"seratus juta!
Tapi dengan syarat?!"
ucap Rayyan dengan sorot matanya yang tajam.
"Syarat? Syarat apa rayy??"balas Marsya memandang bingung ke arah laki-laki didepannya.
Rayyan bangkit dari kursi kebesarannya.
Mendekat ke Marsya, kedua tangannya dia selipkan kedalam saku celananya.
Seraya memicing Marsya dengan tatapan nyalang.
Rayyan berdiri didepan Marsya.
Memindai Marsya dari ujung kaki hingga ujung rambut.
"Gugurkan janin dalam perut mu!"tekan Rayyan datar.
Degg.
Marsya mendongak.
Sambil menutup mulutnya, dengan mata membulat kemudian menggeleng kan Kepala.
"Tidak rayy!
ak aku akan mempertahankan nya."ucap Marsya. Suara nya bergetar. Netranya memerah.
"CK.. keras kepala."dengus Rayyan sinis.
"Kau meminta bantuan dari ku. Untuk pengobatan ibu mu.
Tapi kau tak mau mengikuti kemauan ku.
CIHH! Dasar benalu!"sarkas Rayyan dingin.
"Tapi dia darah daging ---"
"DIAM! AKU TIDAK SUDI KETURUNAN KU TERLAHIR DARI WANITA SEPERTI MU.
KAU TAK PANTAS BERDIRI DISAMPING KU MARSYA!
DERAJAT MU DENGAN AKU.
SANGAT JAUH BERBEDA.
KITA BAGAIKAN LANGIT DAN BUMI.
KAU HANYA SEORANG ANAK TANPA IDENTITAS.
JADI SAMPAI SINI KAU FAHAM?"
hardik Rayyan menghunus tajam.
Marsya menundukkan kepala.
Tangannya saling meremet.
Kedua mata nya berkaca-kaca.
"Tidak ada syarat lain kah?"tawar Marsya dengan suara serak.
"Tidak ada!
Hanya itu syarat yang aku inginkan.
Jika kau tak ingin melakukannya.
Sana!
Kau carilah duit sebanyak itu dalam sehari.
Apa kau bisa?
Mungkin bisa? Salah satunya kau harus menjual
tu buh mu. Pada pria yang membutuhkan belaian mu."
Cetus Rayyan berkata kasar. Seraya memandang hina ke arah Marsya.
Degg.
Lagi, Rayyan menoreh luka di hatinya.
Apakah dia tidak memiliki belas kasih terhadap nya?
Dia sekedar meminta bantuan.
Pada teman masa kecilnya.
Karena hanya Rayyan lah.
Satu dari dua orang yang menjadi teman dekatnya.
Satunya lagi adalah, Santika Setyawan. dialah wanita beruntung yang akan menjadi pendamping hidup seorang Rayyan Mahardika.
Tapi dia tak ada niat atau keinginan untuk meminjam uang terhadap Santika.
Rasa malu dan juga tak enak hati.
Karena selalu merepotkan sang sahabat.
Rayyan menyandarkan punggungnya ditembok.
Tatap matanya memandang Marsya dengan alis terangkat.
Seringai misterius terlukis dalam wajahnya.
Rayyan mengusap dagu nya, tanpa mengalihkan pandangan dari wanita di dekatnya.
( CIHH. Jangan harap kau menjadi pendamping hidup ku.
Calon istri ku. Harus dari keluarga yang memiliki kedudukan serta martabat yang setara dengan ku.
Huh! Dasar wanita miskin.) Umpat Rayyan dalam hati.
Hem, huft.
Marsya menarik nafas dalam-dalam. Sambil memejamkan mata.
Marsya memandang Rayyan dengan kilat matanya yang tajam.
"Apa kau tak punya belas kasih?
Dia adalah benih mu.
Karena perbuatan mu.
Dia hadir dalam diriku.
Sampai hati kau---"
BUGH.
Rayyan menonjok tembok di sisi Marsya.
Seketika Marsya menutup mata. Sekujur tubuhnya gemetar.
"Jangan lagi kau ingatkan aku tentang janin sialan itu!
Aku tak menginginkan nya.
Jika kau bersikeras mempertahankan nya.
Silahkan!
Tapi jangan sekali-kali nya kau bawa nama ku.
Dan jangan lupa.
Di masa depan nanti.
Jangan kau sebut namaku sebagai ayah dari janin mu itu.
Faham kau!"
Dengan sombong dan tak berperasaan Rayyan menolak mentah-mentah janin dalam kandungan nya.
Marsya menunduk diam.
Matanya terasa panas.
Tanpa bisa dicegah. Bulir-bulir air menganak keluar dari pelupuk matanya.
"Ta tapi, Di di dia hadir karena perbuatan kita Rayy,
SRAK.
Rayyan menarik tubuh Marsya dengan kasar.
Kemudian.
Dugh dugh.
Kepala Marsya di hantam ke tembok hingga beberapa kali.
