Setelah kembali ke studio, Tara dan tim segera melakukan persiapan untuk penerbangan besok. Barang-barang apa saja yang akan mereka kirim dan apa saja yang akan dibawa. Setelah mendengar infromasi dari mulut Yoona sendiri, Tara menelepon Bagas selaku penanggung jawab selama acara berlangsung dan meminta kebenaran infromasi yang dia terima. Ternyata hal itu benar dan sebenarnya informasi sudah diberitahukan sejak siang, tapi karena kesibukan mereka hari itu tidak ada yang menggubris hal tersebut. Akibatnya dia dan timnya kembali sibuk mempersiapkan perjalanan untuk besok.
“Lima hari di Bali!” ucap Tara tampak frustrasi dari dalam kantornya. Tampaknya malam ini dia tidak tidur dan akan pulang untuk mengemasi pakaian yang akan dia bawa untuk perjalanannya nanti.
“Kenapa mendadak banget? Gas, aku butuh waktu buat persiapan, alat-alat dan lainnya?” Tara masih bolak-balik di dalam ruangannya. Setelah berdebat begitu panjang, hasil akhirnya tetap sama. Pihak investor menekan bagian produksi agar cepat melakukan syuting untuk episode perdana di Bali. Kabarnya beberapa investor juga akan menghadiri pesta perayaan yang akan diadakan di Bali sebagai pembuka acara tersebut.
Waktu terus bergulir hingga menunjukan waktu dini hari. Tara masih memeriksa semua perlatannya sendiri. Sedangkan beberapa krunya sudah kembali ke rumah agar bisa pamit lebih dulu dengan keluarga mereka di rumah. Sedangkan beberapa yang lain, yang memiliki jadwal terbang sedikit siang memilih tidur di kantor hingga barang-barang mereka diangkut dengan selamat lalu baru akan pulang untuk pamit dan berangkat kembali.
Tara tidak perlu bersusah payah mengatur segalanya lagi. Semua anggotanya sudah mengerti pekerjaan dan tanggung jawab masing-masing. Dia hanya perlu memeriksa dan memastikan segalanya sudah berjalan dengan semestinya.
Pria itu sudah selesai memeriksa dan bermaksud pulang untuk berkemas, tetapi malah mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang. Sambil berdiri di depan kaca yang menunjukan pemandangan langit malam kota Jakarta.
“Ros? Aku nanti pagi berangkat ke Bali,” ucapnya segera setelah telponnya terhubung. Beruntung pria yang dia telpon memiliki kebiasaan sama dengannya. Jam tidurnya berubah-ubah sesuai dengan rutinitas pekerjaannya sebagai apparat penegak hukum. Kadang tidak tidur berhari-hari demi menyelidiki sebuah kasus.
“Jadi paket lo gimana?” tanya suara dari seberang saluran.
“Nggak apa-apa, selipin di tempat biasa aja. Jadi setelah pulang bisa langsung buka,” ucap Tara.
“Kok mendadak sih, bro?” tanya Eros kemudian.
“Iya, nih. Investor semau-maunya ubah lokasi. Kita pekerja mau gak mau nurutin. Kalau bukan karena Ares aku juga ogak ngerjain proyek begini. Lebih enak dan santai proyek pribadi. Yah, walau duitnya gede juga,” balas Tara masih menikmati pemandangan malam kota Jakarta.
“Udah tajir melintir juga, masih mikirin duit lo,” canda Eros. Walau dia sebenarnya tahu kenapa sahabatnya itu bekerja mati-matian hingga sukses seperti sekarang ini.
“Tau sendirilah. Aku gak mau bergantung dengan siapa-siapa. Aku juga mempersiapkan diri saat bertemu dengan El nanti. Aku ingin mapan secara finansial untuknya, agar dia bisa hidup nyaman,” ucap Tara. Kedua manik matanya berubah sendu. Setiap kali topik pembicraaan beralih ke adiknya, dia menjadi sedih dan sesak. Ada banyak ganjalan dalam hatinya. Kekesalan yang tidak tau dia tujukan ke mana.
“Iya gue paham. Tapi, jangan dipaksain bro, kalau lo sakit, gimana adik lo nanti,” bujuk eros memberi nasihat.
“Iya. Thanks, Bro. kamu salah satu orang yang percaya dan yakin dengan intuisi ku. Saat keluarga dan orang-orang terdekat selalu menganggap aku berlebihan dan tidak bisa menerima kenyataan,” ujar Tara.
“Bukan kah itu gunanya teman?” sahut Eros lagi dari seberang saluran telepon.
“Hm, ini benar-benar berarti buat mental aku. Kau dan Ares adalah dua orang yang benar serius menanggapi intuisi ini. Aku yakin dia hidup, entah di mana sekarang ini,” ujarnya kembali menatap jauh keluar.
“Kita akan menemukannya, yakin. Entah butuh berapa lama lagi. Satu bulan, satu tahun, 10 tahun, kita akan menemukannya. Dan aku akan selalu ada di sana mendukungmu sepenuhnya,” ujar Eros, membuat lekuk senyum terukir di wajah dingin Tara.
“Thanks, Bro. Aku mau balik dulu siap-siap. Masih di kantor?” tanya Tara kemudian.
“Iya nih, besok pagi aja balik, tanggung. Gue lagi ngerjain laporan kasus pembunuhan berantai yang menggemparkan Indonesia. Lo hati-hati. Nanti kalau ada perkembangan, gue kabari segera,” ucap Eros.
