Jam sepuluh malam, apartemen yang Kinan sewa untuk keluarganya itu masih seramai pasar pagi. Bude Tita duduk di karpet ruang tengah dengan hidung memerah karena flu, di depannya berjajar kotak – kotak seserahan yang sejak sore tadi dibongkar pasang entah untuk yang ke berapa kali. Bulik – bulik dari kampung sibuk melipat mukena, menghitung amplop, dan berdebat kecil soal warna pita yang menurut mereka kurang serasi dengan kebaya Kinan.
“Nan, pitanya ini toh yang bagus. Sing emas, ojo sing perak” Ucap Bude Tita sembari mengangkat dua gulung pita ke arah keponakannya.
“Terserah bude aja, Kinan manut” Jawab Kinan sambil tersenyum. Sejak tadi ia memang tidak bisa fokus pada apapun. Pikirannya berputar – putar ke satu tempat yang sama, ke pagi esok hari, ke sebuah meja panjang yang di atasnya akan diletakkan buku nikah dengan namanya tercetak di dalamnya.
Di sudut ruangan, Mas Galih dan Mas Harun duduk berdua dengan map cokelat di pangkuan. Isinya berkas – berkas yang sudah tiga kali mereka periksa malam itu. Surat dari desa, fotokopi kartu keluarga, dan surat keterangan bahwa bapak mereka sudah bertahun – tahun tidak diketahui keberadaannya. Mas Galih, kakak tertua, yang besok akan duduk di kursi wali, menggantikan laki – laki yang dulu meninggalkan mereka bersama tumpukan hutang tanpa sepatah kata pamit.
“Wis beres to mas?” Tanya Mas Harun.
“Wis. Tadi sore aku ketemu pak penghulu, semua sudah dicocokkan. Sing penting sesuk aku ora gemeteran” Jawab Mas Galih, dan Mas Harun tertawa pelan.
Kinan mendengar itu dari dapur kecil apartemen sembari menuang air hangat ke gelas Bude Tita. Tangannya berhenti sebentar. Kalau saja ibu masih ada, mungkin malam ini rumah mereka di desa yang ramai, bukan apartemen sewaan di kota. Kalau saja ibu masih ada, mungkin yang menuang air hangat itu justru wanita tersebut, sembari berkata sesuatu yang menyebalkan tapi selalu benar.
Pintu apartemen diketuk. Caca datang dengan dua paper bag besar dan wajah yang sudah lelah tapi tetap heboh seperti biasanya.
“NANNN! Gaunnya udah difinal fitting, MUA nya besok datang jam empat pagi ya, jangan sampai kamu masih molor” Ucap Caca sembari meletakkan bawaannya di atas sofa.
“Iya iya, makasih ya ca. Kalau gak ada kamu, aku gak tau nikahan ini jadinya kayak apa” Jawab Kinan.
“Ya jelas berantakan. Calon suami kamu tuh terbang terus, aku yang jadi WO bayangan” Caca duduk di sebelahnya, lalu menurunkan suaranya. “Eh, serius nih. Kamu udah siap?”
Kinan diam. Pertanyaan itu sederhana, tapi jawabannya tidak.
“Siap gimana dulu, ca?”
“Ya siap. Bangun tidur ada orang di sebelah kamu. Mandi antri. Masak buat dua orang. Kamu kan selama ini hidup sendiri terus”
“Kalau siap yang itu, aku siap. Aku udah biasa ngurus orang” Ucap Kinan pelan. “Yang aku gak siap tuh, mas Pras kemarin nembak aku, ca. Terus aku jawabnya nanti aja setelah nikah”
Caca melotot. “Ya Allah, Kinan. Kamu tuh ya”
“Aku bingung. Masa iya aku bilang iya cuma karena besok kita nikah. Kan kasihan dia kalau jawabannya cuma karena kepepet” Jawab Kinan, dan Caca hanya bisa menghela napas panjang sembari mengelus punggung sahabatnya itu.
Satu per satu orang di apartemen tersebut mulai tidur. Bulik – bulik menggelar kasur lipat di ruang tengah, Mas Harun tidur duluan karena besok ia yang harus menyetir. Kinan sendiri masih terjaga. Jam satu dini hari ia keluar ke balkon, duduk di lantai dengan lutut ditekuk, memandangi lampu – lampu kota yang tidak pernah benar – benar padam.
Di kepalanya terputar kembali suara ibunya, malam itu, di teras rumah, saat kaki wanita tersebut bengkak dan Kinan mengelusnya sambil menahan tangis.
‘Ibu, besok Kinan nikah. Sama pilot yang ibu pilih itu. Ibu tau ndak, dia orangnya baik banget. Sabar. Sampai Kinan bingung, kok ada ya orang kayak gitu. Ibu di sana lihat ndak?’
Air matanya jatuh tanpa suara. Ia menyekanya cepat – cepat ketika mendengar pintu balkon digeser.
“Kok durung turu, nduk?” Bude Tita berdiri di ambang pintu, masih dengan suara serak karena flu.
“Ndak bisa tidur, bude”
Wanita itu ikut duduk di sebelahnya, mengabaikan lantai yang dingin. Beberapa saat mereka diam saja, sampai Bude Tita berbicara duluan.
“Ibumu ki dulu pernah cerita sama bude. Katanya, dia ndak pengen ninggalin kamu pas kamu isih sendirian. Bukan karena kamu ndak bisa apa – apa. Kamu ki paling kuat di antara anak – anaknya. Tapi ibumu ngerti, wong kuat kuwi yo kesel, nduk. Capek. Cuma ndak ada tempat ngeluhnya”
Kinan menunduk.
