Dreynan menghela nafas sembari memperhatikan hutan Noxious di bawahnya. Hutan yang penuh dengan hal-hal di luar akal para makhluk Immortals dan belum sepenuhnya di jelajahi itu memang selalu mengagetkannya.
Salah satunya adalah Manusia ini. Sejarah sudah menjelaskan kalau mereka tidak terlihat lagi selama 3.500 tahun. Sekarang bagaimana cara mereka kemari?
Dreynan memang tidak tahu menahu kehidupan para Manusia di dunia mereka. Dia pernah membaca kalau para Manusia menyukai.. apa itu namanya? kalau tidak salah berinovasi?
Mereka membuat semacam alat-alat aneh untuk membantu kehidupan mereka. Yah, wajar saja. Manusia tidak memiliki kemampuan khusus apapun. Mereka tidak memiliki Serigala dalam dirinya, tidak bisa menggunakan sihir, mengendalikan alam ataupun memiliki keabadian.
Mereka lemah dan berumur pendek. Kekuatan macam apa yang membuat mereka bisa kembali lagi ke dunia ini?
Memiliki bond saja tidak bisa. Batin Dreynan.
Berbeda dengan manusia, para makhluk di dunia Immortals memiliki ikatan batin dengan beberapa hewan sakral. Ikatan itu disebut bond.
Tapi, sesuai dengan kekuatan yang didapat dari hewan tersebut, hal yang harus para makhluk Immortals taruhkan untuk membuat bond adalah nyawa.
Hewan yang menjadi ketakutan terbesar setiap Individu adalah hewan sakral yang dimaksud. Di saat tertentu, ketika Individu memutuskan untuk membuat bond, hewan yang menjadi ketakutan terbesarnya akan menantang Individu tersebut.
Jika hewan itu kalah, hewan itu akan menjadi partner yang kesetiaannya tidak bisa di ragukan. Tapi jika hewan itu menang, nyawa sang Individu yang melayang. Pengorbanan yang setimpal bukan?
Karenanya, Individu yang memiliki bond biasanya di beri jabatan bangsawan atau kedudukan tinggi karena kemampuannya yang tidak di ragukan. Dreynan dengan kupu-kupu raksasanya adalah salah satu contoh.
"Hey, teriakan manusia itu tidak terdengar lagi." Felix berujar dengan nada kecewa. Kepalanya menunduk, melihat gadis manusia yang terlihat tak sadarkan diri di sana.
"Awas saja kalau dia mati." Dreynan berujar dingin. Mata merahnya menatap tajam kearah Felix.
"Whoa, tenang. Jantungnya masih berdetak." Nada candaan terdengar dari ucapan Felix. Tentu membuat Dreynan semakin menatapnya tajam.
"Aku tidak bohong, dia masih hidup," ujar Felix meyakinkan.
"Terkadang aku iri dengan kemampuanmu itu." Dreynan berujar rendah. Tangannya mengelus-elus kupu-kupu yang ditungganginya.
Felix yang dipuji hanya membusungkan d**a.
Felix adalah Hibrida. Persilangan antara Serigala dan Vampire. Karena itulah dia memiliki pendengaran yang sangat tajam hingga bisa mendengar pikiran atau detak jantung orang lain.
Karena Felix tidak memiliki Serigala dalam dirinya dan bisa meminum darah, Felix tinggal di wilayah Vampire. Tapi kulitnya tidak pucat, cenderung kecoklatan. Matanya pun tidak berwarna merah seperti vampire kebanyakan. Matanya berwarna coklat, khas para Serigala.
Felix tidak ingat apapun mengenai orang tuanya, dia hanya tahu kalau dia tiba-tiba ada di dekat kastil Vampire dan di temukan oleh Lord Vernon ketika musim salju tiba. Terlebih lagi keadaan wilayah Vampire saat itu sedang kacau—Felix yang masih belia pun tahu kalau sedang ada perang.
Setelahnya, Felix di besarkan oleh keluarga Dreynan. Partnernya itu baru berusia ratusan tahun—dalam kamus para Vampire berarti baru menginjak usia remaja—tapi sudah di angkat menjadi salah satu eksekutif (petinggi) di sana. Bahkan hanya lewat beberapa puluh tahun setelahnya, Dreynan sudah memiliki bond dan di angkat menjadi tangan kanan Lord Vernon.
Sehebat itu dia.
Mungkin karena kehebatan rekannya itu, Felix yang asalnya di kucilkan mulai di terima. Terlebih ketika kemampuan pendengarannya mulai dikenal, dia memiliki tempat tersendiri di badan eksekutif Vampire.
