WILLY
Aku mengerjapkan mata untuk menyesuaikan dengan cahaya ruangan. Ini sedikit menyakitkan. Mataku terlalu berat untuk melihat sekitar. Kepala ini juga terasa sangat pusing.
Ah, sial!
Aku memijat kening, berharap rasa pusing ini segera menghilang. Butuh beberapa saat sampai pandanganku mulai membaik. Aku pun mencoba melihat sekitar dan tempat ini terasa begitu familiar.
Sejak kapan aku berada di kamarku?
Aku mencoba mengingat pukul berapa aku pulang. Namun, kepalaku masih terasa sakit yang membuat otakku terhambat untuk mengingat. Aku berusaha untuk bangun dan segera sadar, meski rasa pengar ini tidak kunjung hilang.
Mungkin semalam aku terlalu banyak minum. Jujur saja, aku tidak mempertimbangkan dampak buruknya, karena akhir-akhir ini pikiranku terlalu kacau. Pekerjaan yang tidak ada beresnya, malah bertambah, dan semakin sulit. Lebih parahnya dia malah mengkhianatiku. Aku sungguh kesal, hingga rasanya ingin meledak sampai aku tidak mampu mengontrol diri hingga lupa seperti ini.
Aku mencari ponsel yang ternyata masih tersimpan di saku celana. Bahkan aku masih memakai pakaianku yang kemarin. Ya, pakaian kerja. Aku mengecek semua notifikasi masuk. Ada beberapa panggilan masuk yang ternyata dari Meggie.
Meggie meneleponku semalam? Ada apa?
Aku tidak terlalu mempedulikan panggilan itu, karena menurutku itu tidak terlalu penting. Aku pun langsung beralih pada beberapa pesan yang dikirimkan oleh rekan kerjaku, yaitu Bian. Aku pun langsung mengabarinya untuk memastikan sesuatu.
“Halo Bian!” sapaku lebih dulu saat panggilan telepon tersambung.
“Kau sudah sadar rupanya. Sepertinya aku tidak perlu mengkhawatirkanmu,” itu lebih terdengar seperti sebuah ejekan.
“Terserah kau! Aku hanya ingin bertanya, apa kau yang mengantarku pulang?”
“Menurutmu, siapa yang mau mengantar pria mabuk yang sedang patah hati selain aku?” sungguh, Bian sangat menyebalkan. Andai aku tidak seperti ini sekarang, mungkin aku akan mencekiknya saat ini juga.
“Ck, kenapa hari ini kau lebih menyebalkan?” ucapku penuh penekanan.
“Aku tidak,” ucap Bian terdengar seolah tidak bersalah.
“Ck, awas saja kau!”
“Bukannya berterima kasih, kau malah mengancamku,” ucap Bian.
“Baiklah, terima kasih!”
Aku mendengar Brian terkekeh di seberang telepon, “Kenapa kau seperti itu?”
“Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin bilang jika adikmu sungguh cantik,” ucap Bian.
“Kau bertemu dengannya tadi malam?” tanyaku menyelidik.
“Tidak, kau mengusirku tadi malam. Untung saja kau tidak mengotori mobilku,” ucap Brian.
“Ck, kau ini!” Bian sungguh-sungguh membuatku kesal.
“Aku bertemu dengannya tadi pagi saat mengantar mobilmu dan berbincang-bincang sebentar,” ucapan Bian membuatku tersadar untuk mengecek jam di ponsel. Ternyata ini sudah pukul sebelas siang lebih tiga puluh menit dan Bian pun masih bicara tentang hal yang sama, “Sepertinya lain kali aku akan berkunjung ke rumahmu.”
“Kenapa kita malah membahas Meggie?” sarkasku.
“Memangnya kenapa? Aku suka,” ucap Bian.
“Lebih baik kau mengurus izinku daripada aku menambah tugasmu besok,” entah kenapa, rasanya aku tidak suka jika orang lain membahas Meggie.
“Sebelum kau memerintahku, aku sudah menjalankannya,” ucap Bian.
“Bagus!”
Aku langsung memutus sambungan teleponnya secara sepihak. Kondisiku masih belum stabil, tapi semua orang malah membuat hatiku kesal. Bahkan pesan yang tidak ingin aku terima lagi pun malah muncul membuat perasaanku semakin kacau saja.
Aku melempar ponsel ke sembarang arah. Lalu menyandarkan pungguhku di sandaran ranjang king size milikku. Aku memejamkan mata sejenak sebelum akhirnya berusaha berteriak dengan sisa tenaga.
“Meggie!” panggilku.
