Luxury saat ini sudah berkumpul di pinggir lapangan sekolah, hanya sekedar bercengkrama biasa. Alvian sudah terlihat bergabung bersama teman-temannya itu, setelah kemarin tidak ikut nongkrong bareng.
Bahkan, bisa dipastikan Alvian tidak tau tentang apa yang terjadi pada Celine dan yang lainnya kemarin malam. Sementara, Celine masih merasa pusing akibat minuman beralkohol yang ia tenggak. Ia juga masih berusaha mengingat apa yang terjadi semalam.
Celine hanya sekilas mengingat, ketika ia akan pulang Farel menahannya dan memberikan sentuhan-sentuhan menggairahkan pada tubuhnya.
Lalu, apakah mereka melakukan lebih dari itu? Mengingat ketika bangun, ia sudah dalam keadaan tanpa busana. Dan juga ada darah yang mengalir dari area sensitifnya. Celine merasa gusar dan sangat gelisah pagi ini.
"Lo baik-baik aja, Cel?" tanya Quenzy.
Anna yang tengah bersandar manja pada Farel ikut melirik ke arah Celine setelah mendengar pertanyaan Quenzy, begitupun dengan yang lain, termasuk Alvian.
"Lo masih kepikiran kejadian semalam?" tanya Quenzy lagi.
"Ayolah! Ini hal yang biasa, Cel! Tapi ... gue terkejut lo ternyata masih perawan," kata Xander. Alvian sontak menatap Xander setelah mendengar ucapannya.
"Apa yang terjadi semalam? Kenapa gue nggak bisa ingat apapun?" Celine akhirnya bertanya sekali lagi, meski ia tau jawaban dari pertanyaannya. Hanya saja, kenapa ia tidak mengingatnya?
Anna menghampiri Celine dan mengelus perlahan pipi gadis itu, lalu dengan lembut berkata.
"Celine sayang, sudah gue bilang, semalam adalah ritual penyambutan buat lo. Jika lo nggak ingat apa-apa ... itu hal yang wajar. Lo menenggak satu botol wine, gimana lo nggak mabok?" ucap Anna, "Pokoknya lo keren banget semalam. Gue benar-benar nggak nyangka!"
Celine semakin bingung, ia mengintip ke arah Farel yang tengah tersenyum miring menatapnya.
Alvian menatap teman-temannya, lalu tatapannya terhenti pada Celine, 'Gadis bodoh,' ucapnya dalam hati.
**°HighSchool°**
Seketika, perhatian mereka teralihkan karena keributan yang terjadi di pintu masuk sekolah. Kedatangan Maggie, Vania dan Eilen, penyebab kehebohan anak-anak SMA Cleverity pagi ini.
Perubahan penampilan mereka membuat seluruh siswa Cleverity terpanah. Bahkan, anak-anak Luxury terlihat menatap tak bergeming pada ketiganya.
Mata Alvian juga tidak berhenti menatap ke arah gadisnya yang semakin terlihat cantik tanpa kacamata besarnya. Rambutnya yang panjang terurai menambah kecantikan gadis yang sangat ia cintai itu.
Pakaian yang ia kenakan juga berbeda. Roknya saat ini sudah lebih pendek dan baju putihnya terlihat lebih ketat, menampilkan lekuk tubuhnya yang indah. Tidak heran, banyak mata yang menatap terpesona pada Maggie.
Hal yang serupa juga terlihat pada Vania. Gadis itu menghilangkan rambut kepang duanya dan memilih mengurai rambutnya yang panjang sebahu dengan poni tipis barunya. Baju yang ia kenakan juga terlihat tidak jauh berbeda dengan Maggie.
Sementara, Eilen hanya mewarnai sedikit rambutnya menjadi coklat, tidak ada perubahan mencolok selain dari rambut. Karena ia dan Celine memang sudah berpenampilan modis sebelumnya, dibanding Maggie dan Vania yang memang selalu terlihat culun sejak awal masuk sekolah.
"Wow! Apa ini? Para itik buruk rupa berubah menjadi angsa?" ucap Arnold saat ketiga gadis itu berdiri di depan anak-anak Luxury.
