Lonceng kecil di atas pintu kayu kafe Lukas Becker berdenting pelan. Suaranya langsung tenggelam oleh deru angin musim dingin yang ikut menyelinap masuk, membawa sapuan salju kotor ke atas lantai.
Begitu melangkah masuk, Maximilian langsung disambut hangatnya uap kopi, aroma panggangan kue kayu manis, dan wangi cengkih yang pekat. Tapi, perubahan suhu yang drastis itu sama sekali tidak membuat ketegangan di pundaknya mengendur. Pelipis kirinya masih berdenyut hebat. Ancaman Kakek Heinrich tadi seperti kaset rusak yang terus berputar di dalam kepalanya, bikin migrainnya makin parah.
Max melepas kacamatanya, mengambil kain mikrofiber dari saku mantel untuk menyeka embun di lensa, lalu mengedarkan pandangan. Kafe tua itu hampir kosong. Cuma ada dua pelanggan di sudut dekat jendela yang tampaknya terjebak karena transportasi umum lumpuh akibat badai. Di balik meja bar, Lukas Becker sedang sibuk mengelap mesin espresso yang mendesis pelan.
Lukas mendongak. Melihat pria dengan mantel wol hitam berpotongan mahal di depan pintu, dia tahu tamu ini bukan mahasiswa biasa yang cuma numpang Wi-Fi gratis.
"Selamat malam, Tuan. Silakan pilih meja mana saja yang nyaman," sapa Lukas ramah namun tetap sopan. "Pelayan kami akan segera ke sana."
Max hanya mengangguk samar. Langkah kakinya yang dibungkus bot kulit mahal terdengar mantap di atas lantai. Dia sengaja memilih meja paling sudut di bagian belakang yang agak remang-remang. Posisi strategis dia bisa mengawasi seluruh ruangan tanpa harus terganggu oleh pandangan orang lain.
Max mengenyakkan tubuhnya di kursi kayu, lalu memejamkan mata sambil memijat pangkal hidungnya yang terasa kaku. Otaknya benar-benar butuh asupan kafein dosis tinggi sekarang.
Bagaimana bisa orang-orang pintar di dewan direksi membuat aturan sekonyol itu? Max membatin, menahan dongkol. Menikahlah dalam tiga puluh hari, atau kehilangan posisi Kepala Divisi Bedah Saraf. Logikanya menolak mentah-mentah aturan kolot yayasan keluarga yang lebih mementingkan status pernikahan ketimbang keahlian pisau bedah di ruang operasi. Tapi, dia tahu gertakan kakeknya tidak pernah main-main. Kalau dalam satu bulan dia tidak membawa seorang wanita ke kantor catatan sipil, posisi itu akan langsung disambar oleh Dr. Goertz, si muka dua.
"Selamat malam. Mau memesan apa, Tuan?"
Suara itu terdengar lembut, agak bergetar menahan dingin, dan punya aksen asing yang tipis. Tapi yang membuat Max refleks membuka mata adalah karena dia mengenali suara itu.
Max memakai kembali kacamatanya dengan gerakan tenang. Di balik lensa, sepasang mata abu-abu kebiruannya menyipit, mengunci sosok yang berdiri di samping mejanya.
Gadis ini lagi. Gadis ceroboh yang hampir mati digilas sedan hitam di persimpangan Alte Brücke tadi.
Elena berdiri kaku. Tangan kanannya meremas buku catatan kecil sampai ujung jari-jarinya memutih. Kulit tangannya yang kecokelatan tampak memerah dan agak bengkak di bagian persendian tanda jelas kalau dia terlalu lama kehujanan salju tanpa sarung tangan yang layak. Rambut hitam panjangnya diikat asal-asalan dengan karet gelang murah, menyisakan beberapa helai anak rambut yang basah oleh lelehan salju di pelipisnya.
