"Halo, Ozan!" Serkan menyapa Ozan saat temannya itu menerima panggilannya.
"Halo, Serkan!"
"Ozan, tadi Ayaz sudah menghubungiku. Dia bilang baik-baik saja dan dia sudah kembali ke Villa," kabar Serkan.
"Seriusan?" Terdengar suara Ozan yang terkejut sekaligus senang.
"Iya. Aku juga kaget, aku pikir Sevda yang menelpon tapi ternyata Ayaz. Kami belum mengobrol banyak sih, tapi setidaknya kami sudah tahu kalau mereka baik-baik saja sekarang."
"Jadi yang menemukan mereka itu tim dan polisi suruhan ayahmu?" tanya Ozan lagi.
"Aku juga tidak tahu."
"Oh iya, bukannya katamu Sevda juga memblokir nomormu?"
"Tadinya iya. Tapi mungkin Ayaz meminjam handphone-nya jadi dia membuka blokirannya. Tapi aku nggak ngerti, kenapa Sevda sampai memblokir kita semua?"
Ozan terdiam. Agaknya ia menyesal lantaran telah memancing soal Sevda yang memblokir nomor sehingga Serkan mempertanyakan perihal alasan tersebut.
"Ozan, kenapa kau diam saja?" tanya Serkan sekali lagi. "Apa ada sesuatu yang kalian sembunyikan dariku, kan? Ozan ada apa sebenarnya?"
"Umm… itu … ini hanya masalah pribadi Sevda," jawab Ozan seadanya.
"Kalau masalah pribadi kenapa kita sampai diblokir? Apa kita sudah menyakiti perasaannya tanpa sengaja?"
"Mungkin saja. Aku tidak tahu Serkan. Ini urusan Cansu dan Oyku. Sebaiknya kita tidak perlu ikut campur." Ozan mencoba mengalihkan perhatian. "Ya mungkin Sevda lagi marah sama mereka berdua, dan takut mereka berdua menghubunginya makannya dia memblokir kita agar Cansu dan Oyku tidak punya akses untuk menghubunginya. Mungkin seperti itu."
Serkan tampak mencerna perkataan Ozan, menggaruk-garuk pelipis dengan ujung telunjuknya.
"Sudahlah, Serkan. Nanti kita selesaikan masalah ini jika mereka sudah kembali bersama kita. Sebaiknya kau minta tim suruhan ayahmu untuk menjemput Sevda dan Ayaz pulang."
"Oke, Ozan. Kalau begitu aku tutup teleponnya!"
"Oke!"
Telepon terputus.
Serkan menggengam ponsel pintarnya tersebut dengan tangan kanan dan memukul-mukulkannya di telapak tangan kirinya, sembari memikirkan sesuatu.
"Pasti ada sesuatu yang mereka sembunyikan. Ini bukan sesuatu yang kebetulan. Kalau Ayaz pergi karena marah dengan Paman Mehmet, Sevda juga pasti punya alasan untuk pergi." Serkan bergumam sembari mengangguk-angguk. "Aku coba hubungi dia lagi."
***
"Nona Penyihir!" Ayaz mengetuk pintu kamar Sevda, hendak mengembalikan ponselnya. Berkali-kali ruas jaringannya berbenturan dengan pintu tersebut, tetapi belum mendapat respon.
"Kemana Si penyihir itu? Apa dia sudah tertidur?"
Kembali pria itu menggedor dengan suara yang lebih keras.
"Dasar koala! Kurasa dia benar-benar tidur sampai telinganya tuli!"
Brak!
Ayaz terpaksa mendobrak pintu tersebut, dan sialnya ternyata tidak dikunci.
"Kenapa kau tidak bilang kalau kau tidak dikunci! Dasar pintu sialan! Udah jelek nyusahin lagi!" Pria itu mengamuk pada pintu yang sama sekali tak bisa meresponnya.
Lantas kedua manik cokelat terangnya itu melirik ke arah ruang kamar tersebut. Kosong tak ada penghuninya.
"Ke mana gadis penyihir itu?" gumam Ayaz, mulai melenggang masuk lebih dalam lagi.
"Apa dia sedang berkunjung ke alam lainnya?"
Pria itu bergerak ke arah nakas, meletakkan ponsel milik Sevda di permukaan meja kecil itu. Hendak berbalik tiba-tiba terdengar suara kenop pintu yang dibuka. Suara itu bersumber dari kamar mandi.
Ayaz terus memperhatikannya.
