Petir kembali menggelegar.
Selena kembali menoleh ke tempat dimana sosok itu tadi berdiri.
Kosong, tidak ada siapa-siapa.
Hanya meja, kursi, dan buku harian yang masih terbuka.
"Aku pasti salah lihat."
Suara Selena terdengar jauh lebih pelan, berusaha menenangkan dirinya sendiri.
~~
Listrik baru kembali menyala sekitar satu jam kemudian.
Selena tidak berani melanjutkan membaca buku harian itu. Dia membawa buku tersebut ke kamar dan meletakkannya di atas meja belajar.
Meski begitu, rasa penasaran tidak berhenti mengganggunya.
Bayangan pria tadi terus muncul di pikirannya.
Rambut hitam, tubuh tinggi, dan tatapan yang entah mengapa terlihat sangat sedih.
Selena baru bisa tertidur saat menjelang subuh.
~~
Keesokan harinya, Selena pulang kuliah lebih cepat.
Begitu membuka pintu rumah, sesuatu yang tidak biasa langsung menarik perhatiannya.
Di atas meja ruang tamu, terdapat secangkir teh hangat dengan asap tipis yang masih mengepul dari permukaannya. Membuat Selena berhenti melangkah.
Matanya menatap cangkir itu selama beberapa detik lalu perlahan menghela nafas.
"Aku tau ini ulahmu, Vinz." ujarnya.
Tidak ada jawaban.
Hanya kesunyian yang menyelimuti rumah.
Selena berjalan mendekat.
Di bawah cangkir terdapat secarik kertas.
Tulisan yang sudah sangat dikenalnya.
"Kamu terlihat ketakutan semalam."
Selena membaca kalimat itu berulang kali sampai akhirnya dia mengambil pulpen.
"Karena aku melihatmu."
Ia meninggalkan balasan tersebut di atas meja.
Kemudian masuk ke kamar untuk mengganti pakaian.
Saat kembali sekitar lima belas menit kemudian, tulisan baru telah muncul.
"Maaf."
Selena berkedip.
Hanya satu kata namun entah kenapa terdengar tulus.
Ia duduk di kursi lalu menulis balasan lagi.
"Itu benar-benar kamu?"
Beberapa saat kemudian, jawaban muncul perlahan.
Seolah ada tangan tak terlihat yang sedang menulis tepat di hadapannya.
Pulpen bergerak sendiri di atas kertas. Membentuk huruf demi huruf.
"Kurasa begitu."
Seketika bulu kuduk Selena meremang.
Meski sudah mengetahui keberadaan Vinz, melihat pulpen bergerak sendiri tetap terasa aneh.
Sangat aneh.
Namun kali ini dia tidak merasa takut.
Hanya gugup.
~~
Hari-hari berikutnya berlalu dengan cara yang tidak biasa.
Selena dan Vinz menjadi lebih sering bertukar pesan.
Kadang tentang kampus, kadang tentang buku, ataupun tentang hal-hal tidak penting.
Vinz ternyata cukup cerewet.
Dan mengejutkannya, selera humornya cukup buruk.
Suatu malam Selena menemukan catatan yang tertempel di pintu kulkas.
"Tolong habiskan sayurnya."
Di bawahnya terdapat gambar wortel dengan wajah menangis.
Selena sampai tertawa sendirian lalu menulis balasan.
"Haha gambar wortelnya bagus sekali"
Tidak lama kemudian muncul tulisan baru.
"Aku bosan. Sebagai hantu, aku punya banyak waktu luang."
Untuk pertama kalinya sejak tinggal di rumah itu, Selena merasa tidak lagi kesepian.
~~
Seminggu kemudian, sesuatu yang tidak terduga terjadi.
Malam itu Selena sedang belajar untuk kuis yang akan diadakan esok pagi.
Namun matanya sudah sangat lelah dan kepalanya terasa berat.
Buku catatan di hadapannya mulai terlihat seperti kumpulan tulisan yang tidak masuk akal.
"Aku menyerah."
Ia menjatuhkan kepala ke meja.
Lalu tertidur.
Entah berapa lama.
Saat membuka mata, jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari.
Yang membuatnya terkejut adalah sebuah selimut kini menutupi tubuhnya. Padahal dia yakin tidak mengambilnya sebelum tidur.
Selena perlahan duduk.
Matanya menyapu ruangan lalu berhenti.
Seseorang sedang berdiri di dekat jendela.
Sosok itu membelakangi nya
Tubuh Selena seketika langsung menegang.
Tinggi dan mengenakan kemeja hitam.
Persis seperti bayangan yang pernah ia lihat saat petir menyambar waktu itu.
Namun kali ini lebih jelas.
Rambut hitamnya sedikit berantakan.
Bahu lebarnya terlihat tegang.
Dan meski tubuhnya tampak samar seperti kabut tipis, ia terlihat hampir seperti manusia biasa.
Selena tidak bergerak.
Begitu pula sosok itu.
Keheningan memenuhi ruangan.
Hingga akhirnya pria tersebut berbicara.
"Sebenarnya..." ujarnya menggantung pelan.
Hangat dan terdengar sangat manusiawi.
"...aku tidak bermaksud untuk membuatmu takut."
Jantung Selena berdegup semakin kencang.
Pria itu perlahan berbalik hingga Selena kini dapat melihat wajahnya dengan jelas.
Wajah yang tampan, kulit pucat, mata gelap yang menyimpan kesedihan aneh, dan senyum kecil yang terlihat canggung.
"Jadi..."
Pria itu menggaruk tengkuknya.
"...halo."
Selena menatapnya tanpa berkedip.
Beberapa detik berlalu.
Lalu...
"Aaaaaaaahhhhhh!"
Teriakan Selena menggema ke seluruh rumah.
Pria itu langsung menutup telinganya.
"Ya ampun, keras sekali!"
"K-KAMU HANTU?!" pekik Selena.
"Iya."
"KAMU BENAR-BENAR HANTU!"
"Iya, aku juga sudah tau itu."
"KAMU BISA MUNCUL?!"
Pria itu tampak berpikir sejenak.
"Lumayan sulit sebenarnya."
Selena segera mengambil bantal di sofa lalu melemparkannya ke pria itu.
Namun, bantal itu menembus tubuh pria tersebut dan jatuh ke lantai.
Hening.
Mereka sama-sama menatap bantal itu.
Kemudian Selena perlahan menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Astaga..."
Pria itu tertawa kecil.
Dan untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun terjebak di rumah itu, Vinz merasa senang.
Karena akhirnya ada seseorang yang bisa melihatnya.
Seseorang yang tidak lari meninggalkannya.
Seseorang yang mau berbicara dengannya.
Dan tanpa mereka sadari, malam itu menjadi awal dari hubungan yang akan mengubah hidup keduanya.