"Oh, Kevin . Please..."
Bella seolah tak bisa menolak kala sang kekasih sekaligus atasannya tersebut menarik pinggang rampingnya ke dalam pelukan, ketika baru saja berniat keluar dari ruangan kerja pimpinan perusahaan start up bidang advertising.
"Come on, Belle femme. Kita tidak pernah melakukan ini, apalagi di ruangan kerja, tentu sensasinya akan berbeda." Tuntutan Kevin pada sang kekasih berparas cantik jelita dan baru di pacarinya beberapa bulan belakangan.
"It's okay kalau just a kiss. Selebihnya, lakukan setelah kita menikah, ya?"
Tuntutan dari Kevin di balas hibahan manja Bella lewat balasan dekapan hangat melalui dua tangan merambat melingkar ke balik leher Kevin. Tinggi high heels 5 centinya masih bukan jaminan untuk tak berjinjit, menyepadankan jarak tinggi antara 10 centi dengan Kevin, demi menjangkau wajah tampan pria beralis ulet bulu ini.
"Why not? Nanti juga aku yang akan membobol segel milikmu di bawah sana? Orang bilang, saling mengenal bukan hanya soal kepribadian, tapi juga soal perbodyan. Benar, kan? Biar aku bisa tahu, dimana letak titik-titik kelemahanmu, lalu membuatmu di awang-awang."
"Not now. Aku masih terlalu takut soal kemungkinan kehamilan belum di waktu seharusnya."
"Aku pasti tanggung jawab kalau kamu keblabasan hamil. Jangan takut." Kevin coba berikan stimulasi pada Bella agar tergugah, lewat sentuhan ujung hidungnya pada pucuk runcing hidung Bella yang mancung layaknya The eskimo kiss.
"Aku mencintaimu, Bella." Tanpa menunggu jawaban Bella, Kevin daratkan bibirnya menyentuh serambi bibir Bella yang tipis merah menggoda.
Di kecup pada awalnya, lalu di rengkuh semakin dalam tubuh Bella dalam pelukan hangat, mulai membakar gairah Bella lewat lumatan menekan hingga membuat Bella mendongakkan kepala ke belakang, lalu memejamkan kedua matanya dalam lautan ekstasi, candu sekaligus memabukkan, sehingga Bella berkeinginan memberikan sesuatu lebih lewat d******i berganti.
Bella kini posisikan bagian atas bibirnya di antara bibir Kevin sambil menghisap lembut bibir bawah Kevin. Sinyal romantisme membakar dari Bella ini di sambut Kevin semakin merapatkan seluruh bagian tubuhnya ke tubuh milik Bella.
Kedua tangannya beringsut menurun dari pinggang ke pangkal paha teratas, Kevin mulai meremas untuk berikan Bella sensasi.
"Babe. Give me more." Desah pintaan Kevin buat Bella membuka matanya.
Sentuhan itu kini menjalar kembali ke atas, ke bagian dadanya. Sejak pertama bertemu Bella, Kevin sudah memuja aset tersembunyinya ini.
Sebagai pria, insting Kevin tergugah dengan siluet bentuk yang justru sering tertutupi itu jadi sebuah obsesi.
Saat ini, Kevin mengelus lembut bagian cekungan sempurna buah d**a Bella hingga mulai berniat meremasnya, lenguhan lirih tertahan Bella terdengar setelahnya.
Niatan Kevin ini kemudian terjeda saat Bella secara tiba-tiba membuka kedua matanya kembali dan berbicara berkesan mengelak dengan sedikit jauhkan wajahnya, dan gerakan penolakan pada apa yang Kevin lakukan pada dua aset kembarnya ini.
"Kevin. Jangan. Aku belum mau. Belum waktunya buat kita lakukan ini. Nanti ya, Sayang. Kamu kan sudah janji, bakal jaga kesucianku sampai sah menikah nanti. Aku mau menikah dalam keadaan masih virgin. Iya? Pleaseee..." Bella belai rambut depan Kevin, merapikannya ke arah belakang, dan mengelus bagian atasnya yang sempat kusut ketika memberikan perlakuan gelora hasrat padanya barusan.