“Besok kamu duduk di depan penghulu. Sing kamu bawa ke sana kuwi dudu gaun, dudu emas. Sing kamu bawa niat. Wis, kuwi wae” Ucap Bude Tita sembari mengusap kepala Kinan seperti mengusap kepala anak kecil.
Malam itu Kinan hanya tidur dua jam.
*****
Di lain sisi, rumah Pras juga tidak kalah ramai. Sanak saudara dari kampung memenuhi ruang tamu, tidur berjajar di lantai yang dialasi karpet. Pras sendiri baru saja selesai sholat sunnah ketika bapaknya datang dari kamar, duduk di ujung kasur anaknya, dengan sarung dan kopiah yang masih terpasang rapi.
“Belum tidur, mas?”
“Belum bisa pak” Jawab Pras.
Bapaknya mengangguk pelan. Laki – laki itu tidak banyak bicara, tidak pernah. Tapi Pras tahu, kedatangannya ke kamar tengah malam begini berarti ada sesuatu.
“Ibumu tadi bapak telepon lagi”
Pras mengangkat kepalanya. “Terus pak?”
“Yo ngono kuwi. Belum mau njawab tegas” Ucap bapaknya. “Wis, ndak usah kamu pikir. Besok kamu urusannya sama Gusti Allah, dudu sama gengsine ibumu”
Pras tersenyum getir. Ia sudah menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk sejak beberapa hari lalu, sejak ibunya datang membawa Laras dan berkata terang – terangan bahwa ia lebih suka wanita itu dibanding Kinan. Tetap saja, membayangkan kursi di sebelah bapaknya kosong besok pagi, rasanya seperti ada yang mengganjal di dada.
Ia sempat membuka ponsel, mengetik pesan panjang untuk Kinan, lalu menghapusnya lagi. Mereka masih dipingit, dan Caca sudah mengancam akan menyita ponselnya kalau ia nekat menghubungi Kinan sebelum akad. Akhirnya Pras hanya menyimpan pesan itu, tidak terkirim, dan memandangi layar yang perlahan meredup dengan sendirinya.
*****
Jam empat pagi, apartemen sudah seperti kapal yang mau berangkat. MUA datang tepat waktu, kursi rias dipasang di dekat jendela, dan Kinan duduk di sana dengan mata masih setengah terpejam. Wajahnya dipoles, rambutnya ditata, dan setiap beberapa menit ada saja bulik yang lewat lalu berkomentar bahwa keponakannya cantik sekali pagi itu.
“Nan, sarapan dulu. Sithik wae, roti” Ucap Bude Tita sembari menyodorkan piring.
“Ndak nafsu, bude”
“Ndak nafsu ki ndak urusan. Mengko semaput ning ngarep penghulu, isin” Kinan akhirnya makan dua potong roti dengan susah payah, dan ternyata bude nya benar. Pukul setengah tujuh, ketika mobil membawa mereka menuju masjid tempat akad akan dilangsungkan, perutnya yang terisi itulah yang menahan kepalanya supaya tidak berputar.
Masjid itu sudah ramai. Karpet hijau digelar, meja akad diletakkan di tengah, dua saksi duduk di sisi kanan, dan penghulu membuka mapnya dengan tenang. Mas Galih duduk di kursi wali, telapak tangannya diusap – usapkan ke celana kain, sesuatu yang biasa ia lakukan kalau gugup.
Pras datang lima menit kemudian dengan beskap putih. Di belakangnya berjalan dua orang teman kantornya yang memakai batik seragam, dan seorang laki – laki tua bersarung yang membawa map berisi mahar. Caca yang berdiri di samping Kinan berbisik pelan bahwa calon suami sahabatnya itu terlihat lebih gugup daripada pengantin perempuannya.
“Nan, tangan dia gemeteran loh” Bisik Caca.
“Ca, aku juga” Jawab Kinan tanpa mengangkat kepalanya.
Ketika laki – laki itu masuk dan bersalaman dengan Mas Harun, Kinan menunduk. Bukan karena malu. Ia hanya takut kalau ia menatap terlalu lama, air matanya akan tumpah dan riasan yang dikerjakan selama dua jam itu hancur begitu saja.
Lalu terjadi sesuatu yang tidak diperhitungkan siapapun. Di ambang pintu masjid muncul bapaknya Pras, dan di belakangnya, dengan kebaya cokelat sederhana serta wajah yang datar, berdiri Ratih. Wanita itu datang. Ia berjalan pelan, tidak menyapa siapa – siapa, lalu duduk di barisan paling belakang keluarga mempelai pria.
Pras menoleh sekilas, dan untuk pertama kalinya pagi itu bahunya turun, seperti orang yang baru saja meletakkan karung dari punggungnya.
“Bu…” Ucap Pras pelan, tapi ibunya hanya mengibaskan tangan, pertanda supaya anaknya kembali menghadap ke depan.
Penghulu berdehem. Suara – suara di dalam masjid padam satu per satu sampai yang terdengar tinggal kipas angin di sudut ruangan dan sisa – sisa suara kendaraan di jalan raya. Bude Tita menggenggam tangan Kinan erat sekali, dan di seberang sana Mas Galih menarik napas panjang, menyebut kalimat wali dengan suara yang bergetar di kata pertama, lalu menggenggam tangan kanan calon adik iparnya kuat – kuat.
Semua mata di ruangan itu tertuju pada laki – laki yang duduk bersila di depan meja akad. Pras memejamkan mata sebentar, menghirup udara pagi dalam – dalam, lalu membuka matanya kembali.