Pintu terbuka, memperlihatkan Sevda yang baru saja habis mandi. Kimono warna lavender yang dikenakannya masih tampak basah serta rambutnya digelung di atas.
Sevda menjerit sejadi-jadinya.
"Aaaa!"
"Aaaa!" Ayaz ikut menjerit sembari membungkam telinganya.
"Ada apa? Apa ada hantu?!"
"Kau hantunya!" timpal Sevda ketus. "Kenapa kau ke sini? Kau mengintipku lagi mandi?"
"Sembarangan!" kilah Ayaz tak terima.
"Lalu?"
"Aku hanya mau mengembalikan handphonemu saja!" kata Ayaz.
"Omong kosong! Lalu kenapa kau masih mematung di situ? Cepat pergi!" usir Sevda sembari menunjuk ke arah pintu keluar.
"Iya … iya … cerewet! Kau pikir aku sudi dekat-dekat denganmu!" bantah Ayaz. Mulutnya itu mengatakan keburukan, tetapi kedua matanya tak pindah tempat dari sosok gadis di depannya. Memandangi tubuh indah gadis itu dari ujung kaki hingga kepala.
Sevda memicingkan mata ke arahnya.
Ayaz bergerak hendak keluar.
"Dasar pria pengintip!" hardik gadis itu.
"Jika kau masih saja mengejekku aku tidak akan pergi dari sini!" Ayaz berkata ketus.
"Kau memang benar-benar…." Sevda maju selangkah dengan telunjuk yang diarahkan pada Ayaz. Belum sempat menuntaskan amukannya, kaki gadis itu terpeleset hendak jatuh.
Dengan sigap Ayaz mencoba menolongnya. Berniat menarik lengan gadis itu tetapi malah tali handuk kimono yang ia dapatkan. Alhasil pria itu salah sasaran dan terlanjur menarik tali tersebut hingga ikatan di pinggang kimono milik gadis itu terbuka, membuat isi dalamnya sedikit terekspos.
"AAA!!!" Sevda menjerit sejadi-jadinya.
Namun Ayaz belum sadar akan hal itu, ia memilih menarik lagi tangan Sevda, membawanya dalam pelukan. Gelungan rambut Sevda terlepas, sehingga rambut panjang gadis itu terurai. Tangan Ayaz berpindah pada pinggang ramping Sevda dan merapatkan ke tubuhnya. Sementara tangan Sevda menyentuh d**a bidang pria itu.
Sevda menatap wajah pria tampan di depannya dengan perasaan gemetar. Sedangkan Ayaz terus memperhatikan wajah gadis di depannya yang ketakutan.
Aroma sampo dan sabun yang melekat di tubuh Sevda menyeruak memasuki rongga hidung Ayaz. Mendadak membuat pria itu menjadi candu. Ayaz meneguk ludah, memperhatikan butiran air yang jatuh dari rambut Sevda dan mengalir pelan menjelajahi pipi mulus gadis itu.
Kedua pasang mata indah mereka saling menumbuk satu sama lain, dengan kedua tubuh yang hampir melekat. Namun hal itu tak berlangsung lama lantaran suara dering ponsel mengganggu adegan romantis tersebut.
Sevda mulai tersadar. Melirik ke tubuhnya yang sedikit terbuka. Gadis itu buru-buru menutup kimononya dan mendorong tubuh pria di depannya begitu saja.
"Aarghh!" Ayaz terjungkal menimpa lantai.
Sevda membalikkan tubuh dengan gugup. Membenarkan handuk kimononya dan mengikat tali pinggangnya kembali.
"Ayaz, cepat pergi dari kamarku!" perintah gadis itu dengan nada meninggi.
Suara dering ponsel masih membising. Sevda mendesis, berjalan menuju nakas, melewati Ayaz yang mencoba membangunkan tubuhnya.
Gadis langsing itu mengambil ponselnya. Kedua matanya menjadi sebesar piring kala melihat nama si pemanggil.
"Serkan?" Sevda meneguk ludah usai mengumandangkan nama tersebut.
"Bagaimana dia bisa meneleponku?"
Gadis itu membalikkan tubuh. Memandang ke arah Ayaz yang hendak keluar kamar.
"Tuan Gletser, tunggu!" ucapnya menghentikan langkah pria itu.
Pria bertubuh jangkung itu menoleh.
"Serkan menghubungimu!" ujar Sevda sembari menyodorkan ponsel.
Ayaz mengerling heran. Tanpa sepatah kata ia kembali melangkah mendekati gadis itu. Menerima ponsel itu dan berbalik.
Sevda memandangi punggung pria itu sembari menguping pembicaraannya.
