"K-kau…?" Sevda tertegun menyadari lelaki pemilik kapal yang kini berdiri di depan pintu Villa-nya.
Gadis itu buru-buru hendak menutup pintu Villa tersebut tetapi tangan si lelaki itu menghalanginya.
"Kau bisa tidak bisa sebelum tanggung jawab!" Suara lelaki berbadan buncit menggelegak membuat Sevda meneguk ludah ketakutan.
"A-aku…." Gadis itu benar-benar gemetaran tak bisa mengucap sepatah kata dengan jelas.
"Di mana kekasihmu itu?!" tanya lelaki itu tiba-tiba.
Jidat Sevada semakin bertambah kerutannya. "K-kekasih?"
"Pria yang bersamamu kemarin yang sudah mencuri dan membuat kapalku rusak!" kata lelaki itu.
"Oh… itu bukan kekasihku!" jawab Sevda begitu saja.
"Aku tidak peduli! Cepat panggil ke sini!" perintahnya dengan suara mengintimidasi.
"I-iya… sebentar!" Sevda menutu