00.36 Waktu Inggris
Clak!
Rolfie yang masih mengerjakan beberapa dokumen di depan komputernya langsung menoleh ketika pintu kamarnya dibuka tiba-tiba tanpa diketuk.
"Key, kamu kenapa baru pulang, ini..."
"Diem! Nggak usah banyak nanya!" Key memotong ucapan suaminya dengan kalimat dan nada pedas melebihi cabai.
Ia nampak sempoyongan, beberapa kali kedapatan memijat-mijat pelipisnya, ia terlihat pusing, bahkan ketika berjalan sebelum akhirnya duduk di atas ranjang, ia meraba dan berpegangan pada dinding.
Rolfie menghampiri istrinya itu, menutup pintu kamarnya yang belum sempat ditutup oleh Key, lalu dengan segenap kesabaran yang ia kumpulkan, duduk di sebelah istrinya.
Baru saja Rolfie ingin bertanya dari mana Keyrina, tapi ada hal lain yang membuat emosinya lebih dulu terpancing. "Kamu bau parfum cowok," kata Rolfie.
Benar, beberapa waktu lalu memang Key sempat menggunakan body mist milik Aston sebelum pulang. Niatnya ingin menghilangkan aroma alkohol di tubuhnya, tapi ia lupa bahwa suaminya kelewat cerdas dalam hal menelik seperti ini.
"Parfum doang," balas Key enteng.
"Pasti punya si Aston Aston itu kan? Kamu abis ngapain sama dia?"
"Bukan urusan kamu ah."
"Jelas urusan aku lah! Kamu istri aku, Key."
Keyrina diam, kembali memijat pelipisnya.
"Bayi di perut kamu," ucap Rolfie kemudian. "Anak aku atau Aston?" lanjutnya cepat.
Keyrina langsung menoleh menatap Rolfie sinis, lalu secepat mungkin, menampar laki-laki itu.
"Lo pikir gue sebangsat itu apa sampe bisa-bisanya punya anak dari cowok lain?!"
"Nggak gitu maksudnya Key. Aku cuma...
"Gue selingkuh juga tau aturan. Lo bisa-bisanya nuduh gue dipake sama Aston gitu?!"
"Key, sayang, aku nggak ngomong gitu."
Key langsung berdiri dari duduknya dan menepis sentuhan tangan Rolfie. Dalam langkahnya yang sempoyongan, ia berusaha berjalan dan membuka pintu, namun ia jatuh. Rolfie secara sigap langsung membantu Key berdiri, meskipun balasannya adalah tepisan yang lagi-lagi memerintah Rolfie untuk menjauh.
"Kamu mau kemana? Istirahat aja di sini," kata Rolfie.
"Diem lo!"
"Kamu mabok lagi ya?"
Key menatap sinis Rolfie setelahnya. "Iya!"
Key berusaha bangun dari jatuhnya, berpegangan pada dinding, ia akhirnya berdiri.
"Kamu mau kemana sih? Istirahat aja dulu, kamu masih pusing itu," kata Rolfie.
Namun Key terus berjalan, tetapi jatuh lagi. Dan untuk kedua kalinya, Rolfie sigap membantunya berdiri. "Kamu mau kemana, Key?"
"Mau ke rooftop!"
Key akhirnya bangun dipegangi Rolfie, ia berusaha menepis, namun genggaman Rolfie jauh lebih kuat. "Udah lo sana! Gue sendiri aja bisa!" kata Key.
Rolfie enggan menjawab, karena ia tau, pasti hanya tolakan yang akan Keyrina berikan. Disela bungkamnya, Rolfie masih saja memegangi tubuh istrinya itu, menuruti maunya untuk tiba di rooftop.
Sesampainya di atas sana, Key sekuat tenaga menepis tangan Rolfie dan mencoba berjalan sendiri, namun ia jatuh lagi.
"Hati-hati, kamu lagi hamil," kata Rolfie sembari kembali membantunya berdiri.
"Bentar lagi juga gugur."
"Key, jangan ngomong sembarangan."
Key mengacuhkan omongan suaminya dan duduk di atas permukaan rooftop yang paling dekat dengan sisian rooftop tersebut. Membuatnya makin leluasa melihat ke depan ataupun ke bawah.
