MEGGIE
Rasanya begitu enggan untuk terbangun. Mataku masih mengantuk karena semalam. Aku pun tidak ingat sampai pukul berapa aku menyelesaikan gambarku. Aku merasa ada yang berbeda.
Sejak kapan aku tertidur di ranjang?
Aku tidak ingat kapan aku pindah dari meja kerjaku.
Apa aku tidur sambil berjalan? Jika iya, itu sungguh mengerikan, tapi rasanya aku tidak memiliki riwayat seperti itu.
Aku masih mencoba mengingat walau sebenarnya kepalaku masih merasa pening karena efek bangun tidur.
“Ah, sudahlah. Lain kali saja dipikirkan, yang terpenting sekarang pukul berapa?” aku mencari letak ponselku yang ternyata di atas meja kerja.
Aku pun turun dari ranjang dan mengecek ponsel. Ini sudah pukul tujuh pagi. Aku pergi ke kamar mandi untuk sekedar mencuci wajah. Awalnya aku akan langsung menuju dapur untuk menyiapkan sarapan, tapi aku baru ingat kalau aku belum bertanya pada kak Willy untuk sarapan. Mungkin kak Willy masih di kamarnya karena ini belum jamnya untuk berangkat bekerja. Aku pun kembali berbalik menuju kamar kak Willy.
“Kakak! Kakak!” teriakku sambil mengetuk pintu kamarnya.
“Apa?” balas teriak kak Willy dari dalam kamar.
Aku memutar gagang pintunya agar terbuka dan menampilkan kak Willy yang sedang bersiap dengan pakaian kantornya.
“Kakak sudah sarapan belum?” tanyaku.
“Belum,” singkatnya.
“Mau aku buatkan apa? Biar sekalian.”
“Aku mau sarapan di kantor saja.”
“Ah, begitu. Baiklah,”
Aku pikir kak Willy mau sarapan bareng karena sepertinya dia juga mulai suka dengan makanan yang aku buat untuknya. Aku berniat menutup lagi pintu kamarnya. Namun, pergerakanku terhenti.
“Hey, tunggu!” panggil kak Willy berkacak pinggang sambil memandangku.
Aku pun mengalihkan lagi pandanganku untuk menatap kak Willy, “Kenapa?”
“Buatkan aku nasi goreng,” ucapnya.
“Bukannya tadi Kakak bilang mau sarapan di kantor,” ucapku memastikan.
“Aku berubah pikiran.”
Walau raut wajahnya tetap tidak bersahabat, tapi entah kenapa rasanya lucu melihat kak Willy seperti ini, tidak biasanya. Senyumku terbit tiba-tiba.
“Kenapa kamu senyum-senyum? Kesambet?” ucapnya.
“Enak saja,” suasana hatiku kembali rusak dalam hitungan detik.
Aku langsung menutup pintunya. Aku tarik kembali kata-kataku kalau dia lucu. Kak Willy sama sekali tidak lucu. Dia tetap sama. Dia menyebalkan dan juga pemarah. Hatiku terus menggerutu sepanjang menuruni tangga sampai aku tidak sadar sudah sampai di dapur. Aku pun langsung bersiap untuk menyiapkan sarapan pagi ini.
Aku mendengar kursi meja makan berderit saat aku sudah selesai memasak nasi goreng untuk sarapan kami berdua. Aku pun menyiapkannya di atas piring lalu menghidangkannya di atas meja makan. Aku duduk di kursi yang berhadapan dengan kak Willy.
“Kak, Ayah sama Ibu kapan pulang? Rasanya aku mulai merindukan mereka,” aku membuka pembicaraan di sela sarapan kami.
“Aku tidak tahu.”
“Ko tidak tahu?”
“Mungkin besok, atau lusa, atau bisa juga minggu depan.”
“Yang benar yang mana?”
“Kenapa kamu tidak telepon saja? Kamu ini berisik sekali!” kak Willy mulai menggerutu.
Aku pun menyudahi percakapan dan melanjutkan sarapan yang sempat tertunda. Di sela sarapan yang hampir selesai tiba-tiba aku teringat sesuatu.
“Oh iya, kenapa aku terbangun di ranjang ya, Kak? Aku rasa semalam aku tertidur di meja kerjaku,” aku masih bingung dengan bagaimana aku bisa terbangun di ranjang tadi.
Kak Willy tiba-tiba terbatuk di sela sarapannya, “Uhuk, uhuk.”
