Akhirnya, aku menemukan kedamaian dan ketenangan jiwa. Aku mencintaimu suamiku, tapi ...aku lebih mencintai Rabb-ku.
" Ya Allah,...dalam sujudku yang hina ini. Kuatkan aku dengan CintaMU,"lirih hatiku mengharap ridho dan Cinta Illahi. "Aku berdosa padaMU... ya Allah," ...rintih jiwaku mengadu pada NYA. "ampuni segala dosa Jahiliyahku," makin sesegukan aku di sajadah cinta. Ku pasrahkan seluruh jiwa ragaku, hanya pada sang Pemilik Hati.
" Aku lelah ya Allah,...namun aku percaya, engkau selalu ada mendukung dan mencintai ku," airmataku mengalir deras dipenghujung malam. Hal yang membuatku lega,karena telah mengadu padaNYA.
Ku lipat mukena dan sajadah. termenung aku dalam kesunyian malam, ku tatap wajah tampan suamiku,cinta pertamaku tampak lelap dalam alam mimpinya. Lelah, rasanya mengiringi langkah dan hidup yang diinginkan suamiku. Hanya duniawi segalanya, menjadi tolak ukur keberhasilan. "Kapan, engkau akan bersimpuh dan bersujud dihadapan sang Pemilik Hati, wahai imamku," lirih ku ucap diujung tempat tidur, "semoga hidayahNYA datang, sebelum terlambat, datang menghampirimu," doaku penuh harap pada Allah SWT untuk suamiku tersayang.
****
Teringat akan kisah ku, 15 tahun lalu. Aku, gadis lugu yang dijodohkan dan dijual ibuku, demi harta. Dipisahkan dengan cinta pertamaku. Tapi takdir berkata lain. Aku menjadi janda, dan akhirnya menikah kembali dengan pria yang pernah menjadi cinta pertamaku.
Akankah cerita cinta Marini dan Rendi berakhir bahagia, dan tanpa rintangan?...
Kemana perginya, suami pertama Marini?...
Bagaimana, takdir menyatukan Marini dengan cinta pertamanya ?...
********
Bab 1 Terpaksa Menikah Muda
(POV. Marini)
"Kapan lagi kamu bisa membahagiakan orang tua Rin...!!! Teriak ibuku, wanita yang sangat aku sayangi dan ku hormati. "Tapi,...aku belum mau menikah, ma."jawabku lirih sambil menahan deraian airmata, yang sayangnya tak mampu aku tahan. " Tidak bisa !!! kamu harus menikah dengan Ryan. Dia pemuda baik, mapan dan anak orang kaya. Lagipula, mama tidak mau mendengar bantahan lagi, titik... !!! bentak mama, amarahnya sudah menggelar. Dengan mengepalkan kedua tangannya, dan gigi saling beradu mama mengancamku. " jika kamu tidak mau Rin, jangan anggap lagi aku ini ibumu," geram mama dengan wajah merah padam, lalu keluar dari kamarku, sambil menghentakkan kakinya.
Mama sudah tidak perduli lagi dengan perasaanku, yang ada dipikiran mama hanya uang dan kesenangannya. Sedangkan aku, sebenarnya sudah memiliki kekasih yang juga seorang marinir, tetapi mama tidak setuju. Dan akupun, akhirnya terpaksa mengikuti keinginan mama. Walau hatiku hancur dan sakit.
*******
Di dalam kamar aku termenung seorang diri, baru aku sadari ternyata, tanpa persetujuanku lagi, mama terima lamaran bang Ryan. Aku sadar, bang Ryan sering datang kerumah dan mama selalu respek padanya. "Mama pasti sudah banyak menggunakan uang bang Ryan," gumamku dalam hati. Karena, mama tak segan meminta bantuan orang lain untuk kesenangannya, dengan berbagai alasan yang dibuatnya.
Tanpa bisa ku tolak lagi, pernikahan ini harus terjadi sesuai dengan keinginan mama. Sementara ayahku hanya diam pasrah, karena watak keras kepala mama yang tidak mau di bantah.
Aku teringat kekasihku Mas Rendy. "Sedang apa dia disana? rindu hatiku padanya,"
Mas Rendy, sosok pemuda pekerja keras, berasal dari keluarga sederhana. Saat ini dia sedang merintis usaha fermentasi dari kacang kedelai. Karena itu, kami sepakat menikah nanti, jika aku sudah berusia 23 tahun dan usahanya sudah stabil. " maafkan aku mas, aku sudah mengkhianati mu," isakku pilu, ku tutup wajah ini dengan bantal, biar teredam suara tangisku.
*****
Sebulan kemudian, resepsi pernikahanku dengan bang Ryan diselenggarakan secara meriah, bahkan tamu dari kenalan mama dan teman sosialitanya banyak yang hadir.
"cantiknya putriku, seperti boneka Barbie," bisik mama bangga ditelingaku, sambil tersenyum manis kepada para undangan. Aku hanya tersenyum seadanya, jujur saja hatiku masih sakit, karena harus terpaksa meninggalkan kekasihku.
Ku lirik disebelah ku, bang Ryan tampak bahagia. Berkali-kali ia melirikku dengan melemparkan senyum manisnya. Ia meremas tanganku gemas, saat kami duduk dipelaminan.
Sementara keringat dingin di punggungku sudah mengalir deras, aku nggak nyaman dengan suasana ini. " ya... Allah, tolong bantu aku," bisik hatiku. Hati ini gelisah dan jantungpun berdegup kencang. Sesekali mataku melihat ke luar pintu resepsi pernikahan ku. Firasatku mengatakan, ada sesuatu yang mengawasi ku dari jauh.
