Ruangan berukuran 12 × 15 meter persegi yang menampilkan perpaduan warna abu-abu dan putih itu memiliki kesan minimalis yang unik. Kursi dan meja panjang tertata rapi di sebelah jendela kaca. Letaknya yang berada di dekat jalan, menjadikan pengunjung bisa melihat berbagai kendaraan yang melintas. Berbagai tanaman dan pepohonan hijau turut menjadi kesan asri. Harga yang ditawarkan pun cukup ramah dengan kantong. Tak khayal, kafe tersebut dikunjungi oleh beragam usia, baik untuk mengobrol santai maupun sekadar melepas penat.
“What?” teriak Gi, Becca dan Manda nyaris bersamaan. Membuat Aurel sontak melotot, memperingati sahabat-sahabatnya itu untuk tidak berisik. Aurel pun tersenyum penuh ampun kepada para pengunjung yang kini mengalihkan atensi ke mejanya.
“Sorry, Rel. Kita syok aja,” jawab Gi.
Becca meletakkan sendoknya ke atas piring dan mulai menopang dagu untuk mendengarkan penuturan Aurel selanjutnya. “Jadi? Kamu akan ke tempat itu? Di mana?”
Aurel menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi lantas menghela napas panjang. Tatapannya ia alihkan pada pohon rindang di depan kafe. “Iya, mau enggak mau aku harus ke sana. Menjadi volunteer pengajar di sana.”
Kabar rencana Aurel meninggalkan ibu kota untuk menjadi volunteer, cukup mengejutkan dan mengkhawatirkan untuk mereka. Selain tidak memiliki kemampuan yang mumpuni, Aurel terlalu manja untuk bisa hidup sebagai relawan. Gadis itu tak pernah kekurangan apa pun selama ini, hidup glamour menjadi bagian mencolok dari dirinya.
Meski terlihat sombong, nyatanya Aurel adalah gadis yang totalitas dalam membantu orang lain. Karena kebaikan itulah, keempatnya bisa menjalin persahabatan. Persahabatan yang dimulai sejak hari itu. Hari di mana Aurel datang dengan menawarkan bantuan saat mereka membutuhkan uang untuk membayar UKT, meskipun dengan kondisi yang tak pernah saling mengenal.
“Jangan pergi atuh, Rel. Nanti siapa yang traktir kita?" Becca menyahut dengan santai.
Namun, siapa sangka bahwa ucapannya berhasil mengundang jitakan dari Gi dan Manda.
“Kamu itu sahabat atau musuh dalam selimut? Aurel lagi susah. Bukannya bantu mikir jalan keluar terbaik, malah bahas hal enggak penting semacam itu,” sungut Gi.
“Santai atuh, Gi. Aku cuma bercanda,” jawab Becca. Jika Gi sudah tersulut emosi, ia tak berani untuk membantah lagi. Bisa-bisa bedaknya yang akan menjadi korban kekerasan Gi hingga berserakan di lantai, seperti tempo lalu.
Gi ingin menimpali Becca, tapi tidak jadi saat retinanya tidak sengaja menangkap seorang pemuda yang sangat ia kenal tengah menggenggam tangan seorang gadis berambut sebahu. Ragu dengan kejadian itu, Gi sontak menyipitkan mata.
“Mata kamu sudah sipit kali, Gi. Enggak usah dibuat semakin sipit,” ucap Manda tenang sebelum menghabiskan minumannya.
“Ada Regan sama perempuan lain,” kata Gi.
Ucapan itu sontak membuat Manda tersedak. Hidungnya menjadi perih, dadanya juga sesak. Efek tersedak memang bukan hal remeh. “Jangan mengada-ada, Gi. Adiknya kali.”
“Apanya yang adik? Romantis gitu gesture-nya.”
“Sekarang, dia di mana?” tanya Aurel penasaran. Matanya menyapu ke seluruh ruangan, tapi tidak menemukan sosok yang Gi maksud sebagai Regan.
“Udah pergi,” ucap Gi santai.
Hanya saja, reaksi dari tiga sahabatnya yang tidak santai. Decitan suara kursi Aurel yang bergesek dengan lantai menjadi awal helaan napas Gi terdengar. Karena setelahnya, Manda dan Becca mengikuti Aurel hingga meninggalkan Gi sendirian.
“Harusnya kalau gue enggak perlu memberi tahu mereka kalau enggak mau repot kayak gini,” gerutu Gi, tapi tetap akhirnya mengekori ketiganya.
Ya seharusnya.
***
Tepat di parkiran, Regan dan cewek cantik yang memakai hoodie over size berhenti di depan mobil yang Aurel ketahui milik Regan. Semula ia ingin mendatangi mereka untuk meminta kejelasan. Namun, mendengar namanya sudah disebut dalam percakapan, Aurel akhirnya memilih untuk berhenti dan memasang telinga baik-baik.
“Aku udah cape ya jadi yang kedua untuk kamu. Selalu aja Aurel, Aurel, dan Aurel. Sebenarnya kamu mencintaiku apa enggak?"
Manda dan Becca spontan menutup mulutnya tak percaya. Sedangkan Gi dan Aurel masih bergeming dengan posisi yang sama. Dengan raut muka kesal, pastinya.
“Cinta lah. Lebih cinta ke kamu malah daripada ke Aurel. Kamu tahu ‘kan alasan aku pacaran sama dia?” Regan menyahut dengan suara lebih rendah, yang justru membuat Aurel bergumam jijik.
