hari paling menakutkan dalam hidupnya.
Zed berdiri di pasar Freestone—sebuah tempat penuh warna dengan deretan tenda dan kios yang bersesakan di antara kawasan elite dalam kota dan pemukiman kumuh luar kota. Banyak toko di sana bertumpuk seperti balok-balok mainan yang dicat cerah, menjulang setinggi yang diizinkan.
Namun pagi itu, suasana pasar terasa berbeda. Biasanya, pada jam-jam seperti ini, udara akan dipenuhi sapaan para pedagang dan suara riuh para pelayan yang sibuk menawar harga bahan makanan. Tapi tidak hari ini. Hari ini pasar terasa sunyi. Satu-satunya suara yang terdengar hanyalah dentuman palu dari kejauhan, bergema di seluruh alun-alun.
Freestone sedang bersiap untuk Guildculling.
Brock, sahabat terbaik Zed, berdiri di sampingnya. Kedua anak lelaki itu menatap sebuah tenda besar berwarna ungu. Di atas pintu masuknya, tergantung sebuah papan kayu dengan tulisan yang diukir rapi:
Ramalan dan Jimat Makiva
Makiva si tua adalah seorang peramal yang menyebut dirinya mistikus, meskipun beberapa orang menyebutnya penyihir. Dia menjual jimat untuk segala hal: mulai dari pernikahan, gigitan anjing, perlindungan dari pertanda buruk, hingga jimat untuk mencuci pakaian agar lebih bersih.
Setengah rakyat jelata Freestone memiliki salah satu jimatnya, disimpan di dalam kantong atau digantung di bawah pakaian mereka. Konon, banyak bangsawan juga memilikinya, meskipun mereka tidak pernah mengakuinya secara terbuka.
Salah satu barang terlaris Makiva adalah jimat Guildculling—sebuah token keberuntungan yang dipercaya dapat membawa pemiliknya ke jalan takdir yang tepat. Tapi harganya juga termasuk yang paling mahal.
“Aku yakin dia tidak seseram itu,” bisik Brock. “Jett bilang dia penipu. Ibunya pernah membeli jimat udara segar supaya ayahnya berhenti kentut di malam hari, tapi sekarang baunya malah dua kali lebih parah. Lagipula, kalau Makiva benar-benar punya kekuatan sihir, dia pasti sudah bersama para Silverglows.”
Zed memandang Brock dengan tatapan penuh arti, membuat sahabatnya itu tersenyum kaku.
“Maksudku,” lanjut Brock dengan hati-hati, “dia mungkin tidak akan mengutukmu. Mungkin.”
“Kau pikir aku membuang-buang uang?” tanya Zed, sambil mengeluarkan sebuah koin perak kecil dari sakunya. Dia merasa wajahnya memanas saat memikirkan apa yang bisa dilakukan ibunya dengan uang itu.
Brock menatap koin itu, lalu kembali memandang Zed. “Kalau itu bisa membuatmu lebih tenang, berarti tidak sia-sia.”
Zed tersenyum kecil. Brock memang tidak pernah khawatir. Segalanya cenderung berjalan baik untuknya. Kedua orang tua Brock adalah anggota Merchants Guild, salah satu dari empat High Guilds. Mereka memang bukan bangsawan, tapi nyaris mendekati. Brock hampir pasti mendapatkan tempat di Merchants.
Brock juga orang paling murah hati yang pernah Zed kenal. Dialah yang mendapatkan koin perak itu untuk Zed, setelah berminggu-minggu mengeluh kepada ayahnya bahwa dia membutuhkan sepatu baru untuk Guildculling. Dia bahkan berencana mengatakan kepada orang tuanya bahwa koin itu telah dicuri.
Sepanjang hidupnya, Zed sudah lama menanti-nanti sekaligus merasa gentar pada hari ini, ketika anak-anak Freestone yang cukup umur akan dipilih oleh salah satu serikat kota. Bagi sebagian besar teman Zed, acara ini hanyalah formalitas, sebuah ritual peralihan. Seperti Brock, mereka sudah belajar pekerjaan orang tua mereka sejak kecil, dan sekarang mereka akan resmi menjadi magang di serikat keluarga mereka.
Namun, selalu ada kejutan. Terutama jika menyangkut High Guilds.
“Sebentar lagi orang-orang mulai berdatangan,” kata Brock, memandangi alun-alun yang masih lengang. Di kejauhan, tembok tinggi Freestone menjulang megah, terlihat dari setiap sudut kota. “Kupikir seharusnya sudah ramai.”
Zed mengangguk, lalu memasukkan koinnya kembali ke dalam saku. “Dengan kata lain,” katanya, “aku harus cepat.” Dia menarik napas dalam-dalam, tersenyum pada sahabatnya, lalu melangkah maju, membuka pintu tenda dengan kedua tangannya.
Begitu masuk, dia langsung terkejut dengan kegelapan di dalamnya. Tenda itu terbuat dari kain ungu tua—warna mencolok untuk rakyat biasa—tapi Zed mengira seharusnya sedikit cahaya tetap bisa menembusnya. Kebanyakan pedagang menjaga kios mereka terang dan cerah agar barang dagangannya terlihat jelas. Tapi tenda ini terasa sengaja dirancang untuk menciptakan suasana muram.
Saat matanya mulai menyesuaikan diri, Zed menyadari bahwa dia dikelilingi oleh barang-barang paling aneh dan fantastis yang pernah dilihatnya di sebuah toko. Semua itu tampak semakin menyeramkan di bawah bayang-bayang.
Ada keranjang berisi jam tangan dan jam meja—semuanya rusak. Jam yang masih berfungsi sangat langka, hanya bangsawan yang mampu memilikinya. Beberapa di antaranya terbuat dari logam dan kayu, sementara beberapa lainnya bahkan diukir dari tulang.
Mangkuk-mangkuk berisi dupa mengepul di setiap sudut. Asap dari daun dan bubuk yang dibakar itu memenuhi bagian atas tenda dengan aroma manis yang aneh sekaligus busuk. Di kanopi, tergantung kerangka makhluk-makhluk kecil, kebanyakan dari hewan yang belum pernah Zed lihat sebelumnya.
Namun, yang paling mencolok adalah jimat-jimat yang memenuhi ruangan itu. Di mana pun Zed memandang, token kayu kecil menggantung dari tali, berjuntai dari kait di dinding, atau tergeletak dalam tumpukan di meja.
Sebagian besar menggantung dari atap tenda, seperti jaring laba-laba yang siap menangkap mangsanya dan menarik mereka ke dalam sarang tersembunyi.
Jimat-jimat itu semuanya terbuat dari kayu, diukir menjadi ikon kecil. Banyak yang berbentuk hewan, tetapi beberapa lainnya berbentuk lebih abstrak: sebuah kail, tengkorak yang menyeringai, dan sebuah tangan dengan mata di telapak tangannya.
Penjual jimat itu sendiri duduk di tengah ruangan, di belakang meja ramalan yang sempit.