Dan sebagai informasi, tidak ditemukan Hibrida lain selain Felix. Itu menambah kebanggaannya kepada diri sendiri.
"Jika pikiranmu melayang karena pujianku tadi, aku menyesal mengucapkannya," ujar Dreynan datar ketika melihat Felix senyam senyum sendiri.
Kepercayaan diri bocah itu terlalu tinggi, batin Dreynan.
Dan senyuman itu bertambah lebar.
Sepuluh menit kemudian, kupu-kupu itu mendarat di dalam sebuah benteng raksasa. Benteng raksasa ini adalah wilayah netral. Dan karena empat pemimpin besar dunia Immortals berkumpul disini, sepertinya manusia itu akan di adili.
Wilayah netral sendiri berada di perbatasan Elf. Area yang merupakan tempat tinggal para Elf terdiri dari hutan-hutan dan rawa-rawa eksotis. Mereka cenderung bersahabat dengan alam dan alam itupun membantu mereka.
Disini, terbang dengan bantuan angin, atau batang pohon yang bergerak dan membantu para penduduk sudah menjadi hal yang lumrah. Bahkan katanya, langit bisa menurunkan hujan jika mereka memintanya.
Karena itu persidangan lebih baik di lakukan di tempat mereka.
"Oy, bangun." Felix menggerak-gerakkan tubuh Thalia dengan kakinya. Enak sekali manusia ini jika harus dibawa hingga kesana.
Sejenak, netra hijau Thalia mengerjap untuk menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam retinanya. Hal pertama yang Thalia lihat adalah wajah kesal Felix yang malah terlihat manis karena baby face yang di milikinya.
Jika Thalia tidak ingat dia baru saja di kejar pohon berjalan dan kelabang, bertemu makhluk kejam hingga di gantung di bawah kupu-kupu raksasa, Thalia akan terpesona pada wajah di depannya.
"Bangun dan berdirilah," perintah Felix dan langsung dituruti Thalia. Di depan mereka, terdapat bangunan besar berwarna putih seperti white house. Istana kepresidenan. Bedanya, terdapat empat bendera di atasnya.
Ikatan Thalia di sekitaran perut di lepas dan kembali dipasang di tangannya. Thalia kembali di giring seperti hewan ternak.
Ketika memasuki bangunan itu, Thalia melihat banyak makhluk bertelinga lancip dan memiliki rambut pirang. Thalia membulatkan mata, mereka adalah para Elf?
Thalia sempat berfikir kalau para Elf itu akan memperlakukan Thalia sama seperti para Vampire yang membawanya—kejam dan tak berperikemanusiaan (walaupun mereka memang bukan Manusia)
Tapi para Elf itu sesekali melempar senyum dan memandang Thalia dengan tatapan ramah.
"Bersyukurlah para Elf adalah makhluk yang bijak dan mencintai perdamaian jadi mereka tidak menganggapmu sebagai ancaman. Tapi jangan berharap kalau kaum lainnya akan memperlakukanmu seperti itu," desis Felix di sebelahnya.
Thalia di arahkan ke sebuah ruangan kecil yang memiliki tempat tidur dan lemari kaca. Thalia cukup kaget, dia kira dia akan langsung di adili.
"Bersihkan dirimu disini. Ada baju ganti juga di almari," ujar Felix sambil melepas tali di tangan Thalia. "Jika kau bertanya kenapa, keadaanmu yang menjijikkan seperti ini tidak akan mau di lihat oleh para raja."
"—Walaupun setelah kau membersihkan diri nanti menurutku tidak ada bedanya." Felix berjalan kearah pintu. Berniat menutupnya. "Manusia seperti kalian akan selalu menjijikkan di mataku."
Pintu itu tertutup sempurna.
Thalia yang mendengar itu hanya menghembuskan nafas lelah. Selain duduk untuk mengistirahatkan kakinya, Thalia juga menggerak gerakkan tangannya pegal. Terutama bagian pergelangan tangannya yang diikat kencang oleh Felix tadi.
Jika rasa sakit ditangannya tidak terasa, Thalia akan berasumsi kalau ini adalah mimpi. Semuanya tidak masuk akal dan sangat mendadak.
Apa tujuan Historia membawanya kemari?
Harusnya Thalia menurut saja ketika Raymond melarangnya mencari buku itu. Kalau akhirnya Thalia jadi tersiksa begini, lebih baik buku itu tidak pernah ia temukan.
Thalia memang penasaran dengan para makhluk Immortals. Dia ingin tahu apa Vampire bisa terbakar dengan sinar matahari, atau Manusia Serigala yang akan berubah ketika bulan purnama. Dia juga ingin belajar sihir dan menyentuh telinga Elf yang katanya runcing itu.