"Iya, Cousin, ada apa?"
"Cousin, kau kah itu? Sevda di mana?" tanya Serkan, sedikit membuat Ayaz terkejut.
"Sevda?" Ayaz mengerutkan keningnya dengan alis terangkat.
"Aku ingin berbicara dengannya sebentar. Bisa kau berikan handphone-nya padanya?"
Ayaz masih kebingungan, alasan kenapa Serkan ingin berbicara dengan gadis itu. Tetapi ia tak mau ambil pusing dan memutar tubuh, menyodorkan ponsel ke arah Sevda.
"Serkan ingin berbicara denganmu!"
Kedua mata Sevda langsung membulat dengan wajah yang memerah. Tangannya melambai-lambai dengan kepala menggeleng, menandakan gadis itu menolaknya.
Ayaz mengerling. "Cepat ambil ini!" perintahnya.
Sevda berbicara tanpa suara. "Tidak mau!"
"Kenapa?" tanya Ayaz pelan.
"Sudah kubilang aku tidak mau!" bisik Sevda ketus.
"Terus aku harus bilang apa sama Serkan?"
"Bilang saja kalau aku lagi di kamar mandi."
"Jangan mengada-ada cepat ambil handphone-mu ini!"
"Ayaz, singkirkan. Jangan dekat-dekat denganku, nanti suaraku bisa terdengar oleh Serkan!" Sevda menjauh mendekati ranjang.
"Halo, Ayaz! Kau masih di sana?" Suara Serkan terdengar bertanya.
"Sevda, cepat!" Ayaz masih membujuk gadis itu.
"Aku bilang aku tidak mau! Katakan padanya aku sedang tidur!" Sevda naik ke atas ranjang dan membaringkan tubuhnya. "Aku sedang tidur, oke?" imbuhnya lantas memejamkan mata dengan memasang wajah seimut mungkin.
"Gadis itu benar-benar ratu drama!" gerutu Ayaz.
"Halo, Cousin!"
"Ah, iya, Cousin!" Ayaz kembali menempelkan benda pipih itu di daun telinga. "Umm… sebenarnya Sevda lagi di kamar mandi. Kau tahu, dia habis kecebur got. Wajah hitam seperti arang. Kau tahu, rambutnya itu jadi lumpur. Baunya bau anyir. Pokoknya wajahnya jelek sekali. Penyihir aja kalah," kata Ayaz bergurau.
Sevda yang mendengarnya langsung bangkit. Memicingkan mata penuh emosi ke arah Ayaz. "Sembarangan!" ucapnya pelan. Mengambil bantal dan melemparkannya ke arah Ayaz.
Ayaz menangkisnya. "Kau tahu, Serkan. Kulit gadis itu menjadi bersisik seperti ikan koi. Mulutnya menjadi lebar seperti kudanil. Kau pernah lihat kudanil kalau lagi mangap kan? Kulkas aja muat, apalagi manusia. Sebaiknya kau jangan dekat-dekat dengannya. Bahaya! Bisa dilahap habis kau nanti!"
"Pria itu berengsek benar-benar suka membual" Sevda meremas sprei kasur. Mengambil guling dan bantal yang tersisa kemudian melemparkannya ke arah Ayaz.
Ayaz menghindar sebisa mungkin. Sesekali menjulurkan lidah mengejek Sevda.
Sevda berdiri di atas kasur. Berkacak pinggang dengan wajah berapi-api.
"Haha!" Terdengar gelak tawa Serkan dari seberang sana. "Kau ada-ada saja, Ayaz. Kau tidak capek selalu mengejek Sevda? Kasihan dia."
"Gadis menyebalkan seperti dia itu tidak perlu dikasihani," timpal Ayaz.
"Hentikan omong kosongmu atau ku lempar kau dengan lampu ini?" ancam Sevda sembari berbisik, berniat mengambil lampu meja di atas nakas.
"Baiklah… baiklah … tidak lagi." Ayaz letih tertawa dan bergerak ke arah ranjang. Duduk di pinggiran sana.
Sevda mendesis. "Menyebalkan."
"Cousin, memangnya apa yang ingin kau bicarakan dengan Sevda?" tanya Ayaz kemudian.
Sevda yang penasaran mulai mendekatkan kepalanya pada kepala Ayaz. Menguping pembicaraan mereka.
"Umm… ini rahasia. Karena kalau kau tahu, pasti kau akan mengejeknya lagi nanti."
"Ayolah katakan saja padaku, nanti aku sampaikan padanya."
