Pukul setengah lima pagi, lampu dapur rumah itu sudah menyala. Kinan berdiri di depan kompor dengan rambut yang diikat asal – asalan dan perut yang mulai terasa berat, menunggu air di panci mendidih. Sri, asisten rumah tangga mereka, berdiri di sebelahnya dengan wajah bingung.
“Bu, biar saya aja. Ibu duduk dulu, ibu kan lagi hamil” Ucap Sri sembari berusaha mengambil alih sendok sayur dari tangan majikannya.
“Ndak apa – apa mbak. Nanti ibu marah kalau yang masak mbak Sri” Jawab Kinan pelan, hampir berbisik, takut suaranya terdengar sampai ke kamar tamu.
Sri menghela napas panjang, lalu ikut berdiri di sebelah Kinan sambil mengupas bawang. Sudah dua hari sejak ibu mertua Kinan datang bersama wanita bernama Laras itu, dan sudah dua hari pula rumah yang biasanya tenang tersebut berubah menjadi tempat yang membuat Kinan harus mengukur setiap gerakannya sendiri.
Pukul enam, Ratih turun. Wanita paruh baya itu berjalan ke meja makan, melihat sekilas ke arah masakan yang sudah tersaji, lalu duduk tanpa mengucapkan apapun.
“Ibu, ini sudah siap. Ada sayur bening sama ayam goreng, sama sambal yang ndak pedes” Ucap Kinan sembari meletakkan piring di depan mertuanya.
“Ayam goreng ki panganan sarapan?” Tanya Ratih tanpa menoleh.
“Mas Pras suka ayam goreng pagi – pagi, bu”
“Ya mbok anakku ki ojo dituruti terus. Nanti kolesterol” Ucap Ratih, lalu tetap mengambil ayam itu dua potong sekaligus. Kinan hanya diam sembari menuang teh ke gelas mertuanya.
Beberapa saat kemudian Laras turun. Wanita itu memakai gamis rapi, wajahnya segar, dan langsung berjalan menuju dapur dengan gerakan yang sudah seperti pemilik rumah.
“Mas Pras mana, bu?” Tanya Laras kepada Ratih, bukan kepada Kinan.
“Masih di atas. Kamu bikinin kopi sana, ndak usah nunggu disuruh” Jawab Ratih. Laras tersenyum lebar, mengangguk, lalu mengambil cangkir dari rak. Kinan yang berdiri satu meter dari sana, yang setiap pagi selama berbulan – bulan membuat kopi untuk suaminya sendiri, hanya bisa berdiri diam sambil memegangi pinggiran meja.
Ketika Pras turun dengan seragamnya, kopi tersebut sudah menunggu di meja.
“Mas, kopinya” Ucap Laras sembari menyodorkan cangkir.
Pras melirik cangkir itu, lalu melirik istrinya yang berdiri di dekat kompor. Laki – laki itu tidak mengambil cangkir tersebut.
“Makasih, tapi saya biasanya dibikinin Kinan. Non, kopiku mana?” Tanya Pras.
Kinan tersentak, lalu buru – buru mengambil cangkir lain. “Sebentar mas, aku bikinin”
Ratih meletakkan sendoknya keras – keras di atas piring. “Wong wis digawekke kok yo ora gelem. Ngenyek tamu jenenge kuwi, mas”
“Bu, Laras ki tamu. Masa tamu disuruh bikin kopi buat tuan rumah” Jawab Pras tenang. Ratih tidak menjawab, hanya melengos sembari mendorong piringnya ke tengah meja.
Sarapan pagi itu berlangsung dalam keheningan yang aneh. Pras makan cepat karena harus sampai di bandara sebelum jam delapan, jadwalnya hari itu Jakarta Denpasar pulang pergi. Sebelum keluar rumah, ia sempat menarik Kinan ke dekat pintu, menunduk, lalu berbisik.
“Non, mas minta maaf ya”
“Minta maaf buat apa mas?”