Gadis yang di depan Regan pun tampak menolak tangan Regan dengan merajuk. “Makanya kamu harus gerak cepat untuk mendapatkan hartanya. Terus tinggalin. Aku enggak mau terus-menerus jadi yang kedua.”
Dua tangan Aurel kontan terkepal kuat. Matanya memanas. Seseorang yang seharusnya menjadi tumpuan saat ia dalam keadaan butuh dukungan seperti ini, ternyata adalah orang yang ingin menjatuhkan dirinya sejatuh-jatuhnya.
Meski emosinya sudah memuncak, Aurel masih bertahan di tempat yang sama. Ia ingin tahu sudah sejauh apa keduanya merencanakan semuanya. Bahkan ketika Gi hendak maju, Aurel menahan.
“Tapi, dia udah kurang ajar bermain di belakang kamu, Rel. Apalagi dia mencoba memanfaatkan harta orang tuamu!” seru Gi ketika jalannya menuju Regan dihalangi oleh Aurel.
“Kita tunggu timing yang tepat,” jawab Aurel
Gi mundur dan mendengus keras. Menjadi satu-satunya sahabat Aurel yang tidak ribet, Gi selalu melakukan sesuatu dengan cepat. Itulah mengapa tangan Gi langsung gatal, sampai rasanya ingin memberikan pelajaran untuk Regan dan selingkuhannya.
Jika bisa cepat, mengapa harus lama?
Begitulah prinsipnya.
Satu sudut bibir Aurel terangkat ketika kekasihnya menggenggam tangan si gadis dengan tatapan memohon. Mungkin permohonan agar selingkuhannya percaya.
Namun, adegan pegangan itu hanya beberapa detik, sebelum akhirnya Gi yang sudah tak tahan menunggu, keluar dari persembunyian dan menarik keras kemeja Regan ke belakang.
"Apa ....” Kalimat Regan menggantung ketika secara mengejutkan Gi dan Aurel berada di belakangnya, bersedekap d**a dan menatap mereka sinis secara bergantian.
“Kenapa? Kalian terkejut? Atau takut?” Aurel tersenyum miring melihat ekspresi ketakutan dan terkejut yang bercampur di wajah keduanya.
“Rel, ini enggak seperti yang kamu pikirkan.”
Plak!
Satu tamparan dari Aurel melayang keras ke pipi Regan. “Seperti yang aku pikirkan? Memangnya kamu siapa bisa baca pikiranku? Cenayang?”
“Bahkan dia tidak pantas disebut cenayang, Rel.” Manda ikut keluar dari persembunyian bersama dengan Becca. “Lebih pantas disebut parasit. Karena sudah memanfaatkan harta orang lain untuk kepentingan pribadi.”
Regan dan selingkuhannya semakin terpojok. Bahkan air mata ketakutan sudah meluncur deras dari selingkuhan Regan.
“Aneh ya, aku yang tersakiti. Dia yang nangis," sindir Aurel.
“Rel, beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya.”
“Lima detik.” Aurel kontan berhitung mundur.
“Ini enggak seperti yang kamu lihat, Rel.”
“Satu. Waktu habis.”
“Rel,” lirih Regan.
“KITA PUTUS!” teriak Aurel tanpa keraguan.
Regan yang tak terima dengan keputusan Aurel sontak berdiri. Ia mendekat, lantas membawa tangan gadis itu ke dalam rangkumannya.
“Maafin aku, Rel. Aku khilaf. Sungguh. Beri aku kesempatan sekali lagi. Aku akan memperbaiki segalanya. Aku janji enggak akan mengecewakanmu lagi. Tapi tolong, beri aku kepercayaan lagi,” mohon Regan. Wajahnya tampak menyesal.
Aurel tak merespon apa pun sehingga mengundang Gi untuk memberi pelajaran.
“Berani banget kamu mengatakan kesempatan kedua setelah melakukan pengkhianatan seperti ini.” Gi memisahkan paksa tangan Regan dan Aurel, lantas melayangkan satu pukulan. “Berhenti memberi alasan bohong dan bicara omong kosong! Sekali lagi kamu menyakiti Aurel atau mengganggu sahabatku. Aku akan mematahkan tulang-tulangmu.”
Aurel mendekati Regan yang masih terduduk di pelataran parkiran. Ia sempat berdecak panjang, sebelum akhirnya berkata, "Remember it, Re. Sampai kamu nangis darah, guling-guling di lautan atau hal nekat lainnya, aku enggak akan memaafkanmu. Kamu bukan hanya parasit, tapi juga pengkhianat. Sekali kamu mematahkan kepercayaan ini, jangan harap bisa memperbaikinya. Jadi mulai sekarang, berhenti menggangguku. Aku muak!”
“Sebelum pergi, aku mempunyai nasihat gratis untukmu,” kata Becca pada perempuan yang menjadi alasan putusnya hubungan Regan dan Aurel. “Kamu harus cepat-cepat sadar diri. Perempuan sesempurna Aurel aja bisa dibuang dengan mudah oleh Regan. Apalagi hanya perempuan parasit sepertimu. Fase hubungan laki-laki semacam Regan itu pasti sama. Sekalinya dia bosen, dia akan buang barang itu. Jadi lebih baik kamu mundur sekarang daripada harus sakit hati di akhir.”
Tbc.