"Apa?! Kamu bilang apa?! CUMI?!"
Anvicha mencibir lelaki itu yang bahkan langsung marah hanya karena dikatai cumi olehnya, tanpa tau bahwa harga cumi juga lumayan mahal.
Sedangkan si Ibu, tampak terperangah dengan sikap Anvicha yang bahkan tidak menahan diri untuk mengatai seseorang di depan ibunya.
"Maaf kalau saya enggak sopan, Tante. Tapi saya benar-benar tersinggung dengan apa yang anak Tante bilang tadi," katanya sambil melirik tajam pada lelaki itu. "Kalau begitu, saya permisi ya, Tante! Kayaknya enggak akan baik kalau saya terus ada disini."
Anvicha sudah mengalah dengan berniat pergi dari sana, karena jika dia terus berada di dekat lelaki yang menatapnya dengan amarah menggelora itu, sudah pasti masing-masing dari mereka hanya akan membuat masalah.
Tapi memang dasar lelaki gila! Lelaki itu malah menahan lengannya dengan kasar hingga tubuh Vicha terhuyung ke belakang.
"Minta maaf! Gue enggak terima dikatain Cumi sama cewek yang enggak seberapa kayak lo!"
Vicha menghela napas kasar, kemudian dengan mudah dia melepaskan cekalan tangan lelaki itu darinya. "Kamu dulu yang minta maaf, kalau begitu," katanya datar.
"Hey..hey! Kalian enggak usah ribut disini! Radi, kamu juga salah! Bunda enggak ada niat buat jodohin kamu, Bunda Cuma mau ngenalin dia ke kamu karena dia anak temen Bunda!"
"Bahkan sekalipun Cuma kenalan, aku enggak mau, Bun! Dia keterlaluan karena ngatain aku cumi!"
Kepala Vicha menggeleng, "Memangnya Cumi bakalan marah kalau dikatain cumi?" tanyanya tidak santai. Dia mulai kesal. Padahal suasana hatinya sedang bagus karena berhasil lepas dari utang puluhan juta hanya dalam satu hari, tapi sekarang perasaannya sangat buruk karena bertemu dengan cumi ini. "Saya bakalan minta maaf, kayak apa yang kamu mau. Tapi kamu harus minta maaf duluan karena udah enggak sopan ngatain orang lain bukan tipe kamu di depan orangnya!"
"Loh?! Lo emang bukan tipe gue kok!"
"Loh?! Kamu memang cumi kok!" Vicha meniru ucapan lelaki itu dengan intonasi yang sama persis.
Keributan kekanakan di antara mereka itu baru berhenti saat ibu lelaki itu hampir jatuh sambil memegangi kepalanya. Di luar dugaan, lelaki tidak sopan itu langsung panic saat meliah ibunya nyaris pingsan karena melihat ulahnya.
Vicha menarik napas berat dan menghembuskannya, "Bawa Bunda kamu pulang dan berubahlah jadi anak baik-baik!"
Setelah mengatakan itu, Vicha langsung meninggalkan tempat dan bergegas ke arah lain. Niatnya adalah ingin membeli perlengkapan yang lain juga, tapi karena moodnya sudah rusak parah, dia hanya membeli bahan untuk membuat kue dan kemudian pulang dari sana.
Untungnya saat pulang ke rumah, dia melihat semua peralatan yang dia butuhkan sudah tersedia dengan rapi di dalam lemari dapur. Hanya kondisinya saja yang berdebu parah karena mungkin tidak pernah disentuh siapapun selama ini.
Dengan menyalakan music dari ponselnya, Vicha mulai membuat adonan untuk membuat roti isi dan juga pie buah yang nantinya akan dia berikan pada Sadam. Walaupun sejujurnya dia tidak yakin bahwa Sadam akan tersentuh atau berterimakasih padanya karena sifat lelaki itu memang buruk, tapi setidaknya Vicha tetap harus berlaku sebagai mana mestinya karena sudah ditolong. Walau tentu saja bukan berarti Sadam benar-benar menolongnya, karena lelaki itu juga memberikan uang untuk menyewa rahimnya dan membuat dirinya menjadi istri kontrak selama satu tahun.
*
"Gimana? Lo udah nemuin perempuan yang mau lahirin anak lo?"
Sadam melepaskan kacamata bacanya saat Dirga, sepupunya, langsung masuk begitu saja ke dalam kamarnya. Dia memperhatikan bagaimana penampilan sepupunya itu, yang selalu saja terlihat berantakan setelah menikah.
"Kamu bertengkar lagi sama Devina?"
Mendengar pertanyaannya, Dirga menghela napas pelan, "Vina jadi sensitive banget setelah hamil. Dia juga jadi gampang curiga, padahal gue udah bilang kalau gue lembur. Tapi begitu gue pulang, dia periksa semua yang ada di HP gue. Memang enggak masalah, karena gue juga enggak macam-macam, tapi ego gue kesentil lihat perilakunya yang begitu. Padahal gue selalu mikirin dia, tapi bisa-bisanya dia curiga gue selingkuh."
