Langit baru saja membiru, beberapa waktu lalu para umat islam selesai mengerjakan sholat shubuh. udara masih sangat dingin tapi, seorang pria sudah membuka pintu dan jendela demi menatap lahan miliknya yang luas.
Pria itu menatap kearah pohon-pohon yang tengah berbuah dan sebentar lagi siap untuk dipanen. Bening-bening kristal jatuh pada daun hijau yang memanjang. Beriringan memancarkan pendar-pendar yang begitu indah bahkan beberapa kali cahaya keemasan menimpali setiap kali jatuh tetesan itu jatuh diatas tanah.
Dengan menggunakan sarung dan kopiah masih melekat di kepala, pria itu sudah berdiri tepat di teras rumah miliknya. Burung-burung mengeluarkan kicauannya seolah ikut bersorak riang mengikuti suasana hati pria yang tengah berdiri tepat di teras rumah itu.
Senyumnya sangat mereka. Kala pohon-pohon sawit berbuah tiada henti dengan ukuran yang besar, bewarna kuning keemasan dan berat yang mulai menyentuh nilai satu kuintal. Seketika sudah terbayang, berapa banyak keuntungan yang bisa diraih dari semua hasil panen kali ini.
Teguran seseorang memecahkan lamunan pria itu, dia dengan senyum lembut berbalik menatap sosok yang menjadi sumber suara. Tangan masih terikat dibelakang punggung, lalu langkah pastinya telah membawa dia mendekati anak gadisnya.
“cuaca lagi dingin logh yah” gerutu si anak gadis lalu menyerahkan sebuah jaket yang cukup tebal untuk pria yang diasapa ayah.
“tar kalo ayah sakit yang repot kan aku” sambung wanita itu setelah selesai membantu pria yang mulai menuju usia tua menggunakan jaket pemberiannya.
“wessss ini udah ayah pake” sahut pria itu “jangan merajuk, ini masih terlalu pagi” kelakar pria itu dengan sedikit menggoda anak gadisnya.
Wanita itu tidak berkata apa pun namun pipinya yang memerah petanda dia merasa malu dan senang dengan percakapan mereka. Pria itu kembali keteras sedangkan wanita bernama laila memilih melangkahkan kaki menuju dapur.
kini dia mendudukkan tubuhnya di kursi yang ada disana, sebuah koran sudah di tangan walau beritanya 2 hari yang lalu, nyatanya tetap menarik untuk kembali dia baca. Dia nampak sangat serius membolak-balikkan koran, tanpa sadar anak gadisnya datang dengan membawa segelas kopi hitam dan sepiring makanan yang masih terlihat jelas baru turun dari penggorengan.
“duhh anak ayah memang terbaik” puji pria itu dengan senyum lebar di wajah.
“moga kopinya nggak pahit banget, soalnya kemarin laila lupa beli gula di warung”
“manis kok, asal ayah liat senyum laila semua jadi manis” goda pria itu lagi.
“ighh nggak mempan rayuan ayah, ini laila ya, bukan ibu” gerutu wanita itu sembari menunduh sedih.
Ayah dan anak seketika terdiam. Mengingat kepergian wanita yang di sapa Ibu 2 bulan lalu mengubah suasana hati mereka. Masih lekat diingatan bagaimana Laila dan Karun syok karena, wanita itu pergi begitu saja tanpa tanda juga pesan.
Untuk pertama kalinya, wanita itu tidak menjadi yang pertama bangun padahal adzan shubuh telah di kumandangkan sedari tadi, Tubuh yang lincah telah berubah kaku dan dingin. Sulit rasanya mengikhlaskan terlebih kala mengantarkan wanita tersebut itu ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Karun menghembuskan nafas dari mulut dengan cara kasar. Senyum tipis di tunjukkan pada anak gadisnya. Mereka merasakan hal yang sama namun pria itu sadar hari tetap harus berlanjut.
Tubuh yang tadinya bersandar nyaman, kini di tegakkan.
Tangan tua yang sudah berkeriput serta bergetar itu mengelus lembut kepala Laila. Laila yang di perlakukan demikian bukannya merasa tenang, malah membuat mata wanita itu berkaca-kaca. Tanpa sadar lagi-lagi dia merindukan wanita yang telah melahirkannya.
“ibu udah tenang di sana, kalo kangen kirimkan doa’ ya ndok’” jelas karun lirih dengan dialeg khas jawa yang menjadi identitasnya.
“nggih” balas Laila lalu melepas pelukannya pada Karun.
“nanti ikut ayah ya?” ujar Karun tiba-tiba.
“nggih” kata Laila lagi tanpa bertanya kemana ayahnya akan mengajak.
“yo wes, laila siap-siap dulu” terang wanita itu lalu beranjak dari posisi duduknya.
Karun sekali lagi menghela nafas keras. Dia menatap ke arah anak gadisnya pergi. Laila sudah beranjak dewasa dan sekarang sedang menempuh pendidikan di salah satu kota yang lokasinya cukup jauh hingga sering baginya meninggalkan rumah.
rumah ini sudah sepi setiap Laila bepergian. Laila adalah anak semata wayang hingga banyak moment di lewati hanya berdua dengan sang istri. kini wanita yang menjadi pasangan selama ini telah kembali ke pangkuan ilahi.
“di usia yang sekarang menjalani hidup sendiri mungkin akan terasa sulit” gumamnya dalam hati sembari menatap langit-langit teras.
Sesak sekali rasanya kala mengingat bahwa dia akan menjalani hidup di rumah yang penuh kenangan ini seorang diri. Dia beranjak dari duduk lalu kembali menatap popon-pohon yang tumbuh sekitaran rumahnya.
