Pagi di Desa Karangjati bukanlah pagi yang cerah. Kabut turun dari hutan seperti jubah tebal yang menelan warna-warna. Langit kelabu dan udara dingin menggigit hingga ke tulang. Waktu baru menunjukkan pukul enam, namun suara derap langkah sepatu tentara telah membangunkan hampir seluruh warga desa.
Anak-anak kecil yang belum genap umur sepuluh tahun digiring keluar rumah oleh ibunya, wajah-wajah mereka penuh kantuk dan tubuh mereka gemetar menahan udara pagi yang dingin. Para pria dewasa telah lebih dulu berbaris di tanah lapang, tubuh mereka kurus, mata sayu, tangan menggenggam cangkul atau kapak.
Di antara kerumunan b***k yang berbaris itu, terdengar cambuk meledak di udara.
“Cepat! Hari ini kalian bersihkan parit sampai ke utara. Dan kau! Jangan menatap wajahku seperti itu!”
Suara pemimpin pasukan penjajah, seorang pria Belanda bertubuh gemuk dengan kumis tebal, menghentak udara seperti petir.
Tak ada yang menjawab. Tak ada yang berani menatap. Semua tunduk. Termasuk Mang Salim, lelaki tua yang dulu kepala dusun sebelum penjajahan datang. Kini ia hanya seorang b***k tua yang dipaksa memanggul batang pohon sepanjang tiga meter, sambil sesekali batuk darah.
Di sudut barisan, seorang perempuan muda, Nyi Rasmi, mencoba menenangkan anaknya yang menangis karena belum diberi makan. Tapi tentara tak peduli. Satu cambukan lagi mendarat ke punggung perempuan itu hingga ia jatuh tersungkur di lumpur.
Di desa ini, hidup tak lagi berarti hidup.
Hidup adalah menunggu giliran mati—entah karena kerja paksa, kelaparan, atau hal yang lebih buruk dari kematian itu sendiri.
---
Hutan di Ujung Desa
Sekitar setengah kilometer dari lokasi kerja paksa, ada hutan yang oleh orang tua disebut Leuweung Larangan—hutan terlarang. Tak seorang pun berani masuk terlalu dalam. Bukan karena binatang buas, tapi karena mereka percaya hutan itu hidup.
Di tengah hutan, berdiri gubuk reyot, tertutup akar dan lumut. Tidak ada jalur tanah ke sana. Tak ada jalan setapak. Hanya pohon, semak berduri, dan keheningan pekat.
Di dalam gubuk itu, seorang lelaki tua duduk bersila. Tubuhnya kurus dan kering, namun matanya tajam seperti ular. Wajahnya dipenuhi garis luka dan tato mantra kuno. Ia mengenakan kain mori yang sudah menghitam, dan di hadapannya ada mangkuk tanah liat yang berisi darah kering.
Namanya Bagaskara, dikenal hanya oleh bisik-bisik sebagai "Petapa Hutan".
Ia bukan dukun biasa. Ia penyembah kekuatan kuno. Setiap malam ia membaca mantra dari naskah kulit yang konon berasal dari zaman Majapahit, dan setiap malam pula ia mendengar bisikan dari dalam tanah.
“Beri aku darah... dan kau akan hidup selamanya.”
“Beri aku ketakutan mereka... dan kau akan jadi dewa di dunia fana.”
Bagaskara telah menyembelih lima tikus, tujuh burung, dan tiga kucing liar sebagai awal. Tapi malam ini, bisikan dalam tanah meminta lebih.
Manusia.
---
Jeritan Pertama
Tiga hari kemudian, seorang b***k muda bernama Dira hilang saat membersihkan parit. Tentara mengira ia kabur. Tapi warga tahu, Dira bukan orang yang berani kabur. Ia punya ibu dan adik yang sakit di rumah. Mustahil ia tinggalkan mereka.