Aku langsung menghampiri kak Willy yang sepertinya tersedak dan mengambilkannya air yang tersedia di meja makan. Aku menepuk ringan punggungnya, berharap bisa membantu.
“Kamu ini bisa diam tidak? Kenapa dari tadi mengoceh terus?” kak Willy marah saat batuknya sudah mereda.
“Ah iya, maaf,” aku menyesal.
“Sudah sana! Aku hampir terlambat.”
Aku kembali ke kursiku yang berseberangan dengan kak Willy. Aku tidak ingin memperkeruh suasana. Ini masih pagi. Aku membiarkan kak Willy menyelesaikan sarapannya.
Pukul sembilan empat puluh lima menit, aku akhirnya sampai di depan sebuah kafe. Jantungku berdetak cukup kencang. Keringat dingin mulai bercucuran. Astaga, rasanya masih sungguh luar biasa. Aku masih belum percaya bahwa aku adalah salah satu karyawan di kafe ini. Aku menarik nafasku dalam-dalam dan embuskannya secara perlahan, mencoba mendapatkan kelegaan. Tidak lupa dengan bibir yang tersenyum dan kepercayaan diri yang sudah kupupuk sejak tadi. Aku pun mulai melangkah memasuki kafe tersebut, lalu menghampiri salah satu rekan kerja yang sedang merapikan meja.
"Selamat pagi, Rio!" sapaku padanya yang bernama Rio.
"Selamat pagi, Meggie! Wajahmu cerah sekali," Rio menjeda aktivitasnya untuk menyambut kedatanganku.
“Tentu saja, sebelum kita sibuk kembali seperti kemarin.”
“Kau benar,” Rio setuju.
“Kalau begitu aku akan bersiap-siap.”
“Pergilah!”
Suasana hatiku hari ini cukup bagus. Aku pun sudah siap untuk menyambut para pelanggan dengan hati yang riang. Pelanggan pun silih berganti. Sepertinya aku mulai menyukai pekerjaan baruku.
“Semuanya menjadi seratus tiga puluh ribu rupiah, Mbak,” ucapku pada salah satu pelanggan wanita yang sekarang sedang berdiri di depan meja kasir.
“Ini, Mbak,” dia memberikan dua lembar uang berwarna merah padaku.
Aku pun memberikan kembaliannya, “Ini struk dan kembaliannya, terima kasih.”
Entah kenapa rasanya ada yang terus memperhatikanku sedari tadi, bahkan kemarin juga, atau mungkin memang perasaanku saja yang salah. Aku mencoba untuk tidak mempedulikan hal itu dan berusaha fokus pada pekerjaanku saja. Aku tidak ingin mencurigai siapapun dan membuat kekacauan padahal statusku masih karyawan baru.
“Meggie!” panggil seseorang yang ternyata itu Rio.
“Iya, Rio. Ada apa?”
“Apa kau melamun?”
“Tidak, aku hanya tidak ada kerjaan sekarang.”
“Kalau begitu boleh aku meminta bantuanmu mengantarkan pesanan ini untuk meja dengan nomor kosong empat?”
“Memangnya kau mau kemana?”
“Aku ingin ke belakang sebentar, aku takut makanannya keburu dingin. Apa kau bisa?” tatapannya memohon.
“Ah, tentu, biar aku yang mengantarkannya. Pergilah!”
“Terima kasih,” ucap Rio sambil mengelus kepalaku.
Aku belum sempat menjawab Rio karena dia langsung pergi begitu saja. Aku rasa Rio pasti sudah tidak tahan karena kecepatan menghilangnya sama dengan satu kedipan mata. Dasar!
Aku pun mengambil nampan yang berisi makanan dan juga minuman itu lalu mencari di mana letak meja dengan nomor kosong empat. Mataku menangkap seorang laki-laki yang sedang duduk di meja dengan nomor kosong empat. Dia tengah sibuk dengan ponselnya. Aku pun segera menghampiri meja tersebut.
“Permisi, ini pesanannya. Apa ada yang perlu saya bantu lagi?” ucapku sambil menaruh satu persatu pesanannya.
“Ah, maaf, tidak ada,” dia sedikit terkejut, sepertinya dia terlalu fokus pada ponselnya.
“Kalau begitu saya permisi.”
“Terima kasih.”
“Sama-sama.”
Aku pun kembali ke meja kasir dan sepertinya Rio pun sudah selesai dengan urusannya.
“Bagaimana? Sudah diantar?” tanyanya saat aku sampai di meja kasir.