"Wah, kalian terlihat bersinar. Apa kalian mengumpulkan sinar bulan semalam?" kali ini giliran Gavin yang bertanya.
"Wow! Meskipun seekor itik berubah menjadi angsa, dia tetaplah seekor itik!" ucap Anna dengan sinis menatap Eilen dan teman-temannya.
Eilen tertawa saat mendengar perkataan Anna, "Setidaknya kami itik yang memiliki otak. Tidak seperti kalian, para angsa yang hanya bisa dance tapi isi otak ... nol besar!"
Anna marah ketika mendengar ejekan Eilen, "Maksud lo?!"
"See ..! Kayak gitu aja lo nggak ngerti maksudnya apa!" ledek Eilen lagi, "Come on, guys! Kita nggak punya waktu untuk bicara dengan orang-orang tidak berguna seperti mereka!"
Setelahnya, Eilen dan Vania pergi meninggalkan lapangan, sementara Maggie menatap Celine khawatir. Tapi, tidak dapat berbuat banyak karena Celine terlihat baik-baik saja. Ia lalu memutuskan untuk menyusul kedua sahabatnya.
"ARGGHH! SIALAN MEREKA!" teriak Anna emosi. Ia berjalan dengan kesal meninggalkan lapangan disusul dengan teman-temannya yang lain.
"Farel, bisa kita bicara sebentar?" tanya Celine saat keduanya berjalan menuju kelas.
**°HighSchool°**
Farel dan Celine sekarang berada di belakang gedung sekolah yang cukup sepi.
"Lo mau ngomong apa?" tanya Farel terlihat cuek.
Celine mengernyit bingung, ia merasa ada yang berbeda dengan Farel.
"Hmm, soal semalam ..."
"Itu lagi? Kan anak-anak udah jelasin apa yang terjadi, lo nggak percaya sama mereka?"
"Bukan begitu, tapi ... gue ..."
"Apa?! Buruan sebentar lagi bel!"
"A-ada darah ... di sekitar s**********n gue tadi pagi pas gue bangun ..." Celine merasa sangat gugup.
"Terus?"
Celine merasa hari ini Farel benar-benar cuek dan dingin padanya. Namun, ia segera menepis perasaan itu dan kembali bertanya, "Apa semalam kita melakukan hubungan yang lebih?"
"Maksud lo? Seks?" Celine mengangguk tapi Farel justru tertawa, membuat perasaannya semakin kalut.
"Menurut lo aja gimana?" Farel menatap Celine yang terlihat takut dan penasaran.
"Lagian kalau iya, kenapa? Lo nyesel? Bukannya ini yang lo mau?" ungakap Farel lagi.
"Apa?!"
"Gue benar-benar ga nyangka, tebakan gue benar. Lo masih perawan ... but, thanks ya. Berkat lo, gue bisa merasakan gimana nikmatnya darah perawan," ucapnya dengan senyum puas di wajahnya.
"Sebenarnya, melihat lo saat ini ... berdiri di hadapan gue, rasanya pengen banget gue langsung nerkam lo lagi. Tapi, pasti masih perih banget, ya kan?"
Celine menahan air matanya, 'Apa yang sudah lo lakuin, Cel?' batinnya.
"Gimana nggak perih ... mungkin saja itu lo sobek karena lo bermain dengan empat pria sekaligus. Lo jago banget, terlihat seperti seorang yang sudah sering melakukan 'itu' ... padahal semalam pasti pengalaman pertama lo, kan?"
"Apa?! Gue ... maksud lo?! Bukan cuma lo?"
"Ya, Gavin sampai melakukan tiga kali sama lo, dia ketagihan banget," ucap Farel tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Setelahnya bel masuk berbunyi. Farel berbalik dan berjalan meninggalkan Celine yang masih tampak terkejut.
Tidak lama ia berbalik badan lagi dan berkata, "Oh ... jika lo merasa gatal ..," Farel menghentikan perkataannya dan menunjuk ke arah rok Celine, "Lo bisa hubungin gue. Dengan senang hati, gue akan buat lo puas, sayang."
Farel pergi meninggalkan Celine sendiri. Sepeninggal Farel, Celine jatuh terduduk saking lemasnya.