Keesokan harinya, tubuh Dira ditemukan tergantung di pohon akasia di pinggir hutan. Tubuhnya tak utuh. Matanya hilang. Di dadanya terukir simbol aneh—lingkaran berisi huruf-huruf kuno. Darahnya telah mengering.
Malamnya, warga mendengar suara dari arah hutan:
“Yang hilang tak akan kembali. Yang melihat, akan jadi tumbal berikutnya.”
Hilangnya Dira bukan akhir, justru awal dari rentetan kengerian yang akan menimpa Desa Karangjati. Hanya dua malam berselang, satu b***k lagi—Wardi, pria pendiam yang biasa membawa air dari sumur tua—tidak kembali dari tugasnya.
Pagi harinya, tubuhnya ditemukan di dekat batas hutan. Tulang-tulangnya menganga, bersih tanpa daging, seperti dikuliti oleh tangan ahli. Kain bajunya tersisa sehelai, dan di tanah tertulis dengan darah:
“Satu tubuh, satu jiwa.
Satu darah, satu kekuatan.”
Warga mulai bisik-bisik, menyebut nama-nama yang dilarang. Tapi penjajah tidak peduli. Mereka mengira ini kerja kelompok pemberontak. Maka penjagaan diperketat, dan kerja paksa makin brutal.
Namun ketakutan tak bisa dikekang dengan cambuk. Malam-malam di desa berubah menjadi teror. Anjing-anjing menyalak ke arah hutan. Bayangan tinggi seperti manusia berjalan di antara pohon. Suara gemeretak tulang terdengar dari dalam tanah.
---
Gubuk Darah
Di dalam gubuknya yang lembab, Bagaskara mengunyah kemenyan dan bunga setaman yang telah direndam darah. Ia melantunkan mantra dengan lidah tergigit, hingga darah menetes dari bibirnya.
Di hadapannya, tubuh Wardi tergeletak. Kepalanya telah dipotong dan dimasukkan ke dalam kendi tanah liat. Di sekeliling kendi itu, ditanam tulang-tulang kecil yang membentuk lingkaran pemanggil jiwa.
“Darahmu akan menjadi jembatan...” bisiknya. “...untuk abadi.”
Ia mengambil senjatanya—sebuah cerulit tua, besar dan berat, dengan gagang kayu hitam dan bilah melengkung tajam. Cerulit itu dulunya dipakai untuk berkebun, tapi kini berubah wujud: di bilahnya terukir rajah-rajah darah, dan mata pisaunya menyerap cahaya sekitarnya seperti lubang hitam.
Bagaskara mengangkat cerulit itu, lalu menebas tubuh Wardi dari d**a ke pangkal paha. Darah memancar, mengenai dinding gubuk, namun tak menyentuh tanah. Darah itu menguap sebelum jatuh, seolah diserap oleh udara.
Gubuk pun bergetar.
Suara tangis terdengar dari bawah tanah. Tapi bukan tangisan manusia.
---
Desa Terbungkam
Tiga orang menghilang dalam seminggu. Tubuh-tubuh ditemukan dalam kondisi yang semakin mengerikan.
Ada yang kepalanya tertanam di tanah, tubuh terbalik.
Ada yang kulitnya dicopot dan disusun seperti pakaian di atas batu.
Ada yang hanya tersisa kuku dan gigi.
Setiap kali warga hendak bicara, suara angin menutupi.
Setiap malam, suara langkah berat terdengar di atap rumah.
Setiap pagi, ada noda darah di depan pintu.
Desa tak lagi berani tidur.
Namun penjajah tetap buta. Mereka tetap memaksa kerja paksa. Bahkan menuduh keluarga korban menyembunyikan pelaku.
---
Puncak Ritual
Malam Jumat Kliwon, hujan turun deras. Tapi di tengah hutan, di dalam gubuk, Bagaskara duduk tanpa takut. Di hadapannya, kini lima kendi telah penuh dengan kepala manusia.
