Happy reading
Baru tidur dua jam, Bagas sudah harus bangun lagi pukul enam pagi. Kepalanya masih sakit akibat meminum dua gelas wiski selama bertemu klien semalam. Inilah alasannya tidak suka bertemu klien di klub malam saat hari kerja. Karena paginya dia masih harus kembali bekerja. Belum lagi semalam dia bertemu dengan wanita yang mengotori jasnya. Hal itu membuatnya harus membuang jas yang baru dia beli minggu lalu. Beruntung, klien yang ditemuinya setuju untuk menandatangi perjanjian. Suasana hati yang awalnya buruk bisa membaik lagi.
Setelah menghabiskan secangkir kopi pait untuk mengurangi sakit kepalanya, pria yang memakai setelan jas biru dongker itu siap pergi ke kantor. Dia sudah mengirimkan hasil pertemuan dengan klien semalam ke email sekretarisnya untuk dibuatkan laporan yang akan digunakan sebagai pembahasan dalam rapat pagi ini. Bagas berdiri di depan pintu apartemen untuk mengangkat telepon dari sekretarisnya.
"Saya, kan sudah bilang! Atur jadwal sesuai yang saya katakan. Kenapa tiba-tiba rapat pagi ini harus mundur?" Suara Bagas meninggi setelah mendengar maksud dari sekretarisnya itu.
"Saya nggak mau tau! Hubungi mereka semua sekarang. Saya mau saat tiba di kantor, mereka semua sudah ada di ruang rapat." Teriakannya membuat seseorang yang baru saja keluar dari apartemen di depannya terkejut.
Bagas hanya melirik sekilas kepada wanita yang terkejut itu lalu melanjutkan pembicaraan dengan sekretarisnya di telepon. Pria itu mengakhiri telepon dan manatap wanita yang masih berdiri sambil memperhatikannya. Dia sampai menyipit untuk memastikan ingatannya tidak salah. Benar, wanita itu adalah wanita semalam yang muntah di jasnya. Seketika seluruh tubuh Bagas merinding.
Alesha mendekat untuk memastikan penglihatannya. Tidak mungkin. Pria yang berdiri menatapnya itu bukan pria galak yang semalam ditemuinya, kan? Wanita itu menggigit bibir sambil terus maju.
Bagas mundur ketika wanita di hadapannya terus maju hingga jarak di antara mereka hampir tak bersisa. Pria itu memandang risih kepada wanita yang saat ini justru menyentuh wajahnya. Kemudian, wanita itu berdiri tegak lalu memegang kedua lengan bagas dan memutarnya ke kanan-kiri.
"Ini apa-apan? Lepasin, nggak?"
Alesha segera melepas tangannya dari tubuh Bagas ketika mendengar teriakan pria itu. Dia berbalik lalu masuk kembali ke apartemen.
"Dasar wanita gila!" Bagas mendengkus seraya merapikan jasnya lalu berjalan ke lift.
Paginya benar-benar buruk. Kepalanya makin sakit setelah bertemu lagi dengan wanita yang menjadi sumber kemarahannya semalam. Namun, apa yang dilakukan wanita itu di depan apartemennya? Tidak mungkin dia menjadi tetangganya, kan? Kalau iya, Bagas akan pindah dari sana. Oh, tidak. Pria itu menggeleng mengingat pengeluarannya bulan ini membengkak karena baru saja pindah ke apartemennya sekarang.
Bagas tiba di kantor dan langsung menuju ruang rapat. Suasana hati yang sudah buruk makin kacau saat melihat ruangan itu masih kosong. Dia pergi ke ruangannya di lantai tiga untuk memberi peringatan kepada sekretaris yang tidak becus itu.
"Ke mana para manajer dari setiap divisi? Saya sudah bilang kalo mereka harus ada di sana saat saya sampek di kantor. Susah? Kalo nggak becus mending keluar aja dari sini!"
Wanita yang menjadi sekretaris Bagas itu berdiri sambil menunduk di mejanya. Bukan kali pertama dia mendapat teguran dari pimpinan perusahan tempatnya bekerja itu, tetapi sifat pria yang mau semuanya sempurna sesuai keinginannya itu, membuat siapa pun yang bekerja sebagai sekretarisnya tidak sanggup bertahan. Wanita yang menahan tangisnya itu merupakan sekretaris ketiga dalam bulan ini.
"Kenapa masih diam? Cepat hubungi mereka! Kalo dalam waktu sepuluh menit mereka belum datang juga, sekalian suruh mereka menulis surat pengunduran diri masing-masing dan letakkan di meja saya."
"Baik, Pak!" Wanita itu segera mengangkat gagang telepon di meja. Tangannya bahkan masih gemetar setelah diteriaki oleh bosnya.
Bagas masuk ke ruangannya dengan membanting pintu, membuat sekretaris yang bicara di telepon itu terlonjak lagi.
Pukul delapan lewat lima belas menit rapat baru dimulai. Bagas memimpin rapat dengan menjelaskan hasil keputusannya bersama klien semalam. Dia juga sudah membagi tugas kepada tiap divisi untuk membantu kelancaran produksi produk terbaru dari perusahannya.
