Ada satu hal yang tidak pernah diberitahukan orang – orang kepadaku sebelum aku melahirkan, yaitu bahwa menjadi seorang ibu itu membuat waktu berubah bentuk. Dulu satu hari terasa seperti dua puluh empat jam. Sekarang satu hari terasa seperti potongan – potongan kecil yang ditentukan oleh Nabila. Ada jam menyusui, jam mandi, jam menjemur, jam tidur siang yang kadang – kadang tidak pernah terjadi sama sekali.
Pagi itu aku bahkan tidak tahu jam berapa aku terakhir kali menyisir rambutku sendiri.
Malam sebelumnya adalah malam yang panjang. Mas Pras sedang menginap di Balikpapan karena jadwalnya, dan Nabila menangis mulai jam satu dini hari. Aku sudah menyusuinya, sudah mengganti popoknya, sudah menepuk punggungnya sampai tanganku pegal, tapi anak itu tetap menangis.
Jam tiga pagi aku menggendongnya sambil berjalan bolak balik di ruang tengah, dan aku ingat aku sempat berbicara kepadanya dengan suara yang hampir menangis juga.
“Sayang, ibu capek. Ibu capek banget. Kamu maunya apa sih”
Begitu kalimat itu keluar, aku langsung merasa jahat sekali. Aku menciumi kepalanya berkali – kali sambil minta maaf, padahal anak berusia satu setengah bulan itu jelas tidak mengerti apa – apa. Nabila akhirnya tertidur jam empat pagi, di dadaku, dalam posisi berdiri, dan aku tidak berani duduk karena takut ia bangun lagi.
Aku baru benar – benar tidur setelah adzan subuh, dan itupun hanya sampai jam enam ketika ia bangun lagi untuk menyusu.
“Bu, sarapannya udah saya taruh di meja. Ibu makan dulu ya, nanti keburu dingin” Ucap Mbak Sri sembari mengambil keranjang cucian dari tanganku.
“Nanti aja mbak, Nabila belum tidur”
“Bu, dari kemarin ibu bilangnya nanti terus” Ucap Mbak Sri sembari menatapku dengan tatapan yang membuatku merasa seperti anak kecil yang ketahuan tidak mau makan sayur.
Akhirnya aku makan, walaupun sambil menggendong. Nasi setengah dingin, telur dadar, dan sambal buatan Mbak Sri yang selalu terlalu pedas. Aku makan dengan satu tangan sementara tangan yang lain menopang punggung anakku, dan aku ingat aku sempat berpikir betapa lucunya hidup ini. Dulu aku pernah bekerja di kantor, presentasi di depan client, mengejar deadline sampai jam sebelas malam, dan sekarang keberhasilan terbesarku dalam sehari adalah makan sampai habis sebelum bayiku bangun.
Siang harinya Caca datang. Ia membawa paper bag besar berisi baju bayi, dua botol susu, dan satu kotak donat yang katanya untuk aku sendiri, bukan untuk siapa – siapa.
“Nan, ya Allah” Ucap Caca begitu melihat wajahku.
“Kenapa?”
“Mata kamu. Kayak habis dipukulin orang” Ucap Caca sembari menaruh bawaannya di sofa lalu duduk di sebelahku. “Kamu tidur berapa jam sih semalem?”
Aku berpikir sebentar. “Dua? Tiga? Aku lupa. Nabila kalau malem itu maunya digendong terus, ca. Ditaruh dikit aja nangis”
Caca menggeleng – geleng, lalu mengulurkan tangannya. “Sini, sini. Aku gendong dulu. Kamu tidur satu jam. Nggak usah ngeyel”
Aku menolak dua kali dan akhirnya menyerah juga, dan itulah tidur paling nyenyak yang aku dapatkan dalam dua minggu terakhir. Satu jam yang rasanya seperti satu malam penuh.
Saat aku bangun, Caca sudah duduk di karpet ruang tengah dengan Nabila di pangkuannya, sedang bercerita entah apa kepada bayi berusia satu setengah bulan itu seolah – olah anakku bisa membalas ceritanya.
“Ca, makasih ya” Ucapku.
“Nan, aku serius nih. Kamu tuh harus punya jam tidur. Nggak bisa gini terus” Ucap Caca. “Mana suami kamu?”
“Lagi terbang. Nanti malem pulang”
“Terus kalau dia di rumah, dia bantu nggak?”
Aku terdiam sebentar sebelum menjawab. “Bantu kok”
Sebelum pulang, Caca sempat berdiri di depan lemariku dan mengeluarkan beberapa potong baju.
“Nan, ini baju kamu yang dulu kan? Yang biru itu”
“Iya kenapa?”
“Kamu masih muat?”
“Ca, aku baru lahiran satu bulan setengah” Jawabku sambil tertawa.
“Bukan itu maksud gue” Ucapnya sambil memegang bahuku. “Coba lo liat sendiri. Tulang bahu lo keliatan. Lo kurusan, tapi bukan kurus yang sehat”
Aku tidak menjawab, karena beberapa hari sebelumnya Mbak Sri juga mengatakan hal yang hampir sama saat membantuku memakai gendongan, bahwa tali gendongan itu harus dikencangkan dua lubang lebih rapat dibanding waktu aku baru pulang dari rumah sakit.
Dan sebenarnya itu bukan kebohongan. Mas Pras memang membantu. Ia menggendong Nabila kalau anak itu menangis, ia mengganti popok tanpa perlu diminta, ia bahkan pernah pulang membawa alat penghangat susu yang tidak pernah aku minta. Hanya saja ada sesuatu yang berubah sejak Nabila lahir, sesuatu yang bahkan sulit aku jelaskan kepada Caca tanpa terdengar seperti istri yang manja.