Tenggorokanku langsung terasa sakit, mungkin karena terlalu banyak cairan yang hilang sampai aku terkena dehidrasi seperti ini. Dari hasil teriakanku, tidak ada jawaban dari Meggie, padahal aku sedang membutuhkannya saat ini.
Aku mencoba memanggilnya sekali lagi, “Meggie!”
Tetap tidak ada sahutan.
“Ck, ke mana anak itu?” satu hal lagi yang membuat hatiku kesal.
Tanganku terus memijat kepala yang terasa semakin sakit. Aku mencari ponsel yang tadi aku lempar. Aku merasa menyesal sejenak karena aku masih membutuhkannya. Aku pun langsung mencari nomor Meggie untuk aku hubungi. Namun, dia tidak mengangkat teleponku padahal sambungan teleponnya berdering.
Aku berdecak lagi dan lagi, sampai akhirnya mataku menangkap piring yang berisikan roti isi dengan segelas s**u di sampingnya, dan juga air putih di atas nakas. Aku mengembuskan napasku kasar, lalu meraba segelas s**u yang ternyata suhunya sudah menyamai suhu ruangan.
Berarti ini sudah cukup lama.
Aku beralih untuk mengambil segelas air putih terlebih dahulu, karena tenggorokanku sudah terlalu kering. Rasanya begitu melegakan, seolah aku sedang berada di musim kemarau lalu tiba-tiba turun hujan. Aku juga mengambil roti isi dan juga segelas s**u. Perutku sudah sangat lapar di jam yang sudah memasuki jam makan siang. Bahkan terlalu lapar sampai rasanya aku tidak memiliki sisa tenaga untuk hidup. Aku sadar, aku keterlaluan. Jika saja masalahku tidak datang, aku tidak akan menjadi menyedihkan seperti ini di tempat tidur dengan selimut yang masih membungkus tubuhku di siang hari.
Setelah makanku selesai, aku berniat membersihkan diri agar aku bisa benar-benar menjadi sadar dan hidup kembali. Rasanya sungguh nyaman, aku merasa lebih segar setelah menyentuh air. Aku berniat mencari Meggie ke kamarnya dan ternyata kamarnya kosong.
“Meggie!” aku mencoba berteriak siapa tahu dia sedang di dalam kamar mandi yang ada di kamarnya, tapi tetap hening, bahkan ini terlalu hening.
Pergi ke mana dia? Apa dia sedang memasak untuk makan siang?
Aku kembali ke kamar dan mengecek ponsel. Tidak ada notifikasi dari Meggie dan sekarang sudah menunjukan hampir pukul dua siang. Mungkin benar dia sedang sibuk dengan alat dapur. Jadi, aku memutuskan untuk turun ke dapur dan mengeceknya.
Entah mengapa rasanya rumah ini terlalu sepi saat aku mulai menuruni tangga. Setidaknya aku mendengar ada suara orang yang sedang memotong bahan makanan atau dentingan teflon dan spatula dari arah dapur. Dan benar saja, aku tidak menemukan Meggie di dapur. Semua peralatannya pun masih terlihat rapi.
“Ke mana anak itu? Sejak kapan dia meninggalkan rumah? Dan dia tidak bilang apa pun padaku?”
Hatiku menjadi kesal kembali, padahal perasaan ini sudah mulai membaik. Aku pun memutuskan untuk menelepon Meggie, dengan segera mencari nomornya. Aku menunggu Meggie mengangkat teleponku. Namun, seolah diabaikan, panggilanku tidak mendapatkan jawaban. Bahkan hingga beberapa kali aku mencoba meneleponnya, tetap saja tidak ada tanda-tanda Meggie akan menjawab teleponku.
“Berani kamu mengabaikanku? Awas saja jika kamu pulang nanti!”
Aku pun memutuskan untuk memesan makanan terlebih dahulu sebelum kembali ke dalam kamar. Aku mulai merebahkan tubuh di atas ranjang. Berusaha memejamkan kembali mataku, berharap rasa pengar ini segera hilang. Ponsel masih dalam genggamanku, tapi tiba-tiba dia berdering. Aku langsung kembali terjaga dan berharap itu dari Meggie.
“Halo!” sapaku lebih dulu.
“Hey, Bung, kau lebih bersemangat sekarang. Aku senang kau menyambut teleponku.”
Aku kembali menarik ponsel dari telinga dan ternyata yang meneleponku adalah Bian, bukan Meggie. Aku terlalu bersemangat sampai aku tidak mengecek terlebih dahulu siapa peneleponnya.
Ah, sial!
“Ada apa meneleponku? Apa pekerjaan tidak menyita waktumu?” sarkasku.