Rolfie menghela napas panjang sebelum akhirnya memutuskan untuk duduk tepat di sebelah Keyrina. Ia menoleh sejenak ke arah wanita itu yang sama sekali tidak memandang balik ke arahnya. Perlahan, dengan segenap kesabaran dan kasih sayang, satu tangannya ia rangkulkan di bahu istrinya.
Key menolak, menepis tangan itu dan mendorong Rolfie untuk bergeser menjauh dari dirinya, memaki-maki Rolfie kembali dan menyuruhnya untuk turun meninggalkan Key sendirian.
Itu yang awalnya Rolfie pikir. Tapi betapa kagetnya ia ketika ternyata Keyrina sama sekali tidak memberontak mendapati rangkulan suaminya. Jika saja Key tau, Rolfie tersenyum sekecil mungkin agar tidak dilihat.
Rolfie mengeratkan rangkulan itu, mengelus pelan pundak Keyrina yang rapuh dengan sentuhan hangat yang menyalurkan cinta.
"Maaf soal yang tadi, aku nggak maksud ngomong gitu," kata Rolfie.
"Lo harus inget, gue nggak pernah sekalipun dipake sama cowok lain!" ketus Key.
Rolfie hanya mengangguk dan mengiyakan. Meskipun sejujurnya ia tak setuju ketika tadi Keyrina mengatakan bahwa dirinya masih tau aturan untuk berselingkuh. Jika saja Rolfie berani menghentak, ia akan mengatakan bahwa sama sekali tak ada aturan dalam berselingkuh. Sebaik apapun kamu mencoba b******u mesra dengan orang lain ketika kamu sendiri adalah milik orang lain, itu adalah perlakuan yang salah dan b******k. Waktu di mana Keyrina menampar Rolfie beberapa menit tadi, itu juga kesalahan. Lagi, jika saja Rolfie berani menghentak, ia yang sebenarnya berhak bahkan perlu untuk menampar Keyrina.
"Kamu ngapain sih mabok-mabokan lagi? Kamu inget, kamu lagi hamil," kata Rolfie.
"Urusan gue!" kata Key sembari menatap Rolfie tajam. "Gue mabok juga nggak pake duit lo!"
"Iya tapi kan...
"Bukan urusan lo!"
"Jelas ini semua urusan aku, aku kan...
"Apa?! Hah?! Lo apa?! Suami gue? Ayah dari bayi di perut gue?" potong Key sebelum Rolfie menyudahi bicaranya. "Sekali lagi lo ngomong gitu, gue minta pisah!"
Rolfie bungkam. Entah harus melawan dengan kalimat bagaimana lagi.
Di menit berikutnya, disela diamnya mereka berdua, Keyrina yang masih mengenakan sling bag di bahunya, mengeluarkan sesuatu. Tak usah menebak, sesuatu itu adalah rokok dan korek.
"Kamu udah mabok nggak usah ngerokok juga, Key," peringat Rolfie.
"Gue bilang lo diem!"
"Kamu lagi hamil, nanti kalo bayi kita kenapa-napa giman...
Fiyuhh!
Kebulan asap putih itu lebih dulu mengudara di hadapan wajah Rolfie sebelum dirinya selesai bicara.
Keyrina justru terkekeh pelan sesaat setelah menghembuskan asap rokok itu, lalu kembali menatap pemandangan malam di hadapannya.
Ia tertawa-tawa tidak jelas, padahal tidak ada yang lucu sama sekali, yang ada justru memprihatinkan.
"Duh, gila ya, kayaknya baru kemaren gue mainan berbi, sekarang udah mau punya anak dua aja," gumamnya, lalu menghembuskan asap lagi, dan tertawa lagi.
Rolfie diam, tak mengerti apa yang Keyrina bicarakan. Topik mereka dari tadi adalah soal mabuk, lantas tiba-tiba Key membahas hal yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan semua itu.
Ah, harusnya Rolfie ingat bahwa istrinya tengah mabuk.
"Tadi di club tuh ya ada yang ketumpahan minuman. Bartendernya nggak sengaja katanya," Key tertawa tidak jelas lagi. "Bartender t***l!" ujarnya, lalu rokoknya kembali menghembus.
Sehabis bicara dan tertawa-tawa tidak jelas, Keyrina tiba-tiba menangis. Rolfie hanya menghela napas, sudah sangat wajar dan maklum dengan sikap random seperti ini.