“Sudah, tuh,” aku melirik meja yang tadi dan ternyata orang itu sepertinya sedang memandang ke arahku dan Rio.
“Terima kasih, kalau bagitu aku mau mengantar pesanan yang lain. Dah, Meggie!” Rio mengerlingkan matanya.
“Hey!” aku terkekeh melihat tingkahnya.
Aku suka kepribadian Rio. Dia baik, ramah, lucu, dan sedikit genit. Ya, seperti beberapa saat yang lalu. Aku pun kembali pada pekerjaanku. Melayani para pelanggan dalam hal pembayaran. Aku baru sadar, aku merasa tidak asing dengan laki-laki tadi. Kalau tidak salah kemarin juga dia datang kemari. Sepertinya dia pelanggan tetap di sini.
Akhirnya jam kerjaku selesai. Hari ini tidak terlalu sibuk dan aku menyukainya. Aku ingin segera pulang karena ini sudah hampir pukul tujuh malam. Aku juga harus mengecek lagi gambarku sebelum aku kirimkan pada klien. Walau sudah selesai, aku harus memastikan kalau gambarku sempurna.
Aku sedang menunggu angkutan umum sekarang. Jarak dari kafe tempatku bekerja tidak terlalu jauh, tapi tiba-tiba ada mobil putih yang berhenti di depanku. Mobilnya menghalangi pandanganku. Aku takut angkutan yang sedari tadi aku tunggu lewat begitu saja.
“Hai Meggie!” sapa seseorang.
Aku mengalihkan pandangan untuk menatap seseorang yang tiba-tiba menyapa. Wanita ini begitu cantik dengan setelan pakaian yang modis, tapi aku tidak mengenalnya. Aku rasa, aku belum pernah bertemu dengannya.
“Maaf, siapa ya?”
“Ah, maaf jika aku datang tiba-tiba seperti ini. Perkenalkan, aku Risa,” dia mengulurkan tangan ke hadapanku dan aku pun menyambut uluran tangannya.
“Aku pacar Kakakmu, Willy,” terangnya.
Dahiku mengernyit seketika, “Tapi Kak Willy tidak pernah bilang jika dia memiliki pacar.”
“Ah, begitu ya. Sayang sekali. Willy keterlaluan ternyata,” keluhnya.
“Lalu, ada apa Kak Risa di sini?”
“Aku hanya sekedar lewat dan tidak sengaja melihatmu di sini.”
“Oh begitu. Kak Risa tahu wajahku padahal ini pertama kali kita bertemu.”
“Aku melihat fotomu di ponselnya Willy dan dia bilang itu adiknya.”
Foto? Sejak kapan Kak Willy memiliki fotoku? Aku juga tidak ingat pernah berswafoto dengan Kakak.
“Ah… Iya.”
“Kalau begitu kita ngobrol sebentar bagaimana?” tawar kak Risa.
“Maaf Kak, tapi aku harus segera pulang,” aku mencoba beralasan.
“Sebentar saja, yuk! Ke kafe dekat sini saja, sekalian kita bisa saling mengenal nanti.”
“Lain kali saja ya, Kak. Aku takut Kak Willy mencariku,” padahal aku hanya ingin segera pulang.
“Nanti aku yang antar kamu pulang agar Willy tidak marah sama kamu,” tatapannya begitu memohon, aku bingung bagaimana cara menolak ajakannya.
Aku menimang-nimang keputusan yang akan aku ambil dan sekarang aku berakhir di kafe tempatku bekerja bersama kak Risa. Aku sengaja memilih kafe ini yang memang ini paling dekat jaraknya. Sebenarnya aku cukup khawatir, tapi bagaimana lagi. Jika dia memang benar pacar kak Willy mungkin tidak apa-apa jika aku telat pulang hari ini karenanya. Ponselku berdering menandakan ada pesan masuk dan itu dari kak Willy.
Kak Willy : Di mana kamu?
Aku : Masih di kafe.
Kak Willy : Jam kerjamu belum selesai?
Aku : Sudah, dari tadi.
Kak Willy : Kenapa belum pulang?
Aku : Tadinya aku sudah mau pulang, hanya saja tiba-tiba pacar Kakak yang bernama Risa datang dan ingin mengobrol denganku.
Kak Willy : Kirimkan alamat kafenya.
Aku pun mengirimkan alamat kafe ini dan tidak ada lagi pesan masuk dari kak Willy. Beberapa saat kemudian aku melihat mobil yang begitu familiar. Itu mobil kak Willy. Dia keluar dari mobil dan menghampiri meja kami. Langkahnya begitu tergesa-gesa.