Rayyan menarik rambut Marsya. Memutar tubuh Marsya. Hingga berhadapan dengan nya.
Plak plak.
Rayyan menampar kedua pipi Marsya.
Sampai sudut bibirnya mengeluarkan darah.
Marsya pasrah, tanpa melawan. Hanya terdiam bagai patung.
Ketika dengan brutal Rayyan memukuli nya.
"Mppp.."
Marsya berdesis, tatap matanya terlihat sayu.
Saat tangan kekar Rayyan mencengkram erat rahangnya.
"Kau jangan munafik wanita binal.
KITA?!
Huh! Bukankah kau yang lebih menikmati?
Saat kau dengan sadar melakukannya dengan ku.
Aku tidak memaksa mu!
Aku hanya menawarkan!
Jika kau tak bersedia!
Aku bisa mencari wanita yang lebih cantik dari mu.
Dan pastinya, wanita manapun akan rela memuaskan hasrat ku tanpa meminta pertanggungjawaban seperti dirimu."sombong Rayyan dengan wajah puas.
"Kau!
Hanya satu dari ribuan bahkan ratusan wanita yang bermalam dengan ku.
Semuanya tidak ada yang seperti kau.
Se-enaknya meminta tanggung jawab atas janin tak berguna mu itu!"dengus Rayyan memicing tajam. Setelahnya mendorong tubuh Marsya. Hingga menubruk meja.
Nyess.
Apa tadi katanya??
Rayyan menganggap dirinya seperti wanita malam.
Tega! Sungguh tega!
Marsya menatap nanar ke arah Rayyan. Dengan wajah yang terlukis kesedihan.
Marsya tak menyangka akan sikap dan perlakuan Rayyan terhadap nya.
Nyeri!
Hati Marsya bagaikan daun kering yang di terbangkan angin. Tanpa tahu arah.
Kecewa! Sungguh kecewa.
Tidak ada yang lebih menyakitkan.
Dari di kecewakan oleh orang yang Kita kira tak pernah menyakiti.
Marsya terdiam bungkam dengan kepala menunduk.
Jari lentiknya mengusap laju air mata di pipi nya.
"Aku peringatkan pada mu. Wanita miskin.
Apapun yang terjadi diantara kita.
Anggap saja itu kesalahan juga khilaf."tunjuk Rayyan mendengus dingin.
Hhh..
Marsya menarik nafas panjang. Kedua tangannya mengepal erat.
"Baik! Aku akan turuti keinginan mu.
Bila perlu aku akan pergi jauh dari kehidupan mu!"tekad Marsya bersungguh-sungguh.
Rayyan tersenyum tipis dan mengangguk kan kepala.
"Cepat berikan uang nya!"sambung Marsya tegas. Sorot matanya menatap Rayyan dengan seringai misterius.
Hahaha hahaha..
Di sambut gelak tawa dari Rayyan.
Seraya melayangkan tatapan membunuh.
Rayyan mendekat ke Marsya.
Memindai sekujur tubuh Marsya.
"Sudah ku duga!
Pada akhirnya kau akan tunduk dengan uang.
Orang yang terlahir dari kalangan rendah.
Perlahan-lahan Dia Akan menunjukkan kualitas dirinya.
Bahwa harga dirinya bisa di beli dengan rupiah. Hahaha..,"cemooh Rayyan tertawa jahat.
"Cepat berikan uang nya. Jangan banyak bacot."ketus Marsya.
"Oh, rupa nya. Sahabat ku , sebegitu tak sabar nya. ingin memiliki banyak uang,"ejek Rayyan sambil menjawil dagu nya Marsya.
Marsya membuang muka ke samping. Guna menghindar dari tangan Rayyan.
"Ada syaratnya?"kata Rayyan tepat di wajahnya Marsya.
Marsya mendongak ke arah Rayyan.
Seraya menyipitkan matanya Marsya berkata.
"Apa yang kau rencanakan Rey,??"tuding Marsya datar.
Rayyan mengangkat sudut bibirnya.
Dengan tatapan nafsu.
Rayyan menarik tubuh Marsya ke dalam pelukannya.
"Lepaskan Rey? Apa yang kau lakukan?"Marsya berontak. Tubuhnya Bergerak gelisah dalam pelukan Rayyan.
"Santai Marsya. Hanya satu keinginan ku saat ini?"ucap Rayyan berbisik di telinga Marsya. Sambil menjilat nya. Sesekali mengecup bibir Marsya hingga turun ke leher jenjang nya.
Serr.
Seketika darah dalam tubuh Marsya mengalir kencang. Hingga merangkak naik ke wajah nya.
Sesuatu yang pernah Marsya rasakan. Dalam tubuhnya.
Kini kembali terulang.
Rasanya begitu nikmat, bikin nagih.
Sampai Marsya memejamkan mata.
"Puaskan aku malam ini!
Degg.