Ia berdiri, tubuhnya berlumur abu, rambutnya diikat dengan tali dari kulit ular.
Di tangan kanannya—cerulit yang kini bersinar kemerahan.
Di tangan kirinya—seikat rambut dari korban terakhir.
Lalu ia mulai menari, gerakannya seperti orang kesurupan. Terkadang seperti ular, terkadang seperti harimau. Ia menebas udara dengan cerulit, dan setiap tebasan memunculkan api biru yang menari di udara.
“Roh tanah... roh angin... roh malam...
Terimalah tumbalku!
Beri aku tubuh tanpa mati!
Beri aku kekuatan dari darah manusia!”
Tiba-tiba angin berhenti.
Daun-daun diam.
Petir menyambar.
Dan dari lantai tanah, muncul asap hitam pekat yang membentuk wajah—wajah tak bertulang dengan mata merah.
“Tubuhmu lemah. Cerulitmu kotor.
Tebaskan darahmu sendiri.
Bakar jiwamu... atau kekal akan kau lewatkan.”
Bagaskara menjerit. Ia menusukkan cerulit ke dadanya sendiri, darah mengucur deras. Namun tubuhnya tidak roboh. Justru ia tertawa...
Tertawa keras, hingga gema tawanya terdengar sampai desa.
Tawa Bagaskara menggema di tengah hutan, menyerupai jeritan kematian yang tak pernah usai. Malam itu, hujan turun deras namun tak mampu memadamkan api biru yang menari di sekeliling gubuk. Gubuk itu kini tidak lagi terlihat seperti gubuk. Atapnya menghitam, dindingnya seperti membusuk dan berdetak perlahan, seolah bernapas.
Tak jauh dari sana, sepasang mata memperhatikan diam-diam dari balik semak berduri.
Kapten De Groot, perwira Belanda yang memimpin kamp kerja paksa, telah mendengar laporan dari tentaranya bahwa terlalu banyak b***k menghilang—dan selalu dari lokasi dekat hutan. Maka malam itu, ia memutuskan mengintai sendiri. Ia tak percaya takhayul. Tapi apa yang ia lihat malam itu membuat tangan di balik senapan Mauser-nya gemetar.
Ia melihat seorang lelaki tua menari di dalam cahaya api biru, tubuhnya berlumur darah dan abu. Di sekelilingnya, kepala manusia ditanam dalam kendi, sementara di tangannya tergenggam senjata aneh berbentuk sabit besar—cerulit yang menyala merah seperti bara neraka.
Kapten De Groot mengangkat senjatanya.
Dor! Dor!
Tembakan pertama menembus bahu petapa. Tapi Bagaskara tidak jatuh. Ia hanya menoleh. Senyum menganga, darah mengucur dari mulut, tapi ia tidak menunjukkan rasa sakit. Ia melangkah ke arah suara tembakan.
Dor! Dor! Dor!
Empat tembakan berikutnya mengoyak tubuhnya, tapi langkahnya tak melambat. Justru cerulitnya makin menyala terang. Mata petapa itu kini seperti bara api.
Saat peluru terakhir ditembakkan, senapan Kapten De Groot mengenai cerulit itu secara tak sengaja.
Seketika, cerulit meledak dengan suara menakutkan—bukan ledakan logam, tapi seperti jeritan seribu jiwa yang dibakar hidup-hidup.
Bagaskara terlempar. Tubuhnya terbakar dari dalam, seperti api yang melelehkan darah. Ia jatuh di depan gubuk, terkapar, namun masih berbisik.
“Kau... bukan... pemenang.
Kau... hanya membuka pintu...”
---
Pembakaran Cerulit
Kapten De Groot yang masih hidup berlari mendekat dengan pasukannya. Mereka mengikat tubuh petapa yang telah hangus sebagian, lalu menguburkannya hidup-hidup di depan gubuk, mengira itu satu-satunya cara untuk memutus kekuatan sihir.