“Meggie, ayo pulang!” ajak kak Willy.
Kak Risa langsung menyela sambil berdiri, “Hai Willy!”
“Meggie…”
Tatapan kak Willy begitu menusuk dan dia pun tidak menghiraukan kehadiran kak Risa di sini. Aku bingung dengan situasi sekarang. Sepertinya ada yang tidak beres dengan hubungan mereka. Aku tidak melihat adanya keharmonisan layaknya sepasang kekasih. Aku mulai berdiri perlahan sambil menyaksikan mereka yang sedang berdebat. Aku tidak berani menyela. Biarkanlah itu menjadi urusan orang dewasa seperti mereka.
“Akh,” tiba-tiba tanganku ditarik oleh kak Willy dan itu mengundang perhatian beberapa pengunjung kafe dan juga rekan kerjaku.
Aku melihat Rio yang ternyata masih bekerja datang menghampiri kami. Dia menatapku seolah meminta penjelasan. Aku memberikan isyarat kalau aku baik-baik saja dan mengucapkan tanpa suara kalau kak Willy adalah kakakku sampai akhirnya Rio mengangguk sambil mengisyaratkan untuk menghubunginya nanti. Aku hanya mengiyakan sambil tersenyum tipis.
“Willy, aku mencintaimu,” ucap kak Risa.
Tatapannya begitu sendu, bahkan kak Risa hampir menangis di sini.
“Omong kosong! Dan ingat jangan mendekatiku ataupun Meggie. Kau mengerti Risa?” perkataan kak Willy penuh dengan tekanan.
“Tidak! Kau milikku, jika tidak adikmu itu harus tahu semuanya, Willy!” aku melihat kak Risa begitu frustrasi sampai dia teriak seperti ini tanpa menghiraukan banyak pasang mata yang memperhatikan ke arahnya.
Aku tidak mengerti dengan ucapan wanita ini. Aku hanya melihat kemarahan kak Willy yang langsung menarikku untuk masuk ke dalam mobilnya. Sejenak, mataku menangkap sepasang mata yang terus menatap kepergianku. Aku melihat raut wajahnya tidak bersahabat dengan tatapannya yang tajam, sampai akhirnya mobil kak Willy berlalu meninggalkan keributan beberapa menit yang lalu.
Selama perjalanan aku dan kak Willy hanya saling diam. Sebenarnya aku penasaran dengan situasi tadi. Terlalu banyak pertanyaan di pikiranku sampai rasanya kepalaku pusing. Setelah mobil terparkir di halaman rumah, kak Willy keluar lebih dulu dari dalam mobil. Aku langsung menyusulnya untuk masuk ke dalam rumah. Tiba-tiba kak Willy berbalik menatapku dengan raut wajahnya yang menyeramkan.
“Jika Risa datang lagi, jangan temui dia!” aku merasa ada sebuah ancaman dari perkataan kak Willy.
“Kenapa? Aku rasa Kak Risa baik, dia juga bilang kalau kalian pacaran.”
“Tidak usah banyak tanya. Aku dan Risa tidak memiliki hubungan apapun.”
“Tapi Kak…”
“Tapi apa? Sudah tidak usah banyak tanya,” kak Willy pergi meninggalku begitu saja.
Aku masih penasaran dengan maksud ucapan kak Risa, jadi aku berusaha untuk mengejar kak Willy yang akan menaiki tangga.
“Kakak tunggu!” panggilku.
Kak Willy tidak mau berhenti dan aku menarik lengannya, “Kak!”
“Apa? Aku sudah lelah, Meggie!” kak Willy berbalik sambil marah-marah.
“Aku penasaran maksud dari ucapan Kak Risa apa?”
“Maksud kamu apa?”
“Yang tadi, Kakak juga pasti dengar.”
“Aku tidak mendengar apapun dan aku tidak tahu,” kak Willy mulai melangkah lagi menaiki tangga.
“Bohong, beri tahu aku apa maksud aku harus tahu semuanya.”
“Aku bilang tidak tahu,”
Kak Willy menghempaskan tanganku yang sedari tadi memegang lengannya, itu cukup keras sampai terasa ada dorongan. Aku kehilangan keseimbangan.
Brug!
“Akh!”
Rasanya ngilu, ini terlalu sakit.
Ah, tanganku.
“Hiks, sakit… Hiks.”
“Meggie…”