“Buat semuanya” Ucap Pras. “Kalau ibu ngomong apa – apa, kamu ndak usah dimasukin ke hati. Kalau kamu capek, bilang. Jangan dipendem sendiri”
Kinan mengangguk sembari tersenyum, senyum yang sudah ia latih sejak dua hari terakhir. “Iya mas. Hati – hati ya”
Pintu tertutup, mobil keluar dari halaman, dan sejak detik itu rumah tersebut berubah menjadi tempat yang lain.
“KINAN!” Suara Ratih terdengar dari ruang tengah tak sampai lima menit setelah anaknya pergi.
“Iya bu?” Kinan datang setengah berlari.
“Gordennya ki wis suwe ora dicuci ya? Warnane wis abang – abang ngono kuwi”
“Baru bulan lalu dicuci bu”
“Ibu ndak nanya kapan dicuci. Ibu bilang kotor” Ucap Ratih sembari menatap menantunya. “Turunin semua, cuci hari ini. Semua kamar”
Kinan menatap gorden ruang tengah yang tingginya hampir tiga meter itu, lalu menatap perutnya sendiri. “Bu, boleh ndak dibantu mbak Sri? Kinan ndak kuat naik kursi”
“Sri kuwi kerjane nyapu ngepel. Kowe ki istri, dudu majikan” Jawab Ratih. “Ibu dulu hamil sembilan bulan yo isih macul. Ora ana ceritane hamil terus ongkang – ongkang”
Akhirnya Kinan mengerjakannya. Sri diam – diam membantunya ketika Ratih dan Laras keluar sebentar ke warung depan komplek, dan berkali – kali wanita muda itu memaksa Kinan duduk setiap kali melihat wajah majikannya memucat.
Siang harinya, saat makan siang, Ratih mencicipi sambal buatan Kinan dengan ujung sendok, lalu meletakkan sendok itu kembali ke meja.
“Sambele ora ana rasane” Ucap beliau.
“Maaf bu, nanti Kinan ulekin lagi”
“Wis, ora usah. Mengko malah tambah ora karuan” Jawab Ratih, lalu beliau menoleh ke arah Laras. “Ras, mengko sore kowe wae sing masak. Ibu kangen masakanmu”
“Siap bu” Jawab Laras sambil tersenyum lebar ke arah Kinan.
Siang itu Kinan tidak ikut makan. Ia berdiri di dapur, menunggu semua orang selesai, lalu mencuci piring sendirian sambil menahan perutnya yang sejak pagi terasa ditarik – tarik. Baru sore harinya, ketika Ratih dan Laras tidur siang, Sri diam – diam menyodorkan sepiring nasi hangat kepadanya.
“Bu, dimakan ya. Kasihan dedeknya” Ucap Sri berbisik, dan hanya karena kalimat itulah Kinan akhirnya mau makan.
Setelah itu, saat Kinan sedang memasukkan gorden ke mesin cuci, Laras masuk ke ruang belakang sembari melipat tangan di dada.
“Capek ya?” Tanya Laras.
Kinan tidak menjawab.
“Aku kasih tau ya, sebenernya kamu tuh nggak cocok sama mas Pras” Ucap Laras pelan, dengan senyum yang sama sekali tidak sampai ke matanya. “Orang kayak dia tuh butuh istri yang bisa ngimbangin. Bukan yang tiap hari sakit – sakitan terus ngerepotin”
“Mbak Laras” Ucap Kinan sembari menegakkan punggung. “Mbak tamu di rumah ini. Kalau mbak sungkan sama aku, ya minimal sungkan sama ibu yang bawa mbak ke sini”
Wajah Laras berubah. Wanita itu melangkah mendekat, dan tepat pada saat yang sama Ratih muncul di ambang pintu.
“Kowe ngomong opo karo Laras?” Tanya Ratih dengan suara tinggi.