Cerulitnya dilempar ke dalam api unggun besar yang dibuat dari daun-daun kering dan minyak.
Namun saat bilah itu disentuh api, kobaran langsung melonjak setinggi lima meter.
Langit yang tadinya gelap jadi merah darah. Udara berubah panas. Asap dari pembakaran cerulit bukan asap biasa. Ia kental. Hitam. Dan berbau seperti daging busuk yang dibakar perlahan.
Satu per satu tentara mulai batuk keras. Beberapa jatuh muntah. Salah satu dari mereka, Sersan Willem, menatap api dan menjerit:
“Ada wajah! Ada wajah di dalam apinya!”
Semua yang melihat ikut terpaku.
Di dalam nyala api—terlihat sebuah wajah terbungkus kain kafan, matanya merah, mulutnya sobek terbuka, dan di tangannya—
cerulit itu kembali muncul.
---
Kutukan yang Terlahir
Api perlahan padam. Hujan mengguyur hingga sisa-sisa bara redup. Para tentara mengira semua telah berakhir.
Namun tak jauh dari api, para b***k yang sebelumnya dijadikan kerja paksa diminta berjalan kaki pulang. Tak ada transportasi. Mereka dibiarkan berjalan malam-malam melewati jalan berlumpur.
Di tengah perjalanan, mereka berhenti sejenak. Membuat api kecil dari ranting. Mencoba menghangatkan badan sambil menatap sisa kabut yang keluar dari hutan.
Salah satu dari mereka, Mang Samin, memandang ke dalam api dan bergumam, “Hening sekali... biasanya ada suara burung...”
Dan saat itulah...
Sesuatu menjawab.
“Heii... siapa yang berani mengotori wilayahku... dengan sampah ini?”
Semua langsung menoleh.
Dari balik gelap, dari arah api yang padam—muncul sosok.
Tingginya hampir dua meter. Tubuhnya terbungkus kain kafan kotor, tapi tidak rapi—terburai di beberapa bagian. Dari sela-sela robekan itu muncul tulang-tulang menjuntai, darah segar menetes perlahan.
Tangan kanannya memegang cerulit raksasa—masih panas seperti baru ditempa neraka.
Kepalanya... remuk. Hanya satu mata yang tersisa.
Dan dari mulutnya, suara serak seperti tanah yang digali paksa:
“Kalian semua... adalah milikku...”
Jeritan para b***k terdengar hingga ke pemukiman desa. Tapi malam terlalu pekat, hujan terlalu deras, dan angin terlalu kasar untuk suara manusia menembus batas alam.
Saat fajar menyingsing, penduduk desa menemukan sepuluh b***k tergeletak di ladang, mata terbuka, tubuh kaku seperti kayu lapuk. Mereka masih hidup, tapi tak bisa bicara. Hanya satu hal yang terus mereka lakukan:
Menatap ke arah hutan dengan tatapan kosong.
Salah satu dari mereka, Mang Samin, sempat berbisik sebelum akhirnya tak sadarkan diri:
"Dia bawa kepala... dia bawa kepala... dia tebas pocong lain..."
Warga hanya bisa bertukar pandang. Kepala siapa? Pocong apa? Tidak ada yang mengerti. Tapi malam itu, hening tak pernah kembali.
---
Tanda-Tanda
Beberapa hari kemudian, teror mulai menyebar. Diawali dari rumah Pak Darsam, lelaki tua yang tinggal sendiri di ujung desa. Ia ditemukan meninggal dengan kepalanya pecah di dalam kamar—lantainya penuh lumpur basah, dan di dinding tertulis:
"Sampah harus dibersihkan dari wilayahku."
Tak lama, rumah Mbok Rina yang baru melahirkan juga disatroni. Bayinya menangis sepanjang malam. Dan ketika tetangga datang, mereka menemukan jejak kaki dari lumpur dan darah mengarah ke ranjang bayi. Bayi itu selamat. Tapi di dekat jendela, ada kepala pocong lain yang diletakkan seperti mainan.