Sadam terdiam. Wajah Dirga saat ini benar-benar kusut hingga membuat Sadam merasa kasihan. Padahal sepupunya ini adalah Don Juan saat sebelum menikah, tapi Dirga langsung berubah menjadi tikus yang takut kucing setelah menikah dengan wanita yang disukainya sejak lama.
"Ya kamu yang harus sabar dan ngertiin, gimanapun juga jadi perempuan yang hamil, pasti bukan hal mudah juga buat Vina, kan?"
Dirga menatapnya saat mendengar Sadam mengatakan itu. "Jadi, lo sendiri gimana?"
Sadam menarik napas pelan dan menghembuskannya. "Udah ketemu, udah tandatangan kontrak juga."
Yang tidak dia duga adalah saat Dirga terkejut bukan main sampai terbangun dan memelototinya. "Apa?! Kenapa lo enggak tanya gue dulu? Lo enggak sembarangan mungut perempuan, kan?"
Sembarangan memungut? Mungkin tidak salah juga, karena Sadam memang menemukannya di dalam mobilnya sendiri saat itu dan langsung mencapai kesepakatan di hari itu juga. Tapi entah kenapa, mendengar Dirga mengatakan dengan bahasa seperti itu, membuat Sadam tidak nyaman. Bagaimanapun juga, wanita itu kelak akan menjadi ibu dari anaknya.
"Pokoknya begitu," kata Sadam malas menjelaskan. "Dia perempuan yang bukan dari kelab malam. Dia waktu itu ada di sana karena dijebak temennya dan dia juga perempuan baik-baik. Aku juga udah periksa kesuburanku sama dia dan kami berdua sehat, makanya kami akhirnya sudah tandatangan kontrak. Sekarang, tinggal ke tahap perkenalan keluarga aja biar tanggal pernikahannya bisa ditentukan."
Wajah Dirga yang melongo karena terperangan mendengar susunan rencana yang dia katakan, cukup menghibur bagi Sadam. Sepupunya itu selalu berlagak lebih tahu segala hal dari dirinya sehingga melihat Dirga yang seperti kerbau dicucuk itu rasanya cukup menyenangkan.
"Lo...serius?"
Dengan penuh keyakinan, Sadam mengangguk. "Anaknya memang agak..ya sedikit sengak. Tapi perempuan yang akan jadi ibu dari anakku memang harus sekuat dia, karena nantinya anak itu akan tumbuh jadi pewaris keluargaku, kan?"
"Wah!" Dirga bertepuk tangan. "Lo bahkan udah seyakin itu."
"Karena aku enggak punya banyak waktu. Karena sejujurnya, aku takut aku bisa kambuh sewaktu-waktu. Kalau sampai itu kejadian, jangankan buat punya anak, bahkan buat menikah pun, aku enggak akan bisa."
Padahal Sadam tidak bermaksud membaw ekspresi iba itu di wajah Dirga, dia hanya ingin mengatakan ketakutan yang selama ini menghantui pikirannya. Tapi wajah Dirga jadi semakin kusut.
"Lo kan ikut terapi dan penampingan dengan baik, kenapa lo masih setakut itu?"
Sadam mengulas senyum tipis. "Karena enggak ada yang tahu sumber masalahnya kapan balik lagi? Aku enggak mau sampai bilang begini, tapi aku ini ibarat gelas yang udah retak. Kalau disentuh sedikit keras aja, aku bisa langsung pecah dan berantakan. Jadi sebelum itu terjadi, aku harus lakuin apa yang harus aku lakuin. Makanya, kamu juga harus bantu aku!"
"Bantu?"
Kepala Sadam mengangguk. "Kamu harus ikut dukung aku pas aku ngenalin Anvicha ke keluarga yang lain. Kamu harus keliatan udah kenal sama dia juga, biar enggak ada yang curiga."
"Anvicha?"
Mata Sadam mengerjap, "Itu nama perempuan yang akan menikah denganku. Namanya, Anvicha Netravati."
"Waw! Cantik banget namanya," puji Dirga.
Tapi itu malah membuat Sadam berdecak, "Namanya doing, perilakunya, NO!
Dirga tertawa, "Lo ngomongin perempuan yang bakal nikah dan jadi ibu dari anak lo loh! Kok bisa-bisanya begitu, Ck ck!"
Mendesah berat, Sadam menyandarkan tubuhnya ke kursi yang dia duduki. "Seenggaknya, dia baik dan jujur. Itu aja, udah lebih dari cukup. Dan wajahnya..lumayan cantik. Jadi anak aku juga pasti akan punya paras yang enggak sembarangan."
"Hm~ Kayaknya gue bisa nebak akhir ceritanya deh," kata Dirga sambil berdiri dari duduknya. "Kalau saatnya tiba, gue yang akan ngetawain lo paling kenceng."
Setelah mengatakan kalimat membingungkan itu, Dirga pergi meninggalkan Sadam yang mengerutkan kening karena tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh sepupunya itu.
**