"Ada pertanyaan?" Bagas mengakhiri presentasinya dengan membuka tanya jawab.
"Pak!" Seorang pria dari divisi keuangan mengangkat tangan. "Untuk anggaran, apakah harus dibuatkan di awal atau setelah produksi selesai, Pak?" tanyanya setelah Bagas mempersilakan.
"Saya rasa kita sudah bekerja lebih dari tiga tahun dan sudah berhasil menangani beberapa produksi. Lakukan saja seperti biasanya dan diskusikan dengan tim produksi juga pemasaran. Yang lainnya? Tim produksi sudah siap?"
Pria yang berusia kisaran 35 tahun ke atas itu mengangguk lalu mencatat apa pun untuk menutupi rasa malunya karena disindir tidak becus oleh Bagas.
"Kita belum mendapat kerja sama dengan petani cokelat, Pak. Dibanding dengan harus membeli cokelat jadi atau mengimpor, lebih baik menggunakan cokelat hasil lokal saja untuk mengurangi biaya." Seorang wanita dari tim produksi memberi masukan.
"Kalo itu jadi tanggung jawab kalian sepenuhnya. Saya mau kualitas terbaik dari produk kita. Jadi, lakukan usaha apa pun untuk mencapainya."
"Baik, Pak!" ucap para karyawannya serempak.
"Baiklah. Kita akhiri rapat pagi ini. Oh, iya. Saya minta untuk ke depannya kalian harus datang tepat waktu. Kalau tidak sanggup silakan angkat kaki dari perusahaan ini."
Terdengar bisik-bisik dari para karyawan setelah Bagas meninggalkan ruang rapat. Sementara, sekretaris Bagas hanya tersenyum sambil menunduk meminta maaf. Wanita itu segera menyusul ke ruangan bosnya.
"Ini kopinya, Pak." Sekretaris itu membawakan kopi pesanan Bagas.
Bagas memuntahkan kopi yang diseruptnya. "Apa ini? Berapa kali saya bilang? Saya mau kopi pait. Lebih baik kamu keluar. Sudah berapa kali kamu bikin kesalahan dalam minggu ini? Kamu tau, kan saya nggak terima kesalahan sekecil apa pun! Keluar! Kamu saya pecat!"
"Ta-tapi, Pak? Sa-saya minta maaf. Saya janji nggak akan ngulangi lagi─"
"Saya bilang keluar!"
Wanita itu keluar dengan berlinang air mata. Dia membereskan barang-barang di mejanya lalu meninggalkan kantor yang baru menjadi tempat kerjanya selama dua minggu itu. Karyawan lain yang menyaksikan kepergiannya hanya mampu memberikan dukungan lewat tatapan iba mereka. Kerena tidak ada gunanya melawan keputusan bos.
Bagas mempersilakan seseorang masuk setelah mendengar ketukan di pintu. Wajahnya yang jengkel seketika berubah ramah.
"Bapak baru mecat sekretaris lagi?" Dwi, bagian HRD yang berpapasan dengan sekretaris Bagas langsung mendatangi pemimpin perusahaan itu untuk mengonfirmasi kebenarannya.
Bagas tersenyum canggung kepada wanita yang tengah berbadan dua itu. Dia sangat menghormati Dwi yang merupakan seniornya di sekolah dulu. Pria itu juga sudah sangat sering merepotkan wanita yang saat ini sedang menatapnya sinis itu.
"Dia udah bikin kesalahan beberapa kali dalam minggu ini. Pagi tadi dia hampir mengacaukan rapat untuk membahas produk baru dan baru aja, dia salah lagi bikin kopi."
"Dan itu bukan alasan buat kamu bisa mecat dia seenaknya. Kamu tau sudah berapa kali aku cari sekretaris baru dalam bulan ini? Tiga kali, Pak Bagas yang terhormat! Sekarang aku harus cari sekretaris yang keempat?" ucap Dwi dengan berkacak pinggang.
Bagas meringis. "Kali ini bakal jadi yang terakhir. Janji," ucapnya dengan mengangkat jari telunjuk dan jari tengah membentuk huruf V.
Dwi hanya menggeleng sebelum pergi dari ruangan bosnya itu.
Bagas keluar kantor mengendarai mobilnya untuk makan siang. Tiba-tiba sebuah kaleng minuman terbang dan mendarat di kap bagian depan mobil hingga membuatnya menginjak rem mendadak. Dia hendak turun dan menegur sang pelaku, tetapi diurungkannya setelah melihat siapa pelakunya.
"Agghhh! Kenapa hidup gue sial banget?"
Bagas melihat wanita yang membuat harinya sial itu berdiri sambil berteriak tidak jauh di depan mobil. Dasar wanita aneh! Gue harus jauh-jauh dari dia. Bagas membatin lalu membelokkan mobilnya ke arah berlawanan dengan keberadaan wanita itu.
Bersambung