Rinjani lebih cepat dari kepanikan Doma.
Perempuan berjas putih itu bangkit dari kursinya, meraih lengan Doma, lalu mendorong punggung lelaki itu pelan ke arah pintu penghubung di sudut ruangan. Pintu kecil yang menghubungkan ruang kerjanya dengan ruang periksa tempat Rinjani menyimpan berkas-berkas pasiennya.
"Masuk," bisik Rinjani. "Jangan keluar sebelum saya panggil."
Doma menurut tanpa membantah. Sesuatu yang jarang terjadi. Biasanya lelaki itu akan bertanya lebih dulu, mempertimbangkan, baru bergerak. Kali ini tidak. Kali ini kakinya melangkah lebih cepat daripada kepalanya sendiri.
Pintu tertutup. Doma berdiri di ruangan sempit yang berbau alkohol dan kertas lama. Punggungnya bersandar ke dinding. Napasnya pendek-pendek, dadanya naik turun tidak beraturan, dan kelima jarinya mengepal sampai buku-buku jarinya memutih.
"Masuk, Analis," terdengar suara Rinjani dari balik pintu.
"Maaf, Dok. Saya balik lagi." Itu suara Analis. Ringan, sedikit terburu-buru. "Kartu saya ketinggalan di meja Dokter, kayaknya."
Doma memejamkan matanya. Suara itu. Suara yang setiap malam ada di sebelahnya, yang membangunkannya subuh-subuh hanya untuk mengadu soal mimpi buruk, sekarang terdengar seperti sesuatu yang berbahaya.
"Ini, ya?" Rinjani terdengar membuka laci. "Lain kali dicek dulu sebelum keluar."
"Iya, Dok. Maaf ngerepotin." Ada jeda sebentar. Lalu, "Dok, saya boleh nanya satu hal lagi?"
"Boleh."
"Yang saya ceritain tadi..." Analis menggantung kalimatnya. "Aman, kan? Maksud saya, nggak akan sampai ke siapa-siapa?"
"Nggak akan," jawab Rinjani tenang. "Apa pun yang kamu ceritakan di ruangan ini, berhenti di ruangan ini."
"Termasuk ke Metya?"
"Termasuk ke Metya."
Analis tertawa kecil. "Soalnya kalau Metya tahu, sekampung bakal tahu, Dok."
Rinjani ikut tertawa. Doma mendengar kursi digeser, langkah kaki, lalu suara Analis yang menjauh sedikit ke arah pintu.
"Dok."
"Ya?"
"Kalau seseorang mimpiin hal yang sama terus-terusan selama bertahun-tahun," suara Analis melambat, "itu artinya apa? Otak saya lagi ngasih tahu sesuatu, atau saya cuma kebanyakan mikir?"
"Kita bahas minggu depan, ya. Sekarang kamu ada urusan lain, kan?"
"Ada, sih. Saya harus balik ke kantor."
"Kalau begitu, minggu depan. Jangan telat."
Pintu ditutup. Ruangan sunyi. Doma menghitung sampai sepuluh di dalam kepalanya sebelum pintu ruang periksa dibuka dari luar.
Rinjani berdiri di sana, memandanginya lama, kemudian menunjuk kursi di depan mejanya. "Duduk."
"Saya harus pulang."
"Duduk, Dom."
Doma duduk. Rinjani meletakkan segelas air putih di depan lelaki itu, lalu menarik kursinya sendiri sampai mereka duduk berhadapan tanpa meja penghalang.
"Tarik napas. Tahan. Buang." Rinjani memberi contoh, dan Doma mengikutinya walau setengah hati. "Sekali lagi. Jangan lewat mulut."
Lima menit berlalu. Warna wajah Doma berangsur kembali. Kepalan tangannya mengendur. Baru setelah itu Rinjani bicara lagi.
"Saya nggak akan cerita apa pun tentang dia ke kamu," kata Rinjani. "Dan saya juga nggak akan cerita apa pun tentang kamu ke dia. Kalau kamu ke sini buat itu, kamu salah orang."
"Saya nggak minta," sahut Doma cepat.
"Bagus. Karena kalau kamu minta pun, jawaban saya tetap sama."
Doma menegakkan punggungnya. Ia mengembuskan napas, memandangi gelas yang belum disentuhnya sama sekali. "Dia nggak boleh tahu saya ke sini."
"Kenapa?"