Desa mulai panik. Tapi setiap mereka mencoba melapor ke penjajah, tak ada yang peduli. Mereka mengira warga mengarang cerita agar tak lagi kerja paksa. Maka tak ada bantuan. Tak ada penyelidikan. Hanya rasa takut yang tumbuh diam-diam.
---
Malam di Langit Merah
Pada malam ketujuh setelah pembakaran cerulit, langit berubah aneh. Tidak ada bintang. Awan membentuk pusaran. Bulan tertutup kabut. Angin bertiup namun tidak membuat daun bergerak.
Di tengah malam, suara itu datang kembali.
“Heii... siapa yang berani mengotori wilayahku…”
Warga yang mendengarnya membeku. Beberapa langsung menutup telinga. Tapi suara itu tidak datang dari luar, melainkan dari dalam kepala mereka sendiri.
Beberapa rumah dihantui penampakan. Ada yang melihat bayangan putih besar berjalan di halaman, menyeret sesuatu—saat pagi, ditemukan bekas gesekan cerulit di tanah. Ada pula yang mendengar suara gesekan logam dan suara menyeret benda berat.
---
Penampakan Pertama di Rumah Warga
Malam itu, keluarga Pak Suko tengah tidur saat anak perempuannya berteriak dari kamar belakang. Ketika mereka berlari ke kamar, gadis itu menunjuk jendela—tak mampu bicara.
Di luar jendela, ada sosok pocong tinggi menjulang, kain kafannya compang-camping, dan dari lubang kain itu menjulur tulang tangan panjang, menggenggam cerulit.
Pocong itu menyeret pocong lain yang kecil, dengan leher yang sudah hampir putus.
Pak Suko segera mengunci jendela dan membaca doa. Tapi suara dari luar justru terdengar makin jelas:
“Yang lemah kubersihkan.
Yang mengotori... kuhapuskan.”
---
Desa yang Lumpuh
Esoknya, tak ada warga yang berani ke ladang. Bahkan penjajah yang melihat kegelisahan mulai bingung: para b***k tidak bisa kerja, tidak bisa bicara, dan sebagian mulai kehilangan akal.
Anak-anak menangis tanpa sebab. Ibu-ibu terbangun dengan tanda cakaran di kaki. Ayam-ayam dan kambing ditemukan mati tergantung di kandang.
Beberapa warga yang hendak pindah, justru kecelakaan: ban sepeda meledak, tali perahu putus, jembatan roboh. Seolah sesuatu tidak ingin mereka pergi.
---
Kini, semua warga mulai percaya satu hal:
Kutukan telah lahir dari dalam hutan.
Dan ia berjalan dengan dua kaki, membawa cerulit berdarah.
Tapi belum ada yang tahu… siapa yang sebenarnya dikutuk, dan siapa yang akan disisakan untuk hidup.
Hari demi hari, Desa Karangjati makin tenggelam dalam sunyi yang mencekam. Anak-anak tidak lagi bermain. Ibu-ibu tidak lagi menanak nasi. Para lelaki hanya duduk di depan rumah, tatapan kosong, seakan menunggu sesuatu—entah itu kematian, atau sesuatu yang lebih buruk.
Namun ketika malam tiba, semuanya berubah. Teror tidak hanya menghampiri mereka yang terjaga. Ia kini menyusup ke dalam mimpi.
---
Mimpi Pertama: Pak Suko
Pak Suko, lelaki paruh baya yang beberapa malam lalu melihat sosok pocong di luar jendela, menjadi orang pertama yang diserang dalam mimpi.
Dalam mimpinya, ia berdiri di tengah ladang jagung. Kabut tebal menelan pandangannya. Ia mendengar suara langkah berat dari arah belakang. Ketika menoleh, ia melihat sosok tinggi terbungkus kain putih dekil, darah menetes dari setiap sudut tubuhnya.