“sugeng enjang (selamat pagi) juragan” sapa seorang warga yang sepertinya sudah siap untuk melakukan aktivitasnya.
“Sugeng enjang juga pak” jawab karun sama sopannya dengan lelaki itu.
“mari jurangan” ujar pria itu pamit
“nggih pak” balas Karun lagi.
Seperti itulah orang-orang menyapa Karun. Pria yang ber kulitnya sawo matang, memiliki tinggi 174, rambut ikal yang nampak masih Klimas, dia masih nampak gagah walau usianya tahun ini genap dia berusia 64 tahun.
Sungguh basa-basi yang sudah sangat familiar bagi Karun. dikaitkannya kedua tangan di belakang punggung lalu berbalik memasuki rumah. Seperti biasa kondisinya sudah bersih dan wangi, walau orang yang melakukannya bukan lagi si istri melainkan laila.
Sudah hampir 2 bulan lebih laila di rumah, sebentar lagi libur semesternya berakhir hingga Karun akan benar-benar sendiri di tempat luas ini. pikiran tersebut tak kunjung pergi, hingga lagi-lagi Pria tua itu menghela nafas dengan kasar.
Kaki kembali melangkah kian memasuki rumah dan membawanya ke dalam kamar. Dia membersihkan diri serta berganti pakaian. baru juga keluar dari kamar, aroma wangi dari makanan sudah menggoda hidung.
“yuk yah makan dulu” ujar laila kala menyadari ayahnya kehadiran ayahnya yang kian mendekati meja makan.
“anak ayah makin pintar e, wes dah cocok jadi manten iki’” goda Karun pada anaknya.
“manten terus” seru Laila. “Laila dah bosan toh yah, kalo ayah ngungkit tentang calon mantu ayah yang tidak tahu siapa itu” gerutu gadis itu lagi.
“la wong sudah sepatutnya kok, tu anak pak Kardi seumuran kamu dah nikah, sementara hamil dan bentar lagi lahiran, wong kamu..”
“mulai lagi deh cramanya. Iki masih pagi loh yah. Jangan mancing-mancing” tegur laila tidak suka di banding-bandingkan dengan anak tetangga yang memang seumuran dengannya.
“yo wes, ojo merajuk toh’” kata karun mencairkan suasana “ayah wes mangan ojo cemberut wae”
“ngapura (maaf)” kata Lailah lalu tersenym walau terkesan sangat di paksakan.
Mereka makan dengan tenang, setelah makan dan membersihkan peralatan makan, Laila menyusul Karun ke teras. Pria itu sudah menunggu sedari tadi bahkan sudah duduk santai di kursi kemudi. Mobil sudah bergerak meninggalkan pekarangan rumah kala Laila bertanya tujuan mereka,
“bapak mau ngajak laila kemana?”
“meriksa kebun” jawab karun singkat.
“ayah pasti mau pamerin punya ayah terus ceramahin aku biar seperti ayah kan?” tebak laila tiba-tiba
Jelas saja Karun seketika tertawa terbahak dibuatnya. Tidak salah lagi, anak gadisnya sama persis dengan mendiang istri. Kedua wanita itu sepertinya sudah sangat hafal hingga bosan setiap dirinya mengulang lagi hal-hal yang dialami hingga bisa seperti sekarang.
“bukannya itu bagus biar nanti kamu tahu dan bisa lanjutin usaha ayah ini” ujar karun setelah keluar dari rasa gelinya.
Laila memilih diam kali ini. dia menatap ke jendela mobil yang ada di sampingnya. Tidak salah Karun memilih mobil yang bannya cukup besar dan bisa melewati jalan yang sulit. Setelah hujan kemarin, jalan menjadi berlumpur dan cukup curam.
Tanah cukup berkelok dengan lubang di sana sini. Sepanjang kanan dan kiri jalan terlihat tanaman sawit yang masih keciil ada juga yang telah tinggin menjulang. Beberapa tandan buah sawit bewarna keemasan menyembul dari balik daun-daun yang menghijau.
Karun akhirnya mulai melambatkan pergerakan mobil lalu berhenti tepat di kawasan sawit dengan ukuran yang belum begitu tinggi. pria tua itu nampak senang dan bahagia mengetahui kerja kerasnya bersama para bawahan tidak sia-sia.
Karun turun dari mobil begiu pun laila. Sisi kiri dan kanan lailah hampir sama dan tidak ada bedanya dengan pemandangan dirumah. Kelapa sawit di tanam dimana-mana. Sebenarnya wanita itu bisa menebak apa yang akan ayah katakan kali ini.
“ini kavling sawit yang baru ayah beli” terangnya
“kapan belinya yah?” tanya laila penasaran.
“bulan kemarin, luasnya dua puluh hektar. Masih muda buat persiapan kalau peremajaan sawit yang sudah tua bakal di tebang” jelasnya panjang lebar.
“ayah utang lagi ke bank?”
“mmm” gumam pria itu dengan posisi tangan sudah terkait di belakang punggung. “ngelanjutin yang 5 ratus juta kemarin, kan sudah lunas” sambungnya.
“riba yah. Nggak berkah” tegur lailaj
“itukan katamu. Riba-riba giut, buktinya semua orang pada ngutang bank buat beli sawit. Itu kamu lihat yang sudah tinggi-tinggi besar, puluhan hektar juga luasnya” tunjuk pria itu pada arah yang lokasinya masih bisa tertangkap indra penglihatan.
“dulu awalnya juga ayah cicil belinya. Sekarang alhamdulillah bisa buat kehidupan kita, buat bikin rumah, beli mobil dan nguliahin kamu” Kata karun menerangkan hal itu pada laila.