"Karena kalau dia tahu saya ke sini, dia akan tanya kenapa." Doma menatap Rinjani. "Dan saya nggak punya jawaban yang bisa saya kasih ke dia."
Rinjani mengangguk-angguk pelan. Perempuan itu mengambil bolpoinnya, memutar-mutarnya di antara jari, tetapi tidak menuliskan apa pun.
"Sepuluh tahun, Dom," gumam Rinjani. "Sepuluh tahun kamu duduk di kursi itu. Keluar masuk ruangan saya, absen berbulan-bulan, lalu datang lagi. Dan sampai sekarang kamu masih memperlakukan satu hal dari masa lalu kamu seperti bom yang nggak boleh disentuh siapa pun."
"Memang begitu kenyataannya."
"Bukan," bantah Rinjani. "Bom itu sudah meledak sepuluh tahun lalu. Kamu aja yang masih berdiri di lokasi yang sama, menghitungi puing-puingnya sendirian."
Doma tidak menjawab. Lelaki itu meraih gelasnya, meneguk airnya sampai setengah, lalu meletakkannya kembali.
"Saya harus balik ke kantor," kata Doma sambil berdiri.
"Dom."
Doma berhenti di ambang pintu.
"Yang bikin luka itu awet bukan kejadiannya," ujar Rinjani. "Tapi usaha kamu memastikan nggak ada satu orang pun yang tahu."
***
Malam itu Doma pulang paling akhir dari kantornya.
Lampu di lantai dua sudah dimatikan semua kecuali satu, di ruang arsip. Doma berdiri di depan rak besi berdebu berisi berkas-berkas perkara lama. Sebagian bahkan bukan perkara kantornya sendiri, melainkan salinan yang dikumpulkan sebagai bahan belajar pengacara-pengacara muda di firmanya.
Di sisi setiap map ada kartu peminjaman. Selembar kertas kecil bergaris, tempat siapa pun yang mengambil berkas menuliskan nama dan tanggal.
Doma menarik satu map tebal berwarna cokelat pudar dari rak paling bawah. Debunya menempel di ujung jarinya. Ia membuka sampulnya, dan matanya langsung jatuh ke kartu peminjaman yang terselip di dalam.
Ada satu nama di sana. Ditulis tiga kali, dengan tanggal berbeda, dengan huruf-huruf bulat yang sangat dikenalnya, karena setiap pagi huruf yang sama muncul di kertas belanja yang ditempel Analis di pintu kulkas.
Analis.
Doma menutup mapnya. Ia berdiri diam cukup lama, cukup untuk mendengar dengung lampu di atas kepalanya.
Kata-kata Riyan siang itu kembali terdengar sejelas ketika diucapkan. Ada pengacara perempuan muda yang berusaha mencari tahu kasus itu. Setelah aku cari tahu, pengacara muda itu berasal dari kantor kamu.
Doma mengembalikan map itu ke tempatnya. Rapi. Persis seperti semula, supaya tidak ada yang tahu berkas itu pernah dipegang orang lain malam ini.
Lalu ia mematikan lampu.
Di dalam mobil, Doma tidak langsung menyalakan mesin. Lelaki itu duduk memandangi kemudi, memikirkan satu hal yang selama ini selalu dihindarinya. Menjauhkan Analis dari perkara itu mustahil dilakukan dengan cara melarang.
Kalau dilarang, perempuan itu justru akan bertanya kenapa.
Maka satu-satunya cara adalah membuat Analis terlalu sibuk untuk mencari. Membuat perempuan itu punya hal-hal lain yang jauh lebih menarik daripada map cokelat berdebu di ruang arsip.
Doma menarik napas panjang. Ia mengeluarkan ponselnya, mengetikkan sesuatu, menghapusnya, lalu mengetiknya lagi.
"Sabtu malam kamu ada acara?"
Balasan datang tidak sampai sepuluh detik kemudian. "Nggak ada. Kenapa, Pak?"
"Kita keluar."
Kali ini balasannya lebih lama. Hampir satu menit. Doma sempat mengira Analis ketiduran dengan ponsel di tangan seperti biasa, sampai layar ponselnya menyala lagi.
"Bapak lagi demam, ya?"
***
Sabtu malam, pusat perbelanjaan itu penuh sesak.
Analis berjalan di depan, menenteng satu kantong kertas kecil berisi cokelat yang dibelinya dua menit setelah mereka masuk. Rambut hitam panjangnya diikat tinggi. Sesekali perempuan itu menoleh ke belakang, memastikan suaminya masih ada di sana dan belum kabur ke tempat parkir.
