Sejak mengetahui nama makhluk misterius itu, Selena mulai memikirkan banyak hal.
Vinz.
Nama itu terus terngiang di kepalanya.
Nama yang terdengar biasa namun terasa asing dan misterius pada saat yang bersamaan
Siapa sebenarnya Vinz?
Berapa usianya saat meninggal?
Mengapa ia masih berada di rumah itu?
Dan yang paling penting...
Mengapa hanya sebagian ingatannya yang hilang?
Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan, tetapi tidak ada satu pun yang memiliki jawaban.
~~
Malam itu, hujan turun dengan cukup deras.
Butiran air menghantam atap rumah dan menciptakan suara yang memenuhi keheningan malam.
Selena sedang duduk di ruang tamu dan pandangannya jatuh pada pintu loteng di ujung lorong.
Sejak hari pertama tinggal di rumah itu, ia belum pernah memeriksanya, padahal suara-suara aneh pertama kali berasal dari sana.
Entah kenapa, selama ini dia selalu menghindarinya.
Namun sekarang rasa penasaran mulai mengalahkan rasa takut.
Selena menatap pintu loteng itu selama beberapa detik lalu berdiri.
"Oke," gumamnya. "Aku cuma lihat sebentar."
Ia mengambil senter dari laci meja dan kemudian berjalan perlahan menuju tangga lipat yang mengarah ke loteng.
Setiap langkah terasa lebih berat dari langkah sebelumnya.
Jantungnya berdegup kencang.
Bukan karena lelah, melainkan karena gugup.
Bagaimana jika dia menemukan sesuatu? Atau seseorang?
Dengan tangan sedikit gemetar, Selena membuka pintu loteng.
Krek...
Suara engsel tua menggema pelan.
Udara dingin langsung menyambut wajahnya.
Loteng itu gelap.
Sangat gelap.
Selena mengarahkan cahaya senter ke dalam.
Debu beterbangan di udara.
Tumpukan kardus tua memenuhi sebagian ruangan.
Ada kursi rusak, lemari kayu yang sudah lapuk, dan beberapa benda yang sulit dikenali karena tertutup kain putih.
Tidak ada apa-apa yang terlihat mencurigakan.
Setidaknya sampai matanya menangkap sebuah benda di sudut ruangan.
Sebuah bingkai foto.
Selena mendekat lalu mengangkat bingkai yang tertutup debu itu.
Begitu melihat isi fotonya, dia terdiam.
Dalam foto tersebut terdapat seorang wanita dan seorang pria paruh baya yang sedang tersenyum. Di antara mereka berdiri seorang pemuda.
Tinggi, berambut hitam, dan memiliki senyum yang hangat.
Entah mengapa, wajah pemuda itu terasa familiar.
Sangat familiar.
Padahal Selena yakin belum pernah melihatnya sebelumnya.
Di bagian bawah foto terdapat tulisan yang mulai memudar.
Keluarga Arvinza Pratama.
Selena mengernyit.
"Arvinza Pratama?" gumamnya
Ia belum pernah mendengar nama itu dari catatan-catatan Vinz.
Namun sebelum sempat berpikir lebih jauh, sesuatu tiba-tiba jatuh dari belakangnya.
Brak!
"Astaga!"
Selena hampir menjatuhkan foto di tangannya.
Ia segera menoleh.
Sebuah kardus tua tergeletak di lantai, padahal dia yakin tidak menyentuh apa pun.
Hening.
Tidak ada suara.
Tidak ada gerakan.
Namun suasana loteng itu tiba-tiba terasa berbeda.
Seolah ada seseorang yang berdiri di sana bersamanya.
Mengawasinya.
~~
Selena buru-buru turun dari loteng.
Ia membawa bingkai foto tersebut ke ruang tamu.
Perasaannya masih tidak tenang.
Karena untuk pertama kalinya, dia menemukan petunjuk tentang masa lalu makhluk penghuni lama rumah in.
"Arvinza Pratama. Apakah itu nama asli Vinz? Atau orang lain?" pikirnya
Malam itu dia menulis sebuah pertanyaan pada kertas yang biasa digunakan untuk berkomunikasi dengan sosok
"Apakah namamu Arvinza?"
Lalu meletakkannya di meja.
~~
Keesokan paginya, Selena langsung mencari kertas itu.
Ada jawaban baru dari tulisan tangan yang sudah sangat dia kenal.
"Aku tidak tahu."
Selena menghela napas.
Jawaban itu lagi.
Namun kali ini ada tambahan kalimat lain.
"Kenapa kamu bertanya?"
Selena segera mengambil pulpen.
Ia menceritakan tentang foto yang ditemukan di loteng.
Tentang nama Arvinza Pratama yang tertulis di sana.
Sepulang kuliah di sore harinya, balasan sudah menunggu.
Dan untuk pertama kalinya, tulisan Vinz terlihat berantakan. Seolah ditulis dalam keadaan tergesa-gesa.
"Di mana fotonya?"
Selena menatap lekat tulisan itu.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Ia belum pernah melihat Vinz menunjukkan reaksi seperti ini.
Malam itu, Selena meletakkan bingkai foto di atas meja ruang tamu tepat di samping catatan yang sudah dia tulis.
Kemudian dia kembali ke kamar.
Namun rasa penasaran membuatnya tidak bisa tidur.
Sekitar tengah malam, Selena mengintip dari celah pintu kamar.
Bingkai foto itu perlahan terangkat sendiri dari meja.
Melayang beberapa sentimeter di udara lalu diam.
Seolah sedang diperhatikan oleh seseorang.
Selena menahan napas.
Untuk beberapa detik, tidak ada yang bergerak.
Kemudian bingkai foto itu bergetar sangat pelan.
Dan untuk pertama kalinya sejak tinggal di rumah itu...
Selena mendengar suara.
Bukan suara langkah, bukan pula suara benda jatuh. Melainkan suara seorang pria.
Sangat lirih, hampir seperti bisikan.
"Ibu..."
Selena membeku.
Suara itu terdengar sangat sedih.
Seolah berasal dari seseorang yang telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga.
Lalu bingkai foto itu jatuh kembali ke atas meja.
Bruk.
Seketika seluruh rumah kembali sunyi.
Tidak ada suara lagi, tidak ada gerakan lagi.
Namun malam itu, Selena tahu satu hal.
Vinz bukan sekedar sosok roh atau hantu yang tersesat.
Ia adalah seseorang yang pernah memiliki keluarga.
Seseorang yang pernah dicintai.
Dan entah bagaimana, foto yang ada di loteng itu telah membangkitkan kenangan yang selama ini hilang darinya.
Tanpa Selena sadaru, sebuah misteri yang terkubur selama bertahun-tahun perlahan mulai terbuka.
Dan misteri itu berhubungan langsung dengan kematian Vinz.