"Gengs bangun-bangun!"
Sayup-sayup aku mendengar suara seorang perumpuan.
"Hey bangun! Itu lihat barang-barang kita!" Kali ini terasa badanku seperti digoyang-goyang.
"Woy!!! Banguuun!!!"
Aku langsung terperanjat kaget, kulihat Emon, Danu dan Alif pun sepertinya sama.
Kukira tadi hanya mimpi, ternyata itu adalah suara Astri.
"Ada apa sih As?" tanya Danu sambil mengucek-ngucek matanya.
"Coba deh lihat barang-barang kita!" ucap Astri sambil menunjuk ke arah luar, ke tempat dimana kami menyimpan semua peralatan dan bekal logistik yang kami bawa. Kami semua langsung terkaget-kaget saat melihat keadaannya yang sudah berantakan.
Semua logistik dan peralatan yang di taruh diluar tenda ternyata sudah berserakan mirip kapal pecah.
Kami segera membereskan semua peralatan dan kembali merapihkannya, stok bahan makanan kami berceceran bahkan hampir semuanya hilang. Entahlah mungkin ini perbuatan tikus atau babi hutan, atau mungkin binatang lainnya. Kami lupa untuk mengamankannya tadi malam.
Aku punguti semua sisa-sisa bahan makanan yang masih bisa dimasak untuk sarapan nanti, meskipun hanya sedikit saja yang bisa diselamatkan.
"Udahlah gak apa-apa, hari ini kan kita mau turun," ucap Emon mencoba menenangkan kami semua.
Kami hanya bisa mengiyakan ucapan Emon tersebut, lagian mau gimana lagi memang keadaannya sudah begini.
Pagi ini kami berjalan-jalan mengeksplore area sekitar kami berkemah, entahlah ini sudah di puncak atau belum, yang jelas tempat ini masih di penuhi oleh pohon-pohon dengan berbagai ukuran.
"Temen-temen lihat itu!" Kata Danu setengah berteriak.
Reflek mata kami semua langsung mengikuti arah yang ia tunjuk.
Ternyata jarak seratus meter dari posisi kami, aku melihat ada sebuah saung atau pondokan.
"Berarti ada orang disini," gumamku dalam hati.
Perlahan kami dekati saung tersebut dan bermaksud untuk mengecek apakah ada orang didalamnya atau tidak, tapi seperti tidak ada penghuninya, terlihat dari kondisinya yang sudah lapuk dan hampir roboh. Lagian siapa juga yang mau tinggal di hutan seperti ini ?
Aku mencoba masuk kedalam pondokan itu untuk sekedar ingin tahu bagaimana kondisi di dalamnya.
Hanya ada panci gosong yang sudah bolong di dekat tungku bekas perapian, kemudian sebuah jaket lusuh yang menggantung disebuah sudut dinding kusam ini, selebihnya kosong tidak ada apa-apa.
Tepat di depan pondokan tersebut terdapat sebuah area yang tidak ditumbuhi pepohonan.
Hamparan hijau dari atap pepohonan berbaris rapi dibawah sana.
Desa-desa kecil yang berada jauh dibawah gunung ini tampak seperti desa yang berada di sebuah pedalaman yang apit oleh bukit-bukit. Indah sekali menurutku.
**
Pukul sembilan pagi kami mulai memasak sisa logistik yang masih bisa di selamatkan dari p*********n binatang liar tadi malam.
Dua bungkus mie instan dan sedikit beras yang tadi tercecer di tanah, sedangkan bahan makanan lainnya aku tak tahu kemana.
Memang tidak cukup untuk membuat kenyang perut kami berlima, namun apa boleh buat. Hanya itu lah yang disisakan oleh binatang s****n itu.
Pukul sepuluh lebih kami pun mulai berjalan untuk turun meninggalkan gunung ini. Tidak seperti kemarin, kali ini canda dan tawa hadir mengisi perjalanan kami. Apalagi Danu, meski hanya sepenggal kalimat namun setiap celoteh yang ia buat selalu saja membuat kami tertawa.
Setelah beberapa saat kami berjalan, Emon yang berjalan paling depan tiba-tiba saja menghentikan langkahnya. Dia diam mematung kemudian kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan, seperti sedang memperhatikan area sekitar.
"Kenapa Mon?" tanyaku sedikit berbisik.
Jujur saja, di hutan yang jarang terjamah seperti ini aku takut bertemu dengan binatang liar.
"Kayaknya kemarin kita gak lewat sini deh," jawab Emon ragu.
"Coba kalian inget-inget, kemarin sebelum bikin tenda kan kita lewatnya tanjakan terjal," lanjut Emon.
Benar juga, pikirku.
Selama mulai turun barusan trek yang kami lewati tidak terlalu curam, sedangkan kemarin saat naik kami harus bersusah payah melewati trek yang sangat terjal.
"Pokoknya kita cari aja bekas tebasan golok Mon, kalo ada berarti aman," celetuk Danu.
"Nah bener tuh!" timpal Alif.
Kami langsung berpencar mencari-cari bekas tebasan golok yang kami buat kemarin, namun sudah lumayan lama kami mencari tanda itu ternyata tidak juga ditemukan.
Bekas tebasan golok yang kemarin kami buat seolah lenyap begitu saja.
"Kok gak ada ya?" tanya Alif sambil mengerutkan keningnya.
"Iya ya, kok ilang sih?" Danu ikut heran.
Entah kenapa aku mulai merasakan pertanda buruk tentang hal ini, bagiku ini aneh. Mustahil jika bekas tebasan golok yang baru kami buat kemarin itu kini sudah hilang. Atau apakah kami sudah tersesat?
Akhirnya kami terpaksa membuat jalur baru lagi untuk turun. Kami kembali bergantian untuk menebas ranting dan pohon yang menghalangi langkah kami. Tentu saja hal ini membuat perjalanan kami menjadi lebih lama.
"Duh gue laper banget, kita masih punya makanan gak?" Tanya Danu saat kami beristirahat.
"Sama Nu, gue juga laper," timpal Alif.
Kulihat jam di tanganku ternyata sudah menunjukan pukul satu siang, memang sudah waktunya perut kami untuk di isi bahan bakar.
"Makanan kita abis Nu, kan dirampok sama binatang s****n itu!" ucap Emon emosi.
Entah binatang apa yang dia maksud, kami pun sebenarnya tidak ada yang tahu, tapi kami semua sepakat bahwa memang binatang lah yang melakukannya.
"Gue masih punya coklat sih," ucap Astri seraya mengeluarkan sebatang coklat dari tas nya.
"Nah boleh tuh!" sahut Danu antusias.
Kami semua tersenyum bahagia, meskipun hanya sebatang coklat untuk dibagi berlima.
Lumayan lah untuk menambah kalori.
"Air minum kita tinggal segimana?" Aku bertanya pada teman-teman.
Setelah dicek ternyata air minum yang kami punya hanya tersisa dua botol kecil saja.
"Di hemat-hemat ya, kita gatau soalnya ini masih jauh atau udah deket," Emon memberi intruksi.
Kami semua mengangguk tanda setuju.