"Pak Doma jalannya jangan jauh-jauh," tegur Analis.
"Saya di belakang kamu dari tadi."
"Iya, tapi mukanya kayak orang disandera." Analis menahan tawa. "Senyum dikit, Pak. Nanti disangka saya nyulik orang."
Doma menoleh ke samping, mendelik. Analis buru-buru memutar badan dan melanjutkan langkahnya sambil terkikik.
Sejujurnya, Doma tidak nyaman. Terlalu banyak orang, terlalu banyak suara yang saling bertabrakan, terlalu banyak wajah yang bergerak ke segala arah. Bahunya bersentuhan dengan bahu orang asing setiap beberapa langkah, dan setiap kali itu terjadi, ada sesuatu di tengkuknya yang menegang.
Tapi lelaki itu tetap di sana. Berjalan pelan di belakang istrinya, memperhatikan ikat rambut Analis yang bergoyang-goyang tiap kali perempuan itu menengok ke kanan dan ke kiri.
"Bapak nggak mau beli apa-apa?" tanya Analis.
"Nggak."
"Masa nggak ada satu pun yang Bapak pengin?"
"Nggak ada."
Analis berhenti mendadak, membuat Doma nyaris menabrak punggungnya. Perempuan itu berbalik, menengadah, memandangi suaminya dengan mata menyipit. "Jadi Bapak ngajak saya ke sini cuma buat nemenin saya belanja?"
"Memangnya kenapa?"
"Nggak apa-apa." Analis mengulum senyum, lalu memutar badan lagi. "Bagus, kok. Saya suka."
Mereka berjalan melewati deretan etalase. Di depan toko mainan, langkah Analis melambat, lalu berhenti sama sekali.
Seorang anak perempuan berusia sekitar empat tahun berdiri sendirian di dekat tiang. Gadis kecil itu memegangi ujung roknya sendiri, matanya berair, dan bibirnya bergetar menahan tangis.
Analis langsung berjongkok di depan anak itu. "Hai, Sayang. Kamu sendirian?"
Anak itu tidak menjawab. Kepalanya hanya bergerak ke kanan dan ke kiri, mencari sesuatu.
"Mamanya ke mana?" Analis mengulurkan tangan. "Sini, Tante temenin cari Mama, ya?"
Ragu-ragu, gadis kecil itu meraih tangan Analis. Doma berdiri beberapa langkah di belakang mereka, memperhatikan tanpa berkata apa-apa.
"Kamu jangan nangis, ya. Mama pasti lagi nyari kamu juga." Analis menggandeng anak itu, berjalan pelan menyusuri koridor sambil memutar kepala ke segala arah. "Nanti kalau ketemu, kamu peluk Mama kenceng-kenceng. Biar Mamanya kapok ninggalin kamu."
Baru beberapa meter mereka berjalan, terdengar suara perempuan memanggil-manggil dari arah eskalator. Suaranya serak, panik, setengah menangis.
Gadis kecil di gandengan Analis mengangkat kepalanya. Wajahnya berubah seketika.
"Mama!"
Perempuan berusia tiga puluhan itu berlari menghampiri, jatuh berlutut di lantai, dan memeluk anaknya sampai kantong belanjaannya sendiri berhamburan. Analis mundur selangkah, memberi ruang, dan tanpa sadar ikut tersenyum lega.
"Terima kasih banyak, ya, Mbak. Ya Tuhan, terima kasih banyak," ucap perempuan itu sambil mengusap air matanya.
"Sama-sama, Bu. Untung anaknya nggak jauh-jauh."
Perempuan itu bangkit, masih menggendong anaknya, lalu pandangannya bergerak melewati bahu Analis. Wajahnya berubah. Air mata yang tadi mengalir buru-buru diusapnya, dan senyum yang terbit setelahnya sama sekali berbeda dengan senyum yang diberikannya kepada Analis barusan.
"Pak Doma?" pekik perempuan itu. "Ya ampun, Pak Doma! Ini kebetulan atau gimana?"
Analis menoleh ke belakang, ke arah suaminya.
Perempuan itu sudah melewatinya begitu saja. Berjalan menghampiri Doma sambil mengulurkan tangan, tersenyum selebar model iklan pasta gigi di TV.
Memuakkan.