"Kau tidak akan berulah lagi dengannya, kan?"
"Cepat katakan saja. Kau mulai banyak bicara seperti dia!" keluh Ayaz.
Sevda langsung menoyor kepala Ayaz saat tahu kalau pria menyindir dirinya.
"Sebenarnya aku hanya ingin bertanya kenapa dia memblokir nomorku dan teman-temannya. Ada masalah apa sebenarnya?" Pertanyaan Serkan sukses membulatkan kedua mata Sevda. Gadis itu meneguk ludah, langsung menjauhkan kepala dari Ayaz.
Ayaz menatapnya. Menaikkan kedua belah alisnya penuh arti. Lantas mendekatkan wajahnya pada wajah Sevda.
"Ayo jawab, kenapa kau memblokir mereka?" Ayaz berbisik tepat di telinganya.
Sevda menyingkirkan kepala pria itu dari hadapannya, dengan wajah ketus.
"Sevda memblokir kalian? Parah sekali. Itulah ciri-ciri kalau orang sombong. Sukanya memblokir orang. Lihat saja, pasti nanti kalau meninggal namanya diblokir dari surga!" seloroh Ayaz sekenanya.
Serkan terdengar tertawa. "Haha!"
Sevda yang ngamuk langsung mendorong tubuh Ayaz hingga terjungkal ke lantai.
"Aduh … dasar kau gadis sialan!" Ayaz mengaduh.
Sevda membungkam mulutnya dengan kedua mata berkedip. Lantas mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah membentuk huruf 'V' dan berkata pada Ayaz dengan suara pelan, "Maaf!"
"Ayaz, kau kenapa? Kau jatuh?" tanya Serkan panik.
"Aku tidak apa-apa, Serkan. Hanya mengguling dari kasur saja," jawab Ayaz, sembari melirik tajam ke arah Sevda.
"Terus, kenapa kau bilang tadi gadis sialan?" Pertanyaan Serkan membuat Ayaz meneguk ludah.
Sementara di atas sana Sevda memohon-mohon untuk jangan mengatakan sesuatu tentangnya.
"Umm… itu karena Sevda! Yah, karena membicarakan soal Sevda aku jadi terjatuh," kata Ayaz beralasan.
Serkan tertawa. "Haha! Itu karma karena suka mengejek orang," cerca Serkan.
Ayaz mendesis. Menggeser tubuh ke arah kasur, lantas menyandarkan punggungnya di pinggiran kasur tersebut. Sedva mendekat, kembali menguping pembicaraan.
"Ayaz, cepat bersiap dan kasih tahu Sevda juga! Tim suruhan Papa akan menjemput kalian dan mengajak kalian kembali ke Istanbul," kata Serkan.
"Tim suruhan Paman?" Ayaz mengerling heran.
"Jadi kemarin Papa mengerahkan tim pencarian, detektif, dan polisi untuk mencari kalian berdua."
Ayaz langsung teringat akan sekelompok polisi tadi saat ia bersembunyi. "Oh … jadi … polisi itu suruhan Paman? Kau tahu, aku sampai bersembunyi. Aku kira itu pemilik kapal yang memanggil polisi untuk menangkap kami."
"Tungu … tungu … kenapa kau berpikir polisi itu mau menangkap kalian?" tanya Serkan penasaran.
"Sebenarnya, saat itu aku marah dan naik kapal. Aku tidak tahu kalau di dalam kapal itu juga ada siluman ikan koi!" kata Ayaz.
"Siluman ikan koi?"
"Itu Si Sevda!" ucap Ayaz.
Sedva langsung menjewer telinga kiri Ayaz.
Pria itu tak acuh dan melanjutkan ceritanya. "Aku mengemudikan kapal itu. Sevda muncul dan kami berdebat. Lalu kami memutuskan untuk mencari udara segar dengan kapal itu. Tanpa sadar kami membawa kapal itu semakin jauh. Lalu kau tahu apa setelah itu?"
"Apa?"
"Si gadis pembuat masalah itu dengan segala kebodohannya, dia membuang kunci kapal ke laut!"
"Sevda membuangnya?" Dari suara Serkan terdengar kalau pria itu syok.
"Iya. Sangat bodoh sekali bukan? Kerbau saja kalah bodoh sama dia, apalagi keledaii!"
Sevda langsung menjambak pria itu dengan mata melotot.
"Terus-terus bagaimana?" tanya Serkan lagi.