"I love you. Milikku nanti juga akan jadi milikmu. Biarkan indah pada waktunya, oke." Bella memberi pengertian pada Kevin.
Di peluk wajah Kevin dengan kedua tangannya, lalu di kecup bibir kekasihnya ini lama, sebelum kemudiam melepaskan ikatan yang Kevin rekatkan pada tubuhnya. "Tabletku bunyi, tanda ada email masuk. Tunggu ya, aku mau lihat dulu."
Bella bersikap profesional lagi setelah gelora hasrat itu dia penggal demi prinsip yang dia pegang teguh dari semenjak remaja, ketika melihat sendiri bagaimana teman-teman wanitanya terjebak dalam masalah soal satu itu.
Untuk Kevin sendiri, lalu tersenyum setelah helaan napas dalam. Memang jadi obsesi tersendiri bersama gadis masih punya pendirian kuat menjaga kehormatan seperti Bella ini.
Bella bukan hanya memiliki kelebihan pada kecantikan wajah, tapi juga pada body goal istimewa miliknya, di bandingkan gadis-gadis lain yang dia jadikan kekasih selama ini.
Sisi egois seorang pria dari Kevin sekaligus juga tergugah, saat dia memahami keinginan Bella ini. Ada perasaan bangga sekaligus posesif untuk menjaga harga diri sebagai wanita dari Bella ini sebelum menikah dan akan jadi pemilik malam pertama buat Bella nantinya.
"Ok. Aku akan bersabar, Honey. Tapi awas ya. Kalau sudah resmi, nggak ada alasan-alasan. Langsung tancap gas bikin anak." Tandas Kevin tegas.
"Iya. Aku janji." Belum juga satu napas terhembus, Bella kini rasakan sentuhan dari Kevin kembali, berupa himpitan dengan posisinya di antara meja kerja Kevin dan pemiliknya.
Bella mendongak, tatapan sayu penuh cinta dari Kevin jadi busur panah seketika menancap ke jantungnya.
Dalam hati tak bisa pungkiri, kalau dia benar-benar sudah terjebak pesona sang atasannya sendiri, terlebih bila pujian-pujian itu datang seperti saat ini, Bella akan merasa jadi wanita paling bahagia di seluruh dunia ini.
"My beautiful lady. Kamu sudah buatku gila, jadi jangan permainkan aku ya. Sudah sangat berat buatku menahan diri tiap melihatmu memakai baju press body seperti ini, di tambah riasan naturalmu itu justru buatku makin terobsesi. Pake make up biasa gini aja kamu sudah cantik banget, apalagi kalau sudah pakai baju pengantin nanti. Lucinta Luna lewat!"
"Kok Lucinta Luna, sih?! Kan dia bukan cewek tulen?" Ledakan tawa Bella menggema dalam ruangan. Bella tahu, Kevin hanya bercanda.
"Tapikan dia sudah niat banget jadi cewek, sampai cakep begitu. Tapi jelas, pacarku lebih cakep, dong!" Kevin mendekatkan wajahnya lagi, tapi terjeda saat Bella tunjukkan layar tabletnya.
"Undangan pertemuan bagi para CEO start up di seluruh Indonesia, weekend ini." Perjelas Bella, meski Kevin sempatkan membaca deret kops pada undangan digital di layar tablet milik Bella. "Kamu harus datang, Sayang. Demi impianmu."
"Hmm. Kamu benar." Kevin menyetujui, dan memang Bella adalah satu-satunya orang yang sangat dia percaya bercerita setiap keluh-kesahnya selama setahun belakangan ini. "Kalau begitu jadwalkan saja, dan persiapkan semuanya."
Dengan terpaksa, Kevin melepaskan tubuh Bella karena ada hal lain yang lebih menarik perhatiannya.
"Apa saja agendanya, by the way?" Kevin biarkan Bella berbalik untuk mengotak-atik tiap halaman dari undangan resmi tersebut, lalu kembali ke tempat duduknya.
Kevin bersandar sambil memainkan kursi ergonomis beroda itu sedikit ke kanan kiri sambil menyimak tiap ucapan Bella tentang jadwal acara dari pembukaan sampai makan malam di ballroom sebuah hotel bintang lima di bilangan Jakarta selatan tersebut.