“Kebetulan aku menyikapinya tidak sestres dirimu, sampai hilang kendali seperti semalam,” cibir Bian.
“Apa kau sedang mencari masalah sekarang?” tantangku.
“Sebetulnya tidak. Aku hanya sedang mencari hiburan dari orang yang sedang berpura-pura tidak berdaya untuk menghindari dia dan setumpuk pekerjaan,” cibir Bian lagi.
“Sepertinya pembahasannya tidak terlalu penting,” aku sedang malas berdebat dengan siapa pun.
“Hey, jangan menutup teleponnya seperti tadi. Awas saja kau!” ancamnya.
“Apa maumu?”
Obrolan kami pun berlanjut. Seperti yang aku duga, tidak ada hal yang penting pembicaraan di antara aku dan Bian, sampai aku begitu ingin menutup teleponnya. Aku sedang tidak ingin bicara dengan siapa pun dan membahas apa pun. Sungguh, dia sangat tidak pengertian sekarang. Padahal nada bicaraku sudah menjelaskan bahwa aku ingin segera menyudahi percakapan ini. Sudah lebih dari dua puluh menit, akhirnya dia menyudahi obrolan yang sangat menyebalkan sedari tadi.
“Cepatlah pulih! Kau sungguh payah Willy,” ucap Bian yang sangat menyebalkan di telingaku.
“Ck, awas kau jika bertemu denganku nanti,” aku benar-benar menutup teleponnya kali ini, dan aku bisa pastikan jika Bian sedang mengumpat padaku lagi sekarang. Aku sudah cukup hafal dengan tingkahnya.
Sekali lagi aku mengecek ponsel memastikan apakah Meggie menelepon balik setelah begitu banyak panggilan yang aku lakukan tadi, tapi ternyata tidak. Suasana hatiku sudah tidak karuan sekarang. Aku melempar ponsel ke sisi ranjang, lalu memilih keluar dari kamar. Aku akan menunggu Meggie kembali sambil menonton televisi.
Tidak terasa aku sudah cukup lama di sini. Aku melihat jam yang menempel di dinding. Ini sudah pukul tujuh malam dan tidak ada tanda-tanda Meggie kembali. Sungguh, aku ingin sekali mengumpat padanya.
Sebenarnya ke mana anak itu pergi? Apa dia tidak ingat dengan rumah ini? Merepotkan saja!
Aku bergegas pergi ke kamar untuk mengambil ponsel dan juga kunci mobil. Aku pun turun dengan tidak sabaran. Tidak sengaja aku melihat mobil Meggie yang selalu terparkir di garasi.
Kenapa dia jarang memakai mobilnya? Jika dia tidak ingin jual saja, lumayankan uangnya. Kenapa juga waktu itu Ayah harus repot-repot membelikannya jika hanya disimpan di garasi? Membuat penuh saja.
Aku menghampiri mobilku yang terparkir di halaman rumah. Dengan segera aku langsung membuka pintu mobil dan bersiap untuk memasukinya. Namun, pergerakanku terhenti ketika dengan tidak sengaja mataku menangkap seseorang yang sedang memasuki halaman rumah. Dia berjalan dengan santainya seperti tidak ada beban. Aku semakin kesal melihat wajah polosnya seolah tak berdosa, padahal sedari tadi aku mencarinya.
Brak!
Suaranya terdengar sangat keras. Aku sengaja menutup pintu mobil dengan cara membantingnya. Aku langsung menghampiri Meggie yang sepertinya terkejut akibat ulahku. Namun, aku tidak peduli. Aku terlalu kesal karenanya.
“Kemari!”
Aku mencengkram pergelangan tangan Meggie dan membawanya masuk ke dalam rumah. Aku tidak peduli dengannya yang kesulitan berjalan karena langkahku yang terlalu cepat. Aku hanya ingin marah. Aku hanya ingin melampiaskan kekesalanku padanya.
“Kak, sakit,” Meggie mulai merengek.
“Habis dari mana kamu?” aku menatapnya dengan tajam.
“Aku… aku habis bekerja,” ucap Meggie dengan sedikit terbata.
“Sejak kapan kamu bekerja? Biasanya hanya berdiam diri di rumah,” sarkasku.
“Kebetulan hari ini aku dapat wawancara kerja di sebuah kafe. Aku pikir hanya wawancara dan pasti tidak akan memakan waktu yang lama, tapi aku diminta langsung bekerja karena tadi kafenya sangat ramai pengunjung,” tutur Meggie.