Ia sangat terkejut mengetahui fakta yang terjadi. Ia tau, ia menginginkan melakukan hal ini dengan Farel, tapi ia tidak tau akan berakhir seperti ini.
"AKHH ... b******k!" teriaknya, "Bodoh, Celine! Bodoh! Bagaiamana lo bisa tergoda? Apa yang harus gue lakukan sekarang?" ucapnya lirih pada dirinya sendiri.
**°HighSchool°**
Sementara itu di kelas XI IPA 2, anak-anak masih heboh dengan perubahan dari teman sekelas mereka.
"Wah! Kalian terlihat sangat berbeda. Kalian yakin tidak melakukan operasi plastik?" tanya Hary teman sekelas Maggie, Eilen dan Vania.
"Aduh ... please deh! Ini tuh kekuatan Make-up. Yakali, tiap perubahan sedikit, di kata operasi plastik," sahut Eilen.
"Kenapa nggak dari dulu aja berubahnya, tau gitu kan, dari awal gue deketin kalian aja," celetuk Andre yang langsung mendapat sorakan seisi kelas.
"Dihh ... ngarep lo!" balas Eilen. Maggie dan Vania hanya tersenyum canggung melihat tingkah teman-teman sekelasnya itu.
Tiba-tiba guru masuk, membuat anak-anak itu terdiam dan kembali ke tempat duduk mereka masing-masing. Maggie menoleh ke bangku di sampingnya yang masih belum terisi.
"Mana Celine?" tanya Maggie pada dua sahabatnya yang duduk di bangku belakangnya. Eilen hanya mengedikkan bahunya, sementara Vania menggeleng kecil.
Maggie kembali membalikkan tubuhnya ke arah depan, wajahnya tampak khawatir. Namun, ia memilih untuk kembali fokus pada pelajaran di kelas.
Meskipun begitu, ia tidak dapat menutupi wajah gelisahnya dan sesekali melirik ke arah pintu masuk kelas. Hingga jam pelajaran kedua selesai, Celine belum juga muncul.
Maggie sudah mengkhawatirkan gadis itu sejak ia mendapat telepon dan mendengar Celine meminta tolong padanya. Kemudian saat ini, Celine menghilang padahal tadi pagi, ia dengan jelas melihat gadis itu.
"Udahlah, Gie! Gue yakin saat ini dia pasti sedang membolos bersama anak-anak Luxury, lo tau kan mereka kayak apa," kata Eilen.
"Katanya gak akan jadi sama kek mereka, baru juga sehari udah liar aja kelakuannya," lanjutnya lagi.
"Iya sih. Tapi, tetap aja gue khawatir," jawab Maggie.
"Biarin aja, Gie. Dia bahkan tidak membela kita saat teman-teman barunya mengejek kita tadi," kali ini Vania menambahkan.
"Nah, good! Terbuka juga akhirnya pikiran lo, Van," ucap Eilen, "Lo juga, berhenti khawatir sama orang yang gak anggap lo lagi, Gie!"
Maggie hanya terdiam. Perasaannya masih sangat kalut. Ia tidak tau harus berbuat apa, hingga sosok yang ditunggu muncul.
Celine tampak berantakan kala muncul di pintu kelas. Tatapan semua siswa mengarah padanya.
"Apa yang terjadi?"
"Ada apa dengannya?"
"Apa dia mabok?"
"Dia sangat berbeda sekarang."
Bisik-bisik dari teman-teman kelasnya tidak dihiraukan oleh Celine ia terus berjalan lunglai ke arah bangkunya.
"Lo baik-baik saja?" tanya Maggie ketika Celine sudah duduk di kursinya.
"Apa peduli lo? Bukannya kita sudah sepakat tidak saling peduli," balasnya.
"Hei, dia bertanya karena dia khawatir sama lo! Gila, ya! Baru sehari tapi sikap lo sudah berubah 180 derajat. Terbukti kan, omongan lo tuh bullshit semua," bentak Eilen, "Cukup, Gie. Gak usah peduliin dia lagi, lo lihat sikap dia kayak gimana!"
Maggie menatap kecewa pada Celine dan kini ia mengerti perasaan Eilen.
**°HighSchool°**