"Akan ada award?" Tanyanya kemudian.
"Yes, tapi di sini pihak panitia memberikan penjelasan kalau kategori beserta nominasinya akan di rahasiakan dan di umumkan secara mendadak. Hadiahnya juga lumayan besar bagi pemenangnya, selain sejumlah uang, juga ada reward-reward kayak promosi perusahaannya, brand certificate dan lainnya. Mungkin mereka ingin agar para undangan semua sempatkan datang, jadi itu di jadikan pancingan."
"Coba lihat." Kevin menerima tablet khusus untuk urusan pekerjaan milik Bella, lalu membacanya. "Wow. Hadiahnya tidak main-main. Total hadiah uangnya juga sampai 1 miliar. Ada bantuan dari pemerintah juga."
Kevin kerutkan bibirnya, di sertai kilatan di kedua matanya yang berbinar. "Kalau begitu, bersiaplah juga. Nanti aku akan jemput kamu pagian ya."
"Nggak bisa."
"Lho, kok nggak bisa?" Kecewanya Kevin yang sangat ingin Bella ikut mendampingi. Wajah cantik alami Bella beserta postur tubuh aduhai milik kekasihnya ini selalu mujarab menarik perhatian di setiap acara yang mereka hadiri bersama.
Bella memiliki wajah kalem berhias senyuman manis , selain aura inner beauty yang akan terpancar pada tiap gerak langkah Bella.
"Masa kamu lupa sih? Akukan sudah bilang. Weekend ini ada kawinan si Vanny dan aku jadi bridematesnya." Bella sedikit kesal. Selain Kevin lupa atau mungkin tak terlalu menyimak ceritanya, kehadirannya di pesta perkawinan sahabatnya semasa kuliah itu bakal tanpa kehadiran sang kekasihnya ini.
"Oh iya ya." Kevin baru menyadari. Memperlihatkan ekspresi lupa, padahal memang tak terlalu menyimak saat Bella bercerita kemarin. "Jadi, aku akan datang sendiri. Ya sudah deh, tak apa lha, asal acaranya bergengsi dan aku kemungkinan besar bisa menang award. Kan bulan kemarin aku jadi artikel profil majalah bisnis, jadi bisa jadi pertimbangan, dong." Kepercayaan diri Kevin.
"Iya. Aku doain deh. Oh ya, sudah waktunya jam pulang. Kalau kamu masih sibuk, mau lembur. Aku mau ke mall dulu ya. Pengen cari anting-anting. Kebaya seragamnya baru jadi, aku mau cari sekarang saja, takutnya beberapa hari ke depan bakalan sibuk." Bella meraih tas kerjanya. Entah kenapa, antusias sekali ketika bayangan akan jalan ke mall untuk berbelanja dan memilih barang yang sudah jadi incaran.
"Ok. Have fun ya. Nanti kalau sudah sampai rumah, jangan lupa kabari, terus baru aku telpon. I will miss you, Babe."
"Ok." Bella lantas melangkah menuju pintu setelah sengaja mengerlingkan satu matanya ke arah Kevin. Setelah pintu tertutup dan menunggu sampai hampir satu menit, berganti Kevin meraih ponsel miliknya, mengetik satu nama dari kolom pencarian phonebook lalu menekan fitur telpon.
"Hai, Jenny. Kamu free kan malam ini?...Ok. Kita ketemu di tempat biasa...iya, kali ini aku mau pake pengaman. Meski begitu, aku tetap menikmati kok. Cuma milikmu yang aku jelajahi, nggak ada wanita lain. Tahu sendiri, Bella terus saja menyiksaku dengan penolakan-penolakannya, dan aku bukan tipe suka gonta-ganti. Trust me, Ok. See you there....Yes. I love you, too."
Ada seringai senyuman Kevin. Mempunyai dua wanita dalam satu waktu sungguh buat hidupnya lebih berwarna. Satu wanita lugu, dan satunya wanita berkarakter liar kalau sudah bicarakan hal yanh berbau kenikmatan dunia.
"Yeah, girls. I love both of you. Kalian berdua memang beda, tapi sama-sama mengasyikkan."