Selena selalu percaya bahwa mimpi yang besar tidak peduli dari mana asal seseorang.
Ia lahir dan besar di sebuah desa kecil yang dikelilingi hamparan sawah hijau dan jalanan tanah yang sepi. Sejak kecil, dia terbiasa hidup sederhana. Tidak ada gedung tinggi, pusat perbelanjaan, atau gemerlap lampu kota yang seringkali dia lihat di televisi. Yang ada hanyalah rumah-rumah sederhana dan suara jangkrik di malam hari
Meski begitu, Selena memiliki impian yang jauh lebih besar.
Ia ingin melanjutkan pendidikan di universitas terbaik.
Karena itulah dia belajar tanpa mengenal lelah. Setiap malam Selena menghabiskan waktu dengan buku-bukunya, ditemani secangkir teh hangat dan harapan yang tak pernah padam.
Usahanya akhirnya membuahkan hasil.
Suatu pagi, sebuah pesan masuk ke email nya.
"Selamat. Anda di terima sebagai penerima beasiswa penuh di Universitas Mahardika", salah satu universitas ternama di kota.
Selena hampir tidak percaya dengan apa yang dibacanya.
Tangannya gemetar, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Mimpinya akhirnya menjadi kenyataan.
Beberapa minggu kemudian, ia berangkat menuju kota dengan sebuah koper berisi pakaian, beberapa buku, dan tabungan yang jumlahnya tidak seberapa.
Namun euforia itu tidak berlangsung lama.
Begitu tiba di kota, Selena segera menyadari satu hal yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya.
Biaya hidup di kota sangat mahal, terutama tempat tinggal.
Selama berhari-hari ia mencari kontrakan yang sesuai dengan kemampuan keuangannya. Dari gang sempit hingga kawasan dekat kampus, dari rumah petak hingga kamar kos sederhana.
Namun harga yang ditawarkan selalu membuatnya menggeleng putus asa.
Terlalu mahal.
Saat harapan mulai menipis, Selena menemukan sebuah brosur yang tertempel di papan pengumuman dekat minimarket.
DIJUAL CEPAT! rumah dengan harga murah.
Alamatnya berada tidak terlalu jauh dari kampus.
Awalnya Selena mengira ada kesalahan pada angka yang tertera. Harga rumah itu bahkan lebih murah dibandingkan beberapa kontrakan yang sempat ia lihat.
"Mustahil, tak ada rumah di kota yang dijual semurah itu." pikirnya
Karena rasa penasaran, ia menghubungi nomor yang tertera di brosur, dan mendatangi alamat tersebut.
~
Rumah itu berdiri di ujung jalan yang sepi.
Anehnya, meski berada di tengah kota, suasana di sekitar rumah itu terasa begitu sunyi. Padahal rumah itu tidak jauh dari jalan raya.
"Kenapa rumah ini murah sekali?" tanya Selena kepada pemilik rumah.
"Oh, tidak ada apa-apa." ujarnya. Pria paruh baya itu terlihat gugup.
"Tidak ada masalah?" ujar Selena sedikit curiga.
"Tidak."
Jawaban itu terdengar terlalu cepat.
Namun Selena tidak terlalu memikirkannya. Ia sudah kehabisan pilihan.
Setelah mempertimbangkan semuanya, akhirnya ia memutuskan membeli rumah tersebut.
Mungkin ini memang keberuntungannya.
Mungkin Tuhan sedang membantunya.
Atau mungkin...
Itulah awal dari sesuatu yang akan mengubah seluruh hidupnya. Sesuatu yang bahkan tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Karena yang tidak Selena ketahui, rumah itu telah lama memiliki seorang penghuni.
Seseorang yang tidak terlihat.
Seseorang yang seharusnya sudah tidak berada di dunia ini.