Bab. III. Harus Jadi Orang Kaya
(POV. Ibu Maya)
"Hmmm, darimana aku dapat banyak uang lagi ya," gumamku. "Si Rini bodoh, masa dekatin cowok miskin gitu,"cibirku saat teringat gadis remajaku yang cantik itu, duduk berdua dengan kekasihnya Rendi si miskin, di ruang tamu rumahku sore kemarin.
"Aha,...aku tahu caranya," senyumku mengembang. " Aku, akan jodohkan marini sama Ryan tentara itu," ujarku sambil tersenyum semakin lebar, terbayang uang semakin banyak mengalir ke dompet ku. " Ryan kan terlihat sangat menyukai Rini, dengan uangpun tidak perhitungan," sambil terkekeh pelan, aku berdialog sendiri di depan cermin kamar tidurku.
"Diriku masih cantik dan menarik, walau usiaku sudah 56 tahun," gumamku meraba perlahan kulit di wajahku, yang tampak mengendur. " Tua, tidak masalah, yang penting bisa ke salon, shopping dan makan enak," ujarku seraya bergaya, melenggak lenggok di depan cermin.
" Tok...tok...tok...," Terdengar pintu depan rumahku diketuk seseorang. Gegas aku merapikan diri didepan cermin, dan melangkah ke ruang tamu. " Assalamualaikum...Bu!" Salam seseorang diluar pintu rumahku. " Wa'alaikumsalam,"jawabku seraya membuka pintu.
"Eh, nak Ryan, tumben siang main kesini. Mari silahkan masuk," sapaku sambil mempersilahkan Ryan masuk dan duduk di kursi tamuku. " Iya.. bu, lagi bebas tugas, jadi bisa silaturahmi sama ibu," ujar Ryan malu-malu.
"Ini, ada sedikit oleh-oleh buah sama martabak kesukaan ibu," kata Ryan sambil mengangsurkan buah tangannya padaku. Aku tersenyum bahagia menerima pemberian Ryan. " Ah..., nak Ryan, ini sangat merepotkan saja," jawabku basa basi.
Ku lihat Ryan, tampak sesekali melihat ke ruang tengah rumahku. Sepertinya, ada yang diharapkannya. " Ehem," dehem ku. " Eh, ibu" gugup Ryan melihatku.
" Anu Bu, si Marini ada di rumah nggak Bu?" Tanya Ryan padaku
" Oh ..., Si Marini lagi kursus menjahit nak, nanti jam 5 sore baru pulang," jawabku.
" Jadi, datang kesini mau ketemu Marini, ya?" cetusku ke Ryan sambil melirik wajahnya yang nggak terlalu tampan, tapi lumayanlah bodynya gagah dan kaya lagi.
" He..he..he..,nggak juga bu," jawab Ryan terkekeh pelan sambil menggaruk belakang lehernya malu.
" Nak Ryan, suka sama anak ibu?" tanyaku blak-blakan padanya.
" Iya, Bu...saya suka sama marini,"jawab Ryan tegas walau dengan nada yang tetap santun.
" Yakin, sanggup mendapatkan hati Marini," cecarku lagi padanya. " Insha Allah Bu, Ryan akan coba, yang penting restu dari Ibu," tegas jawabnya membuat ku kagum. Apalagi, setiap kedatangan Ryan selalu membawa oleh-oleh kesukaanku, membuat nilai lebih dimataku.
"ibu tinggal sejenak ya nak," pamitku pada Ryan. " nak Ryan mau minum apa?" tanyaku sebelum beranjak masuk ke dapur. " apa saja Bu,"jawabnya sambil tersenyum. " ya udah, tunggu sebentar ya," lalu aku beranjak ke dapur membuatkan Ryan teh hangat.
Tak lama kemudian, aku menghidangkan teh hangat bersama sepiring kue pukis buatanku. " mari, silahkan dicicip kuenya nak,"tawarku pada Ryan. "terimakasih Bu," jawabnya, lalu minum dan mengambil sepotong kue.
Sambil kulihat Ryan mencicipi hidangan, aku mencoba mengetahui lebih jauh isi hati dan keseriusannya pada putriku. "Ibu sih merestui niat nak Ryan, tapi meluluhkan marini bukan hal mudah lho," obrolan mulai ku buka dengan memberikan sinyal negosiasi. Ryan tampak termenung mendengar kalimatku.
" Mau ibu kasih saran nggak, biar marini luluh sama nak Ryan?" tawarku lagi. " Mau Bu, apa itu?" Ujar Ryan antusias.
Aku tersenyum lebar, melihat reaksinya.
mimik wajah ku buat serius dan duduk tegak menghadap Ryan. " yakin, nak Ryan melakukannya," tanyaku meyakinkan nya. " iya Bu," jawabnya tegas.
Ku lihat Ryan siap mendengar apapun penjelsan dan saranku. " Manjakan Marini dengan barang-barang bagus dan mahal, makanan enak dan duit, tapi ...," Jeda ku, sambil melirik reaksi Ryan.
" Tapi, apa Bu?" Ryan makin penasaran.
