Pagi ini Oceana Mahendra, gadis manis cantik dan juga anggun itu sedang bersiap untuk pergi ke taman, setiap harinya Ana sapaannya selalu melakukan lari pagi. Dan hari ini cuaca sangat mendukung membuat Ana semakin semangat untuk melakukan aktivitasnya.
"An … kamu mau kemana sih Nak?" tegur Sekar. Wanita cantik yang sudah berumur itu, tidak terlihat tua padahal usianya sudah hampir 55 tahun.
"Jogging bentar Ma," jawab Ana. Gadis itu segera mendekati ke arah sang Mama, lalu mengecup pipi Mama Sekar. "Hari ini pulang, jam berapa An?" tanya Sekar.
"Seperti biasa lah Ma. Mama seperti tidak mengenal Ana saja," ujar Ana. Mama Sekar hanya bisa geleng-geleng kepala melihat anaknya yang selalu bertingkah luar biasa. "Jangan lama-lama ya, Mama mau pergi sama kamu ke butik Tante Acha," ucap Sekar.
Ana mengerutkan dahinya, mendengar nama tersebut yang tak asing, membuat Ana terdiam. Hingga akhirnya Ana membuka suaranya, "Mau ngapain?" tanya Ana. Tidak biasanya, sang Mama pergi ke butik teman-temannya mengajak dirinya.
"Mau lihat-lihat baju lah. Udah sana pergi, kalau kamu masih di sini, makin lama lagi nanti perginya," ucap Sekar. Ana segera pamit dan pergi dari tempat tersebut, pagi ini udara sangat sejuk membuat Ana semakin semangat dalam kegiatannya.
Wanita berusia 28 tahun itu, begitu menikmati hidupnya. Ana masih betah menyandang status jomblo yang selalu disebut-sebut oleh ketiga sahabatnya. Meskipun seperti itu, Ana tidak pernah marah karena dirinya nyaman dengan statusnya saat ini, bebas dan bisa pergi ke mana saja tanpa ada seorangpun yang melarang.
"Pagi neng Ana," sapa salah satu penjual tahu goreng yang selalu ada di lapangan tempat Ana lari setiap pagi. "Pagi Mang," jawabnya dengan senyuman yang begitu mengembang. Ana memang terkenal dengan sikap ramahnya, wanita itu tidak pernah membeda-bedakan kasta ataupun derajat seseorang. Bagi anak, semuanya adalah makhluk ciptaan Tuhan yang sangat berharga, Tuhan saja tidak pernah membeda-bedakan makhluknya, bagaimana mungkin kita sebagai hambanya bersikap tidak adil.
"Lari sendirian neng?" tanyanya. Ana tersenyum, selalu saja seperti itu mereka selalu bertanya berulang kali, padahal sudah tahu jawabannya. "Sama mamang lah, tuh mamang jual aku lari," jawab Ana. Mendengar jawaban tersebut, membuat penjual tahu goreng tertawa, Ana lalu melanjutkan kegiatannya untuk lari.
Menjadi salah satu dokter anak, membuat Ana harus menjaga tubuhnya. Wanita yang sedang menyelesaikan gelar masternya itu selalu mencoba menikmati hidupnya dengan melakukan semua aktivitas diri yang berguna.
Senyum dibibir Ana terbit, wanita itu mendekati para anak-anak yang sedang bermain di lapangan, anak-anak tersebut adalah anak yang memiliki kekurangan dari fisik mereka, tapi hal itu tidak membuat mereka saling menghujat satu dengan lainnya, mereka malahan saling mendukung. "Kak Ana," teriak anak yang saat ini duduk di kursi roda. Ana tersenyum, dan segera menghampiri anak tersebut.
"Halo Jo, kamu sedang apa?" tanya Ana. Jo lalu menunjukkan hasil karya lukisnya, anak-anak ini sedang belajar, setiap pagi orang dari panti akan mengajak mereka untuk bisa mengekspresikan diri mereka. "Bagus," puji Ana. Di lapangan saat ini, ada lima orang anak dan dua orang pendamping dewasa. Alasan yang kedua Ana suka lari pagi, adalah melihat senyuman indah yang selalu terbit di bibir mereka.
