Ana masuk ke dalam ruangan, saat ini sudah begitu banyak pasien dan laporan yang harus dirinya kerjakan. Hingga Ana tidak menyadari jika jam sudah menunjukkan makan siang, ketika Ana sedang sibuk tiba-tiba pintu ruangannya terbuka.
"Apaan?" tanya Ana. Gadis itu langsung memasang wajah kesalnya, kepada Ares yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan dengan tanpa permisi, sedangkan Ares tidak peduli dengan hal itu. Pertanyaan yang diberikan oleh Ana hanya dianggap angin lalu, Ares lalu duduk di kursi depan Ana.
"Makan siang bareng." Ana menatap ke arah temannya itu dengan tatapan yang bingung, sungguh saat ini Ares mengajaknya makan tapi nada bicara begitu datar.
"Aku banyak kerjaan. Sepertinya nggak bisa," balas Ana. Setelah mengatakan hal itu tidak banyak hal yang mereka lakukan, hanya diam satu dengan lainnya.
***
Poli anak saat ini, sedang banyak sekali pasien. Musim kemarau ke musim hujan, membuat banyak sekali anak-anak yang sakit karena pergantian musim.
Sehingga hari ini, banyak yang mengajak anaknya, untuk berkunjung ke tempat praktek Ana.
"Dokter istirahat dulu, sudah waktunya makan siang," ucap suster tersebut. Ana lalu melirik ke arah jam yang ada di tangannya, dan membalas ucapan yang dilontarkan sang suster dengan sebuah anggukan singkat.
Ana tidak langsung pergi ke kantin rumah sakit, hari ini ketiga temannya juga sibuk. Ares bahkan pergi dari dalam kantornya dengan kesal, karena penolakan yang Ana lakukan.
Dering ponsel Ana berbunyi ada nama sang Mama di sana, dengan segera Ana mengangkat teleponnya.
"Iya … ada apa Ma?" tanya Ana.
"Kamu masih di rumah sakit nak?" Dahi Ana berkerut mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh sang Mama, karena tidak biasanya sang Mama bertanya seperti ini.
"Emangnya kenapa Ma? Ada apa?" tanya Ana lagi.
"Kamu ke ruangan UGD sekarang, cucunya Tante Acha masuk rumah sakit, cepat ya An. Kasihan," ucap Mama Sekar. Setelah mengatakan hal itu, mama Sekar langsung mematikan panggilan telepon tersebut.
Ana harus menarik napasnya dengan panjang, gadis itu sebenarnya sangat lelah jika harus berurusan dengan mereka. Apalagi moodnya hancur karena pria sialan itu, sungguh anak ingin menyuntikan obat tidur kepada orang tersebut supaya tidak mengganggunya.
Dengan langkah malas, Ana langsung menuju ke UGD saat sampai di sana, Ana kaget melihat anak kecil itu sudah kesakitan yang teramat parah.
"Dokter jaga dimana?" teriak Ana.
Tidak ada yang berani menjawab sedikitpun, langsung saja Ana mengirim pesan kepada Lia dan juga Arka. Tapi banyak waktu kedua temannya itu langsung datang, semua suster di sana tidak bisa berbuat apapun.
"Dokter jaga di UGD nggak ada, tolongin gue ya."
***
Tante Acha sudah terlihat panik, wanita itu sangat terkejut ketika melihat sang cucu seperti ini, Ana segera keluar dari ruang tindakan ketika semua sudah beres.
"Tan!" panggil Ana. Tante Acha, segera mengangkat kepalanya, dan menatap ke arah Ana. "Bagaimana keadaan Bumi An? Dia kenapa?" tanya Tante Ana. Terlihat dengan sangat jelas, bahwa wanita paruh baya ini begitu khawatir.
Ana mengajak Tante Acha untuk duduk lebih dulu, dirinya tahu bagaimana paniknya ketika melihat orang yang di sayang, tiba-tiba seperti tadi, Ana juga pasti akan melakukan hal yang sama jika dirinya berada di posisi tersebut.
"Bumi keracunan makanan, dan juga dirinya sempat demam. Itulah yang membuat dirinya seperti itu, tapi saat ini semua sudah membaik, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Bumi juga sudah diberikan obat, dan tinggal menuju pulihnya saja," jelas Ana.
Entah apa yang terjadi, sehingga anak itu bisa kerancuan. Karena Ana tahu, bagaimana keluarga tersebut dalam urusan makan.