Aku tersenyum melihat rasa penasarannya, dan ku hela nafas pelan dengan raut wajah ku buat miris sebelum mengatakan apa maksud tujuan kalimatku tadi. " tapi, apa Bu," cecarnya lagi penuh rasa harap. "Ryan, siap mengusahakan apapun keinginan dan kebahagian Marini, Bu," jawabannya yakin.
" Marini itu anak yang polos dan sayang sama mamanya, jadi apapun yang dimilikinya, pasti akan diusahakan sang ibu juga milikinya," jelasku perlahan seolah berat mengatakannya pada Ryan, padahal ini salah satu trik menjebaknya agar bersimpati dan mau mengikuti keinginanku, untuk memberikan apa yang aku mau.
" Wah, kalau soal itu, Insha Allah saya sanggup Bu,"jawab Ryan penuh percaya diri, sambil tersenyum padaku.
" Alhamdulillah, berarti jalan semakin terbuka, buat niat baik nak Ryan ya," ujarku lembut dan tersenyum bahagia. Akhirnya, Ryan setuju dengan saranku untuk meluluhkan hati putriku.
" he..he...he... ini keinginan ku, bukan putriku," bisik hatiku.
Cukup lama kami ngobrol dan bertukar cerita, hingga jelang jam 5 sore. "assalamualaikum" salam marini didepan pintu rumahku.
Ia, baru pulang kursus menjahit.
" Wa'alaikumsalam," jawab kami berdua serentak. " Baru pulang, Rin?" Tegur Ryan sambil menatap dalam Marini.
" Iya, bang," jawab gadisku sambil mencium takzim punggung tanganku dan menjabat tangan Ryan.
Marini kemudian ku suruh duduk di sampingku sejenak. " Rin, sana mandi, terus ganti pakaian yang rapi ya," suruhku padanya. " Memang mau kemana, ma?" Tanyanya bingung. "Gini, bang Ryan tadi bilang mau mengajakmu, untuk temani dia membeli kado ultah sahabatnya besok," jelasku pada Marini. Sambil ku kode Ryan, dan ia faham maksudku.
" Tapi, Rini ada janji sama mas Rendi malam ini, ma,"tolak Rini. " Sekali-kali jalan, dan tolongin bang Ryan kan nggak apa-apa, Rin," balasku . "Lagian kamu, sudah sering juga kan jalan sama si Rendi itu," bujukku lagi, sambil mengelus rambutnya yang terikat ekor kuda.
Ryan hanya mengamati interaksi kami berdua dengan pandangan harap cemas. " Iya sudah deh, Rini ikut aja kata mama," dengan cemberut Rini menjawab dan meninggalkan kami, masuk ke kamarnya untuk bersiap.
" Alhamdulillah, terimakasih Bu. bantuannya," ucap Ryan bahagia
" Ya, sama-sama, tapi ingat tetap jaga diri ya, dan pulangnya bawa oleh-oleh," jawabku lirih takut didengar Rini, bermaksud mengingat kan Ryan. " Siap, laksanakan," jawab Ryan bak seorang prajurit melapor keatasannya. Aku terkekeh pelan, melihat tingkahnya. Lima belas menit kemudian, Rini keluar kamar sudah terlihat cantik dan segar. Ryan semakin terpesona mengagumi kecantikan marini, gadis remajaku yang beranjak dewasa.
" Kami, pergi dulu ya Bu," pamit Ryan dan Rini mencium takzim punggung tanganku. " Iya, hati-hati di jalan," balasku. Melepas mereka memasuki mobil mewah milik keluarga Ryan yang kaya itu. Dengan senyum bahagia dan puas, aku menatap kepergian keduanya. " Yes, aku bakal dapat menantu orang kaya," sorak hatiku.
******
Aku Maya, anak tertua dari sembilan saudara. Kami berasal dari keluarga sederhana, biasa di didik dalam lingkungan yang memanjakanku. Sehingga watakku keras kepala, dan sedikit memaksakan kehendak jika punya keinginan.
Tetanggaku mengenalku dengan sebutan ibu Maya yang judes, kepo dan matre, "bodo amat," jawabku dalam hati, sambil melenggang masuk ke ruang tengah. Yang penting bagiku ada uang, makan enak dan bisa shopping serta ke salon.
"Huh, mengharapkan suami, ia saja penyakitan. Haidir, putra tertuaku mana mau dia bantu biaya dapurku," umpatku dalam hati.
" Pokoknya, Rini harus menikah sama Ryan," tekadku menjodohkan mereka. " Biar Rini, nggak ketularan miskinnya si Rendi," kataku sambil menghela b****g tuaku yang ku lihat masih seksi ini, di sofa ruang tengah depan tv. " Klik," remote tv ku pencet, mencari program siaran telenovela kesukaanku. Tak kupedulikan kebutuhan suamiku. "lha dia saja sudah nggak bisa kasih nafkah lahir bathin padaku, nyesel aku nikah sama si penyakitan itu," hina ku pada ayahnya anak-anak.
*****
Hampir tiga bulan lamanya, aku menjodohkan marini dengan Ryan. Bahkan Ryan, sudah mengatakan akan melamar marini untuk menjadi istri nya.