Di bawah lampu kafe yang kekuningan, wajah Elena kelihatan pucat pasi. Kantung mata yang gelap memperlihatkan betapa kurang tidurnya gadis itu karena stres. Tapi, di balik kondisi fisiknya yang berantakan, sorot mata cokelat gelap Elena justru memancarkan sikap defensif yang keras kepala. Dia jelas kelihatan tidak suka karena harus melayani pria yang baru saja melihat momen terburuknya di jalanan tadi.
Elena mendadak kaku saat tatapan mereka bertemu. Ingatan saat tubuhnya menabrak d**a bidang pria ini untuk menghindari mobil membuat napasnya mendadak putus-putus lagi. Suasana di sudut meja itu mendadak berubah jadi tegang dan canggung.
"Kopi hitam. Pekat. Tanpa gula," ucap Max datar. Suara baritonnya memotong keheningan dengan tegas. Matanya sama sekali tidak beralih, terus mengawasi Elena yang menelan ludah dengan gugup di bawah tatapannya yang mengintimidasi.
"Baik. Kopi hitam pekat tanpa gula. Mohon tunggu sebentar," jawab Elena, berusaha seprofesional mungkin. Dia sengaja memakai bahasa Jerman yang sangat formal untuk menegaskan jarak di antara mereka, meski suaranya yang gemetar tidak bisa bohong.
Elena buru-buru berbalik. Dia ingin secepatnya keluar dari radar mata abu-abu pria itu yang rasanya seolah bisa membaca isi kepalanya. Tapi karena tubuhnya sudah terlalu kaku akibat kedinginan, gerakannya jadi tidak sinkron. Saat dia berputar, ujung apron hitamnya menyenggol sudut meja kayu.
Sentakan kecil itu berakibat fatal. Tas kain usang milik Elena yang dicantolkan di sandaran kursi bergoyang hebat, kehilangan keseimbangan, lalu jatuh ke lantai dengan bunyi gedubrak yang cukup keras.
Seluruh isi tas kainnya berhamburan. Beberapa keping koin euro menggelinding bebas dan berhenti tepat di dekat ujung sepatu bot kulit Max. Buku catatan kuliah yang penuh rumus kimia terbuka lebar di lantai, langsung basah oleh sisa salju. Dan di antara semua barang itu, sebuah buku kecil bersampul hijau tua dengan lambang garuda emas tergeletak paling dekat dengan kursi Max. Paspor Republik Indonesia.
Elena terpekik kecil, wajahnya yang semula pucat sekarang langsung memutih bersih karena panik. Dia langsung menjatuhkan diri, berlutut di lantai yang dingin tanpa peduli lututnya sakit, mencoba meraup barang-barangnya secepat mungkin sebelum Lukas Becker atau tamu lain melihat kehebohan ini.
"Maaf... maaf, saya benar-benar tidak sengaja," gumam Elena berulang kali. Bahasa Jermannya mendadak berantakan dan patah-patah karena malu setengah mati. Tangannya bergerak cepat menyambar koin dan buku catatannya.
Tapi, sebelum jemari Elena yang gemetar bisa menyentuh paspor hijau itu, sebuah tangan yang jauh lebih besar dan kokoh sudah lebih dulu memungutnya dari lantai.
Max membalik paspor itu dengan gerakan tenang. Matanya yang jeli langsung menangkap selembar kertas resmi yang terselip di halaman dalam yang agak terbuka. Itu bukan brosur kuliah. Itu surat penolakan resmi dari Ausländerbehörde yang tadi dibaca Elena di jalanan.
Kata DEPORTATION yang dicetak dengan huruf kapital tebal terpampang jelas di sana. Tepat di bawah nama lengkap Elena dan angka 14 Tagen. Dua minggu menuju pengusiran resmi.
Elena mendongak dari posisi bersimpuhnya. Napasnya memburu, dadanya kembang kempis tidak beraturan. Sepasang mata cokelat gelapnya melebar, memancarkan rasa takut sekaligus rasa terhina yang luar biasa. Dia merasa ditelanjangi. Rahasia terburuknya, aib kegagalannya bertahan di Jerman akibat kelicikan Profesor Walter, sekarang berada di tangan pria asing yang penampilannya menunjukkan kalau dia berasal dari kasta sosial yang jauh di atas Elena.