Setelah mengatakan hal tersebut Ana lalu pergi meninggalkan ruangan rawat Bumi dan kembali menuju ke dalam ruangannya.
"Ana permisi dulu Tante, jika ada hal serius nanti Tante bisa tanya dokter Arka atau hubungi Ana lagi," ucap Ana dengan senyum yang mengembang.
"Terima kasih sayang, Tante tidak tahu harus bagaimana kalau kamu tidak ada," balas Tante Acha.
"Sudah tugas saya Tante. Mari Tante," pamit Ana.
Ana berjalan meninggalkan ruangan tersebut, sedangkan Tante Acha tetap memperhatikan Ana. "Semoga kamu adalah orang yang tepat untuk Bara dan Bumi," gumam Tante Acha.
Wanita itu, akan selalu berupaya supaya Bara bisa menerima Ana, karena dirinya sejak awal sudah ingin Ana yang menjadi menantu hanya saja, sang anak terlalu egois dan tidak pernah mau mendengarkan ucapan dari keluarga sehingga membuat Bara harus terlibat cinta satu malam dengan mendiang istrinya.
***
Bara berlari, dengan sekuat tenaga saat ini dirinya baru saja sampai dan mendapatkan kabar mengenai sang putra. Jantung Bara berdetak dengan begitu cepat. Pria itu tidak mau sesuatu hal terjadi pada Bumi.
Bumi adalah anak yang begitu dicintai Bara, apapun dirinya lakukan hanya untuk Bumi. Ketika tadi mendengar bahwa anaknya masuk rumah sakit, jantung Bara berdetaj sangat cepat.
"Di ruangan mana anak saya?" tanya Bara dengan dingin. Jodi lalu memberitahukan dimana Bumi dirawat, keduanya segera menuju ke ruangan tersebut.
Ketika masuk ke dalam ruangan, Bumi menangis karena tidak mau disuntik.
"Papi!!" teriak Bumi. Bara segera mendekat ke arah sang anak dan memeluk erat anaknya tersebut. Ana yang bertugas hari ini, rasanya begitu sial bertemu dengan pria angkuh seperti Bara.
"Maaf pak, tapi anaknya harus diberikan obat," ucap Ana. Wanita itu berusaha untuk terlihat tenang, Bara menatap tajam ke arah Ana. Pria itu tidak suka dengan kehadiran Ana di depannya saat ini. "Anda siapa? Pergi, jangan buat anak saya takut," balas Bara dengan nada tinggi.
"Saya dokternya," ucap Ana. Wanita itu menekan kata 'dokter' supaya Bara tahu bahwa Ana tidak takut dengan nada bicara yang disampaikan oleh Bara.
"Dokter? Cih dokter apa yang sampai anak kecil takut dengan anda, pasti dokter yang tidak berkompeten sehingga menangani anak kecil saja tidak bisa."
Ana sudah menahan rasa kesalnya gadis itu tidak mungkin marah di dalam ruang rawat, sungguh saat seperti ini membuat Ana muak.
"Bara kamu bicara apa. Dokter Ana yang memberikan penanganan pertama untuk Bumi, kamu tidak bisa mengatakan hal seperti itu," protes Tante Acha. Bara baru saja akan membuka suara kembali namun, gagal ketika Ana lebih dulu menyela. "Maaf jika seperti itu, saya panggil rekan lainnya. Saya permisi," ucap Ana. Suster yang bersama dengan Ana bingung harus bersikap seperti apa, karena semua orang di rumah sakit ini sangat tahu bagaimana kinerja dokter Ana.
Keluar dari dalam ruangan tersebut adalah hal yang baik untuk Ana, berada dalam lingkungan toxic akan membuat dirinya pusing dan lelah dengan keadaan yang terjadi.
"Kamu itu, tidak pernah berubah. Harusnya kamu berterima kasih, bukannya membentak. Dia sudah berusaha menyelamatkan anak kamu, dia itu dokter terbaik di rumah sakit ini, kalau kamu ada masalah dengannya jangan libatkan orang lain," ucap Tante Acha dengan kesal. Wanita itu begitu marah dengan sikap sang anak yang seenaknya saja.
Sedangkan Bara masa bodoh dengan ucapan yang dilontarkan oleh sang Mama. Pria itu hanya diam, dan berusaha menenangkan sang anak yang terus menangis. Namun, meskipun seperti itu, di dalam dadanya Bara merasakan sesuatu yang tidak baik. Apalagi ketika melihat ada air mata di sudut mata Ana.
"Bodo amatlah!!"