"Kami berdebat panjang lebar. Malam tiba dan kami tertidur. Lalu badai datang dan membawa kapal kita ke sebuah pulau. Paginya aku kaget saat sudah berada di pulau tak berpenghuni. Kau tahu, Serkan. Semuanya sangat menyiksa. Aku harus memancing untuk mengisi perut, tidur di pasir, apalagi ditemani penyihir. Sungguh benar-benar menyebalkan!"
"Penyihir?" Serkan terdengar bertanya.
"Kau masih saja bertanya, tentu saja gadis bernama Sevda!" timpal Ayaz.
Sevda langsung menoyor kepala Ayaz. Emosi dalam dirinya sudah meronta-ronta. Ingin sekali meluapkan amarahnya pada pria itu, tetapi ia harus bungkam untuk saat ini karena ia takut Serkan mendengar suaranya.
"Ayaz, boleh aku katakan sesuatu padamu?" Suara Serkan kembali terdengar.
"Apa?" jawab Ayaz malas.
"Sebaiknya kau jangan terlalu membenci Sevda, karena pepatah mengatakan yang awalnya benci akan jatuh cinta!"
"Apa kau bilang? Aku jatuh cinta dengan siluman ikan koi itu? Haha! Tidak mungkin. MUSTAHIL!!!"
"Kau pikir aku mau jatuh cinta dengan pria batu sepertimu!" timpal Sevda dengan berbisik.
"Kau mendengar sesuatu Serkan? Tadi seperti ada suara-suara gaib yang berbisik-bisik," ejek Ayaz.
"Ah, masa sih?"
"Iya, suaranya buruk sekali seperti cerobong asap!"
Sevda mengumpat dalam hati. Kau benar-benar berengsek, Ayaz!
Ayaz menahan tawa.
"Cousin, sudah, ya! Nanti aku akan menghubungimu lagi kalau handphone-ku sudah tidak rusak lagi. Aku tidak mau terus-terusan menggunakan handphone si penyihir ini, dia pelit sekali!" Ayaz memang selalu punya cara untuk mengejek Sevda.
"Oke!"
"Tolong beritahu Paman Sinan untuk menyuruh semua tim dan polisi suruhannya itu untuk kembali saja. Saat ini aku belum mau pulang," kata Ayaz.
"Kenapa?"
"Serkan … mengertilah. Kau tahu kan kenapa aku sampai marah sehingga aku tersesat di pulau."
"Baiklah, aku mengerti. Tapi jaga dirimu baik-baik, ya! Kabari aku apa pun yang terjadi. Dan ya, tolong kasih tahu Sevda untuk tidak memblokir nomorku selagi ponselmu masih belum berfungsi," tutur Serkan.
Ayaz mengangkat kepalanya tepat di wajah Sevda. "Kau dengar itu, Nona ikan koi!" bisiknya dengan nada menyindir.
Sevda mendorong wajah pria itu dengan ekspresi mendongkol.
"Oke, Serkan. Sampai nanti!"
"Tunggu, Ayaz! Aku hanya ingin mengatakan kalau ayahmu sangat mencemaskanmu. Dia sangat sedih terhadap kondisimu dan dia menginginkanmu cepat kembali."
"Kau merusak mood-ku, Serkan. Kau tahu, aku tidak peduli sama sekali. Oke? Sampai jumpa!" Ayaz mematikan panggilannya dengan sedikit kesal. Lantas melempar ponselnya ke belakang begitu saja.
Sevda langsung naik pitam.
"Apa kau sudah tidak waras? Bagaimana kalau nanti ponselku jatuh ke lantai dan pecah!" amuk gadis itu. Akhirnya ia bisa meluapkan amarahnya dengan suara lantang.
"Aku tidak peduli!" Ayaz menyemburkan napas dan membangkitkan tubuhnya berdiri.
Sevda menganga dengan kepala menggeleng tak habis pikir. "Kalau kau meminjam ponselku lagi, aku tidak sudi meminjamimu! Kau dengar itu?!" ujarnya sembari menunjuk-nunjuk ke arah Ayaz.
"Terserah!" ujar Ayaz tanpa peduli.
"Dasar Lucifer!" umpat Sevda.
Ayaz melenggang menuju pintu.
"Ayaz, tunggu! Kenapa kau sangat marah saat Serkan mengatakan kalau ayahmu mencemaskanmu?" tanya Sevda.
"Bukan urusanmu!" jawab Ayaz dingin lantas melenggang keluar pintu, sembari membanting daun pintu tersebut dengan sangat keras.
"AYAZ NAVRUZ!!!" Sevda berteriak geram, mengepalkan kedua tangan geregetan dengan kaki berjingkrak di atas kasur.