Flashback on
Aku masih terisak dalam pelukan Fathan tiba tiba terlintas di fikiran ku untuk pulang dan menetap, aku sudah lelah melarikan diri tapi pelarian ku terasa percuma karna ketidak mampuan ku menghapus dia dalam hati ku, aku tak perlu lari lagi aku hanya perlu menghadapi takdir ku, aku membulat kan tekat ku.
"Kalau aku pulang dan menetap apa menurut mu aku akan baik baik saja Than?? " Tanya ku di sela isak tangis ku
"Tanya hati mu Asya,, kau hanya perlu berdamai pada hati mu" Fathan memegang bahu ku dengan ke dua tangan nya kami saling berhadapan "tak mungkin ku kata kan kau akan baik baik saja kalau hati mu masih selalu memerangi perasaan mu, tentu kau tidak akan baik baik saja, perasaan mu bisa kau bohongi Asya tapi tidak pada hati mu" Lanjut Fathan yang semua dia kata kan memang benar, hati ku lah masalah nya di sini, hati ku yang masih mempertahan kan kenangan tentang nya, ingin ku benci Dia tapi hati ku tak mampu
"Kau benar Than, aku hanya perlu menjalani dan merelakan benar kan Than??"tanya ku pada Fathan
"Ayo pulang setelah hati mu siap" Kata Fathan mantap
"Aku sudah siap Than, delapan tahun bukan kah itu sudah lebih dari kata cukup, seharus nya aku sudah bisa melupakan nya" Aku menunduk menekan rasa nyeri di hati ku
"Baik lah ayo pulang, aku akan ambil cuti besok" Kata Fathan
"Hmmm aku akan tulis surat pengunduran diri ku malam ini, aku akan menetap Than" Tekat ku benar benar sudah bulat, Fathan menatap mata ku dalam
"Aku akan menemani mu pulang" Kata Fathan setelah tak menemukan kegoyahan dalam diri ku
"Apa kau akan menetap juga?" Tanya ku lagi pada Fathan
"Tidak aku hanya mengantar mu dan memastikan kan diri mu baik baik saja, aku sudah janji pada Papa dan Bunda untuk menjaga dan memastikan kan kau dalam ke adaan yang sehat sampai kau pulang Sya" Aku terdiam mendengar kata kata Fathan
"Jadi kau tidak ikut menetap?" Aku bertanya memastikan jawaban nya
"Tidak Sya" Jawab nya singkat
"Bagai mana jika nanti aku tak mampu Than?" Aku bertanya tentang kemungkinan kemungkinan aku akan goyah
"Kau bisa kembali ke sini Sya, aku akan menampung mu dan menanggung semua biaya makan mu" Aku melotot mendengar jawaban Fathan yang di tanggapi nya dengan cengengesan sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengah nya menandakan huruf v yang arti nya Damai
"Kau kira aku anak kucing ha!!?" Fathan berlari pulang menghindari amukan ku. Ya tekat ku sudah bulat aku akan pulang
Flashback off
*****
Aku sibuk dengan handphone ku yang tadi ku mati kan karna berada di pesawat
"Kamu kasih tau Bunda kan kalau kita pulang?" Tanya Fathan yang hanya ku tanggapi dengan anggukan karna tangan ku masih sibuk melihat banyak nya notifikasi dari Bunda kalau Bunda dan Papa akan menjemput ku ke bandara, aku celingak celinguk ke sana ke mari melihat ramai nya orang orang dengan kesibukan mereka masing masing, dan mata ku berhenti saat menangkap sosok yang selama ini ku rindukan sedang melambai lambai kan tangan nya ke arah ku, Fathan yang masih sibuk membawa banyak nya koper milik ku tak ku hiraukan, aku berlari kuat menuju Papa dan Bunda "bruuukk" Aku langsung menerobos masuk dalam pelukan Papa yang langsung di dekap erat oleh Papa, aku menangis di d**a Papa menumpahkan kan kerinduan yang delapan tahun ini ku pendam Bunda juga ikut mendekap ku yang masih dalam pelukan Papa, Bunda memegang kedua pipi ku
"Thata anak Bunda, Bunda rindu Nak" Ku lihat air mata Bunda jatuh dengan deras, aku sungguh merasa bersalah membuat Bunda ku menangis,
"Thata juga rindu Bunda" aku langsung membalas memeluk Bunda erat menumpahkan kan tangis ku.