“Terus kenapa kamu tidak beritahuku? Apa kamu ingin Ayah marah padaku karena aku tidak bisa menjagamu? Jangan mentang-mentang Ayah dan Ibu sedang di luar kota dan kamu bisa bertingkah seenaknya. Bahkan sampai teleponku pun tidak kamu angkat dan kamu tidak berinisiatif untuk meneleponku kembali. Kamu sungguh menyebalkan, Meggie!” emosiku sudah tidak terkendali sekarang, bahkan aku berteriak dengan lantang di hadapannya.
“Sejak kapan Kakak peduli padaku?”
Antara polos dan menyebalkan. Entah kenapa ucapannya kali ini begitu menohok hatiku. Rahangku terasa berkedut dan aku tidak suka mendengar pertanyaannya, padahal aku sering mengatakan jika aku tidak peduli padanya.
“Kamu…” ucapanku tertahan, aku tidak bisa menahan emosiku dan dengan refleks tanganku yang mencengkram pergelangannya semakin kuat.
“Akh!” pekiknya, “Maafkan aku, Kak! Iya aku salah. Aku tidak mengecek ponselku sedari tadi karena langsung pulang. Aku takut Kakak marah.”
“Ya, kamu memang salah. Sangat salah! Dan kamu berhasil membuatku marah sejak tadi.”
Aku mendengar Meggie terisak dan aku hanya manatapnya. Aku mulai mengendurkan cengkramanku di pergelangan tangannya.
“Tidak usah menangis! Pergilah ke kamarmu lalu cepat turun, aku lapar,” ucapku.
“Tapi, Kak, aku baru saja sampai,” ucap Meggie lirih.
“Lalu, urusannya denganku apa? Cepatlah!”
“Ah, iya.”
Meggie berlalu meninggalkanku setelah aku melepaskan cengkramanku di pergelangan tangannya. Aku memandangi punggungnya yang menjauh. Perasaanku sungguh sulit dimengerti. Saat melihatnya aku sungguh tidak suka, hatiku terluka. Rasanya aku ingin melampiaskan semua amarahku padanya. Namun, saat mata ini tidak bisa menemukannya, hatiku gelisah. Pikiranku berkecamuk dan aku hanya ingin segera melihatnya.
Ah, ini sungguh melelahkan.
Rasa sakit di kepalaku kembali menyerang. Aku pun memilih duduk di sofa dan menonton film. Aku mencoba membuat tubuhku lebih santai agar tidak terlalu kaku. Namun, saat aku sedang menikmati tontonanku, tiba-tiba saja aku dikejutkan.
“Ah!”
Bugh!
Acara santaiku kembali rusak. Aku refleks langsung berlari ke lantai atas untuk mengecek apa yang sedang terjadi.
Kenapa lagi anak itu? Tidak bisakah dia tidak berbuat ulah? Tapi mengapa aku harus repot-repot mengeceknya? Ah, Sungguh, dia menyebalkan!
Aku langsung membuka pintu kamarnya yang tidak terkunci dan menampilkan Meggie yang sedang terduduk di lantai dekat kamar mandi. Dahiku berkerut melihat Meggie yang mendongak ke arahku sambil menampilkan deretan giginya. Aku bingung, apa yang sebenarnya terjadi di sini.
“Sedang apa kamu duduk di lantai seperti itu?” aku menghampirinya yang sedang tersenyum bodoh kepadaku.
“Aku sedang bercocok tanam,” ucapnya dengan wajah yang menyebalkan.
“Aku rasa kamu mulai tidak waras.”
“Aku pikir Kakak yang seperti itu.”
“Kamu!”
Meggie memejamkan matanya saat aku mengangkat tangan untuk menjitak kepalanya. Namun, aku menahannya. Aku hanya ingin membuatnya takut padaku dan itu berhasil. Sepertinya dia terjatuh, melihat bagaimana caranya dia duduk.
“Kemari!”
Aku mengulurkan tangan ke depan wajah Meggie. Dia mulai membuka matanya lalu menatap wajahku, bergantian menatap tanganku yang terulur. Namun, dia diam saja. hanya matanya yang terus bergerak.
“Terserah kamu saja!”
Aku menarik kembali tanganku karena diabaikan begitu saja. Jujur, aku tidak suka diabaikan seseorang. Aku berniat meninggalkannya dengan posisi seperti itu. Namun, aku mengurungkan niatku.
“Kakak…” lirihnya.
“Apa?”
Meggie mengulurkan tangannya meminta bantuanku. Wajahnya begitu lugu. Ekspresinya begitu menggemaskan. Aku tahu dia adik yang baik, tapi hatiku selalu menyangkalnya. Rasa egoku lebih tinggi dari hati yang entah sejak kapan mulai menghangat walau hanya menyebut namanya.