“Ndak ngomong apa – apa bu”
“Ibu denger kok” Ratih mendekat, lalu tangannya mencengkeram pergelangan tangan Kinan, kuat sekali, sampai Kinan hampir menjatuhkan gorden yang ia pegang. “Ojo sok ngatur ning omahe anakku. Sing nduwe omah iki anakku, dudu kowe”
“Iya bu, maaf bu”
Tangan itu dilepas. Kinan menunduk, memegangi pergelangan tangannya yang mulai memerah, dan ketika Ratih serta Laras berlalu, Sri datang membawa air es dan handuk kecil tanpa diminta.
“Bu, ini dikompres. Nanti biru” Ucap Sri dengan mata yang sudah berkaca – kaca.
“Mbak Sri jangan cerita sama mas Pras ya” Ucap Kinan sembari menerima handuk itu.
“Tapi bu…”
“Mbak Sri, tolong” Ucap Kinan lagi, kali ini menatap mata perempuan tersebut. “Kalau mas Pras tau, dia bakal ribut sama ibunya. Terus ibunya bakal lebih benci sama aku. Terus mas Pras bakal ngerasa bersalah tiap kali dia terbang. Aku ndak mau kayak gitu”
Sri akhirnya mengangguk sambil mengusap matanya dengan ujung lengan bajunya.
Sore harinya Kinan sempat naik ke kamar untuk tidur sebentar, tapi baru saja punggungnya menyentuh kasur, pintu kamarnya diketuk. Ratih meminta dibuatkan wedang jahe, dan setengah jam kemudian Laras memanggilnya dari bawah karena katanya kamar mandi tamu kehabisan sabun. Begitu terus sampai maghrib, sampai Kinan lupa bahwa sejak pagi ia belum sempat makan apapun kecuali dua sendok bubur.
Malam harinya, Pras pulang jam sembilan lewat. Baru saja mobilnya masuk, Laras sudah berdiri di dekat pintu sembari memegang handuk kecil.
“Mas, ini handuk. Mukanya diseka dulu, keringetan” Ucap Laras.
“Ndak usah, makasih” Jawab Pras sambil terus berjalan masuk. Ia melepas topinya, meletakkan tas di sofa, lalu matanya mencari satu orang saja di rumah itu. “Non?”
“Di sini mas” Kinan keluar dari dapur sembari membawa piring makan malam suaminya.
Mereka makan berdua di meja yang sudah kosong. Ratih dan Laras sudah masuk kamar sejak jam delapan.
“Gimana tadi harimu?” Tanya Pras di sela – sela makannya.
Kinan menarik lengan bajunya sedikit lebih ke bawah, menutupi pergelangan tangannya yang membiru, lalu tersenyum.
“Baik kok mas. Tadi nyuci gorden, sekalian beres – beres”
“Nyuci gorden? Non, kamu hamil loh” Ucap Pras sembari berhenti mengunyah.
“Cuma dimasukin mesin cuci mas, ndak diperes tangan” Jawab Kinan cepat.
Pras memandangi wajah istrinya lama sekali, seperti sedang mencari sesuatu di sana, lalu akhirnya menghela napas dan kembali makan. Ada bagian dari dirinya yang tahu bahwa jawaban itu tidak lengkap, tapi ada bagian lain yang terlalu lelah untuk bertanya lebih jauh malam itu.
Sebelum tidur, Pras menghitung – hitung di kepalanya. Ibunya datang membawa dua koper, dan biasanya kalau ibunya membawa dua koper artinya paling lama seminggu. Mungkin besok atau lusa mereka pulang. Mungkin Laras hanya diajak jalan – jalan sebentar ke Jakarta, lalu semuanya kembali seperti semula, dan rumah ini akan tenang lagi seperti sebelumnya.
Ia memeluk istrinya dari belakang, mencium pucuk kepala wanita itu, lalu memejamkan mata dengan satu pikiran yang menenangkan dirinya sendiri.
Paling lama satu atau dua hari lagi.