Sore itu, sekitar jam tujuh malam, suara mobil masuk ke halaman. Aku sedang menyusui Nabila di ruang tengah ketika pintu terbuka.
“NABILAAA, papa pulang” Ucap Mas Pras dari ambang pintu, seragamnya masih lengkap, topinya masih terpasang.
Ia melepas sepatunya cepat – cepat, mencuci tangan, lalu langsung duduk di sebelahku dan mengulurkan tangan ke arah anak kami.
“Sini sini sama papa. Papa kangen banget” Ucapnya sembari mengambil Nabila dari gendonganku.
Aku tersenyum. Aku benar – benar tersenyum, karena melihat suamiku menggendong anak kami itu adalah salah satu pemandangan yang paling aku suka di dunia ini. Tapi malam itu, entah kenapa, ada satu hal kecil yang mengganjal di dadaku.
Ia belum menyapaku sama sekali.
Aku duduk di sana selama beberapa menit, memperhatikan mereka berdua, dan akhirnya aku berdiri untuk menyiapkan makan malam suamiku. Saat makan, ia bercerita tentang penerbangannya hari itu, tentang cuaca di Surabaya yang katanya buruk sekali, tentang co pilot barunya yang masih sangat muda dan gugup.
“Terus kamu gimana hari ini?” Tanyanya.
“Ya gini aja mas. Di rumah”
“Nabila nggak rewel kan?”
“Rewel, tapi ya wajar” Jawabku.
Ia mengangguk, lalu melanjutkan makannya, dan pertanyaan tentang aku tidak pernah datang. Malam itu, saat kami hendak tidur, Mas Pras menidurkan Nabila di box bayi yang berada di sebelah tempat tidur kami. Ia mengelus kepala anak kami cukup lama, mengucapkan sesuatu yang tidak aku dengar, lalu berbaring dan tertidur dalam waktu kurang dari lima menit.
Aku memandangi punggungnya dari sisi tempat tidurku sendiri. Lalu aku merasa malu kepada diriku sendiri karena memikirkan hal seperti itu di saat semuanya sebenarnya baik – baik saja.
*****
Dua hari kemudian aku mulai mengurus acara aqiqah Nabila. Mas Pras memberi tanggal yang cocok dengan jadwal terbangnya, dan aku mulai menghubungi katering, menyewa tenda, serta membuat daftar undangan bersama Mbak Sri.
Ternyata mengurus acara aqiqah dalam keadaan kurang tidur itu jauh lebih melelahkan daripada mengurus acara pernikahan sendiri. Aku menelepon tiga katering dalam satu hari, dan ketiganya bertanya hal yang sama, yaitu untuk berapa orang, dan aku tidak bisa menjawab karena daftar undangannya belum jadi.
“Bu, kambingnya dua ekor ya? Untuk anak perempuan biasanya satu” Ucap orang dari jasa aqiqah lewat telepon.
“Satu aja pak. Tapi masaknya dibagi dua, sebagian gulai sebagian sate” Jawabku sambil menahan ponsel dengan bahu karena kedua tanganku sedang memegang Nabila.
Mas Harun juga menelepon dua kali untuk memastikan tanggalnya, karena ia dan Mas Galih harus mengurus izin dari sekolah tempat mereka mengajar. Bude Tita menelepon tiga kali, dan tiga – tiganya menanyakan hal yang sama, yaitu apakah aku sudah makan.
Dari semua nama yang aku tulis, ada satu nama yang paling lama aku pandangi sebelum akhirnya aku tulis juga.
Ibu Ratih.
Sudah hampir tiga bulan sejak malam itu, malam ketika Laras nekat masuk ke rumah kami dan Mas Harun memergokinya di dapur. Sejak ibu mertuaku berlutut di depan kedua kakakku dan membawa Laras pergi, beliau tidak pernah lagi datang. Tidak pernah menelepon. Bahkan saat aku melahirkan pun beliau tidak datang, hanya bapak mertuaku yang menelepon Mas Pras dan mengucapkan syukur dari kampung.
Malam itu aku memberanikan diri menelepon nomor ibu mertuaku sendiri.
Nada sambungnya berbunyi lama sekali sampai aku hampir menutupnya, sampai akhirnya terdengar suara wanita paruh baya yang sudah lama tidak aku dengar.
“Halo”
“Assalamualaikum bu, ini Kinan”
Ada jeda beberapa detik di sana. “Ya, ana apa?”
“Bu, ini Nabila mau diaqiqahin. Tanggal dua puluh tiga, di rumah Jakarta. Kinan sama mas Pras pengen banget ibu datang” Ucapku, dan aku sendiri kaget karena suaraku bergetar di akhir kalimat.
Hening lagi. Kali ini lebih lama.
“Ibu ndak bisa” Jawabnya pendek.
“Bu, kalau soal yang kemarin, Kinan udah…”
“Ibu ndak bisa, wis ngono wae” Ucapnya memotong ucapanku, lalu sambungan itu terputus begitu saja.
Aku menurunkan ponselku pelan – pelan. Di sebelahku, Nabila tidur dengan tangan mengepal di dekat pipinya, tidak tahu apa – apa tentang neneknya yang bahkan belum pernah melihat wajahnya.
Aku tidak menangis malam itu. Aku hanya duduk di tepi tempat tidur cukup lama, sampai akhirnya aku kembali berbaring dan berusaha memejamkan mata sebelum Nabila bangun untuk minta menyusu lagi.