Saat di kamar berdua dengan suamiku. Aku hanya memberitahukan niat Ryan memperistri Marini padanya. Tanpa niat meminta pendapatnya sebagai kepala keluarga. Suamiku hanya pasrah, karena ia tahu keinginanku harus terwujud apapun alasannya .
Minggu kemarin Ryan sudah memberikan uang untuk membelikan perlengkapan marini, sebagai penghantar lamarannya nanti. Rencana ini tanpa sepengetahuan marini. Karena kalau Marini tahu Ryan melamarnya, aku yakin akan ditolaknya. Marini itu urusanku, yang penting uang ini ada padaku. "Lumayan, uangnnya sedikit aku gunakan untuk beli baju baru dan ke salon," bisik hatiku culas.
Saat kami duduk berdua, momen yang tepat untuk memberitahukan perihal lamaran Ryan pada Marini putriku. "Rin, mama rasa kamu sudah waktunya menikah," ujarku membuka obrolan dengan Marini. " Rini kan masih kecil ma," jawab putriku. " Rini masih ingin menggapai cita-cita, ma," ungkapnya lagi padaku. " usiamu sudah 19 tahun, Rin. Dan itu sudah cukup usia untuk menikah," bantahku atas jawab Rini. " Kapan lagi Rin, kamu mau membahagiakan mama?" tanyaku dengan nada pura-pura sedih. " mama capek hidup susah Rin," tekanku lagi mengaduk emosi dan simpati Marini.
Marini tampak gelisah, " tapi ma," jawabnya gemetar. Sudut matanya tampak menahan buliran airmata, yang ku yakin sebentar lagi akan turun. "Mama capek Rin, tolong bantu mama," rayuku lagi. Aku sadar Rini tidak mudah dibujuk, tapi dia akan takut dengan gertakan dan ancaman dariku, karena ia putriku yang penurut.
Aku berusaha membujuk marini, untuk menerima Ryan. Berbagai cara dan jurus rayuan ku coba. Marini masih kekeh pada pendiriannya, menolak Ryan. Akhirnya jalan terakhir ku berikan. " kapan lagi kamu akan membahagiakan orang tua, Rin!" bentakku dengan suara tinggi dihadapan Marini. " tapi, aku belum mau menikah, ma," jawabnya lirih membantahku. " tidak bisa, kamu harus menikah dengan Ryan, karena dia baik, mapan dan seorang tentara," tegasku tetap dengan suara tinggi padanya. " lagipula, mama tidak mau mendengar bantahan lagi, titik...!!! teriakku dan berlalu pergi dari hadapannya, dengan kemarahan yang sudah diubun-ubun, karana penolakannya.
Marini dengan terisak menjawab " iya ma, Rini ikut kata mama," pelan sambil menyeka air mata. Aku yang masih berada di depan pintu kamarnya, mendengar jawabannya sesuai keinginanku, akhirnya luruh dan setuju dengan keputusanku. Tak menoleh, terus ku langkah kaki keluar dari kamar putriku, seolah masih marah. Namun, tanpa sepengetahuan nya aku tersenyum bahagia.
*****
Sebulan kemudian mereka menikah dengan meriah. Aku, tentu saja bahagia, Ryan sangat memanjakan Marini dan tentu saja aku dapat seperti yang putriku dapat. Uang dan barang mahal sering diberikannya padaku, jika ia, memberikan juga untuk Marini. Uang pestapun keluarga Ryan semua yang menanggung. Aku, melihat putriku murung saat dipelaminan. Tapi, aku cuek saja, karena aku yakin dia akan bahagia suatu saat kelak. Sekarang aku resmi menjadi mertua orang kaya, he..he..he..senyum bahagia ku bagi pada para tamu undangan, yang hadir di resepsi pernikahan Marini dan Ryan.
*****
Beberapa hari kemudian, aku dengar kabar, si miskin Rendi keluar dari kesatuannya dan merantau ke negara tetangga. " Bodo amat, miskin ya tetap miskin," bergidik aku membayangkan harus hidup susah lagi, jika Rini menikah dengan Rendi.
Seminggu pasca pernikahannya, Ryan mendapat tugas dari kesatuannya untuk Dinas di bumi rencong selama enam bulan. Dan, aku pun memboyong marini pulang ke rumahku. Otomatis, sebelum Ryan berangkat tugas, aku menekankan perjanjian uang bulanan dan uang dapur untuk marini selama di rumahku. Dan, Ryan setuju.
Semenjak menantuku, Ryan berangkat tugas, marini aku larang keluar rumah. Semua aktifitasnya hanya boleh di dalam rumah. Keuangannya aku yang mengatur, bahkan untuk jajannya pun aku yang memberi jatah. Hidupku merasa nyaman dan bahagia sekali, serasa menjadi orang kaya raya, dengan uang yang nggak habis-habisnya. Marini hanya diam dan pasrah saja, karena baginya kebahagiaanku sebagai ibunya diatas segalanya. Bangga aku, punya putri yang penurut dan cantik.