Malam ini hujan kembali mengguyur bumi. Jalanan yang tadi ramai kini berangsur mulai sepi karena malam memang semakin larut. Nazifa Aulia Azahra gadis berparas ayu itu masih setia berdiri di depan Resto yang sudah gelap sejak tiga puluh menit yang lalu.
Tangannya menengadah di bawa rintik hujan seakan bertanya mau sampai kapan ia berdiri disini. Dingin mulai menyelimuti, ingatan ingatan bersama dengan Kevin pujaan hatinya seakan berputar di kepala.
Kevin Bagus Wijaya, setelah menjalin kasih selama lima tahun, Nazifa pikir ia cukup banyak mengenal calon tunangannya itu. Ternyata ia salah. Kevin justru sudah sejak lama menghianatinya.
"Bodoh!" umpat Nazifa setelah sadar dari lamunannya.
***
"Pagi Sat" Sapa Nazifa yang baru saja masuk diruangan bertuliskan Manager itu.
"Pagi Bos, Tumben lo jam segini udah stay di Resto" tanya kevin yang masih setia di depan layar komputer.
"Gue mau cek kerjaan lo. Gimana hasil penjualan bulan ini?" Nazifa mulai menuangkan teh dicangkir berwarna putih.
"Sesuai harapan. Bisa nih Bonus akhir tahun" goda Satria dengan alis naik turun.
"Beres. Lo yang urus"
Ruangan berwarna hijau tosca itu memang sering Nazifa kunjungi. Selain menjadi Bos di Restonya sendiri. Nazifa juga sering ikut masuk dapur dan melayani pelanggan.
"Pucet banget muka lo, Pulang gih. Istirahat. Resto biar gue yang urus" jelas Satria yang mulai menyadari kalau sepupu sekaligus Bosnya itu sedang tidak baik baik saja.
"Gue Gakpapa" elak Nazifa cepat. Dengan senyum lebar di bibirnya berusaha mengelabubi Satria.
"Gue khawatir sama kesehatan lo. Makin kesini lo makin jauh Na" Tangan satria mulai mengelus pundak Nazifa. Tatapan teduh seorang Satria mampu menenangkan hati Nazifa.
"Lo juga harus bahagia Na. Jangan kaya gini trus" nasihat yang kerap sekali Nazifa dengar dari orang orang di sekitarnya.
"Sat, gue laper nih. Gue ke dapur ya" Tak mau mendengarkannya lagi, Nazifa memilih melarikan diri ke dapur.
"Oke" hanya itu jawaban Satria. Seakan mengerti bahwa Nazifa tak ingin mendengar apapun yang berhubungan dengan masa lalunya itu.
Bukan tidak ingin bangkit, namun semua itu masih memiliki tempat tersendiri di hatinya. Terkadang ia berfikir apakah semua murni kesalahan Kevin? atau justru Nazifa yang memang mengabaikan Kevin sehingga lelaki itu berpaling?
"Pagi Pak Gilang, bahan bahan masih aman pak?" tanya Nazifa kepada salah satu koki di restonya.
"Pagi mbak Nazifa, beberapa sayuran sudah mulai habis. Harusnya pagi ini datang" terang Pak Gilang ditengah membersihan area dapur.
"mbak Nazifa mau sarapan? saya buatkan nasi goreng kesukaan mbak Nazifa" seulas senyum di bibir Nazifa. Dengan anggukan Nazifa menyetujui tawaran kokinya itu.
Sosok bos yang dekat dengan pekerjanya. Semua karyawan sudah dianggap seperti temannya. Tidak jarang mereka bercanda bersama seperti tidak ada kecanggungan.
"ini enak banget Pak. Saya gak bakal bosen kalo tiap hari makan ini" puji Nazifa setelah Nasi goreng buatan Pak Gilang masuk kedalam mulutnya.
"Jangan tiap hari mbak Zifa, Gak baik buat kesehatan" keduanya terkekeh. Tidak ada rasa canggung, seperti seorang ayah yang menasehati putrinya. Kekeluargaan disini memang sangat kentara.
"Satria udah makan belum pak?"
"Mas Satria hanya pesan kopi s**u tadi, mungkin sudah sarapan dirumah" Pak Gilang yang berdiri membelakangi Nazifa kemudian berbalik "mbk zifa mau kopi juga?" tanya Pak Gilang kemudian.
