Selena berdiri mematung di ruang tamu. Matanya terus menatap ke arah langit-langit rumah. Tepat ke arah loteng.
Tok...
Suara itu terdengar lagi.
Pelan.
Namun cukup jelas untuk membuat bulu kuduknya meremang.
Selena menelan ludah.
"Tenang, Selena," gumamnya mencoba menenangkan diri. "Mungkin cuma tikus."
Rumah yang lama tidak dihuni memang sering menjadi sarang tikus atau kucing.
Atau mungkin ranting pohon yang bergesekan dengan atap.
Pasti ada penjelasan yang masuk akal.
Pasti.
Meski berusaha meyakinkan dirinya sendiri, Selena tetap tidak berani naik ke loteng malam itu. Ia memilih mengunci pintu kamar dan mencoba tidur lebih awal.
Namun sepanjang malam, pikirannya terus dipenuhi suara misterius dari atas rumah.
~
Keesokan paginya, Selena terbangun dengan lingkaran hitam di bawah matanya. hampir tidak tidur sama sekali.
Setelah bersiap ke kampus, dia memutuskan untuk memeriksa loteng sepulang kuliah nanti. Apapun yang ada di sana, ia harus mengetahuinya. Dia tidak bisa terus hidup dalam ketakutan.
Hari itu kuliah terasa lebih lama dari biasanya. Dosen sedang menjelaskan materi namun Selena tidak fokus memperhatikan nya.
Pikirannya melayang ke rumahnya. Tentang loteng, tentang suara-suara aneh yang muncul dan tentang barang-barangnya yang tiba-tiba rapi sendiri.
Saat jam kuliah terakhir selesai, Selena langsung pulang.
Begitu membuka pintu rumah, ia kembali dibuat berhenti di tempat.
Rumah itu bersih, lebih bersih dari pagi tadi. Lantai ruang tamu mengilap, bantal sofa tersusun rapi bahkan sepatu yang ia tinggalkan sembarangan di dekat pintu kini berjajar lurus seperti pajangan toko.
Selena memicingkan matanya.
"Ini mulai aneh." gumamnya
Ia berjalan menuju dapur.
Dan keanehan itu semakin menjadi-jadi.
Peralayan makan yang dia tinggalkan begitu saja tadi pagi di wastafel sudah dicuci. Wastafel bahkan terlihat mengilap. Selena sangat yakin bahwa dia tidak membersihkannya pagi tadi.
Perlahan rasa takut mulai bercampur dengan rasa penasaran.
"Siapa yang melakukan semua ini?" pikirnya
~
Malam harinya, Selena memutuskan melakukan percobaan.
Ia sengaja meninggalkan buku kuliahnya terbuka di meja ruang tamu. Kemudian dia meletakkan sebuah pulpen tepat di tengah halaman.
Jika ada seseorang yang menyentuh buku itu, dia pasti akan tahu.
Setelah memastikan semuanya, Selena masuk ke kamar. Namun kali ini ia tidak tidur. Ia menunggu.
Jam menunjukkan pukul sebelas malam.
Tidak ada apa-apa.
Pukul dua belas.
Masih tidak ada apa-apa.
Kelopak matanya mulai terasa berat.
Hingga...
Krek...
Suara pintu terbuka.
Selena langsung membuka mata.
Jantungnya berdegup kencang.
Suara itu berasal dari luar kamar.
Dengan hati-hati ia turun dari tempat tidur lalu mengintip melalui celah pintu.
Ruang tamu tampak kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
Namun sesuatu membuat napasnya tercekat.
Buku yang tadi dia tinggalkan terbuka kini sudah tertutup, dan pulpennya tidak lagi berada di tengah halaman. Melainkan tersimpan rapi di tempat pensil.
Selena membeku.
Ia tidak melihat siapa pun, tidak mendengar langkah kaki. Tetapi benda-benda itu telah berpindah dengan sendirinya.
Bruk!
Sesuatu jatuh dari dapur.
Selena hampir menjerit.
Ia buru-buru menutup pintu kamar dan bersembunyi di balik selimut.
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia berharap pagi segera datang.
~~
Keesokan harinya, Selena menghubungi temannya di kampus, Rania.
Mereka sedang duduk di kantin ketika Selena menceritakan semua kejadian aneh yang terjadi di rumahnya.
Rania mendengarkan dengan serius lalu bertanya,
"Kamu yakin nggak ada orang lain yang punya kunci rumah itu?"
"Yakin."
"Atau mungkin mantan pemiliknya?" tanya Rania lagi.
"Kalau memang ada, kenapa dia cuma beres-beres?"
Rania terdiam.
"Itu sih... aneh." ujar Rania ikut menebak apa yang terjadi.
"Kan?"
"Kalau aku jadi kamu, aku bakal pasang kamera."
Selena langsung menatapnya Rania.
Ide itu terdengar masuk akal.
Sangat masuk akal.
Jika memang ada seseorang yang masuk ke rumahnya, kamera akan merekam semuanya.
Dan jika tidak ada siapa-siapa...
Selena tidak ingin memikirkan kemungkinan itu.
~~
Malamnya, Selena menyiapkan kamera ponselnya.
Ia meletakkannya di rak buku ruang tamu dengan posisi menghadap seluruh ruangan.
Setelah memastikan kamera merekam, dia masuk ke kamar. Dan kali ini dia benar-benar tertidur karena kelelahan.
Pagi harinya, hal pertama yang Selena lakukan adalah memeriksa rekaman.
Awalnya tidak ada yang aneh. Ruang tamu terlihat kosong.
Jam demi jam berlalu.
Tidak ada pergerakan.
Sampai pukul 01.13 dini hari.
Tiba-tiba sebuah buku yang berada di atas meja bergerak sendiri.
Perlahan, seolah ada tangan tak terlihat yang mengangkatnya.
Buku itu berpindah ke rak lalu sebuah bantal di sofa bergeser. Kemudian kursi makan bergerak sedikit.
Selena menahan napas. Tangannya mulai gemetar.
Rekaman itu terus berjalan.
Tidak ada manusia.
Tidak ada bayangan.
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya benda-benda yang bergerak sendiri.
Dan tepat sebelum rekaman berakhir, sebuah tulisan muncul di atas kaca jendela ruang tamu. Seolah ditulis oleh jari yang tak terlihat.
Selena membelalakkan mata.
Tulisan itu perlahan terbentuk satu per satu.
"Maaf. Aku tidak bermaksud menakutimu."
Ponsel di tangan Selena hampir terjatuh.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar yakin.
Rumah itu memang tidak kosong.
Ada seseorang yang tinggal bersamanya.
Seseorang yang tidak bisa dilihat oleh mata manusia.