Berkali aku menghela nafas pelan, dan berusaha tersenyum kepada para undangan yang hadir. Mencoba tenang, tapi jantung ini terus saja berdegup kencang. Dan tiba-tiba pandanganku tertumpu pada satu arah.
"Glek," kesulitan aku menelan Saliva, dan mataku pun membulat. " ya, Allah. Itu Mas Rendi," pekik hatiku pilu.
Airmata ini hampir luruh, ku coba tahan semampuku. "maafkan aku, mas...", bisik hatiku menjerit kala ingat janji dengan kekasihku.
" Aku, tak mampu menolak perjodohan ini. "semoga kamu mendapatkan wanita yang lebih baik dariku," doa ku dalam hati buat mas Rendi.
Perlahan ku beranikan diri mengangkat kepalaku yang tertunduk. "astaghfirullah...! hampir pingsan rasanya aku melihat semua ini. Mas Rendi, naik ke panggung pelaminan ku dan bersalaman dengan Ryan. Tampak mata mereka banyak berkata-kata, hentakan jabat tangan keduanya sangat erat dan keras.
Ku lihat Bang Ryan tersenyum sinis, tapi mas Rendi membalasnya dengan raut wajah dingin.
" jaga Rini, ia masih terlalu muda untuk sebuah pernikahan," ucap mas Rendi. "Jika kamu tak mampu menjaganya, aku yang akan merebutnya,"tegas kudengar suara Mas Rendi.
Mereka masih berjabat tangan dan saling beradu pandang. " tenang, Rini milikku," balas Bang Ryan. " maka menjauhlah," senyum sinis bang Ryan membalas ucapan lawannya.
" selamat berbahagia, jadilah istri yang baik," pesan Mas Rendi sambil menjabat tanganku hangat. Aku hanya membalas dengan tersenyum pedih dan menundukkan pandangan, tak kuasa melihat luka dihatinya.
Kemudian Mas Rendi menyalami ayah dan mama. Gegas ia melangkah keluar resepsi kami, tanpa melihat ke arahku lagi.
" kamu mencintai nya?" tegur bang Ryan dengan nada tak enak ku dengar. Aku diam tak ingin menjawabnya. " ingat Rin, kamu istriku. Jangan macam-macam," tegasnya lagi di telingaku. "Ibumu, sudah menjualmu padaku, uangku ditukar dengan kesenangannya, ingat itu...!!! lagi ku dengar penekanan nya. Aku hanya mengangguk dan diam menahan sekuat mungkin airmata ini jatuh. " teganya, mama padaku," sakit hatiku.
Usai resepsi mewah di hotel. Kami berdua menghabiskan malam pertama di kamar hotel yang sudah di pesan suamiku. Bang Ryan malam itu tak mau menunda ritual malam pertamanya padaku.
"mandi dan bersiaplah, serahkan dirimu seutuhnya padaku malam ini," perintah Bang Ryan padaku.
Takut, gugup dan bingung bercampur satu yang ku rasakan. Aku hanya mengangguk dan menuruti kemauannya. Segera aku memasuki kamar mandi dan bersiap.
"Rin, Kamu mandi apa tidur?" tegur suamiku. " I..i..iya ..bang, Rini sudah selesai kok," jawabku gugup. " Keluarlah, aku juga mau mandi," tak sabar suara bang Ryan menjawab ku, yang ku dengar langkahnya semakin dekat ke pintu kamar mandi. Gegas aku membelitkan handuk ditubuh polosku. " sial, kenapa aku lupa membawa baju ganti," rutukku terpaksa keluar kamar mandi ini.
Kami bertemu di depan pintu kamar mandi, ku lihat sekilas, Bang Ryan meneguk ludahnya dengan sulit, matanya tampak aneh memandangku. Sementara aku bingung dan gemetaran menerima tatapannya, yang ku lihat seperti ingin melahapku. "minggir, tunggu aku di tempat tidur nanti Rin," perintah bang Ryan sambil melangkah masuk ke kamar mandi.
Aku bergegas menyingkir dan melangkah mencari baju tidur. Ku tunggu, suamiku di ranjang pengantin kami, seperti perintahnya padaku tadi.
Tak lama, pintu kamar mandi terbuka dan ku lihat Bang Ryan keluar dengan bertelanjang d**a, dan handuk melilit pinggangnya. " ya Allah, mengapa juga cowok ini santai saja berdiri disitu sambil menatapku,"bisik hatiku gugup.
Perlahan, Bang Ryan mendatangiku dan aku semakin gugup dan panik.Ia tersenyum manis, tapi aku melihatnya sangat menakutkan.
"kenapa, apa kamu mau menolakku?" tanya bang Ryan. " ti....ti..tidak bang," jawabku terbata-bata. " bagus !" jawabnya sambil bergerak semakin mendekat padaku.
Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang aneh dibibirku, dan mataku terbelalak kaget. " cowok ini menciumku," tolak hatiku tak percaya.
Melihat responku yang kaku dan kaget, Bang Ryan tak perduli. Ia terus mencium dan melumat bibirku sampai aku kehabisan nafas.
Ia terus mencium seluruh wajahku, dan tanpa ku sadari sudah ke leherku. Hingga tak sadar suaraku mengeluarkan suara aneh, yang tak aku mengerti. Aku terbuai dengan cumbuannya dan pasrah.
Tanpa jeda bang Ryan terus melancarkan serangannya. Dan mengambil semua yang diinginkannya. Hingga ia terkapar puas disampingku. Senyum puas terlukis di wajahnya, dan perlahan air mataku mengalir dalam diam. Aku sudah menyerahkan seluruh tubuhku utuh pada suamiku tapi tidak dengan hatiku. Perlahan ku dengar nafasnya mulai teratur dan ia tertidur lelap sambil mendekap ku.
*************