"Tolong... kembalikan dokumen itu, Tuan," bisik Elena parau. Tenggorokannya mendadak kering kerontang. Tangannya terjulur di udara, gemetar hebat antara kedinginan dan ketakutan kalau pria ini akan melaporkannya ke Lukas. Matanya memohon, tapi dia tetap menolak untuk menangis.
Max tidak langsung mengembalikan paspor itu. Dia memegangnya dengan santai, menatap lembaran kertas imigrasi tersebut selama beberapa detik. Di dalam kepalanya, otak seorang dokter bedah saraf yang terbiasa memecahkan kasus rumit di meja operasi langsung bekerja cepat. Logikanya murni melihat peluang dan efisiensi, sama sekali tidak melibatkan rasa kasihan.
Malam ini, di bawah lampu kafe yang remang, logika dingin Max mendadak menyatukan dua masalah yang saling bertolak belakang menjadi satu solusi yang pas.
Masalah pertama gadis imigran bernama Elena ini sedang di ujung tanduk. Terancam diusir dalam 14 hari karena masalah keuangan. Dia butuh jaminan hukum dan uang sepuluh ribu euro untuk tetap tinggal di Jerman.
Masalah kedua dirinya sendiri, Maximilian von Heidenberg, butuh istri sah di atas kertas dalam waktu kurang dari tiga puluh hari untuk mengamankan posisinya dari Dr. Goertz. Dia punya uang, kekuasaan, dan pengacara untuk membereskan masalah imigrasi.
Bagi Max, ini bukan lagi soal menolong orang asing yang malang. Ini adalah transaksi bisnis hitam di atas putih yang paling sempurna. Gadis di hadapannya tidak punya hubungan apa-apa dengan keluarga Haidenberg, catatan akademisnya bersih, dan yang paling penting: dia sudah sangat terdesak sehingga tidak akan punya posisi tawar untuk banyak menuntut secara emosional nanti. Bidak catur yang sempurna baru saja jatuh tepat di depan kakinya.
Sebuah senyuman tipis yang dingin terukir di sudut bibir Max.
Max mengulurkan paspor hijau itu ke bawah perlahan, sengaja menahan ujung dokumennya agar Elena harus maju selangkah kalau mau mengambilnya. Begitu jemari Elena yang beku menyentuh permukaan paspor, Max membiarkan telapak tangannya yang hangat bersentuhan langsung dengan kulit punggung tangan Elena yang sedingin es.
Sentuhan itu terasa kontras. Kulit Elena terasa kaku seperti es, sementara Max mengalirkan kehangatan tubuh yang kuat. Elena sempat tersentak kaget dan ingin menarik tangannya, tapi Max menahan pergelangan tangan gadis itu dengan cengkeraman yang pas tidak menyakiti, tapi mutlak melarangnya untuk mundur.
Max berdiri dari kursinya perlahan. Tubuh tingginya yang menjulang seketika memberikan tekanan psikologis yang berat, membuat Elena yang masih setengah berlutut terlihat semakin kecil di bawahnya. Sebelum melangkah pergi, tangan kanan Max merosot ke saku mantel, mengambil selembar kartu nama perak bertekstur mewah, lalu menjatuhkannya tepat di atas meja di hadapan Elena.
"Simpan dokumenmu dengan baik, Elena," ucap Max dengan suara bariton yang rendah, menyebut nama gadis itu untuk pertama kalinya dengan nada penuh otoritas. "Kau akan butuh dokumen itu dalam kondisi bersih tanpa cacat saat kita pergi ke kantor catatan sipil minggu depan."
Elena mendongak tidak percaya. Napasnya tercekat saat pria itu melangkah menjauh, meninggalkan meja bar begitu saja dan mengabaikan kopi yang baru saja dia pesan.