Tangan panjangnya mengangkat cerulit.
Pak Suko berusaha berlari. Tapi tanah berubah menjadi lumpur. Kakinya tenggelam, tubuhnya terjebak. Pocong itu mendekat perlahan.
"Kau tinggal di tanahku...
Kau mengotori tempatku..."
Cerulit itu ditebaskan ke bahunya.
Dan saat Pak Suko terbangun... bahunya benar-benar robek, darah membasahi kasur, dan matanya memerah karena tak sanggup teriak.
---
Mimpi Kedua: Mbok Rina
Malam berikutnya, Mbok Rina bermimpi sedang duduk di ruang tamu rumahnya. Tapi suasana rumah berbeda. Jendela-jendela tertutup kain kafan, dan di meja terdapat kendi berisi darah.
Ia mendengar suara dari belakang.
Ketika menoleh, ia melihat kepala pocong lain dilempar ke hadapannya, matanya terbuka, dan dari mulutnya keluar suara pocong cerulit:
"Jangan kau simpan... sampah dari wilayahku."
Mbok Rina terbangun dengan tulang jari telunjuk tergores panjang, seperti habis ditebas bilah kecil. Di tangannya tergenggam serpihan kain putih berlendir.
---
Mimpi Ketiga: Mang Salim
Mang Salim, b***k tua yang telah kehilangan dua anak karena kerja paksa, kini tak bisa tidur. Tapi malam itu tubuhnya tak mampu menahan kantuk. Ia tertidur sambil bersandar di dinding.
Dalam mimpi, ia berada di sebuah pemakaman tua, di mana setiap nisan berdiri miring dan berlubang. Ia melihat satu liang kubur menganga. Dari dalamnya, tangan tulang menjulur ke atas sambil menggenggam cerulit.
Tiba-tiba tangan itu mencengkeram lehernya dan menyeretnya masuk ke dalam kubur.
“Kau... yang paling lama di tanahku...
Kau... yang paling bau...”
Mang Salim terbangun dengan bekas jari tulang di lehernya, melingkar seperti dicekik erat.
---
Desa yang Ketakutan
Setelah kejadian itu, warga tak lagi tidur malam. Mereka menyalakan api unggun, berkelompok di rumah kepala dusun. Tapi meskipun berkumpul, mimpi tetap datang.
Karena kini, pocong cerulit tidak butuh kegelapan. Ia hanya butuh rasa takut.
Setiap orang yang mengalami mimpi, keesokan harinya akan membawa luka yang sama dengan yang mereka alami di dunia mimpi. Bahkan beberapa warga mengalami demam tinggi, lalu tubuhnya kaku seperti mayat—namun jantung mereka masih berdetak. Seolah tubuh mereka dibekukan dalam kutukan tak kasatmata.
---
Suara yang Tak Pernah Pergi
Selama seminggu penuh, warga dihantui oleh suara yang sama—baik dalam tidur, dalam mimpi, maupun saat terjaga.
“Heii... siapa yang berani mengotori wilayahku... dengan sampah ini…”
“Sampah harus dibakar.
Sampah harus ditebas.
Sampah tidak pantas hidup…”
Tidak ada yang tahu siapa yang dimaksud dengan "sampah". Tapi setiap kali suara itu terdengar, akan selalu ada satu warga yang hilang atau mati misterius keesokan harinya.
--
Desa Karangjati kini tak hanya dihantui, tapi telah disegel oleh ketakutan. Tak ada jalan keluar, tak ada bantuan, dan tak ada lagi malam yang damai.
Pocong cerulit bukan sekadar hantu. Ia adalah kutukan yang diberi bentuk.
Ia tidak gentayangan. Ia menuntut wilayahnya kembali.
"Dan siapa pun yang menginjak tanah itu—akan ditebas, entah dalam mimpi atau di dunia nyata."