Rolfie tak banyak bicara, ia hanya terus merangkul pundak istrinya agar tidak jatuh. Tanpa penolakan, lalu perlahan-lahan, tubuh ideal Key ia tarik jatuh ke dalam dekapannya. Kepala Key yang ditumbuhi rambut panjang berada tepat di d**a Rolfie, berharap Key perlahan tenang mendengar degup jantungnya yang stabil.
"Sssttt, jangan nangis," kata Rolfie sembari mengusap pundak Key.
Tapi yah namanya orang mabuk, tidak mungkin mengindahkan ucapan siapapun di sekitarnya. Key masih saja menangis, dengan batang rokok yang terapit di kedua jarinya namun belum lagi dihisap.
"Gue mau pulang," kata Key nanar.
"Pulang kemana sayang? Kita udah di rumah."
"Gue mau pulang."
"Key...
"Gue mau kak Richard! Bawa gue ke kakak!"
"Key, kak Richard kan udah nggak ada."
"Gue mau kakak!"
Rolfie dengan sabar mencoba bicara baik-baik untuk mengingatkan bahwa kak Richard sudah tidak ada.
"Gue mau papa! Gue mau mama!"
Rolfie diam. Lagi-lagi, entah harus menjawab apa pada Key.
Key sendiri, ia yang tadi bersedih kini kembali tertawa-tawa tidak jelas. Bicara banyak yang sejujurnya sama sekali tidak penting dan tidak ingin Rolfie dengar.
"Gue mau vodka, mau whiskey," katanya lagi lalu tertawa, dan kembali menghisap rokoknya.
Rolfie entah yang keberapa kalinya kembali menghela napas. "Key, udah ya. Lain kali nggak usah minum-minun lagi, nggak baik. Kamu lagi ham...
"Ssst sstt sstt!" potong Key lagi dengan desisan yang memerintah Rolfie untuk bungkam. "Lo diem aja!"
"Aku nggak bisa diem aja kalo kamu begini."
"Gue bilang lo diem aja."
"Tapi Key...
"Lo diem aja kalo lo masih mau ada di sini."
Sontak, ucapan itu membuat Rolfie diam setelahnya. Ia tak mungkin menjauh dari Key dan meninggalkan gadis itu sendirian di atas sini. Ia harus tetap bersama Key, menghindari bahaya yang bisa saja terjadi di kala gadis itu mabuk seperti ini. Mau tak mau ia diam, menuruti perintah istrinya barusan.
Rolfie yang bungkam terus mengelus pundak Key yang rapuh. Tubuh Key yang masih tersandar dalam dekapannya pun kian menenang. Ocehannya tidak lagi banyak, rokoknya yang sedari tadi menghembuskan asap di wajah Rolfie pun tak kembali ia hisap.
Ditemani semilir angin malam yang menenangkan dan juga pemandangan kota London dari atas ini membuat Rolfie sedikit demi sedikit mengisi kembali kesabarannya. Disela elusan penuh cinta yang ia berikan pada Keyrina, diam-diam, air matanya turun. Tanpa aba-aba. Tanpa suara. Menetes begitu saja dan langsung dihapus sepersekian detik setelahnya.
Berselang puluhan menit berlalu, tak ada aksi ataupun ucapan yang kembali Key lontarkan. Gadis itu tiba-tiba diam begitu saja. Rolfie menurunkan wajahnya sedikit, mencoba memandang gadis cantiknya, dan ternyata Key terlelap.
"Key," panggil Rolfie dengan suara sangat pelan hingga bahkan mungkin semut yang lewat pun tidak bisa mendengarnya.
Rolfie menghela napas pelan, dan tersenyum sedikit, amat sangat sedikit, ia lalu perlahan melepas batang rokok dari apitan jemari Key, ia buang, lantas kemudian ia menggendong gadisnya itu untuk selanjutnya ia bawa ke kamar dan ia rebahkan di atas ranjang.
Gendongan bridal style yang Rolfie lakukan pada Key membuatnya kembali mengingat lima tahun lalu, awal pernikahan mereka, dimana Rolfie menggendong Key dengan gaya yang sama untuk bisa tiba di kamar pengantin pada malam pertama.
Hari ini ia lakukan lagi, dengan suasana dan kondisi yang berbeda. Namun masih dengan rasa cinta yang sama.
***