“Oke, hati-hati juga,” balas Tara mematikan saluran telepon. Dia terduduk di sofa dan masih ingin berlama-lama di sana. Namun, dia ingat waktunya tidak banyak. Tara bergegas pulang. Saat melintas, Tara melihat beberapa krunya yang tertidur pulas dan seorang gadis yang masih terjaga.
“Anya? Kok nggak tidur?” tanya Tara mendapati asistennya masih terjaga dan tampak bersiap-siap.
“Nggak, Bos. Mau balik. aku belum pulang sejak kemarin. Jadi mau balik bentar mandi dan siap-siap buat perjalanan lima hari di Bali.
“Oh gitu. Ya, udah bareng aja, yuk.”
Anya setuju dan mengikuti Tara masuk ke dalam mobil. Perlahan mesin dihidupkan dan melaju di jalanan ibu kota.
“Oh iya, Bos kenal dengan Axel? Axel Dafa yang tadi ngobrol bentar sama Bos itu,” tanya Anya sang asisten setelah mereka masuk ke dalam mobil dan melaju. Anya adalah salah satu karyawan Tara yang sudah mengikutinya sejak Tara merintis karir di dunia fotografi.
“Nggak sih, kenapa? I mean, aku tau dia model, tapi, ya, nggak kenal,” balas Tara.
“Ada gosip yang beredar lama di kalangan para model. Axel Dafa itu terkenal dengan sebutan si ‘pembuat onar’ oleh rekan-rekannya. Bukan karena dia tidak profesional, tapi karena hubungan gelap yang tengah dia jalin bersama salah satu petinggi Spectrum. Coba tebak siapa?” Anya mencoba membuat Tara penasaran, pria itu sulit sekali diajak berbicara santai seperti ini.
“Yoona?” balas Tara singkat dan berusaha konsentrasi mengendarai kendaraannya.
“Kok bisa tahu sih, Bos?” tanya Anya penasaran sekaligus takjub. Dia berpikir apakah atasan yang sangat dia kagumi ini juga menikmati gosip-gosip yang beredar.
“Dari caranya berbicara dan tadi dia sendiri yang menjemput bocah itu, kan? Setelah hanya ada kita di lokasi.
“Iya bener banget, tadi sempet heboh di belakang,” ujar Anya kemudian.
“Nanti pastikan sama yang lain. Jangan menyebarkan berita yang mereka lihat tadi. Jangan terlibat masalah.” Gadis dengan postur tubuh mungil itu mengangguk dan mengerti. Baginya semua perkataan Tara adalah mutlak dan harus dijalankan.
Pikirannya melayang kembali tentang bagaimana cara Axel tersenyum dan tertawa. Semua itu membawanya kembali ke masa lalu, merekat kepingan ingatan yang terserak berantakan. Lagi-lagi kerinduan itu menyeruak. Dia menjadi serakah dan semakin berharap keinginannya dapat terwujud. Adik satu-satunya hidup!
Setelah mengantar Anya di depan rumahnya, Tara pamit dan langsung melaju menuju rumahnya sendiri. Langit gelap. Lampu jalan yang setia menemani hingga pagi menyingsing ikut menyertai Tara dalam perjalanan pulangnya.
Sampai di rumah Tara segera mengemasi pakaian yang akan dia bawa dan beberapa peralatan yang ada di rumahnya. Setelah mandi dan memastikan perutnya terisi, dia segera kembali menuju bandara dan menunggu krunya di sana sebagaimana telah mereka rencanakan.
Dia memilih tidur di pesawat dan perjalan nanti. Waktu tidur yang terbilang cukup untuk dirinya. Sampai di bandara, dia sudah melihat beberapa kru yang sudah sibuk memasukan barang-barang bawaan ke bagasi. Tara memeriksa apakah peralatan yang akan mereka bawa sudah tiba atau belum. Dia melihat rombongan model juga sudah tiba. Krunya dan beberapa model akan berada di dalam satu pesawat. Sedangkan beberapa yang lainnya akan ikut penerbangan berikutnya.
Aktivitas yang menuntut para model harus selalu fit agar wajah dan kondisi tubuh mereka sama baiknya. Sehingga bisa menampilkan performa yang luar biasa. Kegiatan semalam saja sudah larut dan pagi-pagi sudah harus berangkat dan langsung disambut jadwal sibuk.
Tara melihat Axel yang duduk lengkap dengan bantal leher. Matanya tertutup kaca mata hitam, sepertinya dia tertidur. Tara menggelengkan kepalanya, dia tidak boleh menaruh perhatian lebih kepada para modelnya untuk menjaga profesionalisme dalam bekerja.
Namun, rasanya sulit untuk tidak memperhatikan anak laki-laki itu. ada sesuatu dalam dirinya yang menarik perhatian. Menarik untuk terus diamati. Dia seperti anak laki-laki yang harus dilindungi. Parasnya yang rupawan membuatnya gampang berbaur. Semua orang suka dengan penampilan yang baik, bukan. Tetapi hal ini juga seperti pisau bermata dua. Begitu banyak yang menyukaimu berarti ada banyak pula yang membencimu.
Kebencian karena rasa iri dan dengki yang muncul karena ketidakpuasan atas apa yang sudah ada di dalam genggaman tangan sendiri.