Cukup lama Ana di sana, hingga akhirnya dirinya pergi dari tempat tersebut. Ana teringat dengan janjinya bersama dengan sang Mama, jika dirinya terlambat maka semuanya akan riweh, Mama Sekar akan mengomel sepanjang hari, dan hal itu akan membuat kepala Ana pusing.
***
"Kamu itu gak ada jadwal apa-apa hari ini An, jadi nggak usah banyak alasan." Ana langsung menampilkan raut wajah kesalnya, tadi ketika mereka masih berada di rumah, Ana beralasan tidak mau pergi karena ada jadwal praktek di rumah sakit. Tapi ternyata, sang Mama lebih tahu mengenai jadwalnya. "Kita ke sini, mau apa sih Ma. Kalau Mama cuma mau cari baju atau apapun kenapa hari ajak aku sih. Udah tahu aku gak ada jadwal, kan jadi bisa istirahat Ma." Mata Mama Sekar seketika langsung menatap tajam ke arah anaknya yang duduk tak jauh dari dirinya.
"Udah diam aja," ucap Sekar. Ana hanya bisa menghembuskan nafasnya panjang, sebagai anak tunggal Ana harus bisa mengikuti apapun keinginan kedua orang tuanya, tapi meskipun seperti itu, Ana tidak pernah merasa terkekang karena apa yang diinginkan orang tuanya juga menjadi keinginan dari Ana.
Tak lama tante Acha sahabat sang Mama sejak mereka masih ada di bangku sekolah, hingga saat ini. Ana hanya menjadi penonton setia saja, wanita itu menyaksikan bagaimana kedua orang wanita yang sedang bertemu itu. Suara keduanya sangat besar, hingga membuat Ana berusaha menahan kesalnya, untunglah butik milik tante Acha jika tidak, Ana yakin mereka akan diusir oleh manajer butik ini.
"Ana praktek di mana?" tanya Acha.
"Praktek di Rumah Sakit Cinta kasih tante," jawab Ana. Wanita itu tersenyum penuh arti dan hal itu membuat Ana tertegun.
"Bagus dong, itu juga rumah sakit yang sering dikunjungi oleh Bumi." Ana hanya tersenyum, dirinya tidak tahu siapa Bumi yang dimaksudkan, Ana kembali fokus dengan ponselnya, membiarkan kedua orang tersebut kembali melanjutkan perbincangan.
"Oma!!" teriak seorang anak laki-laki. Ana lalu mengangkat kepalanya dan menatap ke arah seorang anak kecil yang berlari menuju ke arah tante Acha. Anak tersebut masih menggunakan seragam sekolah, kulitnya sangat putih dan manis.
"Cucu Oma udah datang, sama siapa sayang?" tanya Tante Acha.
"Sama Papi. Nah itu papi," tunjuknya. Semua orang di sana menoleh ke arah tersebut, begitu juga dengan Ana. Wanita itu menatap ke arah tersebut.
Jantung Ana berdetak dengan sangat kencang, wanita itu terdiam melihat siapa sosok laki-laki yang disebutkan oleh anak kecil tersebut. Tatapan mata keduanya saling bertemu, terlihat dengan sangat jelas jika pria itu terkejut dengan apa yang dirinya lihat namun, langsung diubah sedemikian mungkin agar tidak dibuat curiga.
"Nah jeng, itu dia anak saya Bara," ucap Acha.
Saat ini Ana ingin rasanya berlari pergi, wanita itu tidak mau bertemu dengan pria tersebut. Sungguh kejadian di masa lalu sangat membuat Ana tidak suka dengan pertemuan seperti saat ini dengan pria tersebut. Pria itu berjalan ke arah Ana, dengan sikap angkuh dan sombong sama seperti dulu, itulah sikap yang masih Ana ingat dari pria yang sedang mendekat ke arah mereka. Pertemuan tak terduga ini sedikit tidak membuat Ana nyaman. Terlebih lagi dirinya harus kembali bertemu dengan pria yang berdiri di depannya sekarang.