Bukan hanya itu, Thalia ingin melihat putri duyung dan mengendarai naga—itulah yang Thalia pikirkan ketika pertama kali mendengar tentang Historia.
Tapi semuanya benar-benar berbeda dengan apa yang ada di pikiran Thalia.
Hutan ajaib yang Thalia pikir seperti dunia Tinkerbell, ternyata membawa petaka. Para Vampire adalah makhluk kejam dan Thalia yakin kalau makhluk lain yang akan Thalia temui juga sama.
Lebih baik dia mempersiapkan diri sebaik mungkin.
Tidak mau membuang waktu, Thalia langsung masuk kedalam kamar mandi. Kamar mandinya sendiri hanyalah toilet dan bak besar berisi air hangat yang sudah diberi pewangi.
Ini terlalu mewah untuk tahanan.
Selesai dengan membersihkan diri, Thalia membuka almari dan mendapatkan gaun selutut berwarna abu abu. Ada juga flat shoes berwarna senada.
Ketika Thalia mematut diri di cermin, sebuah suara terdengar dikepalanya.
"Sanggul rambutmu dengan rapi." Itu suara Felix.
Dengan segera, Thalia menyanggul rambutnya dan membiarkan beberapa anak rambut turun di dekat kedua telinganya.
Dengan rambut disanggul seperti ini, leher Thalia terpampang jelas. Terutama bekas kemerahan yang sangat kontras dengan kulit putihnya. Tapi Thalia rasa saat ini bukan saat yang tepat memikirkan hal itu.
Thalia mengerti, nyawanya sedang dipertaruhkan.
***
Dreynan dan Felix terlihat sedang berada di ruang ganti bersama beberapa Vampire lainnya. Mereka disuruh untuk memakai setelan berwarna hitam.
"Aku tahu kepercayaan dirimu itu setinggi langit. Tapi sampai kapan kau akan mematut dirimu di cermin?" Dreynan berkata ketus ketika melihat Felix memainkan wajahnya di cermin depan mereka. Dia sudah melakukan itu dari beberapa menit yang lalu.
"Aku hanya penasaran. Apa wajahku ini manis?" Tanya Felix sambil terus memainkan wajahnya.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?"
Felix berdiam diri sebentar. "Ketika manusia itu bangun tadi, dia mengatai wajahku manis." ujarnya pelan.
"Dan kau memperdulikannya?" Dreynan bertanya setelah dasinya terikat dengan benar. Mata merahnya meneliti setiap pakaian yang di pakainya dari atas sampai bawah. Bisa memalukan jika di pertemuan para Raja pakaiannya tidak terpasang dengan benar.
"Aku 'kan, hanya bertanya." Felix menjawab sewot. "Oh, dia sudah selesai."
"Kalau begitu mari kita jemput Tuan Putri." Ujar Dreynan dan segera keluar dari ruangan itu. Meninggalkan Felix yang mendengus tidak terima makhluk rendahan itu disebut Tuan Putri.
Ketika melihat Thalia keluar dari ruangan dengan keadaan lebih rapi, Felix mau tidak mau memalingkan wajah. Makhluk rendahan itu bisa disebut layak juga ternyata.
Kalau Thalia tidak gugup dan cemas pada yang akan terjadi pada dirinya, Thalia pasti sudah menyadari rona merah di pipi Felix tadi.
Setelah memasangkan borgol besi ke tangan Thalia, Felix dan Dreynan mulai mengiring Thalia menuju lorong panjang. Di sekeliling lorong itu terdapat beberapa foto yang Thalia tebak adalah para raja dan ratu karena mahkota yang dipakainya.
Terlalu fokus pada foto disana, Thalia tidak sadar dengan ujung lorong yang sudah terlihat. Sebelum memasuki ruangan itu, Thalia menarik nafas panjang. Semoga saja dia tidak diapa-apakan.
Ketika melihat manusia itu masuk, Sang Raja Vampire yang duduk dengan angkuh di kursinya memiringkan bibir. Menampakkan senyuman yang mengerikan.
Kaisar Elf hanya menatap manusia itu curiga. Di meja depannya, terdapat laci dimana isinya adalah berbagai ramuan untuk membuat manusia itu bicara.
Raja para penyihir terlihat berbisik-bisik dengan tangan kanannya ketika manusia itu masuk. Entah apa yang mereka bicarakan yang jelas mereka tersenyum setelahnya.
Sedangkan Raja Serigala, membulatkan matanya tak percaya. Pantas saja tercium wangi memabukkan dari tadi. Serigalanya juga mengaung tiada henti. Ketika melihat gadis manusia itu, hanya satu yang terlintas di pikirannya.
Mate.