"Boleh deh Pak, tanpa s**u ya pak. Seperti biasa"
Restoran gaya modren ini memang tidak pernah sepi pengunjung dari pertama buka, tempatnya yang strategis dan harga yang masuk di kantong pelajar sukses menjadi daya tarik tersendiri.
Nazifa sudah menekuni dunia ini sejak masuk bangku kuliah. Kegemarannya dengan dunia Kuliner menjadikanya ladang cuan untuknya sendiri.
Walau sebenarnya dia terlahir dari keluarga yang terpandang namun Nazifa tetap gigih dalam mengolah bisnisnya itu.
Nazifa memiliki dua kakak laki laki, Devan kakak tertua yang mengambil alih perusahaan Papanya, dan Novan kakak kedua yang memilih karir menjadi Dokter di Rumah Sakit swasta terbaik di Jakarta.
"Hes biar gue aja yang nyuci gelasnya. Lo kedepan aja" Nazifa yang sudah berdiri di samping wastafel, bersebelahan dengan Hesty. Karyawannya.
"eh mbak Zifa, biar saya saja mbak" tolak Hesty sehalus mungkin. Bagaimana bisa Hesty membiarkan pemilik Restoran mencuci gelas dan piring kotor. Bisa bisa ini hari terakhirnya bekerja disini.
"udah sana kamu kedepan saja" perintah Nazifa yang di jawab kecemasan oleh Hesty. Dengan berat hati akhirnya Hesty mengiyakan perintah Bosnya itu.
"yaudah mbak. makasih ya"
Kini karyawan sudah dengan tugas masing masing. Nazifa yang baru saja selesai membersihkan gelas dan piring ikut bergabung melayani tamu tamu yang datang.
sampai dia berhenti di dekat meja dekat jendela, manusia yang dulunya mengisi hatinya, manusia yang paling dia percayai, kekasih hatinya. Kini ia bertemu lagi, namun dengan hati yang berbeda.
Ya, dia Kevin. orang yang telah berkhianat. dengan tidak tahu malunya masih saja menemuiku
mau apa dia kesini?
"Hei, Zifa. Boleh aku tanya kabar kamu?" Kevin yang sudah berdiri di hadapan Zifa.
Zifa tidak menjawab. memalingkan wajah adalah cara untuk menunjukan rasa kecewanya.
"Aku kesini mau minta maaf dan ini undangan buat kamu. Aku harap kamu mau datang" Kevin mengulurkan Undangan warna Hitam emas dengan desain elegan itu.
Bagaimana dengan Nazifa? Hatinya seakan di cambuk. Matanya memanas, pikirannya kosong. Dunianya benar benar runtuh. Untuk kedua kalinya. Hatinya terguncang.
"Makasih" dengan berat hati tangannya menerima undangan itu.
Setelah kepergian Kevin, Nazifa kembali ke ruangannya. Pandangannya mulai tak jelas akibat genangan air yang memenuhi pelupuk matanya.
"Na, Lo gakpapa? gue denger dari Hesty Kevin kesini lagi. Lo gakpapa kan?" Satria yang sudah menerobos pintu. Dengan raut khawatir mencoba menenangkan sepupunya itu.
Nazifa tidak menjawab. Seakan tak bertulang tubuhnya lemas di atas sofa berwarna Coklat di ruangannya.
Sedetik kemudian, tubuhnya berada dalam dekapan Satria. Tangisnya pecah. Tangis yang ia tahan sudah teramat sesak di dadanya.
Satria hanya bisa mengelus punggungnya. ia tahu betul bagaimana keadaan sepupunya itu.
"Gue anter pulang ya?" ucap Satria ketika Nazifa sudah mulai tenang.
Nazifa menggeleng "Gue gakpapa Sat. Gue harus Ikhlas" sudut bibirnya mulai terangkat.
"Lo pasti bisa Na, Lo bisa Bahagia tanpa Dia"
"Makasih ya Sat"
"Kalo bukan sepupu gue, udah gue pacarin lo! cewe sebaik lo di sia siain"
"Justru gue baik, harusnya gue dapat yang lebih baik lagi sat"
"Tumben Lo pinter" Satria mengacak puncak kepala Nazifa. Tanpa di sadari keduanya di ambang pintu Hesty memperhatikan Keduanya.
Hesty sejak dulu menyukai Satria, namun melihat kedekatan Satria dengan Bosnya itu membuatnya urung mendekati Satria.