"Bun Fathan juga mau di peluk Bunda" Kata Fathan manja pada Bunda membuyar kan momen haru ku dan Bunda
"Ia sayang sini Bunda peluk" Kata Bunda memeluk Fathan sayang, Fathan membungkuk kan tubuh nya memudah kan Bunda memeluk nya
"Terima kasih Fathan sudah menjaga Thata di sana" Kata Papa menepuk bahu Fathan
"Ia Nak Terima kasih banyak karna sudah merepot kan mu membantu Papa dan Bunda menjaga Thata di sana Terima kasih juga karna sudah membawa Thata pulang Nak" Bunda kembali menitik kan air mata nya di pelukan Fathan
"Ia Bun Fathan juga senang karna udah tepati janji Fathan sama Papa dan Bunda" Aku tersenyum menatap Fathan, dia memang Fathan ku dia sudah seperti seorang ayah abang sahabat saudara bagi ku.
"Pulang yok Bun Fathan laper" Kata nya merusak suasana
"Ah ya benar kalian pasti capek, ayo pulang Bunda sudah masak banyak untuk kalian" Kata Papa yang langsung di angguki oleh Fathan
*****
Setelah membersihkan diri aku turun ke bawah ku lihat Papa dan Fathan sedang bicara srius ntah apa yang dua lelaki beda generasi itu bahas, aku melihat Bunda yang sibuk di dapur langsung ku hampiri
"Masak nya banyak banget Bun" Tanya ku yang melihat banyak nya menu di atas meja makan
"Ia bunda masak semua ke sukaan Thata" Jawab Bunda dengan raut wajah yang bahagia
" Wah enak banget nih Bun harum nya sampek keruang tamu buat Fathan jadi keroncongan hehehe" Kata Fathan yang baru saja datang cengengesan sambil mengelus elus perut nya dengan wajah sok polos nya, Bunda tersenyum dengan kelakuan Fathan "ayo duduk kalau gitu nanti keburu dingin makanan nya" Kata Papa yang baru datang juga dari ruang tamu. Malam ini untuk pertama kali nya setelah delapan tahun aku merasakan kembali makan malam bersama keluarga ku, ku lihat wajah Papa, Bunda dan Fathan bergantian sambil mendengar kan ocehan ocehan Fathan pada Papa dan Bunda,
"Kamu kapan pulang ke rumah orang tua kamu Than?" Tanya Papa
"Besok Pa, Fathan udah ngabarin Mama sama Papa malam ini Fathan nginep di sini dulu" Jawab Fathan sambil menyuap kan makanan ke mulut nya
"Syukurlah kalau kamu udah kasih kabar, apa perlu besok kami antar kamu pulang Than?" Tawar Papa
"Gak usah Pa, Asya aja yang anter soal nya Mama juga rindu kata nya sama Asya" Fathan menolak tawaran Papa karna tau kesibukan Papa dengan perkerjaan nya
"Ya sudah kalau begitu biar di anter supir Bunda besok, Bunda berangkat sama Papa besok ya bun" Kata Papa,
"Ia Pa, oya salam buat keluarga kamu ya Than" Sahut Bunda dengan senyum sayang nya
"Ia Bun nanti Fathan sampein, Fathan boleh nambah lagi ayam semur nya Bun?" Tanya Fathan sambil cengengesan menyodor kan Piring nya ke arah Bunda
"Ia boleh sayang, makan sepuas nya Bunda sengaja masak banyak untuk kalian" Kata Bunda sambil menaruh berbagai lauk di piring Fathan
"Dasar rakus" Gerutu ku pada Fathan yang langsung di balas dengan juluran lidah nya, Papa dan Bunda hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala dengan kelakuan kami.
BERSAMBUNG.....